Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Mei 2017

Apakah HTI Mengakui Pancasila Sebagai Dasar NKRI?

HTI
Pertanyaan:
____________
1. apakah HTI mengakui Pancasila sebagai [dasar] NKRI

2. lalu kenapa HTI masih makan, minum, dan berak di Indonesia?"
Lalu ditambahkan lagi

3."sekarang HTI lelah dan stress karena bermuka dua"
Dan pamungkasnya "konon katanya HTI tidak mengakui NKRI dan tidak mau hormat bendera.....?"

Jawaban:
___________

Terima kasih atas pertanyaannya Pak.
Pertanyaan spt yg Bpk ajukan mirip seperti kalau bertanya kepada pemain Real Madrid "apakah Anda mengakui kemenangan Valentino Rossi?"
Padahal anak2 Real Madrid tidak punya urusan dengan Balap Motor.

Domain mereka adl melibas Barcelona dan Atletico.
☺☺☺☺

Bpk perlu kenal HTI lbh dekat. Bahwa Domain HTI bkn mengangkat isu NKRI, Pancasila, dan semisalnya. Domain HTI adl perlawanan terhadap Neo-Imperialisme Barat.

Sekarang, yang mesti ditanya adalah Bpk dan kawan2 lainnya "apakah rela dg bercokolnya Neo-Imperialis yg mengganyang umat Islam dimana2 dan merampas Sumber Alam di negeri2 muslim?".

Jika ingin berdialog dg HTI, dialoglah di Domain yg jd wacana HTI. Bukan di isu2 yg sama sekali HTI tak sentuh.
Kalaupun HTI sentuh isu2 Pancasila dan NKRI, malahan lebih berorientasi bgm agar semangat yg dikandung Pancasila dan slogan NKRI itu bisa lebih efektif pelaksanaannya secara hakiki. Bukan sekedar jargon.

Syariah dan Khilafah adl tawaran HTI kpd umat dan bangsa Indonesia agar semangat yg di Pancasila dan Slogan NKRI bisa terimplementasi lebih tepat dan lebih sahih.
Slogan Pancasila dan NKRI selama ini disandera oleh sekelompok elit demi kepentingan mereka yang di-steer oleh kaum imperialis. Dan itu kita harus hentikan.

Kalau kita masih ikut2an membentur2kan Pancasila dg Islam, atau mempertanyakan apakah Syariah dan Khilafah yg diusung HTI mengancam NKRI dan Pancasila atau tidak...jangan2 kita tidak faham Pancasila, tidk mengerti NKRI, tdk tahu Islam, belum kenal Syariah, belum dengar Khilafah.

Dan jangan2, selama ini hidup kita, pekerjaan kita, cara kita makan, minum, hidup bertetangga, dan mungkin cara kita (maaf, pinjam kata2 Bapak) berak, ini semua bertolak belakang dg nilai2 Pancasila dan tak cerminkan ajaran Islam.

Pak, silakan cek website hizbut-tahrir.or.id, lalu periksa alamat kantornya. Temui pengurusnya, lihat wajah2 mereka, apakah benar memperlihatkan kegalauan, kelelahan dan stress. Setelah itu ajaklah berdialog. Dan tanyakan apa saja yg Bpk perlukan. Insyaallaah akan dilayani.

Setelah itu Bpk ingin berkomentar apa saja boleh.
Jangan lupa bawa penangkal anti hipnotis, supaya tidak ada yg menuduh bhw Bpk sudah dihipnotis oleh pengurus HTI, sebab Bpk sdh berubah pandangan thd HTI....tdk lagi mengandalkan bisikan Mba KONON dan Mas KATANYA.

Salam hangat.

Oleh Ust. Zamroni Ahmad

Kamis, 18 Mei 2017

Thanks To HTI, Salut!

HTI
Wacana HTI dan Khilafah begitu membahana. Apakah ini disengaja untuk menyambut Ramadhan? Ataukah sekadar isu pengalihan dari kekalahan melindungi jagoannya yang kalah? Entahlah. Di daerah saaja, semisal Bojonegoro, dukungan publik terhadap HTI kian mencuat, baik yang pro dan kontra. Memang tak bisa dipungkiri, HTI mampu mendapat simpati, meski ada yang antipati.

Bagi yang berpikiran jernih, kami ingin menyampaikan terima kasih. Thanks to HTI. Pasalanya tatkala merespon persoalan umat mereka turun ke jalan melakukan pembelaan. Meski rakyat sendiri tak mau tahu terkait dampak buruk kebijakan dzalim yang sering disasarkan kepada rakyat. Kami pernah mengamati HTI tentang penolakan kenaikan BBM. Mereka berpendapat bahwa BBM itu milik rakyat, pemerintah harus bisa mengelola dan diberikan pada rakyat, bukan rakyat disuruh membeli dengan patokan harga minyak dunia. Katanya sih kalo mau jual dengan harga minyak dunia tidak apa-apa ekspor bisa untung, tapi kalau mau jual krakyat dikasih murah dong jangan disamain.
Lagi-lagi mereka pernah melakukan demo penolakan Obama datang ke Indonesia. Kami pun bertanya-tanya, bukankah Obama itu tamu. Mbok yao, disambut dan dihormati. Ternyata kami baru tahu jawaban cerdas dari mereka. HTI beranggapan AS itu negara penjajah yang jelas-jelas memerangi saudara muslim di negara yang lain. Mereka menyuarakan jangan bersahabat dengan negara yang memerangi umat Islam. Akhirnya kami dong. Thanks to HTI.

Buletin Al-Islam HTI begitu mencerahkan dan mencerdaskan. Isinya singkat terkait masalah keumatan, lalu diberi solusi Islam. Pembaca pun akhirnya ngeh, termasuk kami yang lugu ini tahu bahwa Islam itu solusi. Bukan ancaman. Tulisannya tajam dan mengujam terkait kenaikan TDL dan pencabutan subsidi listrik. Seolah-olah kami bagai tersengat listrik, dijelaskan bahwa listrik termasuk kebutuhan energi yang harus diberikan secara gratis atau murah oleh negara. Begitu pun, HTI peduli pada upaya disintegrasi negeri ini. Kurangnya perhatian pusat terhadap gerakan OPM di Papua dikupas habis dan diberikan solusi islami. Dijelaskan bahwa Islam menjaga keberagaman dan memberikan kerahmatan bagi seluruh alam. Top banget dah! Meski seminggu sekali, buletin HTI tetap dinanti jutaan umat.

