Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2018

Membongkar Kesesatan Ahmad Ibn Taimiyyah?

Sekilas Tentang Ibnu Taimiyah (661-728 H)



Ahmad ibn Taimiyah lahir di Harran, Syiria, di tengah keluarga berilmu yang bermadzhab Hanbali. Ayahnya adalah seorang yang berperawakan tenang. Beliau dihormati oleh para ulama Syam dan para pejabat pemerintah sehingga mereka mempercayakan beberapa jabatan ilmiah kepadanya untuk membantunya. Setelah ayahnya wafat, Ibnu Taimiyah menggantikan posisinya. Orang-orang yang selama ini mempercayai ayahnya, menghadiri majelisnya guna mendorong dan memotivasinya dalam meneruskan tugas-tugas ayahnya dan memujinya. Namun pujian tersebut ternyata justru membuat Ibnu Taimiyah terlena dan tidak menyadari motif sebenarnya di balik pujian tersebut. Ibnu Taimiyah mulai menyebarkan satu demi satu bid’ah-bid’ahnya hingga para ulama dan pejabat yang dulu memujinya tersebut mulai menjauhinya satu persatu.

Ibnu Taimiyah meskipun tersohor dan memiliki banyak karangan dan pengikut, namun sesungguhnya ia adalah seperti yang dinyatakan oleh al Hafizh al Faqih Waliyyuddin al ‘Iraqi (W. 862 H): “Ibnu Taimiyah telah menyalahi Ijma’ dalam banyak permasalahan, kira-kira sekitar 60 masalah, sebagian dalam masalah Ushul ad-Din (pokok-pokok agama) dan sebagian berkenaan dengan masalah-masalah furu’ ad-Din (cabang-cabang agama), Ibnu Taimiyah dalam masalah-masalah tersebut mengeluarkan pendapat lain; yang berbeda setelah terjadi ijma’ tentangnya.”

Berbagai kalangan orang awam dan yang lainpun mulai terpengaruh dan mengikuti Ibnu Taimiyah sehingga ulama-ulama di masa Ibnu Taimiyah mulai angkat bicara dan membantah pendapat-pendapatnya serta memasukkannya dalam kelompok para para ahli bid’ah. Di antara yang membantah Ibnu Taimiyah adalah al Imam al Hafizh Taqiyyuddin Ali bin Abd al Kafi as-Subki (W. 756 H) dalam karyanya ad-Durrah al Mudliyyah fi ar-Radd 'ala Ibn Taimiyah, beliau mengatakan:

“Amma ba’du. Ibnu Taimiyah benar-benar telah membuat bid’ah-bid’ah dalam dasar-dasar keyakinan (Ushul al 'Aqa-id), ia telah meruntuhkan tonggak-tonggak dan sendi-sendi Islam setelah ia sebelum ini bersembunyi di balik kedok mengikuti al Qur’an dan as-Sunnah. Pada zhahirnya ia mengajak kepada kebenaran dan menunjukkan kepada jalan surga, ternyata kemudian ia bukan melakukan ittiba’
(mengikuti sunnah, ulama Salaf dan konsensus ulama) tetapi justru membuat bid’ah-bid’ah baru, ia menyempal dari ummat muslim dengan menyalahi Ijma’ mereka dan ia juga mengatakan tentang Allah perkataan yang mengandung tajsim (meyakini Allah adalah jisim; benda yang memiliki ukuran dan dimensi) dan ketersusunan (tarkib) bagi Dzat Allah.”

Di antara perkataan Ibnu Taimiyah dalam ushul ad-din yang menyalahi ijma’ kaum muslimin adalah perkataannya bahwa jenis alam ini qadim (tidak bermula),
(sebagaimana ia katakan dalam tujuh karyanya: Muwafaqah Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syarh Hadits an-Nuzul, Syarh Hadits ‘Imran ibn al Hushain, Naqd Maratib al Ijma’, Majmu’ah Tafsir Min Sitt Suwar, Al Fatawa) dan Allah pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) selalu diiringi dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa Allah adalah jism (bentuk), mempunyai arah dan berpindah-pindah. Ini semua adalah hal yang ditolak dalam agama Allah ini.

Dalam sebagian karangannya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Allah Ta’ala persis sebesar ‘Arsy, tidak lebih besar atau lebih kecil, Maha suci Allah dari perkataan ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa para nabi itu tidak ma’shum , Nabi Muhammad tidak memilik jah (kehormatan), karena itu menurutnya jika ada orang bertawassul dengan Nabi maka ia salah besar (sebagaimana ia nyatakan dalam bukunya at-Tawassul Wa al Wasilah ).

