Tampilkan postingan dengan label Kolom Erryk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Erryk. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

Kajian Historis Tentang Naga, Mitos Apa Nyata?

Seminggu yang lalu, saya pernah meng-update status tentang Naga. Hal inilah yang menggelitik saya untuk browsing tentang sejarah dan mitos hewan ini. Berikut ini adalah sejarah dan mitos tentang Naga. Selamat menyimak, kawan...

Naga merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan bangsa China. Hal ini dapat dilihat dari budaya China yang hampir semuanya berhubungan dengan ‘hewan legenda’ ini. Sebaliknya, para peneliti dan ilmuwan meyakini bahwa naga hanyalah merupakan ‘makhluk khayalan’ semata yang hanya hadir dalam legenda-legenda klasik.

Namun, sebuah penemuan pada tahun 1996 seolah menjawab keragu-raguan para ahli tersebut. Para Arkeolog di China berhasil menemukan fosil Naga di Desa Guanling, kota Anshun, China. Penemuan ini membuktikan bahwa hewan yang dikeramatkan ini memang pernah dan benar-benar ada di bumi ini.

Naga merupakan hewan reptil yang hidup di Samudra pada masa Triasik sekitar ribuan tahun yang lalu SM. Naga merupakan makhluk amfibi, ia banyak menghabiskan waktunya di air dan terkadang berjalan kedaratan. Naga merupakan legenda yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat China. Hewan dari masa lalu ini, sering hadir dalam kisah-kisah masalalu China dan dianggap sebagai makhluk yang istimewa.

Fosil Naga yang ditemukan di Desa Guanling itudilengkapi dengan sepasang tanduk diatas kepalanya. Wujud dari fosil Naga ini menyerupai hewan legenda yang sering digambarkan dalam legenda China. Fosil ini dalam kondisi baik dengan panjang keseluruhannya mencapai 7,6 m, kepalanya 76cm dan lehernya 54 cm. Tubuhnya memiliki panjang 2,7 m serta lebar 68 cm, dan buntutnya 3,7 m.

Fosil Naga yang ditemukan di Desa Guanling
Kepala Naga berbentuk segitiga, dengan lebar mulut43 cm. Bagian terlebar di kepala Naga mencapai 32 cm, kedua tanduknya, denganbentuknya yang simetris menjulang dari bagian terlebar tersebut dan berukuran27 cm. Tanduknya berbentuk agak sedikit melengkung serta condong ke samping, sehingga semakin membuat fosil tersebut menjadi seperti Naga dalam legenda lukisan-lukisan dinasti China. Fosil itu pada akhirnya dipamerkan pada tahun2007 di Xinwei “Ancient Life Fossils Museum” di Anshun, Guizhou, China.

Penemuan lainnya terjadi di Provinsi di dekatsebuah desa di Fuyuan, China barat daya pada tanggal 22 Januari 2007. Penduduk setempat menemukan fosil Naga berukuran kecil yang telah melekat pada lempengan batu di dalam sebuah gua di atas sebuah bukit.

Para petani di desa itu telah melakukan penggalian fosil sejak tahun 2000 untuk mencari sisa-sisa dari legenda Naga karena terinspirasi oleh penemuan Naga yang dipamerkan di Guizhou. Para petani melakukan itu untuk menambah penghasilan dengan menjual fosil tersebut kepada para peneliti.

Sebelumnya, untuk membuktikan keberadaan Naga itu benar-benar nyata, para arkeolog China melakukan ekskavasi sejak tahun 1983 dibeberapa lokasi yang diyakini pernah ditinggali oleh peradaban China kuno. Ekskavasi pertama dilakukan di sekitar Desa Niuheliang, di kaki Gunung Merah(Red Mountain). Tepatnya, berada di lokasi lembah Sungai Liachoe. Dari beberapa temuan membuktikan, bahwa di daerah ini pernah ditinggali sebuah peradaban kunoyang cukup maju ribuan tahun silam.

Pada penggalian pertama, para arkeolog menemukan dua potongan batu giok berbentuk seekor Naga. Giok Naga ini diukir secara halus, berwarna hijau transparan. Penemuan pertama ini, menurut para arkeolog sangat berharga. Dari bukti itu terlihat peradaban ribuan tahun silam memang sudah mengenal budaya ukiran yang sangat halus dan tak kalah indah dengan hasil pahatan zaman sekarang.

Penggalian hingga tahun 2003 itu melibatkan puluhan arkeolog dari “Research Institute of Lioning Province”, dan telah menyelesaikan pekerjaan pada 16 situs kuno. Mereka mengaduk-aduk situs pada areal 1.576 meterpersegi. Menggali enam kuburan kuno yang diduga adalah kuburan para kaisar pada masa itu.

Dari hasil penggalian itu, ditemukan 479 potong bukti-bukti yang mengarah tentang keberadaan ular Naga, dalam bentuk fosil rahang dan bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan bagian tubuh dari seekor ular besar. Termasuk tiga potong patung Naga yang terbuat dari batu giok halus, yang ditemukan dari kuburan kuno. Konon temuan giok patung Naga itu, hampir sama dengan temuan hasil ekskavasi di Desa Sanxingtala pada tahun 1970. Desaini masuk dalam wilayah Kota Cipeng di Monggolia dalam.

