Tampilkan postingan dengan label Seputar Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2018

Andaikan Ada Sekolah Khusus Imam Masjid dan Berikatan Dinas PNS

Masjid itu bukan hanya bangunan, tetapi tempat pembinaan umat. Yang membina tentu saja imamnya. Sayangnya kualitas para imam masjid ini memang masih banyak yang perlu dieveluasi.

Kalau mau punya kualitas imam masjid yang ideal,tidak bisa hanya dengan mencari. Tetapi yang harus dilakukan adalah membina, mengkader dan mulai dengan bibit unggul.


Mungkin perlu dibuka jenjang pendidikan yang serius mengkader para calon imam masjid Misalnya kita beri nama : Sekolah Tinggi Imam Masjid (STIM). Jenjangnya harus strata 1 alias S-1 di bidang perimaman masjid, program ikatan dinas, otomatis jadi PNS.

Perlunya ikatan dinas ini biar jangan sampai mubazzir. Sudah menghabiskan duit beasiswa, kok malah pada pindah kerjaan jadi sales, tukang kredit, jualan herbal, ngobyek jadi motivator, bawa jamaah haji umroh dan pekerjaan di luar pendidikannya. Jadi harus ikatan dinas dan PNS.

Tentu harus beasiswa full. Syarat diterima sebagai mahasiswa harus :

1. Sudah hafal 30 juz
2. Tajwid dan tilawahnya sudah sempurna
3. Bahasa Arab lancar lisan tulisan
4. Bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh nusantara hingga pensiun.

KURIKULUM :

1. Semua menggunakan kitab turats asli.
2. Mata kuliah meliputi Ilmu Al-Quran, Qiraat sab'ah, Rasam Utsmani, IlmuTafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, dst
3. Dosennya profesor dan doktor dalam luar negeri.

Sayangnya ini masih dalam impian. Apalagi terkait dengan ikatan dinas jadi PNS itu tidak mudah.

Buat para calon pejabat yang pada sibuk kampenye minta suara umat Islam, apa bisa Anda menjamin berdirinya STIM ini?

Oh iya, ngomong-ngomong jumlah masjid di Indonesia 800 ribu lho.

Oleh : Ahmad Sarwat

Senin, 02 April 2018

Larangan Bercadar dan Bersarung Saat Kuliah

Seorang mahasiswi pernah bertanya kepada saya, kenapa di kampus kita tidak ada yang memakai cadar pak? ya memang aturannya seperti itu. Seperti halnya kenapa yang laki-laki kalau kuliah gak ada yang bersarung? ya memang aturannya seperti itu. Jawab saya kepada mahasiswi yang disusul dengan pertanyaan " berarti kampus telah merampas haknya mahasiswa dalam mengekspresikan kebebasan beragama pak?" jelas. Kampus banyak merampas kebebasan siapa pun yang masuk di dalamnya dan menjadi bagian dari kampus. Misalnya dalam menata jadwal kuliah, gak ada kampus yang menghubungi mahasiswa trus bertanya apakah anda bisa kuliah dihari ini jam sekian sampai sekian?. Lantas, solusinya bagaimana pak? tanya mahasiswi. Ikuti aturan main kampus atau keluar cari kampus yang sesuai keinginan kita.



Apakah istri bapak bercadar? tanya mahasiswa yang lain. Tidak, dan tidak akan saya izinkan bercadar. Karena dalam hal ini, saya dengan sadar dan penuh pertimbangan memilih pendapat sebagian ulama' Malikiyah yang menganggap bercadar adalah berlebihan sehingga makruh. Tetapi tentu saya tetap menghargai mereka yang mewajibkan atau menyunnahkan bercadar. Pantang bagi saya menghujat mereka yang bersemangat untuk beragama sesempurna mungkin (menurut keyakinannya) itu. Tapi silakan saja kalau ada yang mau mencemooh keputusan saya yang melarang istri saya bercadar, bila itu memang mendatangkan kepuasan.

