Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

Kajian Historis Tentang Naga, Mitos Apa Nyata?

Seminggu yang lalu, saya pernah meng-update status tentang Naga. Hal inilah yang menggelitik saya untuk browsing tentang sejarah dan mitos hewan ini. Berikut ini adalah sejarah dan mitos tentang Naga. Selamat menyimak, kawan...

Naga merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan bangsa China. Hal ini dapat dilihat dari budaya China yang hampir semuanya berhubungan dengan ‘hewan legenda’ ini. Sebaliknya, para peneliti dan ilmuwan meyakini bahwa naga hanyalah merupakan ‘makhluk khayalan’ semata yang hanya hadir dalam legenda-legenda klasik.

Namun, sebuah penemuan pada tahun 1996 seolah menjawab keragu-raguan para ahli tersebut. Para Arkeolog di China berhasil menemukan fosil Naga di Desa Guanling, kota Anshun, China. Penemuan ini membuktikan bahwa hewan yang dikeramatkan ini memang pernah dan benar-benar ada di bumi ini.

Naga merupakan hewan reptil yang hidup di Samudra pada masa Triasik sekitar ribuan tahun yang lalu SM. Naga merupakan makhluk amfibi, ia banyak menghabiskan waktunya di air dan terkadang berjalan kedaratan. Naga merupakan legenda yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat China. Hewan dari masa lalu ini, sering hadir dalam kisah-kisah masalalu China dan dianggap sebagai makhluk yang istimewa.

Fosil Naga yang ditemukan di Desa Guanling itudilengkapi dengan sepasang tanduk diatas kepalanya. Wujud dari fosil Naga ini menyerupai hewan legenda yang sering digambarkan dalam legenda China. Fosil ini dalam kondisi baik dengan panjang keseluruhannya mencapai 7,6 m, kepalanya 76cm dan lehernya 54 cm. Tubuhnya memiliki panjang 2,7 m serta lebar 68 cm, dan buntutnya 3,7 m.

Fosil Naga yang ditemukan di Desa Guanling
Kepala Naga berbentuk segitiga, dengan lebar mulut43 cm. Bagian terlebar di kepala Naga mencapai 32 cm, kedua tanduknya, denganbentuknya yang simetris menjulang dari bagian terlebar tersebut dan berukuran27 cm. Tanduknya berbentuk agak sedikit melengkung serta condong ke samping, sehingga semakin membuat fosil tersebut menjadi seperti Naga dalam legenda lukisan-lukisan dinasti China. Fosil itu pada akhirnya dipamerkan pada tahun2007 di Xinwei “Ancient Life Fossils Museum” di Anshun, Guizhou, China.

Penemuan lainnya terjadi di Provinsi di dekatsebuah desa di Fuyuan, China barat daya pada tanggal 22 Januari 2007. Penduduk setempat menemukan fosil Naga berukuran kecil yang telah melekat pada lempengan batu di dalam sebuah gua di atas sebuah bukit.

Para petani di desa itu telah melakukan penggalian fosil sejak tahun 2000 untuk mencari sisa-sisa dari legenda Naga karena terinspirasi oleh penemuan Naga yang dipamerkan di Guizhou. Para petani melakukan itu untuk menambah penghasilan dengan menjual fosil tersebut kepada para peneliti.

Sebelumnya, untuk membuktikan keberadaan Naga itu benar-benar nyata, para arkeolog China melakukan ekskavasi sejak tahun 1983 dibeberapa lokasi yang diyakini pernah ditinggali oleh peradaban China kuno. Ekskavasi pertama dilakukan di sekitar Desa Niuheliang, di kaki Gunung Merah(Red Mountain). Tepatnya, berada di lokasi lembah Sungai Liachoe. Dari beberapa temuan membuktikan, bahwa di daerah ini pernah ditinggali sebuah peradaban kunoyang cukup maju ribuan tahun silam.

Pada penggalian pertama, para arkeolog menemukan dua potongan batu giok berbentuk seekor Naga. Giok Naga ini diukir secara halus, berwarna hijau transparan. Penemuan pertama ini, menurut para arkeolog sangat berharga. Dari bukti itu terlihat peradaban ribuan tahun silam memang sudah mengenal budaya ukiran yang sangat halus dan tak kalah indah dengan hasil pahatan zaman sekarang.