Acara HTI begitu membebaskan belenggu umat. Kami pernah juga dapat undangan ikut acara pengusaha, umumnya acranya mengajarkan metode bisnis. Berbeda dengah HTI, kalau buat acara pengusaha menjelaskan tentang hukum-hukum dalam berdagang, melarang kita pinjam uang d Bank karena bunga itu dianggap riba, di antara mereka juga banyak pengusaha sukses. Kami pikir, ini ngajak bisnis dunia atau akhirat sih? Anyway, thanks to HTI yang menuntut pengusaha juga mampu berdakwah dan berjuang layaknya Abdurahman bin ‘Auf.

Malang tak dapat diraih, untuk tak dapat dibeli. Bencana alam pun melanda negeri ini. HTI pun tak ketinggalan kontribusi sebagai bagian dari negeri ini. Waktu bencana Alam besar di Indonesia yang terjadi di Sleman Jogja, di luar jawa kami lupa tempatnya, gunung Kelud meletus, bahkan Bojonegoro pun waktu banjir yang melumpuhkn kota bojonegoro kami temui tim dari bojonegoro mereka dari HTI. Kami pun terheran-heran, selain menyampaikan secara lisan, HTI juga menunjukan dengan perbuatan. Jempol dah untuk HTI. Salut!

Jika pelajar saat ini ditakut-takuti dengan istilah ajaib semisal radikalisme, terorisme, dan lainnya. Justru pihak penguasa tak mampu menahan derasnya liberalisasi di kalangan pelajar. Aneh bin ajaib kan? Dilarang dekat-dekat dengan Islam, malahan dibiarkan masuk ke kandang macan. Gagal fokus tuh. HTI tak lekang untuk terus mengajak remaja menjadi pribadi yang soleh dan solehan. Pelajar dan pemuda dijelaskan cinta suci yang hakiki dan akibat buruk: pacaran, tawuran, miras, narkoba, dan lain-lain. Mereka dididik oleh HTI dengan bagus dan tanpa pamrih. Thanks to HTI.

Kesimpulan kami, HTI telah mengambil peran positif di tengah-tengah umat. Namamu sudah dikenal. Budi baikmu tidak akan kami lupakan. Teruslah maju HTI. Kami sebagai aktifis mendukungmu. Ke depan kelihatannya HTI semakin di depan. Ayo yang lain menyusul dong! Thanks to HTI, Salut!

Rabu, 17 Mei 2017

Imbas Ahok Kalah, HTI Dibelah?

Menolak Pemimpin Kafir
Tidak salah lagi. Kecepatan pemerintah dalam mewacakan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terkait dengan kekalahan Ahok dalam pilkada DKI Jakarta. Gara-gara HTI menyuarakan haram pemimpin kafir, calon yang diusung oleh partai berkuasa tersebut gagal. 
.
Tentu mereka marah luar biasa. Mumpung masih berkuasa, inilah moment yang tepat untuk menghukum HTI. Karena, jika dibiarkan, nanti-nanti di pilkada lainnya pemimpin kafir yang diusung partai berkuasa juga akan menemui nasib yang sama. Gagal total. 
.
Kemarahan itu dikarenakan terminologi “kafir” dianggap isu SARA. Siapa yang mengusung istilah ini, dituduh memecah belah negara yang dihuni warga beraneka agama. Padahal sejak zaman Rasul kata kafir itu memang merujuk pada nonmuslim. Allah yang mengajarkan, bukan HTI. Bukan pula buatan umat Islam sendiri. 
.
Gara-gara isu kafir, masyarakat terpolar dua. Pendukung Ahok vs penentangnya. Ketika Ahok bereaksi dengan pidato penistaan agama di Pulau Seribu, bertambah gaduhlah nusantara. HTI dianggap dalang semuanya. Karena kekuatan opini “haram pemimpin kafir” dan ditambah isu “Ahok penista agama” telah menyatukan sikap umat Islam.
.
Hasilnya, Ahok dihukum dan kalah pula dalam pilkada. Ibarat jatuh, tertimpa tangga. Modal sudah terlanjur dikeluarkan. Pemodal tentu saja tak terima. HTI pun segera dicari-cari kesalahannya. Berdalih membahayakan NKRI dan Pancasila, penguasa pun mendapat bisikan tentang bahayanya ide khilafah yang diusung HTI. 
.
Ide ini dikhawatirkan akan membuat Indonesia menjadi “seragam” dan menghilangkan “keberagaman”. Indonesia akan diislamisasi. Akan diterapkan syariat Islam yang umumnya hanya dipahami sebatas potong tangan, rajam, dan qishos. 
.
Dikira, kalau Islam diterapkan orang kafir akan teraniaya. Didiskriminasi. Tidak dilindungi. Orang Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu, Yahudi, dll akan dipaksa masuk Islam. Kalau tidak mau, akan dimusnahkan. Sehingga, jika di Indonesia akan diterapkan syariat Islam, niscaya akan terjadi pertumpahan darah. Peperangan seperti di Syuriah atau Afghanistan. 
.
Tentu, kekhawatiran seperti ini sangat tendensius. Menunjukkan ketidakpahaman konsep syariat Islam dan Khilafah itu sendiri. Kita maklum. Ini karena saking jauhnya sejarah penerapan Islam di era Khilafah yang terakhir runtuh 1924, sampai hari ini. Sejarah yang sengaja ditutupi oleh dunia. Dijauhkan dari benak umat Islam. 
.
Jangankan nonmuslim, yang muslim sendiri pun tidak memahami sejarah Khilafah dan konsep syariat Islam kafah. Terlebih, tidak memahami dalil-dalil kewajiban penegakannya (yang di buku fikih dan kitab-kitab klasik bertebaran). Bahkan, upaya menegakkannya dianggap omong doang. Utopis. Mimpi. 
.
Terlebih, saat ini, tidak ada model konkret tentang penerapan Khilafah. Kebanyakan negara Islam diidentikkan dengan Arab Saudi, Iran atau negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Padahal sebagai sebuah konsep, ide Khilafah belum diterapkan secara totalitas oleh negara manapun. Arab Saudi pun tidak mengklaim Kekhilafahan, melainkan kerajaan. 
.
Bagaimana dengan Khilafah ala ISIS yang begitu menakutkan dunia? Sudah banyak pakar yang menganalisa, bahwa kelahiran ISIS disinyalir dibidani Barat (kapitalis) untuk mencitra-burukkan ide agung Khilafah. Supaya dunia takut, “begini lo, model Khilafah jika diterapkan. Barbar.” Maka, umat Islam sendiri yang tidak paham konsep pun dibuat ketakutan. Alih-alih mempelajari dan mendukung ide khilafah, malah menganggap itu ide membahayakan. 
.
Nah, peran HTI selama ini hanya menjelaskan dan mengedukasi masyarakat tentang konsep-konsep syariat Islam secara gamblang. Bagaimana ketika Islam tegak nanti, seluruh syariah bisa diterapkan dalam seluruh lini kehidupan. Ada sistem sosial (nizom ijtima'i), sistem ekonomi (nonriba, soal kepemilikan harta, baitul maal, dll). Sistem hukum, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Jadi, syariat Islam itu bukan melulu masalah potong tangan dan rajam. Itu terlalu sempit.
Saat ini, semangat berislam umat semakin mekar. Hijab sudah jadi fenomena. Pengusaha tanpariba sudah tobat di mana-mana. Bank syariah jadi alternatif transaksi di dunia usaha. Tapi, ini baru sebagian kecil dari syariat Islam. Bagian kecil ini belum mampu mengcounter debu-debu kapitalisme yang semakin merusak umat manusia. 
.
Contoh nyata, kemaksiatan merajalela. Seperti pergaulan bebas, LGBT, korupsi, narkoba, pornografi, kerusakan alam, dll. Semua terjadi karena diterapkannya ideologi kapitalis sekuler yang memang secara azas berbeda jauh dengan konsep Islam. Sistem yang sudah rapuh dan tambal sulam.
.
Ideologi sekuler ini gagal menerapkan konsep hidup yang membawa kesejahteraan, keadilan, kesejahteraan dan keberkahan karena tidak menjadikan agama sebagai pedoman. Makanya manusia tidak takut pada Tuhan. Tidak punya aturan baku tentang tata pergaulan yang sehat, hukum yang adil, pendidikan yang mampu mencetak orang baik dan benar, dsb. 

