Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2018

Teroris Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya

Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91



Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yg nampak baik2 dan normal seperti keluarga muslim yg lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar2 terjadi saat ini.

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis islam yg lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yg lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan unt menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita unt disetor ke mereka.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak2 muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid2 pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yg paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yg paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yg jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yg menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom2 teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) unt diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yg seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yg saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Yg ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yg kita alami saat ini adalah panen raya dari benih2 ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah2 dan kampus2. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yg saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yg sifatnya sembunyi2 dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dng tempat2 yg sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yg terasa begitu dekat dengan memori masa2 SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yg terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar2nya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham islam, ini bukan bagian dari ajaran islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja unt meledakkan diri.

Nyatanya memang ada saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras yg hobinya mengutip mentah2 ayat2 perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

Nyatanya memang benih2 radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak2 muda kita, di sekolah2 terbaik dan dikampus2 top di Indonesia. Dan kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita ndak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, Kalau kita dengan gentle mengakui - bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras, yg merasa bahwa islam harus diperjuangkan dengan kekerasan - maka kita bisa mulai mengambil langkah2 solutif.

Dan langkah2 solutif nyata yg bisa kita lakukan diantaranya adalah:

1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

2. SMA2 dan Kampus2 harus disterilkan dari gerakn2 bawah tanah islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas islam yg menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “islam yg ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan islam yg keras, penuh umpatan, dan kata2 kasar, apalagi hoax dan berdarah2.

4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yg membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

5. Mawas diri dan sama2 menahan diri dalam menyikapi perbedaan2 dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem2. Dan ini fenomena psikologi yg wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”. Jadi mari kita yg akan bersama2 memulihkan wajah Indah Islam.

Terakhir, mari kita dengar seruan seorang remaja islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

“Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yg bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar2nya: radikalisme, ekstrimisme)”

Love & Peace for all of us..

And for my beloved Christian brothers & sisters.. my deep condolence for all of you.. from the bottom of my heart, I am really sorry..

STAY SAVE.. SPREAD COMPASSION..

Saya yg sedang berduka,

Ahmad Faiz Zainuddin
Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995

Rabu, 07 Februari 2018

Sudah Diduga, Mudzakarah MUI Kota Bogor Selesai Tanpa Kehadiran Ust. Yazid Jawaz



Salah satu ustadz salafi wahabi yang sedang populer, Ust. Jazid bin Abdul Qodir Jawaz sebelumnya telah diundang dalam acara mudzkaroh (diskusi) di ruang rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor, Jl. Padjajaran 10, Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 07 Februari 2018 (12 Jumadil Ula 1439 H). Hal ini terkait tulisan beliau dalam bukunya "Mulia Dengan Manhaj Salaf" telah menuduh sesat ulama ahlussunnah wal jama'ah yang mengikuti Imam Asy'ari (disebut Asy'ariyah) dan Imam Maturidi (disebut Maturidiyah). Padahal, kedua akidah tersebut dianut oleh mayoritas umat islam diseluruh dunia sebagai representasi akidah ahlussunnah wal jama'ah. 

Namun, acara yang sedianya dilaksanakan Rabu siang ini, dimulai pukul 13.00 WIB, ternyata tidak ditanggapi dengan baik oleh sang ustadz yang terkenal sebagai ustadz sunnah oleh para pengikutnya. Padahal mudzakaroh ini tidak lain hanya untuk tabayyun alias mengklarifikasi terkait tulisan-tulisan dan ceramah-caramah Ust. Jazid Jawas yang dianggap provokatif dan menyerang kelompok tertentu dengan tuduhan bid'ah dan sesat. Seandainya Ust. Jazid Jawas dapat hadir, tentu tuduhan-tuduhan bid'ah dan sesat tersebut bisa didiskusikan bersama. Sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih atas khilafiyah yang berkembang di masyarakat tanda embel-embel tuduhan bid'ah dan sesat. 