Jika hari ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang mahasiswi bercadar, maka silakan diikuti, atau pindah ke kampus lain bila lobi baik-baik untuk mengubah keputusan pihak kampus sudah gagal. Bukan hal bijak  membesar-besarkan ikhtilaf fiqhiyah untuk membangkitkan sentimen negatif. Kampus melakukan hal tersebut tentu sudah melalui berbagai kajian dan prosedur, dalam policy making azas maslahah 'ammah pasti dikaji dengan teliti.

Betapa banyak aturan kampus yang menyebalkan dan merenggut hak-hak personal. Mulai dari jadwal kuliah yang tak pernah nanya persetujuan mahasiswa hingga aturan ribet seperti larangan pakai jeans, kaos oblong, rambut panjang bagi laki-laki dan lainnya. Tambah lagi aturan yang menyakitkan santri NU adalah ketika kampus melarang sarungan. Padahal sarung itu pakaian keseharian santri NU sekaligus identitas ke-NU-an saya.  Tapi ya bagaimana lagi? Kalau saya ingin di kampus itu ya saya ikuti saja. 

Hal yang sama saya alami ketika naik bis atau kereta ke luar kota. Sopir dan masinis tampaknya tak mau tahu kalau saya seorang muslim yang harus shalat tepat waktu. Tak ada satupun yang berhenti di masjid ketika panggilan shalat dikumandangkan.  Apakah saya harus mengajukan somasi pada perusahaan jasa angkutan? Hanya orang gila yang melakukan itu. Kalau saya sama sekali tak mau kompromi dengan mereka, maka saya punya pilihan untuk cari kendaraan lain yang bisa berhenti kapanpun saya merasa wajib berhenti. Karena semua merupakan pilihan, dan setiap pilihan punya konsekwensi sendiri.

Jadi, bagi para pemakai cadar yang gak mau diatur oleh kampus yang melarang mahasiswinya bercadar, silahkan keluar dan cari kampus yang membolehkan memakai cadar, atau anda tunduk pada aturan dengan melepas cadar anda sebagai pilihan terhadap kebijakan yang dibuat (policy making) berdasar maslahah 'ammah (kebaikan universal).

Minggu, 25 Februari 2018

Yuk, Menganalisa Gerakan Salafi Modern


✍ Oleh: MA.

SETELAH kami membaca & mengkaji semua literatur yang ada mengenai gerakan “Salafi” modern, kami menyimpulkan bahwa harus dibedakan dulu antara Salafi sebagai sebuah manhaj dakwah (kaum revivalis) dengan Salafi modern sebagai sebuah Sekte (aliran sempalan) yang merupakan bagian dari agenda politik internasional.

Begini, Salafi sebagai sebuah manhaj dakwah ialah mereka yang melakukan gerakan kembali kepada pemurnian serta anti kemusyrikan, kekufuran, dan tahayyul. gerakan keagamaan yang menggaungkan dakwah Tauhid dan Sunnah serta menjadikan Syariah Islamiyyah sebagai sistem kehidupan. tokohnya yaitu AL-IMAM IBNU TAIMIYYAH kemudian diteruskan oleh Ulama revolusioner ber-mazhab Hanbali di jazirah arab bernama SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AT-TAMIMI (sebagaimana yang dikatakan Al-Habib Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Rahimahullah dalam kitabnya Mafahim Tajid An-Tushohhah).

Di indonesia, gerakan ini sudah muncul di zaman Tuanku Imam Bonjol, yang kita kenal dengan sebutan Kaum Paderi. Lalu selanjutnya dipelopori oleh ormas Muhammadiyyah-nya KH.Ahmad Dahlan, PERSIS-nya A.Hassan, dan Al-Irsyad nya Syaikh Ahmad Surkati. lalu dikemudian hari dianjutkan misi itu diantaranya oleh Buya Muhammad Natsir dan Buya Hamka. tak berbeda dengan NU, jika NU mendakwahkan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah secara kultural (Syafi’iyyah sebagai mazhab fiqihnya), maka gerakan salafiyyah mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara revival (Tauhid, Sunnah, dan Jihad sebagai kajian utamanya).