Penggalian hingga tahun 2003 itu melibatkan puluhan arkeolog dari “Research Institute of Lioning Province”, dan telah menyelesaikan pekerjaan pada 16 situs kuno. Mereka mengaduk-aduk situs pada areal 1.576 meterpersegi. Menggali enam kuburan kuno yang diduga adalah kuburan para kaisar pada masa itu.

Dari hasil penggalian itu, ditemukan 479 potong bukti-bukti yang mengarah tentang keberadaan ular Naga, dalam bentuk fosil rahang dan bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan bagian tubuh dari seekor ular besar. Termasuk tiga potong patung Naga yang terbuat dari batu giok halus, yang ditemukan dari kuburan kuno. Konon temuan giok patung Naga itu, hampir sama dengan temuan hasil ekskavasi di Desa Sanxingtala pada tahun 1970. Desaini masuk dalam wilayah Kota Cipeng di Monggolia dalam.

Profesor So Bingqi, seorang arkeolog terkenal diChina dan merupakan Ketua Asosiasi Arkeolog Cina mengungkapkan, temuan terbaru itu masih harus diteliti lebih jauh. Terutama dengan uji karbon, untuk menentukan umur binatang purba itu dan merekonstruksi seluruh bentuk fisiknya.

Penggalian dilakukan lebih dalam lagi, untuk mencari bagian fosil lainnya yang bisa membuktikan, apakah fosil itu merupakan binatang melata biasa atau memang seekor Naga yang diduga hidup lebih muda beberapa ribu tahun dari zaman binatang purba Dinosaurus, T-Rex, Brontosaurus dan binatang-binatang purba lainnya.

Namun dari ukuran tubuh, yang bentuknya lebih kecil dibandingkan dengan sejenis dinosaurus, diduga kuat temuan itu memang adalah sejenis ular pemangsa. Karena terlihat dari taringnya yang sangat tajam yang mengarah ke dalam, seperti halnya pada binatang pemangsa lainnya yang ditemukan lebih dahulu seperti T-Rex.

Penelitian di sekitar lembah Sungai Liachoe terusdilanjutkan para arkeolog, untuk menentukan apakah temuan ini hanya satu-satunya bukti atau masih ada yang lain. Dugaan dari para arkeolog itu tidak sia-sia, penggalian di “Red Mountain”, ternyata ditemukan bukti lainnyayang saling mendukung. Temuan serupa di lokasi ini, menemukan beberapa bukti lainyang menguatkan keberadaan Naga itu.

Baik arkeolog Bingqi maupun Daahun, anggota Tim Kerja pencari bukti keberadaan Naga itu menyimpulkan, ular yang selama ini dimitoskan itu memang benar-benar ada. Hanya apakah bentuknya memang sempurna, seperti Naga yang digambarkan dalam bentuk patung seperti di biara atau hanya ular purba biasa? Semua itu masih dalam tanda tanya. Para arkeolog masih mencari bukti-bukti lain, dan merekonstruksinya secara sempurna.

Untuk sementara, mereka berhasil merekonstruksi temuan fosil itu adalah sejenis binatang ular purba. Hal ini terlihat jelas, dari kerangka kepala yang mengarah pada sebuah kerangka ular. Namun masih belum sempurna, karena beberapa bagian lain yang diduga berupa tulang rawan bentuknya masih samar-samar. Tapi semua arkeolog meyakini, fosil itu adalah fosil Naga, nenek moyang ular-ular sekarang.

Mengenai keraguan bentuk Naga sebenarnya, untuk sementara mereka sepakat gambaran patung-patung Naga yang dibuat sejak ribuan tahun lalu, diduga kuat itu mewakili bentuk ular Naga sebenarnya meski bukti-bukti pendukungnya masih perlu diteliti ulang.

Mereka juga setuju bahwa gambaran yang ditemukan dalam bentuk patung giok naga (patung dari hancuran emas dan perungu, diperkirakan berumur 8.000 tahun lebih) merupakan gambaran bentuk asli dari Naga yang kini tinggal fosilnya.