Hari ini, ramai beredar di media sosial, kabar yang menjelaskan perihal undangan mudzakaroh MUI Kota Bogor kepada Ust. Yazid Jawaz. Bahkan undangan mudzakaroh tersebut langsung ditandatangi oleh Ketua MUI Kota Bogor. Bagi kelompok yang selama ini dituduh berbuat bid'ah dan sesat oleh Ust. Yazid Jawas, tentu ini momen yang tepat untuk berdiskusi. Andai Ust. Yazid terbukti telah salah memahami amalan kelompok yang beliau tuduh, tentu beliau dituntut untuk meminta maaf kepada umat yang terlanjur sakit hati. 


Tapi sudah diduga, banyak netizen yang mengatakan Ust. Yazid tidak akan hadir dengan alasan "jangan berdebat dengan ahli bid'ah", sesuai dengan ceramah beliau yang beredar di Youtube. Sikap seperti inilah yang pernah disayangkan oleh Ust. Abdul Shomad. Beliau pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, Ust. Musthafa Umar sebagai perwakilan MUI Prov. Riau pernah mengundang baik-baik para ustadz salafi wahabi agar bisa diajak berdiskusi, dan jangan hanya murid-murid ustadz salafi wahabi saja yang pandai berkoar-koar di dunia maya. Nyatanya, para ustadz salafi wahabi tidak berani datang. 

Wallahu'Alam Bisshowab, semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk untuk mencari kebenaran. Amin...   

  





Jumat, 02 Februari 2018

Tragedi Pemukulan Terhadap KH. Umar Basri, Bahaya Laten Intoleransi

Muhasabah Kebangsaan

BAHAYA LATEN INTOLERANSI
Al-Zastrouw



Tragedi pemukulan terhadap KH. Umar Basri (ajengan Emon) saat melakukan dzikir di masjid Al-Hidayah, masjid pesantren yg diasuh sang ajengan, mengingatkan saya pada dua kejadian penting beberapa tahun lalu.

Pertama, peristiwa pengusiran Gus Dur saat memberikan ceramah pada acara diskusi di Purwakarta. Saat sedang memberikan ceramah tiba2 datang sekelompok orang berseragam putih yang secara tegas mengaku dari FPI membubarkan acara tersebut dengan cara2 yg kasar dan tak beradab. Hujatan, caci maki dan kata2 kotor ditujukan pada Gus Dur.

Hampir saja terjadi bentrok dan konflik horizontal, karena pada saat itu para Banser dan kaum muda NU sdh siap melakukan serangan balasan. Tapi dengan tegas Gus Dur justru melarang.

Pada saat itu tak ada tudingan FPI membubarkan pengajian, tak ada tuduhan kriminalisasi ulama meski yg dibubarkan adalah majlis Ilmu dan yg dilarang bicara adalah ulama besar yg sdh diakui dunia. Juga tak ada kegaduhan gerakan bela ulama dan Islam dengan demo berjilid2

Bandingkan dg kegaduhan yg terjadi saat ini ketika seorang pembicara agama diminta membuat pernyataan setia pada NKRI seperti yg terjadi pd kasus Felix dan Ustad Abdus Shomad, seolah2 terjadi pelarangan pengajian dan pelecehan ulama. Padahal mereka tdk dilarang kasih pengajian dan badannya juga tdk tersentuh sedikitpun, tapi berita yg tersebar seolah telah terjadi pelecehan ulama, penistaan Islam dan sejenisnya.

Kegaduhan peperti ini sama sekali tidak terlihat saat ajengan Emon dianiaya secara fisik bahkan sampai berdarah-darah di tempat yg disakralkan (masjid), bukan di hotel atau bandara, dan saat melakukan ibadah dzikir bukan saat memberikan provokasi yg membakar emosi ummat. Kelompok yg pernah mengusir Gus Dur ini diam, cep klakep tanpa ada komentar apalagi reaksi.