Adapun ‘Salafi’ modern dalam artian sekte (aliran sempalan), maka benar bahwa ia merupakan gerakan politik murni. sekte ‘Salafi’ modern yang kini mendominasi negeri-negeri kaum muslimin (termasuk indonesia) sejatinya ialah implementasi dari mazhab murji-ah gaya baru yang dikemas dengan doktrin “kembali kepada al-qur’an & as-sunnah”. singkat kata, GERAKAN SALAFI MODERN ADALAH CIPTAAN BARAT YANG KEMUDIAN DIPELIHARA OLEH REZIM-REZIM PENGUASA ANTI ISLAM SEBAGAI LAWAN IKHWANUL MUSLIMIN (IM). ia sengaja diciptakan dan dipelihara oleh intelijen guna melawan militansi gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) disemua negeri-negeri muslim -termasuk indonesia- dalam rangka menjaga eksistensi negara-negara sekuler dengan menjadikan DE-RADIKALISASI sebagai isu utamannya.

Topik utama yang menjadi titik penting untuk dilemahkan oleh gerakan ‘Salafi’ modern ini adalah: AL-WALA’ WAL BARO ’, AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR, DAN JIHAD FII SABIILILLAH. tokoh ulama yang menjadi rujukan utama mereka diantaranya adalah ALI HASAN AL-HALABI dari Urdun/Yordan yang diangkat sebagai staf BNPT di Republik ini, sedangkan da’i-da’i Rodja sebagai fasilitatornya. Kendati di majelis ulama dan dewan fatwa kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan FATWA RESMI bahwa Ali Hasan Al-Halabi adalah pembawa PEMIKIRAN SESAT MURJI-AH.

Diakar rumput, mereka berhasil menciptakan konflik keagamaan dengan politik belah bambu; angkat yang satu dan injak yang lain. Diantaranya vonis bid’ah dan sesat kepada semua elemen muslim yang tidak sejalan dengan pemahamannya. memvonis kalangan lain yang mengkritik pemerintah dengan sebutan “hizbiyyah”, “khawarij”, “anjing neraka”, dan lain sebagainya, menyebut persatuan ummat dengan sebutan buruk yang amat menyakitkan: “PERSATUAN KEBUN BINATANG”. dsb.

Ustad Farid Nu’man Hasan menyebut mereka “Sholafy” (صلفي) yang artinya tukang bual/tukang kibul. Ustad Harman Tajang,Lc.M.Hi menyebut mereka “Talafi” (تلفي) yang artinya kaum perusak. para alumni 212 menyebut mereka “bonglaf” yang artinya “kecebong nyalaf”. Disebut dengan julukan-julukan demikian mereka tak terima, mereka kejang-kejang bagaikan kepiting rebus. tetapi lisan mereka begitu gampang menjelek-jelekkan orang lain diluar kelompoknya, menghina, dan memberi gelaran-gelaran keji kepada sesama muslim. wajarlah jika pada akhirnya pondok pesantren mereka di aceh mau dibakar massa, kampus milik mereka di surabaya di kepung massa dan mau diruntuhkan, pengajian mereka di berbagai tempat di bubarkan warga, yang terakhir masjid milik mereka di bekukan izin pembangunannya oleh pemda setempat. apakah semua itu karena kegigihan mereka mendakwahkan KEBENARAN ? bukan.. tapi karena jeleknya akhlaq dan adab mereka baik dalam dakwah maupun muamalah kepada ummat islam lainnya ditengah masyarakat. demikianlah faktanya dan semoga bisa jadi pelajaran..

Allahu A’lam.

Rabu, 07 Februari 2018

Sudah Diduga, Mudzakarah MUI Kota Bogor Selesai Tanpa Kehadiran Ust. Yazid Jawaz



Salah satu ustadz salafi wahabi yang sedang populer, Ust. Jazid bin Abdul Qodir Jawaz sebelumnya telah diundang dalam acara mudzkaroh (diskusi) di ruang rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor, Jl. Padjajaran 10, Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 07 Februari 2018 (12 Jumadil Ula 1439 H). Hal ini terkait tulisan beliau dalam bukunya "Mulia Dengan Manhaj Salaf" telah menuduh sesat ulama ahlussunnah wal jama'ah yang mengikuti Imam Asy'ari (disebut Asy'ariyah) dan Imam Maturidi (disebut Maturidiyah). Padahal, kedua akidah tersebut dianut oleh mayoritas umat islam diseluruh dunia sebagai representasi akidah ahlussunnah wal jama'ah. 