Profesor So Bingqi, seorang arkeolog terkenal diChina dan merupakan Ketua Asosiasi Arkeolog Cina mengungkapkan, temuan terbaru itu masih harus diteliti lebih jauh. Terutama dengan uji karbon, untuk menentukan umur binatang purba itu dan merekonstruksi seluruh bentuk fisiknya.

Penggalian dilakukan lebih dalam lagi, untuk mencari bagian fosil lainnya yang bisa membuktikan, apakah fosil itu merupakan binatang melata biasa atau memang seekor Naga yang diduga hidup lebih muda beberapa ribu tahun dari zaman binatang purba Dinosaurus, T-Rex, Brontosaurus dan binatang-binatang purba lainnya.

Namun dari ukuran tubuh, yang bentuknya lebih kecil dibandingkan dengan sejenis dinosaurus, diduga kuat temuan itu memang adalah sejenis ular pemangsa. Karena terlihat dari taringnya yang sangat tajam yang mengarah ke dalam, seperti halnya pada binatang pemangsa lainnya yang ditemukan lebih dahulu seperti T-Rex.

Penelitian di sekitar lembah Sungai Liachoe terusdilanjutkan para arkeolog, untuk menentukan apakah temuan ini hanya satu-satunya bukti atau masih ada yang lain. Dugaan dari para arkeolog itu tidak sia-sia, penggalian di “Red Mountain”, ternyata ditemukan bukti lainnyayang saling mendukung. Temuan serupa di lokasi ini, menemukan beberapa bukti lainyang menguatkan keberadaan Naga itu.

Baik arkeolog Bingqi maupun Daahun, anggota Tim Kerja pencari bukti keberadaan Naga itu menyimpulkan, ular yang selama ini dimitoskan itu memang benar-benar ada. Hanya apakah bentuknya memang sempurna, seperti Naga yang digambarkan dalam bentuk patung seperti di biara atau hanya ular purba biasa? Semua itu masih dalam tanda tanya. Para arkeolog masih mencari bukti-bukti lain, dan merekonstruksinya secara sempurna.

Untuk sementara, mereka berhasil merekonstruksi temuan fosil itu adalah sejenis binatang ular purba. Hal ini terlihat jelas, dari kerangka kepala yang mengarah pada sebuah kerangka ular. Namun masih belum sempurna, karena beberapa bagian lain yang diduga berupa tulang rawan bentuknya masih samar-samar. Tapi semua arkeolog meyakini, fosil itu adalah fosil Naga, nenek moyang ular-ular sekarang.

Mengenai keraguan bentuk Naga sebenarnya, untuk sementara mereka sepakat gambaran patung-patung Naga yang dibuat sejak ribuan tahun lalu, diduga kuat itu mewakili bentuk ular Naga sebenarnya meski bukti-bukti pendukungnya masih perlu diteliti ulang.

Mereka juga setuju bahwa gambaran yang ditemukan dalam bentuk patung giok naga (patung dari hancuran emas dan perungu, diperkirakan berumur 8.000 tahun lebih) merupakan gambaran bentuk asli dari Naga yang kini tinggal fosilnya.

Bangsa dan Negara yang memiliki kisah Naga dalam legendanya:
- China menyebutnya Long atau Liong; berbentuk ular dengan empat kaki yang berkuku dan bertanduk
- Vietnam menyebutnya Rong
- Jepang menyebutnya Ryu; memiliki tiga kuku tajam
- Korea menyebutnya Yong (Naga langit) , Yo (Naga laut) dan Kyo (Naga gunung)
- Siberia menyebutnya Yilbegan
- India menyebutnya Vyalee; banyak diukir di kuil Selatan India
- German/Scandinavian menyebutnya Lindworm; berbentuk ular besar yang berkaki dua
- Negara-negara Eropa menyebutnya Draco atau Drago
- Wales (Inggris) menyebutnya Draig Goch; naga merah yang tertera pada bendera negeri itu
- Hungaria menyebutnya Sárkány; naga yang memiliki dua kepala
- Slavic menyebutnya Zmey,Zmiy dan Zmaj; memiliki banyak kepala, dapat menyemburkan api
- Rumania menyebutnya Balaur; memiliki sirip, berukuran besar dan berkepala banyak
- Chuvash menyebutnya VereCelen
- Amerika Latin menyebutnya Amphitere
- Bangsa Inca menyebutnya Amaru
- Brasil menyebutnya Boitata
- Indonesia (Jawa) menyebutnya Nogo; biasa ditemukan di relic kain batik orang Jawa.