Terus terang, melihat reaksi kaum daster ini langsung mengingatkan saya pada hubungan antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Ayah beliau adalah santri Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yg juga kakek Gus Dur. Ini menunjukkan ada kesamaan genealogi sosiologis dan ideologis antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Kesamaan ini yg membuat hubungan emosional antara beliau berdua menjadi dekat. Hal itu bisa menimbulkan asumsi bahwa ajengan Emon adalah sama atau bagian dari Gus Dur sehingga kelompok2 yg dulu membenci dan mengusir Gus Dur akan merasa tidak perlu simpati apalagi membela. Mereka menganggap beliau bukan ulama sebagaimana mereka menganggap Gus Dur sebagai kaum liberal, yg layak diusir dan dicaci maki. Dengan cara pandang ini sangat bisa dipahami jika kelompok2 yg selama ini teriak2 bela ulama dan Islam diam dan tak bereaksi terhadap kasus penganiayaan yg menimpa ajengan Emon.

Kedua, kasus ini mengingatkan saya pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari issu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kyai2 kampung dan guru2 ngaji warga NU. Berdasar data tim pencari fakta (TPF) PWNU Jatim, korban pembantaian Banyuwangi ini ada 147 orang, bahkan laporan LSM Kompak Banyuwangi mencapai 174 orang.

Saya teringat pada tragedi Banyuwangi karena ada beberapa kesamaan antara kasus Banyuwangi dengan Cicalengka; pertama, sasarannya kyai kampung NU; kedua, terjadi saat menjelang event politik bertensi tinggi, ketiga; pelaku yg tertangkap selalu diindikasikan menglami gangguan jiwa, (bahkan ada yg lgs bunuh diri) sehingga sulit dilacak jejak dan motifnya. Keempat, menjadikan PKI sebagai kambing hitam pelaku pembantaian ulama.

Pada kasus pengusiran Gus Dur kita bisa melihat bagaimana kelompok2 intoleran menjadi ujung tombak untuk melawan ulama yg mencoba merajut keutuhan bangsa, konsisten pada Pancasila sbg perjanjian luhur bangsa. Kaum intoleran menganggap ulama seperti ini sebagai ulama liberal, agen zionis dan tidak membela Islam sehingga layak dihujat, diusir dan dicaci maki.

Meskipun mengaku menerima Pancasila, namun mereka menafsirkannya secara sektarian dan eksklusif, sehingga memberangus dan menegasikan keberagaman yg ada. Dan ini terlihat jelas dalam perilaku politik mereka yg radikal dan intoleran. Dalam kasus Cicalengka, indikasi pelaku sebagai bagian dari kelompok ini terlihat jelas dalam perkataan dan sikap pelaku sebelum melakukan pemukulan (sebagaimana disebutkan dalam kronologi yg beredar di medsos). Peristiwa ini mengindikasikan kaum intoleran semakin brutal dan agresif menyerang ulama dan kelompok teleran dan moderat.

Dalam kasus Banyuwangi saat itu, Gus Dur memahami peristiwa kelam itu sebagai upaya memancing emosi kaum Nahdhiyin agar masuk dalam pusaran konflik horizontal sehingga terjadi kekacauan. Oleh karenanya Gus Dur menahan agar ummat NU tdk terpancing. Dalam situasi ketegangan politik yg makin meningkat seperti saat ini, bisa jadi berbagai kepentingan sedang bermain memanfaatkan situasi yang ada.

Melihat pola dan modus yg terjadi serta mencermati genealogi ideologi dan sosialogi kelompok2 yang menggunakan ayat dan simbol agama dalam gerakan mereka, bisa dikatakan bahwa gerakan kaum intoleran yg hendak memecah keutuhan bangsa masih menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa. Upaya menghancurkan Pancasila masih dilakukan dg segala cara.

Jika merujuk pada referensi sejarah kebangsaan, situasi seperti sekarang ini mirip dengan suasana jelang peristiwa pemberontakan 65, ketika rakyat digiring dalam suasana konflik atas nama revolusi. Saat ini rakyat digiring menuju konflik dg menumbuhkan sikap intoleran menggunakan agitasi atas nama agama dan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi dengan kejernihan nalar dan hati agar tidak mudah hanyut dalam provokasi dan agitasi dalam segala bentuknya. Dulu kita waspada atas bahaya laten PKI, ada baiknya saat ini kita waspada terhadap bahaya laten intoleransi.***

El-Zastrouw

Inilah 7 Tahapan Menjadi Wahabi Takfiri

7 TAHAPAN MENJADI WAHABI TAKFIRI



Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.
Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mari kita lihat tahapan2-nya:
  1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu. Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.
  2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb. Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.
  3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi. Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.
  4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adaah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain. Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.
  5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.
  6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.
  7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.
  8. Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

Oh ya, apa antum punya teman seperti itu? atau jangan2 antum sendiri #eh. Sudah sampai pada tahapan mana? 
(Narko Sun)

Rabu, 29 November 2017

Ustadz Abdul Shomad Dimata Kaum Talafi

USTAD ABDUS SHOMAD DIMATA TALAFI.
Talafi itu apa ustad? 



Talafi itu sejenis binatang melata pemakan daging dan bangkai manusia. itulah Talafi.
=> Kata mereka (talafi), “Si Shomad itu mencela Sunnah dengan mengatakan jenggot seperti tusuk sate”.

Padahal, Ustad Abdus Shomad meng-ilustrasikan dirinya sendiri bahwa jika dirinya berjenggot, tumbuhnya jarang-jarang seperti tusuk sate. Jadi beliau bukan mencela syari’at berjenggot sebagaimana professor bau tanah yang kelebihan dosis itu. dalam video ceramahnya, dengan jelas Ustad Abdus Shomad mengatakan, “SIAPA YANG SUDAH BERJENGGOT MAKA BAGUS, BAIK, DAPAT PAHALA, IKUT SUNNAH. JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERJENGGOT DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA...”, dst.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Talafiyyun kaum perusak itu selalu dengan percaya diri mempertontonkan kualitasnya yang rendah di hadapan masyarakat; utamanya terkait dengan urusan keummatan. Wajar jika mereka bergandeng tangan dengan para pedagang virus ‘se-pi-lis’ di Indonesia (SI ZUHAIRI MISRAWI) yang dulu sempat mau dibunuh orang KKS karena mengatakan shalat lima waktu tidak wajib. mereka juga bergandeng tangan dengan ‘hamba’ si Ahok bernama YUSUF MUHAMMAD dalam membully Ustad Abdus Shomad dan membela si janda pesek pemelihara anjing. Tapi, kami tak heran...wong Komunis saja dianggap tidak kafir oleh mereka, maka wajar jika mereka membela si JANDA PESEK yang terindikasi mulhidah (atheis) itu.

Mengutip pernyataan Ummu Sumayyah As-Salafiyyah, “Kenapa orang-orang munafiq itu justru fokus ke pribadi Ustadz Abdul Shomad yang jujur mengatakan bahwa si Rina Nose memang pesek? Kalau mereka paham makna ayat Al-Qur’an bahwa manusia sebaik-baik ciptaan-Nya, maka pesek atau mancung tetaplah ciptaan terbaik-Nya. Yang menjadikannya jelek adalah akhlaqnya kepada ajaran Islam, dan kaum munafiq justru membela penghina syariat-Nya demi kepentingan dunianya yang sedikit, bukan membela karena alasan al-wala’ wal bara’ (keberpihakan dan permusuhan dengan landasan syariat-Nya). Kaum zindiq yang sok bijak!”
-selesai-

=> Kata Talafi, “apakah Rina Nose itu lebih buruk daripada Fir’aun dan si Shomad lebih baik dari musa?”

JAWABAN kami (Maaher At-Thuwailibi), Rina Nose itu tidak lebih baik dari Ustad Abdus Shomad dan begitupun sebaliknya Ustad Abdus Shomad tidak seburuk Rina Nose. Jadi, jika anda ingin membela si janda pesek pemelihara anjing itu, silahkan saja. tapi tak perlu mengajak kami untuk membully Ustad Abdus Shomad sedemikian rupa. karena bagaimanapun juga -dalam hal ini- kami lebih memilih membela tokoh agama daripada artis ‘pesek’ perusak moral generasi bangsa. 😊
Nas-alullah al-‘aafiyah wa salamah.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Kata Mereka, Sayyid Quthub Itu 'Bapak Terorisme' ?

KATANYA, SAYYID QUTHUB ITU “BAPAK TERORISME” !!?



Sayyid Quthub rahimahullah itu ORANG MESIR. Hidup di Mesir. Melihat realitas Mesir yang cenderung sekuler. Dia ingin MESIR ISLAMI, Mesir peradaban Islam, Mesir yang taqwa kepada Allah dan taat Rasul-Nya.

Dia sangat CEMBURU dengan nasib Islam. Dia marah melihat kemunduran dan kelemahan Muslim di Mesir. Dia teriak-teriak MEMBANGUNKAN orang, lewat kata-kata tajam, menukik, dan sastrawi.
Apa yang dibidik Sayyid Quthub, adalah keadaan di negeri negeri Muslim yang cenderung SEKULER, tidak berhukum Syariat, jauh dari sendi-sendi Islam. Dia tidak membidik Saudi yang relatif melaksanakan Syariat Islam.

KENAPA sebagian ulama Saudi suka pada pemikiran Sayyid Quthb? Karena, apa yang dicita-citakan Sayyid Quthub, sebagian SUDAH TERCAPAI DI SAUDI. Saudi bersendi Syariat Islam. Bukankah itu yang dituju oleh Sayyid Quthb?

Aneh betul para pembenci Sayyid Quthub itu? Apa sih maumu? Apa kamu suka kehidupan JAHILIYAH, jauh dari tuntunan Syariat Islam? Katakan sejujurnya! Kamu mati-matian mencela Sayyid Quthub, tapi berlebihan MEMUJI penguasa sekuler? Apa maumu?

Apa ulama-ulama Saudi (pembenci Sayyid Quthub) suka dengan SEKULARISME seperti terjadi di negeri-negeri Muslim? Kalau tidak suka, kenapa marah dengan cita-cita Sayyid Quthb? Kalau mereka suka sekularisme, terus apa perlunya berdalil seolah jadi yang paling Islami?

SANGAT ANEH... ngakunya pro Arab Saudi, tapi membenci cita-cita Sayyid Quthb rahimahullah.
Sayyid Quthub itu adalah seorang penulis, pemikir yang sangat jenius, sekaligus sastrawan Islam dari Al-Ikhwan. Mereka tidak pernah memberontak kepada rezim Mesir. Kalau bicara harus tahu fakta, biar tidak fitnah & merusak.

BEGINI ceritanya... Tahun 1948 Syaikh Hasan Al-Banna dan jamaah Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin) bergerak dari Mesir menuju Palestina. Mereka terjun ke medan Jihad melawan Zionis/Yahudi. Saat Jihad sedang bergolak, Raja Faruq menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang. Terpaksa Syaikh Hasan Al-Banna pulang bersama jamaahnya ke Mesir. Tak lama sesudah itu Syaikh Hasan Al-Banna ditembak oleh orang suruhan Raja Faruq. Beliau SYAHID in sya’ Allah.
SETELAH dibubarkan, jamaah Al-Ikhwan tercecer. Lalu ada kader-kader pejuang berusaha menumbuhkan kembali gerakan Al-Ikhwan ini. Salah satunya Syaikh Hasan Al-Hudaibi Rahimahullah. Juga Syaikhah Zainab Al-Ghazali Rahimahallah.

Di sisi lain terjadi PERUBAHAN POLITIK di Mesir. Kekuasaan Raja Faruq tumbang, dikudeta oleh Jamal Abdul Nasher. Dari kerajaan/monarkhi berubah menjadi republik. Namun kebijakannya sama, tetap menetapkan Al-Ikhwan sebagai ORGANISASI TERLARANG.

Saat itulah Sayyid Quthub masuk ke Al-Ikhwan dan menjadi “the rising star” pemikiran. Jelas rezim tahu itu. Walhasil, Sayyid Quthub dijebloskan ke penjara. Rezim akan membebaskan Sayyid Quthub asalkan dia mau mengucapkan kalimat: “Aku menolak Negara Islam, dan mendukung negara sekuler (ala Jamal Abdul Nasher dkk).” nah, tetapi Sayyid Quthub menolak, dan lebih memilih dihukum mati. Sebelum hukuman mati dilakukan, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz rahimahullah (mufti agung arab saudi saat itu) membela Sayyid Quthub dan menulis surat ke si durjana Jamal Abdul Nasher ini, agar hukuman mati dibatalkan. Si durjana itu tidak peduli. Sayyid Quthub tetap dihukum mati. Beliau syahid, in sya’ Allah.

Menetes air mata orang-orang beriman mendengar kejinya lisan maffia-maffia “berjubah sunnah” menteroriskan para pahlawan islam, tak terkecuali Asy-Syaikh Sayyid Quthub Rahimahullah yang disaksikan sejarah sebagai pejuang islam di mesir yang Syahid in sya Allah..
KOK ada ya manusia yang gemar memfitnah para PAHLAWAN ISLAM? Apa mereka itu sudah SIAP digugat Sayyid Quthub di akhirat nanti? Berjasa bagi Islam GAK ADA, tapi doyan memfitnah para ulama dan pejuang syari'at. Nas'alullah al-'afiyah.
*)Hati-hati atas isu-isu murahan.

*Ustad Abu Abdurrahman At-Thalibi*

Sayyid Quthub Dimata Ulama-Ulama Saudi

Abdurrahman Thayyib, da’i “sagaring” (salafi garis miring) surabaya mengatakan bahwa Sayyid Quthub adalah bapak terorisme dan radikalisme. Lalu, ia menyebutkan kitab karya Sayyid Quthub yang dianggapnya menyimpang, diantaranya Ma’alim Fii Thariq dan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an.
Bagaimana pandangan Ulama-ulama Saudi terhadap Sayyid Quthub Rahimahullah dan karya-karyanya serta bagaimana beliau dimata mereka?


=> Berkatalah Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud -anggota Hai’ah Kibaril Ulama kerajaan Saudi Arabia- dalam kitabnya Majmu’ Ar-Rasail wa Maqalat:

كتاب أخذ صاحبه ثمنه قتلاً نحسبه في سبيل الله بدافع من الروس الشيوعيين لجمال كما يعرف ذلك المعاصرون للقضية، وقامت بتوزيع هذا الكتاب جهات عديدة في المملكة، وخلال سنوات عديدة، وأهل هذه الجهات أهل علم ودعوة إلى الله،
“Kitab Ma’alim Fii Thariq karya Sayyid Quthub ini telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan MATI DI JALAN ALLAH karena menentang penguasa komunis Mesir Jamal Abdul Nasher, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal kitab tersebut telah disebarkan oleh banyak pihak dikerajaan Saudi sejak bertahun-tahun lamanya, dan mereka adalah para ahli ilmu dan para da’i ilallah...”

=> Mufti agung Kerajaan Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh, berkata:
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرةوحمية للإسلام ، والرجل له جهاد تعلمون أنه استشهد أو قتل شهيدا رحمه الله..
“Kitab Tafsir Fi Zhiilal Qur’an itu memiliki uslub (metode bahasa) yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh Sayyid Quthub menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan kalimat-kalimatnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para Nabi dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti kalimat-kalimatnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastra yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Zhilalil Qur’an) itu tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pelurusan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Sayyid Quthb) telah menulisnya dalam keadaan rasa ghirah (cemburu) dan cinta terhadap agama Islam. Dia adalah seorang laki-laki berjihad yang kalian ketahui dan dia telah mendapatkan kesyahidan atau dibunuh menjadi SYAHID Rahimahullah”.