Namun, acara yang sedianya dilaksanakan Rabu siang ini, dimulai pukul 13.00 WIB, ternyata tidak ditanggapi dengan baik oleh sang ustadz yang terkenal sebagai ustadz sunnah oleh para pengikutnya. Padahal mudzakaroh ini tidak lain hanya untuk tabayyun alias mengklarifikasi terkait tulisan-tulisan dan ceramah-caramah Ust. Jazid Jawas yang dianggap provokatif dan menyerang kelompok tertentu dengan tuduhan bid'ah dan sesat. Seandainya Ust. Jazid Jawas dapat hadir, tentu tuduhan-tuduhan bid'ah dan sesat tersebut bisa didiskusikan bersama. Sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih atas khilafiyah yang berkembang di masyarakat tanda embel-embel tuduhan bid'ah dan sesat. 


Hari ini, ramai beredar di media sosial, kabar yang menjelaskan perihal undangan mudzakaroh MUI Kota Bogor kepada Ust. Yazid Jawaz. Bahkan undangan mudzakaroh tersebut langsung ditandatangi oleh Ketua MUI Kota Bogor. Bagi kelompok yang selama ini dituduh berbuat bid'ah dan sesat oleh Ust. Yazid Jawas, tentu ini momen yang tepat untuk berdiskusi. Andai Ust. Yazid terbukti telah salah memahami amalan kelompok yang beliau tuduh, tentu beliau dituntut untuk meminta maaf kepada umat yang terlanjur sakit hati. 


Tapi sudah diduga, banyak netizen yang mengatakan Ust. Yazid tidak akan hadir dengan alasan "jangan berdebat dengan ahli bid'ah", sesuai dengan ceramah beliau yang beredar di Youtube. Sikap seperti inilah yang pernah disayangkan oleh Ust. Abdul Shomad. Beliau pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, Ust. Musthafa Umar sebagai perwakilan MUI Prov. Riau pernah mengundang baik-baik para ustadz salafi wahabi agar bisa diajak berdiskusi, dan jangan hanya murid-murid ustadz salafi wahabi saja yang pandai berkoar-koar di dunia maya. Nyatanya, para ustadz salafi wahabi tidak berani datang. 

Wallahu'Alam Bisshowab, semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk untuk mencari kebenaran. Amin...   

  





Jumat, 02 Februari 2018

Tragedi Pemukulan Terhadap KH. Umar Basri, Bahaya Laten Intoleransi

Muhasabah Kebangsaan

BAHAYA LATEN INTOLERANSI
Al-Zastrouw



Tragedi pemukulan terhadap KH. Umar Basri (ajengan Emon) saat melakukan dzikir di masjid Al-Hidayah, masjid pesantren yg diasuh sang ajengan, mengingatkan saya pada dua kejadian penting beberapa tahun lalu.

Pertama, peristiwa pengusiran Gus Dur saat memberikan ceramah pada acara diskusi di Purwakarta. Saat sedang memberikan ceramah tiba2 datang sekelompok orang berseragam putih yang secara tegas mengaku dari FPI membubarkan acara tersebut dengan cara2 yg kasar dan tak beradab. Hujatan, caci maki dan kata2 kotor ditujukan pada Gus Dur.

Hampir saja terjadi bentrok dan konflik horizontal, karena pada saat itu para Banser dan kaum muda NU sdh siap melakukan serangan balasan. Tapi dengan tegas Gus Dur justru melarang.