Inilah tantangan dakwah. Masih banyak umat Islam dan nonislam yang salah kaprah tentang Khilafah. Tantangan yang bukan hanya milik HTI, tapi juga elemen Islam lainnya. Islam harus mampu menjawab tantangan: bagaimana sistem Islam melalui Khilafah lebih baik daripada sistem sekuler kapitalis yang kini diterapkan dunia.
.
Dakwah yang mampu menjelaskan bahwa sistem Islam adalah solusi yang mampu menjamin kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat. Juga, memahamkan konsep Islam dalam memperlakukan warga nonmuslim. Islam menaungi keberagaman, sebagaimana Rasulullah SAW menaungi Yahudi, Nasrani, dll. Juga, saat sebagian warga dunia –termasuk sebagian Eropa-- berondong-bondong masuk Islam di bawah naungan Khilafah di era kegemilangannya. 
.
Ketika khilafah tegak, nonmuslim justru akan diayomi. Mendapat kesejahteraan dan keadilan. Mendapat hak-hak yang setara. Tentu ada pengecualian terkait kedudukannya sebagai warna negara, semisal haram menjadi pemimpin negara. Hal ini suatu kewajaran, karena untuk menerapkan sistem Islam, tentu yang paling paham adalah pemimpin Islam itu sendiri. 
.
Jadi, sebenarnya sesederhana itu logikanya. Ahok kalah HTI dibelah. Tetapi, konsekuensinya tidak akan sederhana. Dan sangat disayangkan, mengapa level penguasa yang notabene politikus dan negarawan, “hanya” sesederhana itu cara berpikirnya. Seolah tidak memiliki pandangan global, melainkan –lagi-lagi-- hanya mampu membuat blunder dan kegaduhan.(*)
.
Oleh: Kholda Naajiyah
Bogor, 13 Mei 2017.
Penulis, Kontributor Tabloid Media Umat

Nahdlatul Ulama VS Hizbut Tahrir Indonesia, Saudara Kembar Yang Dibenturkan?

Saudara Kembar Perjuangan Islam
Keduanya didirikan oleh seorang alim yang mukhlis untuk memperjuangkan tegaknya Islam yang akan memancarkan rahmat bagi seluruh alam semesta. NU didirikan oleh Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan HT didirikan oleh Syeikh Taqiyuddin Annabhani. Syeikh Taqiyuddin sendiri adalah cucu dari gurunya Syeikh Hasyim Asy’ari, yaitu Syeikh Yusuf Annabhani. Warga Nahdliyyin yang sering membaca kitab, pasti sangat familier dengan Syeikh Yusuf Annabhani. Beliau adalah penulis kitab Jami’u Karamatil Auliya, kitab Al-anwar Almuhammadiyyah, dan sekitar 80 kitab lainnya. Jadi, jika ada warga Nahdliyyin yang tidak mengenal dua kitab tersebut, dia termasuk orang yang majhul.

NU memahami bahwa dasar hukum syariah adalah al qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Demikian pula HT. Hanya HT menambahkan sedikit agar lebih clear, bahwa untuk ijma’ bukan sekedar ijma’, tetapi ijma’ shahabat, dan untuk qiyas bukan sekedar qiyas, tetapi qiyas syar’i, yaitu qiyas atas suatu nash yang ada illat syar’i-nya.

NU memahami bahwa semua sahabat Nabi adalah orang-orang adil. Mereka adalah orang-orang yang mulia. Kita sama sekali tidak boleh mencela mereka. Demikian pula HT, HT memandang bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang mulia. Kita sama sekali tidak boleh menghina dan mencaci mereka. Apalah artinya kita dibanding para sahabat Nabi. Perjuangan kita dan pemahaman kita tentang Islam tidak ada sak kuku irenge (maksudnya kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka). Kita semua dapat ilmu tentang Islam, semuanya dari mereka.

NU memahami bahwa umat Islam itu ada dua, yaitu orang yang mampu memahami langsung dari sumber-sumber Islam, yang dinamakan dengan mujtahid, dan juga ada orang-orang yang tak mampu memahami Islam langsung dari sumber aslinya, yang dinamakan dengan muqollid. Seorang muqollid karena tidak memiliki ilmu, ia harus mengikuti orang yang memiliki ilmu, yaitu para mujtahid. HT juga memiliki pandangan yang sama. Baik NU maupun HT sama-sama sangat menghormati dan menjunjung tinggi para ulama, terutama para ulama mujtahid muthlaq, seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Hambali dan lain-lain. Kita sama sekali tidak boleh menghina dan mencela mereka. Apalah artinya kita dibanding keilmuan mereka. Kita ini seperti anak TK, sementara beliau-beliau itu seperti professor. Layakkah seorang anak TK menghina keilmuan professor?

NU sangat hati-hati dalam menilai seseorang, apalagi membid’ahkan atau mengkafirkan seseorang. Sebab jika kita keliru dalam mengkafirkan orang, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduhnya. HT juga demikian, sangat hati-hati. Baik NU maupun HT lebih suka menggunakan istilah umum, misalnya bahwa “zina itu dosa besar”, tetapi tidak berani mengatakan bahwa “si A itu mendapat dosa besar”, kecuali telah ada bukti yang kuat di hadapan Allah. Contoh yang lain, misalnya mengatakan bahwa “orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah itu ada kalanya kafir, dzalim atau dzalim”. Tetapi, baik NU atau HT, tidak berani mengatakan bahwa “si A adalah kafir, dzalim atau dzalim”, kecuali telah terbukti dengan bukti yang kuat.

NU memandang bahwa Islam itu paripurna, mengatur masalah aqidah (tauhid), akhlaq, ibadah, mu’amalah, buyu’, hudud, hukmul aradli, jihad, dan lain sebagainya. Hal ini terdapat hampir di semua kitab ulama, dari kitab yang dipelajari level MTS seperti kitab Taqrib, level aliyah seperti kitab Fathul Mu’in, dan kitab-kitab besar lainnya seperti Al-Umm, Hasyiyah Al-Bajuri, dll. Demikian pula HT. HT memandang bahwa Islam itu ajaran yang paripurna dan lengkap. Tema-tema yang dipelajari di HT, juga sama dengan tema-tema yang dipelajari di pesantren NU. Bedanya, HT hanya menggunakan bahasa kontemporer dan membandingkan dengan keadaan dunia saat ini. Jadi tidak ada bedanya sama sekali, kecuali hanya penggunaan beberapa istilah baru.

NU memandang bahwa Islam wajib diterapkan. Saat itu kerahmatan Islam akan terwujud di muka bumi ini. Tetapi penerapan Islam harus benar, adil dan sesuai dengan metode syar’i karena semata-mata mengharap ridlo Allah. Islam tidak boleh diterapkan dengan kasar dan menyimpang dari metode syar’i-nya. Demikian pula HT. HT memandang bahwa islam harus diterapkan. Itulah, insya Allah, yang akan membawa kebahagian dan keadilan yang sejati bagi umat manusia.

NU memandang bahwa Islam itu ajaran untuk seluruh umat manusia, makanya NU tidak menganggap remeh dan rendah orang-orang yang memiliki kebangsaan berbeda. Hanya, saja karena Syeikh Hasyim Asy’ari orang Indonesia, maka beliau memulai dakwah dari Indonesia dan disebarkan ke seluruh dunia. Makanya lambang NU adalah bola dunia, sebuah lambang yang menggambarkan wawasan para pendirinya yang sangat global dan komprehensif. Demikian pula HT. HT memandang bahwa Islam itu juga untuk seluruh umat manusia. Tidak ada nasionalisme di dalam Islam. Kita memang memiliki kebangsaan yang berbeda, tetapi kita tidak boleh menilai sesorang atas dasar bangsanya, membela atau memusuhi seseorang atas dasar bangsanya. Itulah yang dinamakan nasionalisme. HT mulai dari Palestina, karena Syeikh Taqiyuddin adalah orang Palestina. Lalu dakwah HT menyebar ke seluruh dunia.

NU sangat menghormati para Khalifah Islam, apalagi Khulafaur Rosyidin. Bahkan NU membuat tradisi untuk mendoakan para Khalifah yang empat itu saat sholat tarawih, dengan mengucapkan “al khalifatul ula sayyuda Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallau anhu...” dan seterusnya. Kitab-kitab yang dikaji warga Nahdliyyin membahas dengan detil tentang Khilafah, misalnya kitab Al-Ahkam Assulthaniyyah, dan kitab-kitab lainnya. NU menganggap para Khalifah, para sahabat Nabi lainnya, dan para ulama pasca beliau adalah salafus sholih yang harus kita jadikan teladan. Demikian pula HT. HT sangat menghormati para Khalifah, terutama Khulafaur Rosyidin. HT memahami bahwa sistem yang harus diterapkan saat ini haruslah sistem yang dahulu diterapkan oleh para salafus sholih kita, yaitu sistem Khilafah. HT bahkan membahas Khilafah secara khusus. Bedanya, HT membahas Khilafah dengan bahasa yang lebih kontemporer dan membandingkan dengan sistem-sistem yang saat ini diterapkan. Sehingga lebih clear.

NU memandang bahwa mendakwahkan Islam tidak mungkin sendirian dan terpisah-pisah, karena itu para ulama membentuk organisasi dakwah yang solid bernama NU. HT juga sama. HT memandang bahwa mendakwahkan Islam tidak mungkin sendirian. Rasulullah dalam berdakwah juga bersama para sahabatnya dalam suatu barisan yang sangat rapi. Tentu saja, organisasi di sini sama sekali tidak boleh dimaksudkan untuk ashobiyah atau berbangga-bangga, tetapi organisasi ini dimaksudkan agar dakwah dapat berjalan dengan solid. NU dan HT sama-sama menjauhi sikap ashobiyyah dalam segala hal. Sebab ashobiyyah itu dilarang Islam. Sebagai organisasi, tentu NU dan HT memiliki struktur organisasi dan mekanisme tertentu dalam pengaturan para anggotanya.

NU sangat konsisten dengan ajaran Islam, dan terbuka dengan berbagai hal baru yang tidak bertentangan dengan Islam. Inilah yang membuat NU dinamis. Kaidah masyhur di kalangan NU “al muhafadzatu bil qodimi ashsholih, wal akhdzu bil jadidi al-ashlah (menjaga hal lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik). Baik atau sholih di sini dasarnya adalah Islam. Maka para ulama mengatakan “alhasan ma hassanahu asy-syar’u, wal qabih ma qobbahahu asy-syar’u (Baik adalah apa yang dianggap baik oleh syara’. Sedangkan buruk adalah apa yang dianggap buruk oleh syara’)”. Demikian pula HT. Hanya HT membahas dengan istilah yang berbeda yang dianggapnya lebih jelas, yaitu istilah hadloroh dan madaniyyah. HT akan istiqomah dengan hadloroh Islam, tetapi mengambil madaniyyah yang tidak bertentangan dengan Islam, seperti tenologi dll.
NU sangat mencintai orang-orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya, dan membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasulnya. NU tidak pernah rela dengan penjajahan, karena penjajahan adalah pelanggaran terhadap Islam. Karena itu, ulama-ulama NU bangkit melawan penjajahan sesuai dengan kemampuan beliau waktu itu. Perjuangan melawan penjajhan adalah jihad fi sabilillah. HT juga sama. HT sangat mencintai orang-orang yang mencintai Allah, dimana pun mereka berada. Juga membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya. HT sangat benci dengan penjajahan. HT sejak didirikan sampai sekarang, menentang bentuk penjajahan, baik secara militer, ekonomi dan politik atau teknik-teknik lain.

NU sangat concern mendidik umat dengan Islam, lewat berbagai forum dan media yang dimungkinkan. Lewat pesantren, musholla, masjid, majlis ta’lim, pengajian-pengajian rutin di kampung-kampung. Inilah yang dinamakan pendekatan kultural. HT juga sama. HT sangat concern mendidik umat dengan Islam, lewat berbagai sarana yang dimungkinkan. HT mengadakan halaqoh-halaqoh kecil, dan juga berbagai acara besar. Berbagai sarana yang dimungkinkan, HT dapat dipastikan menggunakannya untuk kepentingan mendidik umat. Inilah yang dinamakan HT sebagai pendekatan kultural (tatsqif). Hanya saja, HT berpandangan bahwa meskipun pendekatan kultural ini sangat penting dan harus digarap dengan serius, ada pendekatan lain yang tidak boleh dilupakan, yaitu pendekatan politis. Pendekatan politis ini hanya akan terwujud lewat institusi politik umat Islam yang bernama Khilafah. Ini pula yang disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam Ghozali “Addiinu ussun was shulthanu harisun. Fa ma laa ussa lahu fmahduumun. Ma wa la harisa lahu fa dlo’i’un (Agama adalah pondisi, kekuasan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tak ada pondasinya akan roboh. Dan sesuatu yang tak ada penjaganya, maka akan terlantar)”. Sekedar contoh, masyarakat diharapkan tidak melakukan pencurian. Lalu mereka dididik tentang haramnya mencuri dan wajibnya bekerja. Ini adalah pendekatan kultural. Namun, tentu saja, dalam pendidikan tersebut, ada sebagain masyarakat yang karena suatu hal tetap melakukan penjurian. Maka dalam hal ini, pencuri tersebut harus diberi sangsi. Sehingga mereka dan yang lain jera melakukan pencurian. Inilah yang dinamakan pendekatan politis. Jadi pendekatan kultural dan politis itu sama-sama pentingnya. Hanya saja, saat pendekatan politis belum bisa dilakukan, maka yang dilakukan adalah pendekatan kultural.

NU sangat kritis dan tegas kepada penguasa yang tidak menjalankan amanah dan melanggar syariah. Bahkan beberapa ulama NU sampai pada sikap yang agak ekstrim. Misalnya kyai saya, Syeikh. KH. Ma’mun Ahmad, beliau mengharamkan ujian nasional kepada santri-santrinya. Menurut beliau, dalam Islam ujian bukan seperti itu. Itu meniru orang-orang kafir. Beliau tidak mau menerima bantuan dari pemerintah, hingga pondok dan rumah beliau masih sangat sederhana, hingga akhir hayat beliau. HT juga demikian. HT sangat tegas dan kritis kepada para pemimpin yang tidak menjalankan amanah dan melanggar hukum syariah. Bedanya, HT merinci beberapa hal sehingga lebih clear, sebagaimana dalam pembahasan hadloroh dan madaniyyah.

Dan lain sebagainya. Mungkin akan butuh beratus-ratus halaman, jika saya sebutkan semua. Singkatnya, NU dan HT itu layaknya saudara kembar dalam memperjuangkan diinullah, litakuuna hiyal ulya.

Itulah NU dan HT, sepanjang yang saya ketahui dan saya rasakan. NU dan HT itu sama. Sama-sama diniatkan untuk memperjuangkan Islam. Sama-sama didirikan dan diikuti oleh orang-orang yang mengharap ridlo Allah.

Ketika saya pertama berdiskusi dengan teman HT, memang itu belum tergambar dengan jelas di benak saya. Waktu itu, menurut saya, aktivis HT hanyalah orang-orang yang exited karena baru mengenal Islam. Ternyata saya salah besar. Aktivis HT itu sangat beragam dengan latar belakang keilmuan yang sangat beragam. Para aktivis HT juga terkadang ada yang belum memahami perjuangan secara utuh. Itu hal yang sangat wajar. Namun, setelah saya lama diskusi dengan beberapa aktivis HT dan membaca kitab-kitabnya, hal itu tergambar dengan sangat clear. Kitab HT yang ditulis Syeikh Taqiyuddin, itu benar-benar kitab yang istimewa, menurut saya waktu itu. HT itu persis NU, hanya HT memperjelas dan mempertegas hal-hal yang selama ini agar kurang jelas. Maksud kurang jelas, tidak berarti bahwa kitab-kitab ulama NU tidak membahas hal itu. Tidak. Kitab-kitab ulama yang membahas itu sanagat banyak. Tetapi karena kitab ulama itu sangat banyak, dan terkadang terjadi ikhtilaf. Lalu, dari ikhtilaf itu tidak ada yang melakukan tarjih. Sehingga banyaknya pendapat itu terkadang membuat para santri kurang tegas dalam mengambil sikap. Tentu saja ini bukan hal yang salah.

Sementara HT mengapresiasi berbagai ikhtilaf di kalangan ulama, lalu HT mengambilnya yang menurutnya lebih rajih. Ini yang membuat gagasan HT terkesan lebih tegas. Lagi pula, HT selalu membandingkan pemahamannya dengan kondisi saat ini, di dunia kontemporer. HT membandingkan antara Islam, Kapitalisme, dan Komunisme hampir dalam segala hal. Dengan perbandingan ini, membuat HT memiliki determinasi yang lebih tegas dan jelas. Misalnya tentang mua’malah, baik NU atau HT sama-sama membahas tentang syirkah, dan kesimpulannya sama. Namun, HT tidak sekedar mengkaji dalil-dalinya, HT menambah pembahasan dengan mengkaji fakta berbagai syirkah yang sekarang ada di dunia kontemporer, menelitinya dengan hati-hati. Sehingga tampak lebih jelas, mana yang absah dan mana yang bathil.

Jadi, tidak ada beda yang berarti antara HT dan NU.

Sampai akhirnya, muncul generasi muda yang pulang mencari ilmu dari Amerika, Kanada, Eropa dan lain-lain. Mereka membawa gagasan yang aneh dan tidak dikenal dalam pemikiran NU. Namun, karena mereka adalah anak kyai-kyai yang karismatik dan mukhlis, meski gagasannya aneh, mereka tetap diterima sebagai bagian dari tradisi dan keilmuan NU yang holistik. Mereka mulai mencampurkan berbagai gagasan yang bersandar pada pemikiran barat, dan lambat laun mereka menduduki posisi kunci, baik secara kultural maupun politis. Akibatnya, gagasan NU yang semula bersih dan lurus, menjadi agak bergeser. Pada titik ini, NU memang sangat berbeda dengan HT.

Karena itu, untuk memahami gagasan NU, ada baiknya kita membaca kitab-kitab Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Itulah gagasan NU. Dari sana, kita tidak akan dibingungkan dengan istilah “NU Garis Lurus”, “Generasi Muda NU”, “Pembela Ulama”, dan lain sebagainya.

Jadi, dengan mengkaji secara jujur terhadap kitab dua ulama besar: Syeikh. KH Hasyim Asy’ari dan Syeikh Taqiyuddin An nabhani, kita akan dapat memposisikan NU dan HT pada tempat yang proporsional.

Wallahu a’lam.

Oleh : Ust Choirul Anam

Membaca Fenomena Islamphobia dan Kriminalisasi Ulama oleh Rezim Penguasa

Kriminalisasi Ulama Mirip Seperti 1965
Kini tersiar kabar dimedia sosial yang sedang viral, bahwa ulama Surabaya Ust Hasyim Yahya selaku ketua dewan pengurus Yayasan Masjid Mujahidin –salah satu masjid komando penumpasan PKI dan titik kumpul Aksi Bela Islam 212- akan dipanggil penyidik Kepolisian Resort Tanjung Perak Surabaya pada besok Selasa 16 Mei 2017 pk 10.00 di ruang reskrimum. Pemanggilan salah satu tokoh dan ulama Surabaya yang vokal ini adalah sebagai saksi yang diduga melakukan tindak pidana dengan menyebarkan permusuhan, kebencian atau isu SARA.

Bahkan melalui pesan singkat grup keluarga dan tetangga, seruan aksi simpatik dengan mendatangkan ratusan bahkan ribuan massa kemungkinan akan pecah lagi di kota Pertempuran akan terulang kembali. Karena masyarakat muslim Surabaya kian cerdas membaca bahwa Ulama dan tokoh mereka sepertinya dibidik oleh rezim penguasa.

Dalam kurun sepanjang tahun 2016-2017 negara ini sedang diuji kebhinekaan dan persatuan oleh Sang Pencipta. Agar nantinya negara ini kian dewasa dan bisa membina saudara-tetangga atau bahkan lawan pun menjadi segan terpana. Membaca situasi kondisi politik terkini, para tokoh dan alim ulama sepertinya telah dan sedang menjadi bidikan para antek rezim neo-komunisme dan neo-kolonialisme.

Catatan sejarah di negeri ini menunjukkan bahwa Habib Rizieq selaku Imam Besar FPI, KH. Ma’ruf Amin Ulama senior MUI dan Rais Aam PBNU, KH. Tengku Zulkarnain, dan Ulama penggerak aksi 212 menjadi pemberitaan nasional di media sosial. Termasuk juga yang saat ini sedang ngetrend dijagad dunia maya dan dunia nyata termasuk dikalangan Tokoh-Ulama-Mahasiswa yakni HTI tak luput tertinggal membahana.

Perlu kita cermati bahwa, pasca Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) kepleset ujaran kebencian pada surat Hidangan (Al-Maidah: 51), kriminalisasi ulama dan tokoh kian riuh menyeruak keangkasa maya, stempelisasi makar terhadap negara digelindingkan kepada siapapun yang bersebrangan dengan penguasa. Islamphobia dan radikalisme kian kencang dihembuskan ke masjid dan kampus tempat menimba ilmu dan pahala.

Dalam sejarah peristiwa pertempuran (heroik) pada tahun 1945 menjadi bukti bahwa dengan peran alim ulama dan pemuda serta takbir yang lantang mengelegar, telah menggetarkan jiwa pasukan dan istana Belanda.

Menjadi perhatian bagi kita sebagai generasi bangsa ini, sejatinya ancaman negara adalah neo-komunisme dan neo-kolonialisme dengan bentuk dasar sekulerisme (memisahkan urusan agama dengan politik), ancaman nyata narkoba dan seks bebas. Inilah ancaman nyata negara!

Umat Islam bukanlah pihak yang mengancam kesatuan apalagi kebhinekaan. Jangan tuduh kami dengan stempel murahan dan memuakkan. Wahai penguasa dan para pemangku kebijakan serta aparat kepolisian. Marilah kita bertaubat pada Allah SWT dengan melepaskan jerat rantai jebakan antek penjajah neo-komunisme neo-kolonialisme. Hormatilah para ulama, sang pewaris para nabi. Jadilah Anda lelaki pemberani dengan memberikan loyalitas kemuliaan pada Islam dan kaum muslimin. Insyaallah kita akan selamat bangsa, dunia dan akhirat.

Sungguh, beliau para alim ulama kita adalah pewaris para nabi dan rasul. Siapa lagi yang bisa kita jumpai jika tidak membela para alim ulama sang pewaris ilmunya Rasulullah SAW. Kini pewaris itu menjadi bidikan rezim dan antek neo-komunisme neo-kolonialisme. #SaveUlama

Tetaplah bersatu wahai saudaraku!
Sekarang saatnyalah bagi para pemilik kekuatan untuk bersikap dan berdiri gagah bersama para alim ulama menjadi garda terdepan Para Pembela Islam dan Pewaris Para Nabi. Inilah bentuk nyata ketaatan dan ketaqwaan para lelaki pemberani menyikapi situasi politik saat ini.

Dan kami pun sebagai _Arek Suroboyo_ yang darah kami mengalir darah para pejuang. Kami siap menjadi benteng dan bambu runcingnya para ulama.

01.45, Bumi Resolusi Jihad dan Pertempuran, Surabaya 15 Mei 2017
Oleh: Adam Syailindra*
_Koordinator CAS (Cangkrukan Arek Surabaya) dan SMPAI (Serikat Mahasiswa Pemuda Aktivis Indonesia)_

Melarang HTI Karena Dilarang di Sejumlah Negara? Alasan Yang Tidak Logis

Hizbut Tahrir Indonesia 
Sejumlah pihak yang dengan semangatnya mendukung pembubaran HTI, dengan alasan HTI dilarang juga diberbagai negeri adalah alasan klise.

Hizbut Tahrir dilarang disejumlah negara, bukan berarti HTI itu kelompok bersenjata. HTI hanya mendakwahkan sesuatu yg tercerap dari Quran dan Sunnah, menyampaikan kebenaran yang haq sebagaimana Surat Al-Ashr bertutur.

Hizbut Tahrir dilarang di Arab Saudi, bukan karena Hizbut Tahrir gerakan bersenjata. Tapi karena Hizbut Tahrir getol mengkritisi kebijakan Pemerintah Saudi. Karena ranah kita sebagai muslim adalah menyampaikan yang haq pada penguasa. Siapa pun mereka.

Hizbut Tahrir pun dilarang dsejumlah negara pada dasarnya karena "kerasnya" kami dalam ucapkan kebenaran. Dakwah HT tidaklah menggunakan kekerasan. Bahkan organ sayap militer di tubuh Hizbut Tahrir pun tak ada sama sekali.

Hizbut Tahrir pun dilarang di negara Uzbekistan, karena memang pemerintahan rezim yg bengis, otoriter dan zalim itu melarangnya. Tak sedikit aktivis HT disiksa oleh rezim itu di sana. Bukan karena HT adalah organisasi islam yang sesat, tapi memang tugas kami sampaikan kebenaran.

Ya, pelarangan itu harus jelas asal usulnya kenapa? Misalnya berdiri gerakan Sunni yang bertujuan menggulingkan kekuasaan Syiah di Iran, maka tentu Rezim Syiah di Iran akan melarangnya. Atau pun misalnya, di Arab Saudi yg menganut Mazhab Hambali atau Wahabi, ada acara Shalawatan besar-besaran di tengah kota, tentu gerakan shalawatan maulud itu pasti dibubarkan dan dilarang.

Apakah Hizbut Tahrir adakah hubungan dengan ISIS? Tentu tidak ada sangkut pautnya. Bahkan Hizbut Tahrir mengkoreksi dengan lantang Khilafah yang mereka deklarasikan adalah bukanlah Khilafah! Bahkan tak pantas pula Hizbut Tahrir disangkut pautkan dengan Gerakan Al-Muhajirun, meskipun pendirinya pernah tergabung di Hizbut Tahrir. Sama halnya Nasdem dan Gerindra, tak mau disebut sebut sama dengan Golkar, meskipun Prabowo dan Surya Paloh dibesarkan partai Golkar dahulu kala.

Hizbut Tahrir adalah gerakkan dakwah. Tujuan utamanya bukan mendirikan Khilafah, sebab tujuan utama Hizbut Tahrir adalah melanjutkan kehidupan dengan islam. Dengan tujuan tersebut, Hizbut Tahrir akan selalu ada untuk menjadi partai politik islam yg bertugas menjaga ummat, mengajarkan kepada ummat dan mengawasi kinerja pemerintah agar selalu berada di dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT.

Yang berhak mendirikan Khilafah itu bukanlah tugas Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir hanya berdakwah menyampaikan kepada ummat, bahwa Khilafah itu adalah sistem pemerintah an di dalam islam. Sehingga berdirinya khilafah itu adalah kemauan ummat islam.

Wilayah Dakwah Hizbut Tahrir itu tak akan menyinggung Pancasila dan UUD 1945 sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas Hizbut Tahrir itu meluruskan yang salah, mengingatkan ummat islam pada ketaatan totalitas kepada Quran dan Sunnah. Adakah yang salah?

Akhukum,

Rizqi Awal,
Penikmat Kajian Kitab-kitab Hizbut Tahrir.

Selasa, 16 Mei 2017

Habib Rizieq Tidak Kunjung Pulang Ke Tanah Air, Mengapa?

Al-Habib Rizieq Bersama Para Ulama

Karena beliau sadar banget bahwa beliau sedang difitnah habis habisan oleh rezim rasis dan pendendam ini...kalo beliau pulang pasti langsung ditangkap dan ditahan.

Lalu apa yang akan terjadi??? sudah pasti perang fisik!!..tidak mungkin adem ayem saja....

Habib menyadari, beliau akan sangat sulit mencegah ummat dan ulama-ulama lainnya untuk tidak menggelorakan perang karena marah amat sangat, pemimpinnya di fitnah secara brutal dan sewenang wenang.!!

musuh islam yg sedang kesetanan itu pasti juga akan turun ke jalan membela langkah polri. Bentrok????..

Siapa yg bisa menjamin tidak bentrok fisik???..marah bertemu marah..!!..

Dengan memperhitungkan kondisi saat ini, dimana penguasa dzalim sangat bernafsu menghabiskan para ulama melalui tangan tangan "rakyat yg diperalat" (ahokers) pastilah umat islam akan dibuat tak berdaya. Bisa jadi mereka akan diberi senjata oleh penguasa..

(untuk yg kayak gini mah..ga usah sekaliber habib yg mikir..cukup org kayak ana aja udah bisa mikir kyk gini)

Kalo sudah begitu..negara mau jadi apa?.bagaimana mau membangun bila tenaga kita semua terkuras untuk mengatasi konflik berdarah???..ingat...untuk membakar Indonesia hanya butuh hitungan jam dijaman secanggih ini..percayalah!!!..bara api kini ada di dalam setiap genggam anak negeri...

Habib itu sayang banget sama ummat islam dan NKRI..
Beliau lebih cinta ummat muslim dibanding keluarganya sendiri..beliau ikhlas kesana kemari dengan membawa istri dan anak serta cucunya yg baru lahir..lelah????..ya sdh pastilah..amat sangat lelah..tapi beliau ikhlas..menjalankannya demi kebaikan umat dan NKRI..

Beliau ga mau ada darah anak negeri jatuh dibumi pertiwi, apalagi darah muslim..beliau pasti tidak akan rela...demi keamanan dan keutuhan NKRI..beliau menjauh dan meninggalkan negerinya dimana beliau lahir dan dibesarkan..

Beliau ikhlas mengurangi dakwahnya yg selama ini menjadi nafasnya....

Saat ini belum saatnya beliau muncul..

Doakan ya akhi ukhti..
semoga beliau dan sekeluarga serta para ulama yg berjuang dijalan Allah dan saudara-saudara kita se-akidah selalu dalam lindungan Allah Subhanaawata'alla..diberikan kekuatan dan kesehatan..

Semoga saudara-saudara kita di Polri juga diberikan hidayahnya Allah..agar mampu membedakan mana yg haq dan bathil..

Aamiin..yaarobballalamiin..

Oleh : Bayu Santoso

Sabtu, 22 April 2017

Melawan Mereka Yang Ingin Mengganti NKRI Dengan Sistem Khilafah

Khilafah Bidik NKRI
Ada banyak muslim yang tergabung dalam kelompok radikal seperti Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)/Daulah Islamiyyah fi al-'Iraq wa al Syam (DAISH), al-Qaedah, dan Hizbut Tahrir (HT) yang berilusi ingin mewujudkan Daulah Islamiyyah (Negara Islam). Kelompok tersebut sangat anti terhadap sistem demokrasi. Mereka punya hobi menggelar demonstrasi yang mendorong tegaknya kembali sistem khilafah dan penegakan syariat Islam (tathbiq al-syrari'ah al-Islamiyyah). Untuk mencapai tujuan tersebut ISIS dan al-Qaedah memakai jalur kekerasan dan teror, sedangkan HTI menempuh cara yang berbeda, yakni jalan damai. HTI kini berani terang-terangan menyuarakan ide-ide gilanya menentang keabsahan NKRI, sedangkan pemerintah atau pihak yang berwajib bungkam seribu basa, membiarkan NU sendirian terutama Banser berteriak lantang menentang gerakannya.

Islam sesungguhnya tidak menentukan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang absah satu-satunya, meskipun sistem ini pernah ada dalam sejarah masa lalu umat Islam. Kita bebas memilih dan menentukan sistem pemerintahan mana pun sepanjang urusan duniawi rakyatnya dapat diatur dengan sebaik-baiknya dan urusan agama dapat selalu terjaga dan bebas dilaksanakan. Sebab yang penting adalah substansinya, bukan apa bentuknya.

Ketika semua negara di dunia ini telah berubah menjadi nation state atas dasar kehendak dan kesepakatan masing-masing rakyatnya, maka Khilafah Islamiyyah apalagi yang bersifat global tidaklah relevan lagi. Ide Khilafah tersebut sebagai hasil ijtihad politik pada masa lalu umat Islam kini sudah diganti dengan model nation state (negara bangsa) di seluruh penjuru dunia.

Tidak ada kewajiban sedikit pun bagi individu umat Islam untuk ikut serta menegakkannya kembali. Bahkan kita tidak berdosa menentang sekeras-kerasnya. Karena dalam kitab suci al-Qur'an kata "khilafah" tidak pernah sekalipun disebutkan, selain karena upaya menegakkan kembali sistem khilafah akan menimbulkan perselisihan di kalangan rakyat banyak tentang siapa khalifah yang disepakati umat dan saya duga kuat tidak akan ada satu negara pun di dunia ini yang mau menyerahkan kedaulatannya secara damai kepada para "pejuang" berdirinya sistem khilafah. Memaksakan kehendak demi tegaknya sistem khilafah dan penerapan syariat Islam pasti membahayakan keutuhan NKRI, yakni mengakibatkan disintegrasi bangsa dan chaos.

Pemerintah RI tidak boleh tinggal diam, wajib bertindak cepat, tegas dan berani segera membubarkan semua kelompok yang anti terhadap Pancasila. Ide khilafah dari orang-orang Islam yang sedang khilaf, buta sejarah dan tidak menghargai para ulama pejuang NKRI itu harus dilawan dengan cara melarangnya agar rakyat tidak berselisih dan saling menumpahkan darah karenanya. Membiarkan mereka itu sama dengan membiarkan kanker ganas menggerogoti tubuh sehat kita. Penyakit apa pun wajib dicegah segera sebelum berjangkitnya, wajib diobati hingga sembuh setelahnya, dan wajib segera diamputasi bila menular ke organ-organ sehat lainnya.

Oleh : Ahmad Ishomuddin

Mukjizat Zakir Naik

Zakir Naik (Sumber : Indowarta)
Zakir Naik datang atau tidak, Indonesia pasti ribut. Momentum sekecil apapun kalau sudah viral di internet imbasnya pasti besar. Kata Cak Nun, kita ini sebetulnya sedang menguasai informasi atau telah dikuasai informasi? Silahkan Anda menilai hidup Anda sendiri soal pertanyaan ini sambil ingat ingat prilaku kita terhadap media sosial, internet dan sejenisnya.

By the way, karena pemberitaan seputar Zakir Naik terus menerus muncul di time line saya, sepertinya memang ada hal menarik dari cara manusia asal India ini dalam berdakwah. Terutama soal 'tantangan' yang dilakukan oleh Zakir Naik seputar pertanyaan agama.

Pertama, kalau dipikir pikir sebetulnya apa yang disebut dengan istilah 'mukjizat' itu adalah tantangan atas pertanyaan dan pembuktian akan suatu kebenaran. Kata mu'jizat, kata aslinya terambil dari kata i'jaz yang maknanya adalah sesuatu yang mematahkan. Kalau Nabi Musa dahulu ditantang oleh para dukun suruhan Fir'aun dengan ditakut takuti dengan ular maka para ular jadi jadian itu dijawab oleh Musa atas perintah Allah dengan menghadirkan ular juga yang lebih besar yang berasal dari tongkatnya. Ular jadi jadian itu 'dipatahkan' oleh mu'jizat Nabi Musa saat itu. Begitu juga Nabi Muhammad yang sampai hari ini al Qur'an menantang makhluk manapun bukan hanya manusia untuk membuat ayat serupa dengan al Qur'an. Ternyata terbukti bahwa al Qur'an sampai hari ini dan seterusnya tidak satupun manusia yang dapat mematahkannya.

Sampai disini sepertinya apa yang dilakukan Zakir naik merupakan realisasi dari apa yang sudah al Qur'an lakukan. Toh di dalam banyak pertanyaan yang ditanyakan kepada Zakir Naik juga sebagian besar mempertanyakan kebenaran agama Islam itu sendiri. Kalau dipahami, sebetulnya betapa Islam sangat terbuka untuk dipertanyakan kebenarannya bagi siapapun yang ragu. Apakah agama lain berani melakukan hal ini?

Kedua, banyak orang berpikir bahwa apa yang digelar oleh Zakir Naik merupakan 'pelecehan' atau semacam 'gangguan' terhadap agama lain. Hal ini sepertinya mafhum bahwa Zakir Naik sebagai seorang muslim yang sangat percaya agamanya yang di dalam kitab suci al Qur'an secara jelas dan tegas mengatakan bahwa Nashrani dan Yahudi adalah orang orang yang sesat. Kalau Anda seorang muslim mestinya Anda harus percaya apa yang dikatakan al Qur'an.

Agama dan beragama memang bukan untuk dipertandingkan namun andai Anda yakin bahwa Anda memiliki sesuatu yang benar dan menyelamatkan manusia pastinya Anda mengajak orang lain yang tersesat agar mengikuti Anda dan Anda sangat terbuka untuk berdiskusi dan untuk silahkan dipertanyakan kenapa Anda sangat yakin dengan apa yang Anda pegang kebenarannya sedangkan mereka dalam kesesatan. Itulah dakwah.

Sejauh ini saya kira Zakir Naik sangat mengerti batasan sehingga Ia tidak memaksa orang lain dengan menghina sesembahan dan Tuhan mereka karena hal itu memang dilarang oleh al Qur'an. Anda boleh berdebat asal tidak menghina, boleh berargumentasi asal tidak menyakiti keyakinan orang lain, silahkan mempertanyakan al Qur'an dan isinya bila ragu, silahkan bawa data agama lain kemudian kita sama sama membahasnya.

Zakir Naik yang kebetulan ia hafal dan mengerti banyak isi kandungan kitab agama lain yang dengan begitu ia objektif dan mengerti betul alam pikir penganut agama itu sehingga ketika ia menjawab tidak dengan prasangka dan kira kira semata. Menurut saya, yang dilakukan Zakir Naik sangatlah fair, terbuka, siap dihujat dan dipertanyakan seperti halnya al Qur'an yang sampai hari ini masih terus menantang Anda semua untuk menandinginya.

Di tangan Zakir Naik sudah banyak orang yang awalnya kafir menjadi muslim sedangkan di tangan kita, saudara sesama muslim menjadi kafir karena kita kafir kafirkan dia setiap hari..

Sumber : FP Wali Songo, dari Sirlbrahim