Ia juga mengatakan bahwa berpergian untuk berziarah ke makam Rasulullah adalah perjalanan yang tergolong maksiat dan tidak boleh meng qashar shalat karenanya (sebagaimana ia kemukakan dalam kitab al Fatawa ). Dalam hal ini ia benar-benar sangat berlebihan padahal tidak ada seorangpun sebelumnya berpendapat semacam ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa siksa bagi penduduk neraka akan terhenti dan tidak akan berlaku selama-lamanya (sebagaimana dituturkan oleh sebagian ahli fiqh dari sebagian karangan Ibnu Taimiyah dan dinukil oleh muridnya; Ibn al Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Hadi al Arwah).

Ibnu Taimiyah sudah berkali-kali diperintah untuk bertaubat dari perkataan dan keyakinannya yang sesat ini, baik dalam masalah-masalah ushul maupun furu' , namun ia selalu mengingkari janji-janjinya sehingga akhirnya ia dipenjara dengan kesepakatan para qadli (hakim) dari empat madzhab; Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Al Imam al Hafizh al Faqih al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki dalam salah satu risalahnya mengatakan: “Ibnu Taimiyah dipenjara atas kesepakatan para ulama dan para penguasa.” Terakhir mereka menyatakan Ibnu Taimiyah adalah sesat, harus diwaspadai dan dijauhi, seperti dijelaskan oleh Ibnu Syakir al Kutubi (murid Ibnu Taimiyah sendiri) dalam kitabnya ‘Uyun at-Tawarikh. Pada saat yang sama, raja Muhammad ibn Qalawun mengeluarkan keputusan resmi pemerintah untuk dibaca di semua Masjid di Syam dan Mesir agar masyarakat mewaspadai dan menjauhi Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Ibnu Taimiyah akhirnya dipenjara di benteng al Qal’ah di Damaskus hingga mati di tahun 728 H.

Rabu, 29 November 2017

Kata Mereka, Sayyid Quthub Itu 'Bapak Terorisme' ?

KATANYA, SAYYID QUTHUB ITU “BAPAK TERORISME” !!?



Sayyid Quthub rahimahullah itu ORANG MESIR. Hidup di Mesir. Melihat realitas Mesir yang cenderung sekuler. Dia ingin MESIR ISLAMI, Mesir peradaban Islam, Mesir yang taqwa kepada Allah dan taat Rasul-Nya.

Dia sangat CEMBURU dengan nasib Islam. Dia marah melihat kemunduran dan kelemahan Muslim di Mesir. Dia teriak-teriak MEMBANGUNKAN orang, lewat kata-kata tajam, menukik, dan sastrawi.
Apa yang dibidik Sayyid Quthub, adalah keadaan di negeri negeri Muslim yang cenderung SEKULER, tidak berhukum Syariat, jauh dari sendi-sendi Islam. Dia tidak membidik Saudi yang relatif melaksanakan Syariat Islam.

KENAPA sebagian ulama Saudi suka pada pemikiran Sayyid Quthb? Karena, apa yang dicita-citakan Sayyid Quthub, sebagian SUDAH TERCAPAI DI SAUDI. Saudi bersendi Syariat Islam. Bukankah itu yang dituju oleh Sayyid Quthb?

Aneh betul para pembenci Sayyid Quthub itu? Apa sih maumu? Apa kamu suka kehidupan JAHILIYAH, jauh dari tuntunan Syariat Islam? Katakan sejujurnya! Kamu mati-matian mencela Sayyid Quthub, tapi berlebihan MEMUJI penguasa sekuler? Apa maumu?

Apa ulama-ulama Saudi (pembenci Sayyid Quthub) suka dengan SEKULARISME seperti terjadi di negeri-negeri Muslim? Kalau tidak suka, kenapa marah dengan cita-cita Sayyid Quthb? Kalau mereka suka sekularisme, terus apa perlunya berdalil seolah jadi yang paling Islami?

SANGAT ANEH... ngakunya pro Arab Saudi, tapi membenci cita-cita Sayyid Quthb rahimahullah.
Sayyid Quthub itu adalah seorang penulis, pemikir yang sangat jenius, sekaligus sastrawan Islam dari Al-Ikhwan. Mereka tidak pernah memberontak kepada rezim Mesir. Kalau bicara harus tahu fakta, biar tidak fitnah & merusak.

BEGINI ceritanya... Tahun 1948 Syaikh Hasan Al-Banna dan jamaah Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin) bergerak dari Mesir menuju Palestina. Mereka terjun ke medan Jihad melawan Zionis/Yahudi. Saat Jihad sedang bergolak, Raja Faruq menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang. Terpaksa Syaikh Hasan Al-Banna pulang bersama jamaahnya ke Mesir. Tak lama sesudah itu Syaikh Hasan Al-Banna ditembak oleh orang suruhan Raja Faruq. Beliau SYAHID in sya’ Allah.
SETELAH dibubarkan, jamaah Al-Ikhwan tercecer. Lalu ada kader-kader pejuang berusaha menumbuhkan kembali gerakan Al-Ikhwan ini. Salah satunya Syaikh Hasan Al-Hudaibi Rahimahullah. Juga Syaikhah Zainab Al-Ghazali Rahimahallah.

Di sisi lain terjadi PERUBAHAN POLITIK di Mesir. Kekuasaan Raja Faruq tumbang, dikudeta oleh Jamal Abdul Nasher. Dari kerajaan/monarkhi berubah menjadi republik. Namun kebijakannya sama, tetap menetapkan Al-Ikhwan sebagai ORGANISASI TERLARANG.

Saat itulah Sayyid Quthub masuk ke Al-Ikhwan dan menjadi “the rising star” pemikiran. Jelas rezim tahu itu. Walhasil, Sayyid Quthub dijebloskan ke penjara. Rezim akan membebaskan Sayyid Quthub asalkan dia mau mengucapkan kalimat: “Aku menolak Negara Islam, dan mendukung negara sekuler (ala Jamal Abdul Nasher dkk).” nah, tetapi Sayyid Quthub menolak, dan lebih memilih dihukum mati. Sebelum hukuman mati dilakukan, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz rahimahullah (mufti agung arab saudi saat itu) membela Sayyid Quthub dan menulis surat ke si durjana Jamal Abdul Nasher ini, agar hukuman mati dibatalkan. Si durjana itu tidak peduli. Sayyid Quthub tetap dihukum mati. Beliau syahid, in sya’ Allah.

Menetes air mata orang-orang beriman mendengar kejinya lisan maffia-maffia “berjubah sunnah” menteroriskan para pahlawan islam, tak terkecuali Asy-Syaikh Sayyid Quthub Rahimahullah yang disaksikan sejarah sebagai pejuang islam di mesir yang Syahid in sya Allah..
KOK ada ya manusia yang gemar memfitnah para PAHLAWAN ISLAM? Apa mereka itu sudah SIAP digugat Sayyid Quthub di akhirat nanti? Berjasa bagi Islam GAK ADA, tapi doyan memfitnah para ulama dan pejuang syari'at. Nas'alullah al-'afiyah.
*)Hati-hati atas isu-isu murahan.

*Ustad Abu Abdurrahman At-Thalibi*

Sayyid Quthub Dimata Ulama-Ulama Saudi

Abdurrahman Thayyib, da’i “sagaring” (salafi garis miring) surabaya mengatakan bahwa Sayyid Quthub adalah bapak terorisme dan radikalisme. Lalu, ia menyebutkan kitab karya Sayyid Quthub yang dianggapnya menyimpang, diantaranya Ma’alim Fii Thariq dan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an.
Bagaimana pandangan Ulama-ulama Saudi terhadap Sayyid Quthub Rahimahullah dan karya-karyanya serta bagaimana beliau dimata mereka?


=> Berkatalah Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud -anggota Hai’ah Kibaril Ulama kerajaan Saudi Arabia- dalam kitabnya Majmu’ Ar-Rasail wa Maqalat:

كتاب أخذ صاحبه ثمنه قتلاً نحسبه في سبيل الله بدافع من الروس الشيوعيين لجمال كما يعرف ذلك المعاصرون للقضية، وقامت بتوزيع هذا الكتاب جهات عديدة في المملكة، وخلال سنوات عديدة، وأهل هذه الجهات أهل علم ودعوة إلى الله،
“Kitab Ma’alim Fii Thariq karya Sayyid Quthub ini telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan MATI DI JALAN ALLAH karena menentang penguasa komunis Mesir Jamal Abdul Nasher, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal kitab tersebut telah disebarkan oleh banyak pihak dikerajaan Saudi sejak bertahun-tahun lamanya, dan mereka adalah para ahli ilmu dan para da’i ilallah...”

=> Mufti agung Kerajaan Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh, berkata:
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرةوحمية للإسلام ، والرجل له جهاد تعلمون أنه استشهد أو قتل شهيدا رحمه الله..
“Kitab Tafsir Fi Zhiilal Qur’an itu memiliki uslub (metode bahasa) yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh Sayyid Quthub menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan kalimat-kalimatnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para Nabi dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti kalimat-kalimatnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastra yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Zhilalil Qur’an) itu tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pelurusan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Sayyid Quthb) telah menulisnya dalam keadaan rasa ghirah (cemburu) dan cinta terhadap agama Islam. Dia adalah seorang laki-laki berjihad yang kalian ketahui dan dia telah mendapatkan kesyahidan atau dibunuh menjadi SYAHID Rahimahullah”.

=> Syaikh Hamud ‘Uqla Asy-Syu’aibi dalam Fatawa Asy-Syu’aibi berkata tentang Sayyid Quthub:
إن سيدا رحمه الله يعد في عصره علما من أعلام أصحاب منهج مقارعة الظالمين والكفر بهم ، ومن أفذاذ الدعاة إلى تعبيد الناس لربهم والدعوة إلى توحيد التحاكم إلى الله ، فلم يقض إلا مضاجع أعداء الله ورسوله كجمال عبدالناصر وأمثاله .. وما فرح أحد بقتله كما فرح أولئك. وسيد رحمه الله لا ندعي له العصمة من الخطأ، بل نقول إن له أخطاء ليس هذا مجال تفصيلها، ولكنها لا تخل بأصل دعوته ومنهجه، كما أن عند غيره من الأخطاء التي لم تقدح في منـزلتهم وعلى سبيل المثال ابن حجر والنووي وابن الجوزي وابن حزم، فهؤلاء لهم أخطاء في العقيدة إلا أن أخطاءهم لم تجعل أحدا من أبناء الأمة ولا أعلامها يمتـنع من الاستفادة منهم أو يهضمهم حقهم وينكر فضائلهم ، فهم أئمة إلا فيما أخطئوا فيه، وهذا الحال مع سيد رحمه الله فأخطاؤه لم تقدح في أصل منهجه ودعوته لتوحيد الحاكمية وتعبيد الناس لربهم.
“Pada masanya, Sayyid Quthub Rahimahullah menjadi salah seorang yang mengetahui manhaj yang mampu menggoncangkan kaum zhalim dan kekufuran yang ada pada diri mereka. Ia termasuk manusia yang paling bersemangat menyeru manusia agar menyembah Rabbnya dan mengajak untuk mentauhidkan hukum kepada hukum Allah Ta’ala. Tidak ada yang menentangnya kecuali sekumpulan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seperti Jamal Abdunll Nasher... Dan tidak ada manusia yang bahagia dengan terbunuhnya Sayyid Quthub sebagaimana kebahagiaan mereka.

Sayyid Quthub Rahimahullah tidak pernah mengklaim dirinya ma’shum dari kesalahan, bahkan kami katakan bahwa Beliau punya kesalahan dan bukan di sini tempatnya untuk membahasanya. Tetapi kesahalannya itu tidaklah menodai dasar-dasar da’wah dan manhajnya. Sebagaimana Ulama yang lainnya pun memiliki kesalahan yang tidak menodai kedudukan mereka, contohnya: Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnul Jauzi, dan Ibnu Hazm. Mereka semua memiliki kesalahan dalam beberapa perkara, tetapi tidaklah itu menghalangi kaum muslimin dan ulamanya untuk mengambil manfaat dari mereka, merampas hak mereka, dan mengingkari keutamaan mereka. Maka, mereka adalah para imam walau mereka memiliki kesalahan. Dan keadaan Sayyid Quthb juga demikian bersama kesalahan-kesalahannya, bahwa itu tidaklah menodai dasar-dasar manhajnya, dan da’wahnya kepada manusia untuk meng-Esakan Al-Hakimiyah dan peribadatan kepada Rabb mereka”.
-selesai-

Demikianlah berberapa persaksian Para Ulama Saudi , ulama sagarus (salafi garis lurus) terhadap ASY-YAHID -in sya’ Allah- SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH. berbeda dengan isu murahan dan obral kecaman dari para penjilat itu.

Semoga kita dikumpulkan bersama para syuhada’ di dalam Jannah. Aamiin..

Oleh : Ustad Farid Nukman Hasan.

Senin, 27 November 2017

Ibnu Sina : Sang Bapak Kedokteran Modern

Cerita dibawah ini hasil terjemahan dari mahasiswi saya yang bernama “Umi Fathimatur Roiva” dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in Jilid 6 Wahdah 4, halaman 25 yang sedikit saya editing EYD-nya:


***************
Ibnu Sina lahir di kota Bukhara pada tahun 370 H, dan dikota itulah ia memulai perjalanan hidupnya. Kota Bukhara adalah tempat berkumpulnya para ulama sain dan sastrawan-sastrawan terkemuka. Hal ini wajar, karena kota Bukhara merupakan pusat dari khasanah keilmuan dan tempat perpustakaan-perpustakaan besar saat itu. Factor inilah yang menjadikan Ibnu Sina kecil mempunyai ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang diatas naungan para saintis dan ulama’. Disamping itu, ayahnya juga mempunyai andil besar dalam mengarahkan Ibnu Sina untuk bisa berguru kepada beberapa ulama’ dan cendekiawan diatas, yang harapannya di masa mendatang agar Ibnu Sina kecil bisa menjadi salah seorang cendikiawan muslim seperti mereka. Ibnu Sina telah hafal Al-Qur’an dan menguasai dasar-dasar fiqh dan bahasa arab belum genap umurnya 10 tahun.

Semenjak kecil, Ibnu Sina gemar mempelajari berbagai macam ilmu dan membaca berbagai macam buku termasuk buku-buku Yunani. Dan dalam umur belasan tahun, ia sudah menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran dari buku-buku yang ia baca dan pelajarinya itu. Sampai-sampai, para dokter di zamannya mengakui kalau Ibnu Sina kecil itu adalah seorang yang jenius dan bakal menjadi seorang dokter yang paling hebat dimasa dewasanya kelak. Semenjak saat itu, Ibnu Sina jadi tersohor seantero Bukhara dan banyak orang berbondong-bondong untuk berobat kepadanya. Disaat itu pula, banyak dokter-dokter yang senior pun tak ketinggalan untuk meminta arahan dan belajar dari Ibnu Sina. Karena jasanya kepada masyarakat dalam mengobati orang sakit itulah menjadikan khalifah di masa itu untuk memanggilnya ke istana serta memberi akses untuk mempelajari buku-buku kedokteran yang ada di perpustakaan kerajaan.

Selain kedokteran, Ibnu Sina ternyata juga menguasai berbagai macam bidang ilmu. Diantaranya yaitu matematika, ilmu astronomi, ilmu alam, ilmu filsafat, music, ilmu logika dan lain sebagainya. Ibnu Sina memiliki kedekatan dengan cendikiawan lainnya sehingga sering berdiskusi dengan ahli-ahli tersebut sehingga bertambah luaslah ilmu dan wawasan Ibnu Sina.

Ibnu Sina dewasa telah mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran sejak masa kecilnya. Dan hasil dari resume buku-buku tersebut, tercetuslah satu buku masterpiece Ibnu Sina yaitu “Qanun Fi At-Thibb”. Qanun Fi At-Thibb atau lebih dikenal di Eropa dengan nama Canon of Medicine menjadi sumber dari segala sumber buku kedokteran waktu itu hingga merambah ke Eropa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan 10 bahasa asing lainnya di abad ke-15 M yang telah mencapai 30-an kali cetak ulang. Disamping itu, di abad tersebut Canon of Medicine menjadi buku diktat utama yang diajarkan di fakultas kedokteran Universitas-universitas di Eropa seabad kemudian hingga berakhir abad ke-17 M.

Ibnu Sina adalah dokter yang pertama kali menemukan dan mencetuskan obat bius dalam sebuah operasi. Ia juga orang yang pertama yang kali melakukan operasi cesar bagi ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal karena Sang Ibu menderita diabetes tinggi.

Hidup Ibnu Sina sering berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang tak lain adalah bertujuan untuk memperluas dan mengenalkan Qanun Fi At-Thibb dan mengembangkan keilmuan-kelimuan lainnya sehingga bertambahlah pengetahuannya serta menjauhkan dirinya dari dunia perpolitikan di zamannya.

Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan dalam suatu kasus atau ilmu yang tidak dipahaminya, ia pergi ke Masjid untu tafakur dan meminta pertolongan Allah agar memberinya petunjuk. Sehingga Ibnu Sina disamping tersohor sebagai seorang cendikiawan, ia juga terkenal menjadi seorang yang ahli ibadah karena tidak pernah jauh dari Masjid.

Ibnu Sina tidak hanya diakui oleh cendikiawan timur (baca; muslim), namun ia juga mendapat pengakuan dari cendikiawan barat (baca; eropa) karena pengabdiannya terhadap dunia kedokteran modern. Maka, Ibnu Sina mendapat gelar abadi yaitu sebagai "Bapak Kedokteran Modern".

Hingga wafatnya, Ibnu Sina telah mengarang 276 buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan, yang tentu saja mayoritas dari karangannya adalah buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran yang anehnya buku-buku karangan tersebut masih ada di perpustakaan-perpustakaan di universitas Eropa. Dan juga, masterpiece Ibnu Sina “Canon of Medicine” juga masih utuh tersimpan disana yang telah di translate ke dalam bahasa latin. Ada lagi buku kedokteran yang fenomenal dari Ibnu Sina yaitu “Asy-Syifaa” yang terdiri dari 18 jilid yang juga masih tersimpan rapi disana.

***************

NB: Catatan ini adalah lomba menterjemah jilid 2 yang saya adakan di PKPBA UIN Maliki Malang kelas G-2 dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Maka, saya ucapkan selamat kepada Umi Fathimatur Roiva yang nilai terjemahan dan dzauq terjemahnya 88. Hadiah diberikan oleh Pak Heri Cahyo karena bersedia menyumbang untuk terjemahan terbaik.


Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen Bahasa Arab di PKPBA di UIN Malang


Salman Al-Farisi : Kisah Pengembaraan Mencari Kebenaran Sejati

Suatu kisah pengembaraan yang mengagumkan demi mencari sebuah kebenaran. Itulah sahabat Nabi saw, Salman Al-Farisi. Suatu kisah yang seharusnya kita semua mengetahui dan menjiwai betapa hebatnya perjalanan hidup Salman Al-Farisi. Marilah kita menghayati, Salman Al-Farisi menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang benar. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lengkap, terperinci dan terpercaya karena ia tulis sendiri. Cerita dibawah ini hasil terjemahan dan intisari dari mahasiswi saya “Choirus Zakinah” dari Kitab Al-Arabiyyah Baina Yadaik Jilid 2 Wahdah 11, Qira'ah Hurrah yang sedikit saya editing EYD-nya:

**************


Kata Salman, “Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Saya membaktikan diri dalam agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsa saya). Saya diangkat menjadi penjaga api yang kami sembah, yaitu tugas menjaga api agar menyala siang malam".

Pada suatu hari ayahku bepergian keluar desa untuk urusan penting. Beliau berkata kepadaku, Hai anakku! Ayah sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus perkebunan kita hari ini menggantikan Ayah. Aku pergi ke perkebunan dan dalam perjalanan ke sana, aku melewati sebuah rombongan orang-orang Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Karena selama ini, aku dikurung Ayah di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapa saja. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku bergabung ke mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Setelah kuperhatikan, aku kagum dengan cara sembahyang mereka dan ingin masuk agamanya.

Kataku dalam hati; “Ini lebih bagus daripada agamaku”. Aku tidak beranjak dari rombongan itu sampai petang. Sehingga aku tidak jadi pergi ke perkebunan. Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”. “Dari Syam (Syria),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Ayah menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku. Jawabku, “Wahai, Ayah! Aku bertemu dengan orang nasrani di jalan. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Karena itu, aku senantiasa menunggui mereka sampai petang.”

Ayah memperingatkanku akan perbuatanku itu; “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”. Jawabku, “Tidak! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Ketika aku memproleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka, bila ada kafilah yang hendak pergi ke Syam supaya memberi tahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku. Lalu aku pergi bersama kafilah itu ke Syam.

Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”. “Uskup yang menjaga“, jawab mereka. Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menjadi pelayan Anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama Anda.” “Masuklah, anakku..”, kata Uskup.

Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan dan belajar agama nasrani. Belum begitu lama aku membaktikan diri kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang yang jelek perangainya. Dia menganjurkan umatnya bersedekah dan mendorong agar beramal. Bila sedekah mereka telah terkumpul di tangan Uskup, disimpannya saja dalam perbendaharaannya tidak dibagi-bagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah menumpuk sebanyak tujuh peti emas. Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang memperkaya diri sendiri itu. Tidak lama kemudian iapun meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.

Aku berkata kepada mereka, “Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi sedekah kalian disimpannya saja untuk dirinya, hanya sedikit yang diberikannya kepada fakir miskin.” Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?”. Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.” Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka menjadi marah dan mengutuk uskup tersebut. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Karena itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai Bapak! Kepada siapa Bapak mempercayakanku seandainya Bapak meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggal Bapak?” Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Pergilah kau kesana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu. Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersamaku, anakku.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Wahai Bapak, kepada siapa Bapak dapat mempercayakanku seandainya Bapak sudah tak ada?”. Jawabnya, “Anakku yang tercinta… Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Pergilah kepadanya!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan wasiat dari pendeta Mosul. Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami, anakku!”

Setelah aku tinggal disana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar kepadanya sampai dia wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Wahai Bapak dan guru spiritualku, maka kepada siapa Bapak dapat mempercayakanku seandainya Bapak meninggal?”

Jawabnya, “Wahai, anakku…  Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Temuilah dia!”. Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku dari awal hingga akhir berguru ke Pendeta Nasibin.

Aku tinggal disana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Wahai guru, kepada siapa lagi aku berguru? Dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Wahai, anakku… Agama ini sudah hampir habis masanya. Aku wasiatkan kepadamu agar merantau ke tanah Arab yang tandus, yang akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim yang lurus. Kemudian dia akan pindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam nan tandus. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mau menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mau menerima dan memakan sedekah (baca; zakat). Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup, pergilah ke negeri itu dan temuilah dia. Dia adalah Nabi yang dijanjikan di kitab suci kita!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu serombongan saudagar Arab dan kabilah “kalb” lewat disana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.” Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau kesana.”

Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura (sebuah lembah antara Madinah dan Syam) aku ditipu oleh mereka. Aku dijual mereka kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai budak. Pada suatu hari anak paman majikanku datang mengunjunginya, yaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya kepada majikanku. Aku pindah dengan majikanku yang baru ini ke Yatsrib. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi beliau masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang beliau sebarkan. Tidak berapa lama kemudian, Nabi tersebut hijrah ke Yatsrib. Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak pamannya mengatakan, “Paman, banyak penduduk Yatsrib berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan laki-laki dari Makkah yang menubuatkan dirinya sebagai Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil karenanya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku bisa menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak pohon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Ada kabar apa? Coba kabarkan kembali kepadaku!” Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Demi keinginanku untuk menemui Nabi itu, aku mengumpulkan uang dari majikanku selama bertahun-tahun supaya aku bisa menebus status budakku kepadanya. Sebulan kemudian, aku bebas dan bisa menebus status budakku dengan sejumlah uang yang kukumpulkan.

Saat menemui Nabi, aku memberikan makanan kepada Nabi itu dengan mengatakan bahwa makanan tersebut adalah sedekahku kepadanya karena sebelumnya aku telah berniat untuk meyedekahkan (men-zakat-kan) makanan itu kepada nabi. Salman melakukan hal tersebut untuk memastikan bahwa Nabi tersebut merupakan Nabi yang dia tunggu selama ini. Nabi Muhammad menerima makanan dari Salman, akan tetapi Nabi tidak memakannya sedikit pun, malah Nabi memberikan kepada para sahabatnya agar mereka memakannya. Melihat hal itu, aku yakin bahwa Nabi yang telah dijelaskan oleh guruku. Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara cirri-cirinya!”

Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang dapat kukumpulkan. Ketika duduk-duduk bersama para sahabatnya, kubawa kurma itu kepada beliau. Kataku, “Aku lihat Anda tidak mau memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk Anda.” Rasulullah memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan beliau mempersilahkan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengan dia. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi beliau di Baqi’, ketika beliau mengantarkan jenazah sahabat beliau untuk dimakamkan disana. Aku melihat beliau memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada beliau, aku berjalan mengitari sambil menengok ke belakang bahu beliau, untuk melihat cap kenabian yang dikatakan guruku. Agaknya beliau tahu maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti bahunya, sehingga aku melihat dengan jelas cap kenabiannya

Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang dijelaskan guruku dan tertera dalam kitab injil. Aku langsung mendekapnya, lalu kuciumi kulit halusnya sambil berurai air mataku. Seketika itu juga aku berucap dua kalimah syahadat. Nabi tersebut tersenyum bahagia melihatku.

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat beliau di majlis tersebut.

Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen Bahasa Arab di PKPBA di UIN Malang

Senin, 11 September 2017

Ibnu Muljam : Hukum Itu Milik Alloh, Wahai Ali. Bukan Milikmu dan Para Sahabatmu

Ilustrasi Ibnu Muljam
PERISTIWA ROMADLON YANG MEMILUKAN 

 “Hukum itu milik Alloh, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.” 

Itulah teriakan Abdurrohman bin Muljam Al Murodi (Khowarij) ketika menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib, karomallohu wajhah pada saat bangkit dari sujud sholat Shubuh pada 19 Romadlon 40 H itu. 

Abdurrohman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000  Dinar. 
Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. 3 hari berikutnya (21 Romadlon 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rosululloh SAW menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. 

Sayyidina Ali dibunuh setelah dikafirkan.
Sayyidina Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Alloh. 

Sayyidina Ali dibunuh atas nama hukum Alloh. 
Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khowarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat muslim.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
 “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” 

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh kholifah Ali, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishos . Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

 “Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Alloh.” 

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rosululloh, dan ayah dari Sayyid Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. 

Seorang ahli surga  meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Alloh.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Alloh dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang sholih , zahid dan bertakwa dan mendapat julukan Al-Muqri’ . Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang hafidz  (penghafal Alquran) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

 Kholifah Umar bin Khottob pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Kholifah Umar bin Khottob bahkan menyatakan:
“Abdurrohman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khotimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khowarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Alloh dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Alloh dan Rosululloh.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan shoeh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Alloh dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiyai dan ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

 "Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka,  mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya." (Shohih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. 

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam. Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin . Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul. Ihdinashshirothol mustaqim. 

اللهم ثبت قلوبنا على دينك الحق،  آمين...

Status KH Azizi Hasbulloh Peng.  LBM PBNU

Sabtu, 13 Mei 2017

Mengenal Timur Lenk, Si Pincang dari Timur

Timur Lenk
Namanya Timur Lenk atawa Tamerleng. Biasa juga dipanggil dengan Amir Timur. Pendiri dinasti Timurid. Lahir dari peradaban gurun nan tandus. Kakinya pincang, karena itu, lawan-lawannya memanggil Timur Lenk dengan panggilan Si Timur Pincang. Ia anak Taragai, Kepala Suku Barlas di wilayah Uzbekistan kini. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak sejarawan bersepakat mengatakan bahwa Amir Timur dikenal sebagai raja ataupun sultan yang kejam, di satu sisi. Sholeh - menurut versinya - disisi lain. Ia menggetarkan. Lebih tepatnya, menakutkan.

Tahun 1370 M., Timur Lenk mengangkat dirinya sebagai penguasa tunggal. Ia memegang prinsip, 'Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja", maka ia membunuh saudara iparnya beserta saudara laki-laki sekerabatnya. Selanjutnya, Amir Timur menakllukkan Khurasan, Afghan, Persia, dan Kurdistan. Penaklukan yang menakutkan. Ia seperti meniru Hulagu Khan, membunuh orang-orang taklukan. Konon, ketika menaklukan Sabwazar, Afghanistan, ia membangun menara terbuat dari 2000 mayat dibalut dengan lumpur. Ia pernah menyerbu Moskow. Sayang tak berhasil. Negeri nenek moyang Putin ini, begitu tangguh, rupanya.
Apa agama Timur Lenk ?. Islam. 

Sejarawan klasik Harold Lamb pernah mengisahkan, bahwa Timur Lenk yang memiliki anak laki-laki bernama Jahanggir dan Syakh Rukh ini, begitu khusuk diatas sajadah. Menganggap dirinya sedang memperjuangkan kejayaan Islam. Tapi ia gandrung menghancurkan pusat-pusat peradaban Islam. Kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan batu dari Delhi, India. Dalam kehidupan sehari-hari, ia seperti menghormati para ulama. Dikabarkan ia dengan sangat hormat menerima sejarawan besar Ibnu Khaldun yang ditugasi salah seorang Sultan (lawan Timur Lenk) untuk berunding.

Ia punya mimpi besar. Selalu diucapkannya sejak kecil. Menaklukkan Cina. Tapi mimpi itu usai, karena Amir Timur meninggal tahun 1404 M. Sepeninggalnya, dua orang anak laki-lakinya, berebut tahta. Saling perang. Saling tikam. Padahal mereka berdua, juga seperti ayah mereka, sangat khusuk di atas sajadah. Kekuasaan membuat gelap mata. Syakh Rukh menang. Anaknya Ulugh Beg meneruskan dinasti Timurid. Ilmu pengetahuan berkembang. Tapi tak lama. Ambruk. Siapakah yang membuat dinasti Timurid itu hancur ? .... keturunan Jahanggir. Anak Timur Lenk, saudara dari Syakh Rukh. Bukan orang luar !

Historia vitae magistra 
Wallahu a'lam
Referensi : 
Harold Lamb (terj. 1982) - Ira Martin Lapidus (1999)
Sumber : FB Muhammad Ilham Fadli