Pada saat itu tak ada tudingan FPI membubarkan pengajian, tak ada tuduhan kriminalisasi ulama meski yg dibubarkan adalah majlis Ilmu dan yg dilarang bicara adalah ulama besar yg sdh diakui dunia. Juga tak ada kegaduhan gerakan bela ulama dan Islam dengan demo berjilid2

Bandingkan dg kegaduhan yg terjadi saat ini ketika seorang pembicara agama diminta membuat pernyataan setia pada NKRI seperti yg terjadi pd kasus Felix dan Ustad Abdus Shomad, seolah2 terjadi pelarangan pengajian dan pelecehan ulama. Padahal mereka tdk dilarang kasih pengajian dan badannya juga tdk tersentuh sedikitpun, tapi berita yg tersebar seolah telah terjadi pelecehan ulama, penistaan Islam dan sejenisnya.

Kegaduhan peperti ini sama sekali tidak terlihat saat ajengan Emon dianiaya secara fisik bahkan sampai berdarah-darah di tempat yg disakralkan (masjid), bukan di hotel atau bandara, dan saat melakukan ibadah dzikir bukan saat memberikan provokasi yg membakar emosi ummat. Kelompok yg pernah mengusir Gus Dur ini diam, cep klakep tanpa ada komentar apalagi reaksi.

Terus terang, melihat reaksi kaum daster ini langsung mengingatkan saya pada hubungan antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Ayah beliau adalah santri Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yg juga kakek Gus Dur. Ini menunjukkan ada kesamaan genealogi sosiologis dan ideologis antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Kesamaan ini yg membuat hubungan emosional antara beliau berdua menjadi dekat. Hal itu bisa menimbulkan asumsi bahwa ajengan Emon adalah sama atau bagian dari Gus Dur sehingga kelompok2 yg dulu membenci dan mengusir Gus Dur akan merasa tidak perlu simpati apalagi membela. Mereka menganggap beliau bukan ulama sebagaimana mereka menganggap Gus Dur sebagai kaum liberal, yg layak diusir dan dicaci maki. Dengan cara pandang ini sangat bisa dipahami jika kelompok2 yg selama ini teriak2 bela ulama dan Islam diam dan tak bereaksi terhadap kasus penganiayaan yg menimpa ajengan Emon.

Kedua, kasus ini mengingatkan saya pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari issu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kyai2 kampung dan guru2 ngaji warga NU. Berdasar data tim pencari fakta (TPF) PWNU Jatim, korban pembantaian Banyuwangi ini ada 147 orang, bahkan laporan LSM Kompak Banyuwangi mencapai 174 orang.

Saya teringat pada tragedi Banyuwangi karena ada beberapa kesamaan antara kasus Banyuwangi dengan Cicalengka; pertama, sasarannya kyai kampung NU; kedua, terjadi saat menjelang event politik bertensi tinggi, ketiga; pelaku yg tertangkap selalu diindikasikan menglami gangguan jiwa, (bahkan ada yg lgs bunuh diri) sehingga sulit dilacak jejak dan motifnya. Keempat, menjadikan PKI sebagai kambing hitam pelaku pembantaian ulama.

Pada kasus pengusiran Gus Dur kita bisa melihat bagaimana kelompok2 intoleran menjadi ujung tombak untuk melawan ulama yg mencoba merajut keutuhan bangsa, konsisten pada Pancasila sbg perjanjian luhur bangsa. Kaum intoleran menganggap ulama seperti ini sebagai ulama liberal, agen zionis dan tidak membela Islam sehingga layak dihujat, diusir dan dicaci maki.

Meskipun mengaku menerima Pancasila, namun mereka menafsirkannya secara sektarian dan eksklusif, sehingga memberangus dan menegasikan keberagaman yg ada. Dan ini terlihat jelas dalam perilaku politik mereka yg radikal dan intoleran. Dalam kasus Cicalengka, indikasi pelaku sebagai bagian dari kelompok ini terlihat jelas dalam perkataan dan sikap pelaku sebelum melakukan pemukulan (sebagaimana disebutkan dalam kronologi yg beredar di medsos). Peristiwa ini mengindikasikan kaum intoleran semakin brutal dan agresif menyerang ulama dan kelompok teleran dan moderat.