=> Syaikh Hamud ‘Uqla Asy-Syu’aibi dalam Fatawa Asy-Syu’aibi berkata tentang Sayyid Quthub:
إن سيدا رحمه الله يعد في عصره علما من أعلام أصحاب منهج مقارعة الظالمين والكفر بهم ، ومن أفذاذ الدعاة إلى تعبيد الناس لربهم والدعوة إلى توحيد التحاكم إلى الله ، فلم يقض إلا مضاجع أعداء الله ورسوله كجمال عبدالناصر وأمثاله .. وما فرح أحد بقتله كما فرح أولئك. وسيد رحمه الله لا ندعي له العصمة من الخطأ، بل نقول إن له أخطاء ليس هذا مجال تفصيلها، ولكنها لا تخل بأصل دعوته ومنهجه، كما أن عند غيره من الأخطاء التي لم تقدح في منـزلتهم وعلى سبيل المثال ابن حجر والنووي وابن الجوزي وابن حزم، فهؤلاء لهم أخطاء في العقيدة إلا أن أخطاءهم لم تجعل أحدا من أبناء الأمة ولا أعلامها يمتـنع من الاستفادة منهم أو يهضمهم حقهم وينكر فضائلهم ، فهم أئمة إلا فيما أخطئوا فيه، وهذا الحال مع سيد رحمه الله فأخطاؤه لم تقدح في أصل منهجه ودعوته لتوحيد الحاكمية وتعبيد الناس لربهم.
“Pada masanya, Sayyid Quthub Rahimahullah menjadi salah seorang yang mengetahui manhaj yang mampu menggoncangkan kaum zhalim dan kekufuran yang ada pada diri mereka. Ia termasuk manusia yang paling bersemangat menyeru manusia agar menyembah Rabbnya dan mengajak untuk mentauhidkan hukum kepada hukum Allah Ta’ala. Tidak ada yang menentangnya kecuali sekumpulan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seperti Jamal Abdunll Nasher... Dan tidak ada manusia yang bahagia dengan terbunuhnya Sayyid Quthub sebagaimana kebahagiaan mereka.

Sayyid Quthub Rahimahullah tidak pernah mengklaim dirinya ma’shum dari kesalahan, bahkan kami katakan bahwa Beliau punya kesalahan dan bukan di sini tempatnya untuk membahasanya. Tetapi kesahalannya itu tidaklah menodai dasar-dasar da’wah dan manhajnya. Sebagaimana Ulama yang lainnya pun memiliki kesalahan yang tidak menodai kedudukan mereka, contohnya: Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnul Jauzi, dan Ibnu Hazm. Mereka semua memiliki kesalahan dalam beberapa perkara, tetapi tidaklah itu menghalangi kaum muslimin dan ulamanya untuk mengambil manfaat dari mereka, merampas hak mereka, dan mengingkari keutamaan mereka. Maka, mereka adalah para imam walau mereka memiliki kesalahan. Dan keadaan Sayyid Quthb juga demikian bersama kesalahan-kesalahannya, bahwa itu tidaklah menodai dasar-dasar manhajnya, dan da’wahnya kepada manusia untuk meng-Esakan Al-Hakimiyah dan peribadatan kepada Rabb mereka”.
-selesai-

Demikianlah berberapa persaksian Para Ulama Saudi , ulama sagarus (salafi garis lurus) terhadap ASY-YAHID -in sya’ Allah- SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH. berbeda dengan isu murahan dan obral kecaman dari para penjilat itu.

Semoga kita dikumpulkan bersama para syuhada’ di dalam Jannah. Aamiin..

Oleh : Ustad Farid Nukman Hasan.