Bangsa dan Negara yang memiliki kisah Naga dalam legendanya:
- China menyebutnya Long atau Liong; berbentuk ular dengan empat kaki yang berkuku dan bertanduk
- Vietnam menyebutnya Rong
- Jepang menyebutnya Ryu; memiliki tiga kuku tajam
- Korea menyebutnya Yong (Naga langit) , Yo (Naga laut) dan Kyo (Naga gunung)
- Siberia menyebutnya Yilbegan
- India menyebutnya Vyalee; banyak diukir di kuil Selatan India
- German/Scandinavian menyebutnya Lindworm; berbentuk ular besar yang berkaki dua
- Negara-negara Eropa menyebutnya Draco atau Drago
- Wales (Inggris) menyebutnya Draig Goch; naga merah yang tertera pada bendera negeri itu
- Hungaria menyebutnya Sárkány; naga yang memiliki dua kepala
- Slavic menyebutnya Zmey,Zmiy dan Zmaj; memiliki banyak kepala, dapat menyemburkan api
- Rumania menyebutnya Balaur; memiliki sirip, berukuran besar dan berkepala banyak
- Chuvash menyebutnya VereCelen
- Amerika Latin menyebutnya Amphitere
- Bangsa Inca menyebutnya Amaru
- Brasil menyebutnya Boitata
- Indonesia (Jawa) menyebutnya Nogo; biasa ditemukan di relic kain batik orang Jawa.

Dari bukti-bukti fosil dan legenda setiap bangsa didunia ini, saya menyimpulkan bahwa hewan Naga ini pernah hidup di dunia ini dan memang benar-benar ada. (NB: Dari berbagai sumber)

Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen PPBA UIN Maliki Malang


Menelusuri Asal-Usul Dangdut Koplo


Dosen PPBA UIN Maliki Malang

Tulisan ini muncul karena update status saya beberapa hari yang lalu tentang “Dangdut Koplo” berjudul “Bukak Tithik Jos” yang lagi ngetrend akhir-akhir ini. Sebelum membahas asal-usul Dangdut Koplo, saya jabarkan dulu perkembangan musik Dangdut di nusantara tercinta ini.

Dangdut adalah musik tradisional Indonesia yang pada era 60-an dibawakan oleh Mashabi dan Elia Khadam (baca; artis pertama yang melagukan dan pada masa itu) dan orang menyebutnya Musik Melayu. Pada era 70-an Musik Melayu ini semakin mendapat hati di telinga pencinta musik tanah air khususnya di Jawa dan klimaknya pada tahun 1973 dengan berkibarnya bendera Orkes Melayu (OM) Soneta yang dimotori oleh Rhoma Irama dan ditahun ini pulalah launching album perdana Soneta. Kemunculan Soneta rupanya jadi inspirasi musisi bahkan penyanyi di Indonesia pada masa itu dan sudah barang tentu sampai sekarang, maka muncullah penyanyi seperti A. Rafik, Nur Halimah, Elvi Sukaisi, Mansur S, Evie Tamala dll.

Dari tahun-ketahun, perkembangan industri musik ditanah air semakin menggila, tak terkecuali musik dangdut. Pada era 80 s/d 90-an musik dangdut mulai mengalami metamorfosis, ada Pop Dangdut, Rock Dangdut, Disco Dangdut dan pada akhirnya di era 2000-an booming aliran dangdut baru yang dikenal dengan sebutan “Dangdut Koplo”.

Darimanaasal aliran ini? Dan bagaimana mengetahui Dangdut Koplo itu?
Dangdut Koplo memiliki specific characteristic pada tempo dan permainan gendang. Dangdut Koplo pertama kali dimainkan dalam sebuah komunitas kecil di sebuah daerah pingiran kota Surabaya pada tahun 1993 tepatnya di daerah Girilaya. Dan pada saat itu yang pegang gendang adalah Mas Naryo bahkan saat itu disebut Dangdut Kotekan (musik patrol untuk membangunkan warga di bulan Romadhon pada saat sahur).

Permainan gendang Mas Naryo akhirnya disempunakan oleh Mas Sugeng yang akhirnya menjadi Dangdut Koplo, pada era ini mulailah semual banyak bermunculan musisi Dangdut Koplo hingga akhirnya OM. Avita (Mas Udin yang pada saat itu pegang gendang) yang mengenalkan aliran dangdut yang enerjik pada masyarakat Surabaya dan sekitarnya (baca; wilayah Pantura).

Tapi akhirnya yang paling berpengaruh dan mempengaruhi permainan gendang OM (Orkes Melayu) saat ini adalah Mas Slamet “Palapa”, boleh dibilang permainan gendang Koplo Slamet memang bisa dinikmati, sehingga banyak orang yang salah tafsir dengan mengatakan yang Ngoplo pertama kali adalah Slamet padahal seperti uraian diatas, orang yang pantas dihormati dan di banggakan adalah Mas Naryo kemudian Mas Sugeng, tapi tentu saja tidak mengurangi rasa hormat dan penghormatan kepada Mas Slamet, permainan gendang Slamet tidak bisa dianggap remeh, kelincahan serta kecanggihan memainkan jemari tangan diatas si kulit bundar emang tak perlu diragukan lagi, belum lagi improvisasi dan kecerdasannya dalam mengolah gendang adalah merupakan satu kelebihan dari si Slamet.

Hingga saat ini, Dangdut Koplo diyakini berkembang di pesisir Pantura pulau Jawa. Kenapa demikian? Pantura merupakan sentra  perdagangan, perikanan maupun pelayaran antarpulau yang cukup sibuk, dengan aktivitas masyarakatnya  yang cukup padat tentu membutuhkan sebuah hiburan rakyat yang murah meriah.

Dari situlah lahir bermacam-macam Orkes Melayu (OM)  yang kita kenal sampai sekarang ini seperti:
- OM Palapa
- OM Monata
- OM Sonata
- OM Sera
- OM Mahkota
- OM Mutiara
- OM RGS
- OM Sagita

Kehadiran orkes-orkes melayu inipun langsung mendapat tanggapan yang hangat dari masyarakt Pantura,  bagi masyarkat Pantura menggelar hajatan seperti  perkawinan, khitanan, peringatan hari besar. Tanpa menyewa Orkes Melayu, seperti makan  sayur tanpa garam, serasa kurang lengkap.

Dampak Negatif “Dangdut Koplo” bagi generasi muda
Karena beat Dangdut Koplo enerjik dan bergenre riang, maka ‘mengharuskan’ Si Biduanita ketika diatas panggung bersuara ‘menggoda’ dan bergoyang ‘maut’. Namun terkadang busana minim dan sensualitas goyangan mengalahkan kualitas suara (artinya; suara nomer dua). Perang sawer alias bagi-bagi uang dari penonton pada sang penyanyi sudah menjadi ritual dan ciri khas pertunjukan/show Dangdut Koplo.

Beberapa ex biduanita/penyanyi dangdut koplo yang sudah populer antara lain Inul Daratista dengan Goyang Ngebornya, Dewi Perssik dengan Goyang Dolphinnya, grup sensasional Trio Macan, dan yang baru-baru ini Saskia Gotik dengan Goyang Itiknya. Dan masih banyak lagi biduanita-biduanita seperti itu, yang setiap tahun bisa dipastikan ada regenerasinya.

Karena pertunjukannya di lokasi terbuka, cukup sering terlihat anak–anak kecil belum cukup umur menonton sangat dekat dengan lokasi panggung. Mereka entah paham atau tidak, ikut larut menikmati tarian erotis Sang Biduanita. Jelas, orangtua manapun akan mengatakan kalau itu bukan hal yang baik untuk perkembangan mental Sang Bocah di usia belianya.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa “Dangdut Koplo” yang para penyanyinya berpenampilan erotis dan vulgar serta sering rusuh itu tak dilarang oleh pemerintah kita? Mungkin, alasannya karena masyarakat kita umumnya sudah ‘kadung’ mengganggap Dangdut Koplo itu "made in lokal". Jadi, tidak perlu dilarang karena termasuk ‘budaya bangsa’.

Mengutip dari update status kawan saya di jejaring sosial ini; “Hari ini, bolehlah kita katakan Dangdut Koplo yang sedang trend dikalangan masyarakat tingkat ekonomi kelas menengah kebawah, besok atau lusa nanti tak menutup kemungkinan akan muncul jenis musik aliran baru yang tak kalah erotis dan vulgarnya dari Dangdut Koplo ini. Bisa saja yang akan datang, muncul musik Rock Ineks (ecstacy), Jazz Miras, Campursari Alkohol, Keroncong Shabu dsb.

Maka, seyogyanyalah pemerintah (baik pemerintah pusat maupun daerah) mengatur dan menertibkan OM-OM yang berkembang dimasyarakat ini supaya para orangtua tidak was-was dengan anak-anaknya yang masih belia.

Wallaahu a’lam bisshowaab...

Minggu, 29 Oktober 2017

Tentang 'MARHAEN' Pada 'SHALAWAT MARHAEN'



Ada seorang kawan petani yang bertanya, mengapa "Shalawat Marhaen" dinamai "Marhaen"? Siapa itu "Marhaen"?

Pertanyaan ini menarik sekaligus penting, karena menggambarkan bahwa:
1) Kaum Marhaen sendiri hari ini sudah tidak mengenal lagi istilah "marhaen" yang dulu diciptakan Bung Karno (BK) untuk membela kepentingan mereka. Ini akibat cuci-otak dan de-Sukarno-isasi oleh Orba.
2) Istilah "marhaen" sendiri sudah mengalami reduksi sedemikian rupa, dikesankan terkait dengan partai politik bernama PDI-P, sehingga istilah ini terkesan hanya milik trah Bung Karno atau mereka yang berasosiasi dengan PDI (zaman dulu) atau PDI-P.

Poin kedua ini adalah mitos. "Marhaen" memang kerap terdengar dari para kader politik yang mengklaim pewaris ajaran politik Bung Karno, tapi istilah ini bukan milik mereka saja. Istilah ini milik bangsa Indonesia, juga milik kaum pergerakan yang berjuang untuk tercapainya cita-cita revolusioner Sukarno. Lagi pula, siapa hari ini yang bukan "pewaris Bung Karno"? Kita selalu mewarisinya, sedikit atau banyak, diam-diam atau terang-terangan, satu dan lain cara. Kita terus membaca "Di Bawah Bendera Revolusi", dan jujur atau tidak, masih berada dalam bayang-bayang seruannya. Tak terkecuali kaum santri. Para santri diam-diam, diakui atau tidak, adalah juga Sukarnois dengan cara mereka masing-masing.

Istilah "Marhaen" didefinisikan BK sebagai gabungan "kaum proletar Indonesia", "kaum tani Indonesia yang melarat", dan "kaum melarat Indonesia yang lain-lain".

Lebih eksplisit, BK menjabarkan: "Marhaen bukanlah kaum proletar (kaum buruh) saja, tetapi ialah kaum proletar dan kaum tani melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain, misalnya kaum pedagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum gerobag, kaum nelayan, dan kaum lain-lain".

"Marhaen" adalah cara BK melakukan pribumisasi (pembumian) atas istilah "Proletariat". Sebagaimana Gus Dur melakukan pribumisasi (pembumian) atas syariat Islam.

Akan muncul debat teoretik, khususnya dalam epistemologi Marxis, apa perbedaan "marhaen" dan "proletar"? BK tak sampai melakukan debat sejauh itu, dan jika hari ini kita mau memperdebatkannya, layak didiskusikan. Tapi kira-kira bisa dinyatakan: "setiap proletar adalah marhaen, tapi tak semua marhaen adalah proletar".

"Marhaen" lebih luas daripada "proletar", mencakup mereka yang hidup di garis semi-proletar, seperti kaum profesional (guru, dll) yang hidupnya rawan terjatuh ke dalam garis kemiskinan karena ketergantungan pada relasi upahan, artinya guru yang masih melarat hidupnya. Mencakup pula kaum yang sekarang disebut "proletar informal", mereka yang tidak hidup dari upah bulanan, tapi melarat karena hidup dalam lingkaran setan kapitalisme sebagai tenaga kerja cadangan untuk pabrik atau relasi upahan informal (kuli bangunan, pemulung, penjual kaki lima, dan lain-lain). Pada masa BK, belum dikenal itu istilah "proletar informal" seperti dalam studi sosiologi Marxis sekarang.

"Marhaen" ciptaan orisinal yang jenius. Dari seorang Muslim-Marxis Indonesia dan Nusantara yang adalah Bung Karno. Tapi ia menjadi rongsokan sejarah, karena memang tak ada rezim yang mau kaum marhaen bangkit dan sadar. Rezim yang juga menista BK menjadi sekadar asesori tiap 17 Augustus, tapi menginjak-injak warisan pemikirannya.

Shalawat ini cara penulis mensyukuri Bung Karno, sekaligus mensyukuri Nabi Pembebasan yang selalu dikagumi BK dalam setiap langkah perjuangannya, Rasulullah Muhammad, shallallahu 'alaihi wasallam.

Sabtu, 23 September 2017

Menguak Fenomena Dibalik Isu Kebangkitan PKI

Ilustrasi

Ini bukan narasi ilmiah, cuma uneg-uneg yang mewakili pendapat subjektif saya tentang isu kebangkitan PKI. Anda boleh berpendapat, saya juga. Ini pendapat saya.

Saya sama sekali tidak percaya komunisme bangkit di Indonesia. Tanya kenapa? Ideologi itu sudah tidak laku, tidak diminati orang, apalagi oleh generasi milenial. Ayo jujur, emang gampang jadi komunis? Prinsip komunisme adalah: “From each according to his ability, to each according to his needs.” Ini dawuh Eyang Kakung Karl Marx. Aslinya dalam bahasa Jerman: “Jeder nach seinen Fähigkeiten, jedem nach seinen Bedürfnissen.“

Dalam masyarakat ‘kominis’ (ejaan khas mbah-mbah buyut saya), “Setiap orang memberi sesuai kemampuannya, setiap orang mendapat sesuai dengan kebutuhuannya.” Anda doktor, lulus S3 luar negeri, tidak usah pamer ijazah. Jika anak Anda cuma 1, Anda tidak berhak dapat bayaran lebih tinggi dari tukang parkir lulusan SMP yang anaknya 5. Itu adil dalam perspektif komunisme.
Apa yang gini laku? Emang enak “sama rata sama rasa”? Mimpi komunisme kiri-kira begini: “kalau mau kaya ya kaya bareng, kalau miskin ya miskin bareng.”

Alamak! Sama rata-sama rasa hanya ada di surga. Di surga pun ada tingkatan-tingkatannya. Ada surga kelas VVIP, ada surga kelas ekonomi. Ada juga al-A’raf, tempat di antara surga dan neraka.
Jika Mbak Marx bilang kapitalisme mengidap kontradiksi internal dan menggali kuburnya sendiri, komunisme juga. Mana ada masyarakat bisa tumbuh dan berkembang kalau tidak ada kompetisi? Tanpa kompetisi, tidak ada inovasi, tidak ada kreativitas, tidak ada kemajuan. Kompetisi adalah kodrat manusia. Islam juga mengajarkan orang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tetapi, kompetisi juga harus tandem dengan koperasi. Ini ajaran tawassuth dalam Islam, yang tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945.

Ajaran komunisme yang utopis ini tadi tidak pernah ada dalam praktek sejarah. Di Rusia, Lenin mendirikan negara sosialis. Ajaran Marx dimodifikasi menjadi: “From each according to his ability, to each according to his works” (Setiap orang memberi sesuai kemampuannya, setiap orang mendapat sesuai prestasinya). Di sini kerja orang dihargai. Hasrat untuk maju tumbuh. Orang tidak perlu sama-sama miskin. Orang boleh kaya, tetapi jangan terlalu timpang.

Ini pun tidak bertahan karena kendali negara terlalu kuat. Orang gerah, tidak bisa kreatif, tidak bebas ekspresi. Uni Soviet tumbang, Tembok Berlin jebol. Sosialisme-komunisme kandas. Sejarah usai, kapitalisme berjaya, kata Fukuyama. Komunisme tinggal nama. Tidak ada negara komunis. Yang ada adalah negara otoriter, dengan sistem politik tertutup, tetapi pro-pasar seperti RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

Kalau Anda bilang RRT negara komunis, karena itu Jokowi berarti antek komunis karena akrab dengan RRT, Anda diketawai kecebong. RRT itu negara kapitalis, cuma dimodifikasi. Karena sistem politiknya tertutup, porsi negara besar. Namanya kapitalisme negara. Model begini banyak, termasuk Singapore.

Jika Jokowi akrab dengan RRT, itu bukan karena beliau turunan PKI dan antek ‘kominis’, tetapi karena yang pegang duit sekarang ini RRT. Jangankan Indonesia, Amerika aja tergantung duit RRT. Raja Salman tempo hari juga berusaha menggangsir duit RRT dalam rangka pelepasan saham perdana Saudi Aramco.

Alhasil, komunisme usang, tidak laku. Yang masih laku, dan tetap dipelajari dengan penut minat di kampus-kampus, adalah marxisme. Marxisme tidak sama dengan komunisme. Marxisme adalah filsafat kritis terhadap kapitalisme. Karena yang berjaya sekarang adalah kapitalisme dan janji kapitalisme adalah mewujudkan kesejahteraan seperti titah Adam Smith (The Wealth of Nations) dan ternyata terjadi ketimpangan dan masih banyak orang melarat, orang pinjam teori Karl Marx untuk menyoal kemiskinan. Mempelajari marxisme tidak sama dengan menjadi komunis. Orang sekadar pinjam pisau Marx untuk membedah anatomi kapitalisme.

Dan tidak usah takut, banyak pengikut Marx yang tidak paham marxisme. Karena apa? Buku babon Marx tentang kritik kapitalisme adalah Das Kapital. Tidak seperti buku lain, buku ini sulit dicerna dan dipahami, termasuk oleh pentolan partai komunis di seluruh dunia. Dulu, sewaktu kuliah dan Orde Baru lagi berjaya, kiri itu ‘seksi.’ Saya juga ingin terlihat seksi dengan menenteng-nenteng buku Das Kapital (edisi Inggris yang saya punya Capital), meski tidak paham isinya.
Sekarang kita pindah ke soal PKI. Saya tidak percaya PKI bangkit. Apa indikatornya? Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam acara ILC TVOne bilang, indikatornya adalah adalah suara-suara yang ingin Tap MPRS No. 25/1966 dicabut. Saya merasa ini dibesar-besarkan.

Dulu Gus Dur punya ide mencabut Tap ini untuk membuka pintu rekonsiliasi. Apa berarti Gus Dur komunis?

Ada banyak tafsir dan teori seputar kejadian tahun 1965. Selama ini tafsirnya dimonopoli Orde Baru: PKI bersalah, berontak, dan layak dibantai semua pengikut dan simpatisannya. Titik! Saya orang NU dan yakin PKI bersalah di tahun 1965 dan tahun 1948. Di tahun 1950-an, abah saya adalah santri Tebuireng, Jombang. Pengasuhnya waktu itu KH. Abdul Kholiq Hasyim, putra Hadlratus Syeikh yang terkenal ‘jaduk’ alias sakti. Semua santri waktu itu digembleng hizib. Untuk apa? Melawan PKI yang aktif memprovokasi kekerasan, termasuk di kantong-kantong NU.

Setelah gagal berontak di Madiun tahun 1948, PKI terus berambisi mengambil alih kekuasaan dan mempengaruhi Bung Karno. Situasi di bawah panas. Kediri, Blitar, Jombang, dan tempat-tempat lain bergolak. Berdasarkan hikayat lisan, banyak kiai-kiai NU dipersekusi PKI. NU tentu saja melawan.
Jadi, teori yang bilang PKI murni korban dalam kasus 1965, pasti ditolak NU. Mereka berhadap-hadapan di lapangan. Sepanjang tahun 50-60an, situasinya seperti “kill or to be killed.” Namun, teori yang menimpakan semua kesalahan kepada PKI sehingga mereka layak dihabisi secara brutal, juga tidak adil.

Sudah banyak sumber kritis yang menyebut tensi sosial yang eskalatif itu ditunggangi oleh lanskap Perang Dingin yang agendanya membersihkan pengaruh komunisme di seluruh dunia. Mereka pakai alat ABRI yang terbelah dan kemudian menyuplai logistik untuk membantai PKI. Tensi sosial di bawah yang keras cocok dengan skenario benturan. NU yang sudah sering bersitegang dengan PKI menjadi mitra dalam mewujudkan skenario itu. Terjadilah kemudian peristiwa berdarah yang mengerikan. Semua orang gelap mata. Korban juga banyak berasal dari orang yang tidak bersalah. Tahu-tahu mereka diangkut, disiksa, asetnya dijarah.

Gus Dur bilang, banyak pihak dalam peristiwa 1965 adalah korban keaadaan. Karena itu, beliau berbesar hati meminta maaf. Tetapi saya syok, Pram (Pramoedya Ananta Toer), sastrawan Lekra yang karya-karyanya dikagumi, tidak menunjukkan akhlak terpuji. Dengan pongah dia menampik uluran tangan Gus Dur.

Prahara 1965 adalah salah satu bab terkelam dari sejarah Indonesia. Kita tahu, pihak-pihak yang ingin kejelasan duduk perkara 1965 tidak bisa serta merta dianggap mewakili aspirasi PKI. Menuntut negara meminta maaf kepada PKI dan menyatakan PKI tidak bersalah pasti ditolak banyak orang, karena PKI terbukti terlibat dalam kekerasan sosial dan pemberontakan. Tetapi, memberikan keadilan kepada korban yang tidak bersalah: korban salah tangkap, korban stigma, dan korban keadaan perlu dilakukan.

Caranya rekonsiliasi kultural alamiah seperti yang dilakukan NU. Banyak kiai NU di Jawa menjadi ayah asuh bagi anak-anak keturunan PKI. Cara ini merupakan mekanisme kultural terbaik ketimbang menyeret Indonesia ke Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) 1965 di Den Haag oleh satu pihak dan membangkitkan sentimen anti-PKI sebagai dagangan politik di pihak lain. Dua-duanya tidak elok! Hanya bikin perpecahan bangsa.

Saya ingin mencapai kesimpulan saya sendiri. Anda boleh menyimpulkan yang lain.
Pertama, orang-orang yang menuntut keadilan dan kejelasan peristiwa 1965 tidak otomatis PKI. Seperti Gus Dur, banyak kalangan adalah pejuang keadilan dan kemanusiaan.

Kedua, kebangkitan PKI hanya dagangan politik. Komunisme sudah tidak laku. Dia hantu yang dipelihara untuk konsolidasi agenda politik. Siapa pelakunya dan apa agendanya? Kalau Anda baca buku Robert Dreyfus, Devil’s Game, isu komunisme ini mengena di kelompok Islam Kanan. Dulu, Jamaluddin al-Afghani membangkitkan Pan-Islamisme dengan dukungan Inggris. Agendanya adalah menyingkirkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Afrika, dan Asia Barat Daya. Spirit revivalisme Islam dibangkitkan untuk melawan pengaruh Rusia di daerah-daerah itu. Dan berhasil!

Pola ini terus digunakan. Dalam lanskap Perang Dingin, Amerika dan Inggris melatih para Jihadis di Afghanistan untuk melawan Rusia. Isunya Islam lawan komunisme. Setelah sukses mengusir Rusia, mereka kelak membentuk al-Qaeda dan menabrak Pentagon dan WTC. Senjata makan tuan! Di Indonesia, petanya jelas sekali. Setelah sukses memenangkan Gubernur DKI, politik Islam bersiap-siap menyongsong Pilpres 2019. Banyak di antara pendukung Gubernur DKI terpilih kemarin yakin bahkan haqqul yaqin Jokowi adalah keturunan PKI. Dan, seperti pola di belahan dunia lain di masa lalu, isu Pilpres 2019 adalah Islam lawan komunisme. Sekarang baru pemansan.

Anda tahu sendiri, siapa yang dianggap representasi Islam, siapa yang dianggap wakil PKI. Dalam politik, wakil Islam tidak harus mengerti Islam. Yang penting, dia mendengungkan aspirasi kelompok Islam. NU adalah pelaku sejarah yang tidak akan mengikuti agenda begini. NU cintra NKRI, cinta Islam, dan cinta Indonesia. Demikian.

Sekjen PP ISNU