Dalam kasus Banyuwangi saat itu, Gus Dur memahami peristiwa kelam itu sebagai upaya memancing emosi kaum Nahdhiyin agar masuk dalam pusaran konflik horizontal sehingga terjadi kekacauan. Oleh karenanya Gus Dur menahan agar ummat NU tdk terpancing. Dalam situasi ketegangan politik yg makin meningkat seperti saat ini, bisa jadi berbagai kepentingan sedang bermain memanfaatkan situasi yang ada.

Melihat pola dan modus yg terjadi serta mencermati genealogi ideologi dan sosialogi kelompok2 yang menggunakan ayat dan simbol agama dalam gerakan mereka, bisa dikatakan bahwa gerakan kaum intoleran yg hendak memecah keutuhan bangsa masih menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa. Upaya menghancurkan Pancasila masih dilakukan dg segala cara.

Jika merujuk pada referensi sejarah kebangsaan, situasi seperti sekarang ini mirip dengan suasana jelang peristiwa pemberontakan 65, ketika rakyat digiring dalam suasana konflik atas nama revolusi. Saat ini rakyat digiring menuju konflik dg menumbuhkan sikap intoleran menggunakan agitasi atas nama agama dan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi dengan kejernihan nalar dan hati agar tidak mudah hanyut dalam provokasi dan agitasi dalam segala bentuknya. Dulu kita waspada atas bahaya laten PKI, ada baiknya saat ini kita waspada terhadap bahaya laten intoleransi.***

El-Zastrouw

Inilah 7 Tahapan Menjadi Wahabi Takfiri

7 TAHAPAN MENJADI WAHABI TAKFIRI



Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.
Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mari kita lihat tahapan2-nya:
  1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu. Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.
  2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb. Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.
  3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi. Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.
  4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adaah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain. Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.
  5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.
  6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.
  7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.
  8. Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

Oh ya, apa antum punya teman seperti itu? atau jangan2 antum sendiri #eh. Sudah sampai pada tahapan mana? 
(Narko Sun)

Minggu, 28 Januari 2018

Jawaban Atas Tuduhan Tahlilan Menyebabkan Mayit Terancam Siksa Di Alam Kubur

Saya dari dulu tidak mudah percaya kalau ada Salafi-Wahabi membawa dalil ayat Qur'an atau hadis yang diarahkan untuk menyalahkan Amaliah kita. Sebab hampir pasti mereka hanya berdasarkan nafsunya, tidak merujuk kepada ulama ahli hadis yang sering dijadikan jargon mereka. Jadi hanya slogan saja.