Dari bukti-bukti fosil dan legenda setiap bangsa didunia ini, saya menyimpulkan bahwa hewan Naga ini pernah hidup di dunia ini dan memang benar-benar ada. (NB: Dari berbagai sumber)

Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen PPBA UIN Maliki Malang


Ibnu Sina : Sang Bapak Kedokteran Modern

Cerita dibawah ini hasil terjemahan dari mahasiswi saya yang bernama “Umi Fathimatur Roiva” dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in Jilid 6 Wahdah 4, halaman 25 yang sedikit saya editing EYD-nya:


***************
Ibnu Sina lahir di kota Bukhara pada tahun 370 H, dan dikota itulah ia memulai perjalanan hidupnya. Kota Bukhara adalah tempat berkumpulnya para ulama sain dan sastrawan-sastrawan terkemuka. Hal ini wajar, karena kota Bukhara merupakan pusat dari khasanah keilmuan dan tempat perpustakaan-perpustakaan besar saat itu. Factor inilah yang menjadikan Ibnu Sina kecil mempunyai ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang diatas naungan para saintis dan ulama’. Disamping itu, ayahnya juga mempunyai andil besar dalam mengarahkan Ibnu Sina untuk bisa berguru kepada beberapa ulama’ dan cendekiawan diatas, yang harapannya di masa mendatang agar Ibnu Sina kecil bisa menjadi salah seorang cendikiawan muslim seperti mereka. Ibnu Sina telah hafal Al-Qur’an dan menguasai dasar-dasar fiqh dan bahasa arab belum genap umurnya 10 tahun.

Semenjak kecil, Ibnu Sina gemar mempelajari berbagai macam ilmu dan membaca berbagai macam buku termasuk buku-buku Yunani. Dan dalam umur belasan tahun, ia sudah menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran dari buku-buku yang ia baca dan pelajarinya itu. Sampai-sampai, para dokter di zamannya mengakui kalau Ibnu Sina kecil itu adalah seorang yang jenius dan bakal menjadi seorang dokter yang paling hebat dimasa dewasanya kelak. Semenjak saat itu, Ibnu Sina jadi tersohor seantero Bukhara dan banyak orang berbondong-bondong untuk berobat kepadanya. Disaat itu pula, banyak dokter-dokter yang senior pun tak ketinggalan untuk meminta arahan dan belajar dari Ibnu Sina. Karena jasanya kepada masyarakat dalam mengobati orang sakit itulah menjadikan khalifah di masa itu untuk memanggilnya ke istana serta memberi akses untuk mempelajari buku-buku kedokteran yang ada di perpustakaan kerajaan.

Selain kedokteran, Ibnu Sina ternyata juga menguasai berbagai macam bidang ilmu. Diantaranya yaitu matematika, ilmu astronomi, ilmu alam, ilmu filsafat, music, ilmu logika dan lain sebagainya. Ibnu Sina memiliki kedekatan dengan cendikiawan lainnya sehingga sering berdiskusi dengan ahli-ahli tersebut sehingga bertambah luaslah ilmu dan wawasan Ibnu Sina.

Ibnu Sina dewasa telah mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran sejak masa kecilnya. Dan hasil dari resume buku-buku tersebut, tercetuslah satu buku masterpiece Ibnu Sina yaitu “Qanun Fi At-Thibb”. Qanun Fi At-Thibb atau lebih dikenal di Eropa dengan nama Canon of Medicine menjadi sumber dari segala sumber buku kedokteran waktu itu hingga merambah ke Eropa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan 10 bahasa asing lainnya di abad ke-15 M yang telah mencapai 30-an kali cetak ulang. Disamping itu, di abad tersebut Canon of Medicine menjadi buku diktat utama yang diajarkan di fakultas kedokteran Universitas-universitas di Eropa seabad kemudian hingga berakhir abad ke-17 M.

Ibnu Sina adalah dokter yang pertama kali menemukan dan mencetuskan obat bius dalam sebuah operasi. Ia juga orang yang pertama yang kali melakukan operasi cesar bagi ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal karena Sang Ibu menderita diabetes tinggi.

Hidup Ibnu Sina sering berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang tak lain adalah bertujuan untuk memperluas dan mengenalkan Qanun Fi At-Thibb dan mengembangkan keilmuan-kelimuan lainnya sehingga bertambahlah pengetahuannya serta menjauhkan dirinya dari dunia perpolitikan di zamannya.

Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan dalam suatu kasus atau ilmu yang tidak dipahaminya, ia pergi ke Masjid untu tafakur dan meminta pertolongan Allah agar memberinya petunjuk. Sehingga Ibnu Sina disamping tersohor sebagai seorang cendikiawan, ia juga terkenal menjadi seorang yang ahli ibadah karena tidak pernah jauh dari Masjid.

Ibnu Sina tidak hanya diakui oleh cendikiawan timur (baca; muslim), namun ia juga mendapat pengakuan dari cendikiawan barat (baca; eropa) karena pengabdiannya terhadap dunia kedokteran modern. Maka, Ibnu Sina mendapat gelar abadi yaitu sebagai "Bapak Kedokteran Modern".

Hingga wafatnya, Ibnu Sina telah mengarang 276 buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan, yang tentu saja mayoritas dari karangannya adalah buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran yang anehnya buku-buku karangan tersebut masih ada di perpustakaan-perpustakaan di universitas Eropa. Dan juga, masterpiece Ibnu Sina “Canon of Medicine” juga masih utuh tersimpan disana yang telah di translate ke dalam bahasa latin. Ada lagi buku kedokteran yang fenomenal dari Ibnu Sina yaitu “Asy-Syifaa” yang terdiri dari 18 jilid yang juga masih tersimpan rapi disana.

***************

NB: Catatan ini adalah lomba menterjemah jilid 2 yang saya adakan di PKPBA UIN Maliki Malang kelas G-2 dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Maka, saya ucapkan selamat kepada Umi Fathimatur Roiva yang nilai terjemahan dan dzauq terjemahnya 88. Hadiah diberikan oleh Pak Heri Cahyo karena bersedia menyumbang untuk terjemahan terbaik.


Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen Bahasa Arab di PKPBA di UIN Malang


Salman Al-Farisi : Kisah Pengembaraan Mencari Kebenaran Sejati

Suatu kisah pengembaraan yang mengagumkan demi mencari sebuah kebenaran. Itulah sahabat Nabi saw, Salman Al-Farisi. Suatu kisah yang seharusnya kita semua mengetahui dan menjiwai betapa hebatnya perjalanan hidup Salman Al-Farisi. Marilah kita menghayati, Salman Al-Farisi menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang benar. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lengkap, terperinci dan terpercaya karena ia tulis sendiri. Cerita dibawah ini hasil terjemahan dan intisari dari mahasiswi saya “Choirus Zakinah” dari Kitab Al-Arabiyyah Baina Yadaik Jilid 2 Wahdah 11, Qira'ah Hurrah yang sedikit saya editing EYD-nya:

**************


Kata Salman, “Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Saya membaktikan diri dalam agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsa saya). Saya diangkat menjadi penjaga api yang kami sembah, yaitu tugas menjaga api agar menyala siang malam".

Pada suatu hari ayahku bepergian keluar desa untuk urusan penting. Beliau berkata kepadaku, Hai anakku! Ayah sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus perkebunan kita hari ini menggantikan Ayah. Aku pergi ke perkebunan dan dalam perjalanan ke sana, aku melewati sebuah rombongan orang-orang Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Karena selama ini, aku dikurung Ayah di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapa saja. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku bergabung ke mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Setelah kuperhatikan, aku kagum dengan cara sembahyang mereka dan ingin masuk agamanya.

Kataku dalam hati; “Ini lebih bagus daripada agamaku”. Aku tidak beranjak dari rombongan itu sampai petang. Sehingga aku tidak jadi pergi ke perkebunan. Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”. “Dari Syam (Syria),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Ayah menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku. Jawabku, “Wahai, Ayah! Aku bertemu dengan orang nasrani di jalan. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Karena itu, aku senantiasa menunggui mereka sampai petang.”

Ayah memperingatkanku akan perbuatanku itu; “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”. Jawabku, “Tidak! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Ketika aku memproleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka, bila ada kafilah yang hendak pergi ke Syam supaya memberi tahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku. Lalu aku pergi bersama kafilah itu ke Syam.

Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”. “Uskup yang menjaga“, jawab mereka. Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menjadi pelayan Anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama Anda.” “Masuklah, anakku..”, kata Uskup.

Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan dan belajar agama nasrani. Belum begitu lama aku membaktikan diri kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang yang jelek perangainya. Dia menganjurkan umatnya bersedekah dan mendorong agar beramal. Bila sedekah mereka telah terkumpul di tangan Uskup, disimpannya saja dalam perbendaharaannya tidak dibagi-bagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah menumpuk sebanyak tujuh peti emas. Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang memperkaya diri sendiri itu. Tidak lama kemudian iapun meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.

Aku berkata kepada mereka, “Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi sedekah kalian disimpannya saja untuk dirinya, hanya sedikit yang diberikannya kepada fakir miskin.” Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?”. Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.” Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka menjadi marah dan mengutuk uskup tersebut. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Karena itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai Bapak! Kepada siapa Bapak mempercayakanku seandainya Bapak meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggal Bapak?” Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Pergilah kau kesana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu. Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersamaku, anakku.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Wahai Bapak, kepada siapa Bapak dapat mempercayakanku seandainya Bapak sudah tak ada?”. Jawabnya, “Anakku yang tercinta… Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Pergilah kepadanya!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan wasiat dari pendeta Mosul. Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami, anakku!”

Setelah aku tinggal disana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar kepadanya sampai dia wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Wahai Bapak dan guru spiritualku, maka kepada siapa Bapak dapat mempercayakanku seandainya Bapak meninggal?”

Jawabnya, “Wahai, anakku…  Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Temuilah dia!”. Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku dari awal hingga akhir berguru ke Pendeta Nasibin.

Aku tinggal disana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Wahai guru, kepada siapa lagi aku berguru? Dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Wahai, anakku… Agama ini sudah hampir habis masanya. Aku wasiatkan kepadamu agar merantau ke tanah Arab yang tandus, yang akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim yang lurus. Kemudian dia akan pindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam nan tandus. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mau menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mau menerima dan memakan sedekah (baca; zakat). Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup, pergilah ke negeri itu dan temuilah dia. Dia adalah Nabi yang dijanjikan di kitab suci kita!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu serombongan saudagar Arab dan kabilah “kalb” lewat disana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.” Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau kesana.”

Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura (sebuah lembah antara Madinah dan Syam) aku ditipu oleh mereka. Aku dijual mereka kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai budak. Pada suatu hari anak paman majikanku datang mengunjunginya, yaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya kepada majikanku. Aku pindah dengan majikanku yang baru ini ke Yatsrib. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi beliau masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang beliau sebarkan. Tidak berapa lama kemudian, Nabi tersebut hijrah ke Yatsrib. Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak pamannya mengatakan, “Paman, banyak penduduk Yatsrib berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan laki-laki dari Makkah yang menubuatkan dirinya sebagai Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil karenanya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku bisa menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak pohon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Ada kabar apa? Coba kabarkan kembali kepadaku!” Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Demi keinginanku untuk menemui Nabi itu, aku mengumpulkan uang dari majikanku selama bertahun-tahun supaya aku bisa menebus status budakku kepadanya. Sebulan kemudian, aku bebas dan bisa menebus status budakku dengan sejumlah uang yang kukumpulkan.

Saat menemui Nabi, aku memberikan makanan kepada Nabi itu dengan mengatakan bahwa makanan tersebut adalah sedekahku kepadanya karena sebelumnya aku telah berniat untuk meyedekahkan (men-zakat-kan) makanan itu kepada nabi. Salman melakukan hal tersebut untuk memastikan bahwa Nabi tersebut merupakan Nabi yang dia tunggu selama ini. Nabi Muhammad menerima makanan dari Salman, akan tetapi Nabi tidak memakannya sedikit pun, malah Nabi memberikan kepada para sahabatnya agar mereka memakannya. Melihat hal itu, aku yakin bahwa Nabi yang telah dijelaskan oleh guruku. Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara cirri-cirinya!”

Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang dapat kukumpulkan. Ketika duduk-duduk bersama para sahabatnya, kubawa kurma itu kepada beliau. Kataku, “Aku lihat Anda tidak mau memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk Anda.” Rasulullah memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan beliau mempersilahkan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengan dia. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi beliau di Baqi’, ketika beliau mengantarkan jenazah sahabat beliau untuk dimakamkan disana. Aku melihat beliau memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada beliau, aku berjalan mengitari sambil menengok ke belakang bahu beliau, untuk melihat cap kenabian yang dikatakan guruku. Agaknya beliau tahu maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti bahunya, sehingga aku melihat dengan jelas cap kenabiannya

Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang dijelaskan guruku dan tertera dalam kitab injil. Aku langsung mendekapnya, lalu kuciumi kulit halusnya sambil berurai air mataku. Seketika itu juga aku berucap dua kalimah syahadat. Nabi tersebut tersenyum bahagia melihatku.

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat beliau di majlis tersebut.

Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen Bahasa Arab di PKPBA di UIN Malang

Kisah Nyata Ini Menginspirasi Para Jomblo : Kutemukan Belahan Jiwaku

Dialah Anisatul Illiyyin, sebut saja Anis yang paras wajahnya senantiasa menyejukkan dan murah senyum. Karena orangnya supel dan murah senyum inilah, membuat hatiku terkiwir-kiwir dengan dara cantik ini. Ada kisah menarik antara aku dengannya. Tanpa proses pacaran, dijodoh-jodohkan atau hal njlimet lainnya.

Berawal dari nasehat seorang sahabat karib dari Sumenep, agar aku segera menanyakan; apakah dia masih single, sudah punya calon, atau mungkin sudah menikah. Untungnya, aku masih punya nomor hape-nya. Sehingga meski ia sudah lulus dua tahun yang lalu dari kampusku, aku masih bisa melacak keberadaannya.

Kucoba untuk berbasa-basi dan menanyakan kabar lewat SMS kepadanya. Dan ternyata, doi masih single dan belum dikhitbah oleh siapapun apalagi sudah menikah. Lalu, di SMS kesekian kalinya, aku menyatakan bahwa sebenarnya diriku menyukainya sejak ia masih semester III dan aku semester VII. Hanya saja, aku tidak mempunyai keberanian untuk menyatakannya secara langsung waktu itu. Hingga rasa itu kupendam sampai detik ini.

Setelah seminggu berta’aruf dengannya, kuberanikan diri untuk bertanya kepadanya agar aku bisa bersilaturahim kerumahnya. Lama, ia tidak membalas SMS terakhirku. Dua hari kemudian, dia akhirnya membalas dan membolehkan aku untuk bersilaturahim ke rumahnya. Masih ingat dibenakku hingga saat ini. Hari itu adalah hari sabtu, berangkat dari terminal Arjosari Malang jam 3 sore, dan tiba dirumahnya jam 5. Hatiku berdegup kencang ketika Abahnya keluar dan menyalamiku di ruang tamu diikuti oleh Anis dan Uminya disamping Abahnya. Sedangkan Anis, hanya sesekali menatapku sambil malu-malu. Akupun demikian, sesekali melayangkan pandanganku ke dara cantik itu.

Sore itu, kukatakan niatku kepada Abahnya bahwa aku datang dalam rangka menyukai putrinya dan berniat untuk mempersuntingnya. Abahnya kemudian menanyaiku seputar pekerjaan, latar belakang keluargaku dan sebagainya. Setelah lama berbincang, akhirnya waktu maghrib pun tiba, aku berniat undur diri, namun dicegah oleh Abahnya agar sholat maghrib berjama’ah dulu di kediamannya. Setelah itu, Abahnya pun mengizinkanku untuk undur diri dan berpesan agar seminggu lagi aku balik kesini, baik ‘diterima’ maupun ‘tidak’. Beliau memberi jeda satu minggu untuk istikharah ilallaah.

Seminggu kemudian, akupun menepati janji untuk kembali ‘rumah hatiku’ itu. Dengan harap cemas, kucoba untuk tegar dan sabar menerima apapun keputusan dari Sang Abah. Alhamdulillah, niat tulusku untuk mempersunting putrinya diterima dengan tangan terbuka. Abah lantas berkata, “Kapan orangtuamu kemari, nak?”, “Insya allah sebulan lagi, Abah. Tiga minggu lagi saya mau sidang ujian tesis, izinkan saya untuk konsentrasi tesis sebelum orangtua kesini”, jawabku. “Iya. Selesaikan ilmumu sebelum kesini, nak.”. Abah melanjutkan; “Nabi Sulaiman juga demikian, memilih ilmu daridapa dunia seisinya”.

Alhamdulillah... Ujian tesis pun sukses dengan nilai B+. Akhirnya, sebulan kemudian kudatangi lagi rumahnya dengan keluarga besarku. Mulai dari Ibu, Pakde, Budhe, Paklek, Bulek, keponakan, adik-kakak, semuanya ikut meramaikan rombonganku. Ketika Paklek saya, Imam, menyampaikan niat kedatangan kami sekeluarga untuk mengkhitbah putrinya, disambut oleh Pakde Yusuf dari pihak keluarga Pasuruan; “Kami menerima pinangan dari keluarga Jombang”. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku.

Namun tiba-tiba, Abah memanggilku dan menanyakan, “Nak, di dompetmu ada uang berapa?”. Segera kukeluarkan dompetku, di dalam ada 10 ribu, 20 ribu selembar dan 100 ribu. Abah melanjutkan, “Berapa uang yang akan kau jadikan mahar untuk calon istrimu ini, Nak?”, “Hemmm…100 ribu, Abah.”, kujadikan nominal terbesar sebagai maharnya.

Abah menjelaskan kepada keluarga besarku, bahwa tradisi dalam keluarga beliau adalah menikahkan sirri dulu putra/i-nya dalam rangka membentengi kami dalam ikatan yang tidak halal menjadi halal. Tujuannya adalah kalau kami berdua memesan undangan walimahan, boncengan, jalan berduaan, sudah sah dan halal karena sudah akad, meski sirri. “Mengenai akad resmi dari KUA, itu gampang dan bisa diatur ketika walimatul ursy nanti..”, Abah menjelaskan. Padahal, resepsi walimatul urys masih satu bulan lagi.

Alhamdulillah… Pernikahanku dengan istri tercintaku, mudah dan dimudahkan oleh kedua orangtua kami. Kami bersyukur mempunyai kedua orangtua yang paham agama dan tidak njlimet dalam menentukan hari dan tanggal pernikahan. Menikah adalah proses yang mudah tanpa harus disepelekan, sekaligus merupakan suatu proses yang rumit tanpa harus dibuat sulit.

[Foto saat Wisuda S2 10 Nov 2007. Dua belas hari kemudian, kami melangsungkan Walimatul Ursy]

Dosen PPBA UIN Maliki Malang

Hati-Hati! Jangan Remehkan Bengkak Karena Infus


Dosen PPBA UIN Maliki Malang


Barusan melihat berita di TV One bahwa ada malpraktik yang dilakukan oleh sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. 2 jari bayi harus diamputasi gara-gara ketika perawat yang menginfusnya sembrono memasang sehingga tangan bayi mengalami bengkak sampai berwarna kehitaman. Saya juga pengalaman yang sama dengan kejadian diatas. Alhamdulillah, untungnya tidak sampai terjadi mal praktik tersebut.

Aza (buah hati saya) sejak kecil (umur dibawah 1,5 tahun) sering mengalami sakit-sakitan. Sehingga, menjadikan saya dan istri akrab dengan puskesmas di daerah kami. Suatu ketika, perawat yang hendak memasangkan infus bukan perawat biasanya yang kami jumpai sebelumnya. Saya lihat dan saya amati perawat yang hari itu, dari segi menangani pasien dan cara meng-infus-kan ke Aza sedikit canggung dan terkesan tidak profesional. Dalam hati berkata; “Hemmm… Perawat yang masih belajar atau baru lulus kayaknya”. Saya tidak menaruh curiga waktu itu namun sedikit was-was.

Namun esok harinya, tangan Aza yang kena infus mengalami sedikit pembengkakan dan makin lama bengkakan itu kian membesar. Saya dan istri menjadi takut hingga akhirnya saya datangi kantor puskesmas di sebelah ruang inap Aza.

Saya: Permisi, mas/mbak… Saya ada keluhan; tangan anak saya kok agak bengkak ya, ketika kemarin di infus? Mohon di cek sekarang!
Perawat : Iya, pak. Sebentar lagi, ya…
Saya: Saya mau sekarang, mbak! (suara agak saya keraskan)

Perawat yang saya ‘bentak’ tadi langsung ngeloyor dan memasang muka cemberut serta langsung menuju ruangannya Aza.

Istri: Gimana, suster? Bengkak seperti ini gak bahaya, kah?
Perawat: Oh, gak apa-apa, bu… Ini sudah biasa,kok… Paling, nanti sore sudah normal kembali.

Saya yang menyaksikan aksi perawat tersebut masih kurang yakin dengan cara penanganannya yang terkesan meremehkan. “Masak, tangan anak saya bengkak yang tidak wajar dikatakan baik-baik saja?”. Perasaan geram dan marah berkecamuk dalam hati saya waktu itu. Istri saya menenangkan saya agar mengikuti kata perawat tersebut.

Sore harinya, tangan Aza masih saja bengkak dan malah bertambah membesar. Aza mengerang kesakitan sejak tadi pagi karena tangannya membengkak. Saya yang tidak sabaran dari tadi siang, mendatangi lagi kantor puskesmas dengan sedikit jengkel dan mengeraskan suara;

“Mas/Mbak, ini gimana anak saya di kamar 10 itu? Kok tidak ada tindak lanjut dari perawat yang menengok atau melihat perkembangan anak saya?”. Saya kemudian menambahkan; “Mana dokter jaganya?”.

“Maaf, pak. Dokter jaganya baru datang nanti jam 5 sore”, kata perawat yang lain agak ketakutan.

Saya lihat jam di tangan saya menunjukkan angka 15.30, masih kurang satu setengah jam lagi. Duuuh, kasihan Aza sejak tadi merintih kesakitan gara-gara tangannya terus membengkak. Karena tidak sabar, saya minta salah satu perawat untuk melepaskan infus di tangan Aza.

Saya lihat ada perawat agak senior sedikit ‘mengancam’ saya, “Kalau infus dilepas, bapak yang bertanggung-jawab sendiri kalau ada apa-apa dengan putra Bapak! Kalau masih ngengkel sampean Pak, sampean tanda-tangan disini!”.

“Bismillah… Allahumma yasyfi… Anta As-Syaafi, ya Allah… Inni tawakkaltu ‘alaik”, saya segera membubuhkan tanda tangan agar perawat tersebut ‘terbebas’ dari kesalahan apabila nantinya ada apa-apa terhadap anak saya.

Infus segera dilepas. Aza yang sedari tadi merintih dan merasakan kesakitan pada tangannya yang membengkak, lambat laun terdiam dan kelihatan relax. Ba’da maghrib, tangan yang semula membengkak berangsur-angsur kembali normal.

Dokter jaga pada hari itu datangnya tidak tepat waktu. Seharusnya jam 5 sore, namun ia datang setelah maghrib. Coba kalau saya menunggu dokter jaga tersebut, bisa jadi Aza menjadi korban mal praktik yang membahayakan nyawanya seperti yang saya saksikan di TV barusan.

Maka dari itu, pesan saya terhadap orangtua agar jeli dan kritis menyikapi buah hatinya yang sedang dirawat di rumah sakit atau puskesmas. Jangan ‘hanya’ berpangku tangan dan ‘nerimo ing pandum’ apa yang dikatakan oleh perawat. Bisa jadi,perawat tersebut masih baru belajar atau baru lulus sehingga minim pengalaman.

Kritik saya, juga saya tujukan kepada Rumah Sakit dan Puskesmas agar tidak sembarangan untuk mempercayakan masalah memasang infus ini kepada perawat yang ‘masih bau kencur’ sehingga tidak terjadi mal praktik yang membahayakan.

Semoga menjadi renungan dan ibrah bagi kita semua…

Begini Cara Hidup Sehat dan Panjang Umur Ala Suku Hunza


Dosen PPBA UIN Maliki Malang

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyimpulkan bahwa orang sehat, kuat dan terpanjang usianya di dunia masa ini adalah suku Hunza yang tinggal dan hidup di kaki pegunungan Himalaya, Kashmir-Pakistan. Usia mereka rata-rata bias mencapai 145-200 tahun. Di usia yang rata-rata suku Hunza tersebut, sebanding dengan orang Indonesia berusia 45 tahun. Dan mereka dalam usia tersebut masih melakukan berbagai aktivitas, baik berladang, bertani bahkan berolah raga seperti umumnya masyarakat Indonesia.

Kok bisa, ya?

Pa umumnya, suku Hunza suka hidup bertoleransi, membagi dan pemerhati sesame. Mereka tidak hidup berlebihan, kesederhanaan terpancar dari relung kehidupan dan realitas, bahkan mereka lebih senang hidup membantu sesama dan bergotong-royong dalam segala hal.

Hidup seperti ini sering mereka lakukan dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal waktu serta keadaan. Hal ini salah satu wujud nyata dalam kehidupan sebagai bentuk ketenangan jiwa dan kepuasan bathin. Disinilah mereka mendapat ketenangan dalam berpikir menyelesaikan permasalahan hidup, karena pada jiwa yang tenang terdapat pikiran yang jernih, karena suatu penyakit timbul itu salah satunya disebabkan kondisi bathin atau beban pikiran.

Orang-orang Hunza pada umumnya senang dan gemar menjaga alam. Hidup mereka jauh dari hal-hal yang merusak alam. Mereka tidak senang dengan polusi udara. Udara yang mereka hirup setiap detik, air yang mereka minum adalah benar-benar alami. Begitu juga dengan makanan yang mereka konsumsi setiap hari hamper 100 % adalah alami.

Padi, jagung, tanaman palawija dan lain-lainnya tidak pernah mereka beri pupuk pestisida atau insektisida yang mengandung racun. Makanan yang mereka makan seringkali adalah gandum, biji-bijian, buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar dan mentah. Kalaupun memasak sayuran, mereka memasaknya dalam waktu yang singkat sehingga tidak terlalu lama diolah diatas api, juga tanpa bahan tambahan pangan seperti pemanis, pengawet dan bahan-bahan kimia lainnya. Mereka juga menkonsumsi daging-dagingan namun tidak sering dan mereka makan dengan porsi yang kecil.

Hal lain yang menjadi kebiasaan sehat suku Hunza adalah olahraga atau pola hidup aktif, dimana mereka rajin beraktivitas yang menggerakkan badan mereka. Mereka banyak beraktivitas di luar rumah, berjalan, mendaki gunung, berladang, bercocok-tanam yang mana mereka lakukan secara teratur tiap harinya.

Maka dapat kita simpulkan bahwa rahasia hidup sehat dan panjang umur suku Hunza adalah karena:
Pikiran dan jiwa yang tenang
Pola makan yang sehat dan alami
Akrivitas fisik yang cukup/olahraga teratur.
Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam…

Ternyata Begini Manfaat Berkeringat Bagi Kesehatan

Dosen PPBA UIN MALIKI MALANG

Selama berabad-abad, berbagai budaya yang berbeda telah mempromosikan efek berkeringat bagi kesehatan lewat mandi uap dan sauna. Banyak orang percaya bahwa peningkatan suhu tubuh yang memicu keringat bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa berkeringat tidak hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bermanfaat bagi kecantikan dan menjaga berat badan.

Keringat merupakan sistem pendinginan tubuh alami ketika suhu tubuh terlalu panas, demam atau berolahraga. Cairan keringat sebagian besar terbuat dari air bercampur garam dan sejumlah kecil limbah yang dikeluarkan lewat kelenjar keringat di permukaan kulit. Ketika cairan menempel dipermukaan kulit dan mulai menguap, maka proses pendinginan tubuh dimulai.

Berikut adalah manfaat keringat bagi tubuh yang saya searching lewat google:

1. Membuang Racun Dari Tubuh
Berkeringat dapat membersihkan zat berbahaya seperti alkohol, kolesterol dan garam dari tubuh. Penelitian menemukan bahwa 30% racun dari tubuh dibuang lewat keringat. Ginjal membutuhkan waktu 24 jam untuk mengeluarkan racun berbahaya dari tubuh, namun berkeringat menghilangkan racun lebih cepat.

2. Memperlancar Sirkulasi Darah
Berkeringat juga dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Ketika tubuh memanas dan mengeluarkan keringat, jantung bekerja lebih keras untuk meningkatkan sirkulasi darah. Mekanisme ini bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang.

3. Mempercantik Kulit
Keringat mengandung sejumlah kecil antibiotik yang dapat melawan bakteri yang ditemukan secara alami pada kulit. Berkeringat juga dapat membersihkan pori-pori yang sehingga membuat kulit terlihat cerah dan halus. Banyak berkeringat juga dapat memperlambat tanda-tanda penuaan dini dan mengurangi efek kerusakan kulit.

4. Membakar Kalori
Berkeringat juga bisa membantu menurunkan berat badan. Ketika tubuh dipanaskan saat berolahraga, lemak dalam tubuh larut dalam air dan keluar dari tubuh lewat keringat. Berkeringat dapat membakar 300 kalori per jam.

5. Menurunkan Stres
Keringat tidak secara langsung dapat menurunkan stres atau meningkatkan suasana hati. Namun, meningkatkan panas tubuh dengan berolahraga atau sauna memiliki efek positif. Endorfin dan bahan kimia lainnya yang dilepaskan saat berolahraga secara alamiah meningkatkan mood dan menurunkan stres.

Namun, banyak orang yang masih ‘enggan’ untuk berolahraga setiap harinya. Bagaimana bisa sehat kalau seharian hanya duduk di depan laptop dan meja kerja, kawan? Ayo, keluarlah dari rumah dan bersegeralah untuk mengeluarkan keringat dalam tubuh anda!