Kali ini mereka membawa hadis tentang Tahlilan yang mereka golongkan meratapi Mayit yang menyebabkan ancaman siksaan di alam kubur. Saya cek hadisnya di Syarah Bukhari karya AlHafidz Ibnu Hajar dan Syarah Muslim karya Imam Nawawi, ternyata sangat panjang ulasan hadisnya, khilafiyah penafsiran hadisnya, jalur riwayat hadisnya, dan analisa hukumnya. Tapi bagi Wahabi langsung divonis sesuai nafsunya sebagai ancaman siksa kubur. Tulisan yang saya terima adalah dari Ust Abu Ibrahim Al Falimbani.
Mereka menampilkan:
- Hadis pertama:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ»
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit disiksa sebab tangisan keluarganya kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim)
Jawaban:
Jika menangisi mayit dianggap ratapan yang menyebabkan mayit disiksa, lalu bagaimana dengan hadis berikut ini:
ﻋﻦ ﺃﺳﻤﺎء ﺑﻨﺖ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻲ اﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﻜﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Dari Asma binti Yazid, ia berkata bahwa ketika putra Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ibrahim, wafat. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis (HR Ibnu Majah. Syekh Albani menilainya sebagai hadis Hasan)
Apakah Rasulullah meratapi putranya? Berarti kita perlu menghimpun hadits-hadits lain sebelum membuat sebuah kesimpulan. Demikian pula dengan hadis yang berikutnya.
Hadis kedua:
ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ عنه ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺑﻤﺎ ﻧﻴﺢ ﻋﻠﻴﻪ»
Dari Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Mayit disiksa di kuburnya Karen apa yang diratapi kepadanya" (HR Bukhari)
Jawaban:
Cukup dijawab dengan penulisan bab oleh Imam Bukhari sendiri dalam kitab sahihnya:
ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻳﻌﺬﺏ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺒﻌﺾ ﺑﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ» ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﺡ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻪ "
Bab sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa mayit disiksa sebab tangisan sebagian keluarganya kepadanya. JIKA RATAPAN ITU ADALAH BAGIAN DARI KEBIASAANNYA.
Jadi menurut Hafidz Ad-Dunya, Imam Bukhari, tidak semua ratapan menjadi sebab adanya siksa kubur! Jadi kelihatan kalau Wahabi bertentangan dengan Imam ahli hadis!
Dari sinilah Imam Nawawi berkata:
ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﺘﺄﻭﻟﻬﺎ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺻﻰ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻨﺎﺡ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻨﻔﺬﺕ ﻭﺻﻴﺘﻪ ﻓﻬﺬا ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﻮﺣﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻣﻨﺴﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﺄﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻧﺎﺣﻮا ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺻﻴﺔ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﻌﺬﺏ ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﺰﺭ ﻭاﺯﺭﺓ ﻭﺯﺭ ﺃﺧﺮﻯ ﻗﺎﻟﻮا ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻌﺮﺏ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻃﺮﻓﺔ ﺑﻦ اﻟﻌﺒﺪ : ﺇﺫا ﻣﺖ ﻓﺎﻧﻌﻴﻨﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭﺷﻘﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﻴﺐ ﻳﺎ اﺑﻨﺔ ﻣﻌﺒﺪ ...
Ulama beda pendapat tentang hadits-hadits ini. MAYORITAS ulama mengarahkan pada mayit yang berwasiat agar ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Lalu wasiat itu dijalankan. Maka mayit ini disiksa karena tangisan dan ratapan keluarganya. Karena dialah penyebabnya dan disandarkan kepada dia.
Ulama berkata bahwa jika ada orang yang menangisi mayit dan meratapinya tanpa wasiat, maka ia tidak disiksa. Sebab firman Allah yang artinya: "Tidaklah satu jiwa menanggung dosa jiwa yang lain." Mereka berkata: Diantara kebiasaan orang Arab adalah wasiat untuk ratapan. Diantara contoh adalah syair Tharfah bin Abd [Bahar Thawil]:
"Jika aku mati maka ratapilah aku dengan pujian yang ada pada diriku. Sobeklah pakaianmu untuk ku wahai putri Ma'bad" (Syarah Sahih Muslim 6/228)
Justru tulisan ustadz Wahabi diatas adalah bentuk inkonsistensi mereka pada keyakinan bahwa orang hidup tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mayit, karena amalnya sudah putus. Tapi giliran ada dalil yang mereka anggap menguntungkan, kontan saja mereka percaya itu sampai kepada mayit karena berupa siksaan bagi orang yang melakukan Tahlilan.
Secara lebih luas lagi, Amirul Mukminin Fil Hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, merinci banyak pendapat dari para ulama. Diantaranya:
ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺃﻥ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺬﻧﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺻﻼ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ
Diantara para ulama ada yang menakwil bahwa ratapan sebagai siksa kubur adalah tertentu pada orang kafir. Sebab orang Mukmin tidak disiksa lantaran dosa orang lain sama sekali. Ini sangat jelas dari riwayat Ibnu Abbas dari Aisyah. (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/154)
Yang dimaksud oleh kutipan Imam Ibnu Hajar adalah:
عن ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻤﺎ ﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻳﺒﻜﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻴﺒﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﻟﺘﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻫﺎ»
Aisyah, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, berkata: "Rasulullah berjalan berjumpa dengan (mayit) Yahudi perempuan yang ditangisi oleh keluarganya. Nabi bersabda: "Mereka menangisi kepergiannya, dan ia disiksa di kuburnya" (HR Bukhari)
Bersambung. In sya Allah....
Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim