Jumat, 02 Februari 2018

Tragedi Pemukulan Terhadap KH. Umar Basri, Bahaya Laten Intoleransi

Muhasabah Kebangsaan

BAHAYA LATEN INTOLERANSI
Al-Zastrouw



Tragedi pemukulan terhadap KH. Umar Basri (ajengan Emon) saat melakukan dzikir di masjid Al-Hidayah, masjid pesantren yg diasuh sang ajengan, mengingatkan saya pada dua kejadian penting beberapa tahun lalu.

Pertama, peristiwa pengusiran Gus Dur saat memberikan ceramah pada acara diskusi di Purwakarta. Saat sedang memberikan ceramah tiba2 datang sekelompok orang berseragam putih yang secara tegas mengaku dari FPI membubarkan acara tersebut dengan cara2 yg kasar dan tak beradab. Hujatan, caci maki dan kata2 kotor ditujukan pada Gus Dur.

Hampir saja terjadi bentrok dan konflik horizontal, karena pada saat itu para Banser dan kaum muda NU sdh siap melakukan serangan balasan. Tapi dengan tegas Gus Dur justru melarang.

Pada saat itu tak ada tudingan FPI membubarkan pengajian, tak ada tuduhan kriminalisasi ulama meski yg dibubarkan adalah majlis Ilmu dan yg dilarang bicara adalah ulama besar yg sdh diakui dunia. Juga tak ada kegaduhan gerakan bela ulama dan Islam dengan demo berjilid2

Bandingkan dg kegaduhan yg terjadi saat ini ketika seorang pembicara agama diminta membuat pernyataan setia pada NKRI seperti yg terjadi pd kasus Felix dan Ustad Abdus Shomad, seolah2 terjadi pelarangan pengajian dan pelecehan ulama. Padahal mereka tdk dilarang kasih pengajian dan badannya juga tdk tersentuh sedikitpun, tapi berita yg tersebar seolah telah terjadi pelecehan ulama, penistaan Islam dan sejenisnya.

Kegaduhan peperti ini sama sekali tidak terlihat saat ajengan Emon dianiaya secara fisik bahkan sampai berdarah-darah di tempat yg disakralkan (masjid), bukan di hotel atau bandara, dan saat melakukan ibadah dzikir bukan saat memberikan provokasi yg membakar emosi ummat. Kelompok yg pernah mengusir Gus Dur ini diam, cep klakep tanpa ada komentar apalagi reaksi.

Terus terang, melihat reaksi kaum daster ini langsung mengingatkan saya pada hubungan antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Ayah beliau adalah santri Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yg juga kakek Gus Dur. Ini menunjukkan ada kesamaan genealogi sosiologis dan ideologis antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Kesamaan ini yg membuat hubungan emosional antara beliau berdua menjadi dekat. Hal itu bisa menimbulkan asumsi bahwa ajengan Emon adalah sama atau bagian dari Gus Dur sehingga kelompok2 yg dulu membenci dan mengusir Gus Dur akan merasa tidak perlu simpati apalagi membela. Mereka menganggap beliau bukan ulama sebagaimana mereka menganggap Gus Dur sebagai kaum liberal, yg layak diusir dan dicaci maki. Dengan cara pandang ini sangat bisa dipahami jika kelompok2 yg selama ini teriak2 bela ulama dan Islam diam dan tak bereaksi terhadap kasus penganiayaan yg menimpa ajengan Emon.

Kedua, kasus ini mengingatkan saya pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari issu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kyai2 kampung dan guru2 ngaji warga NU. Berdasar data tim pencari fakta (TPF) PWNU Jatim, korban pembantaian Banyuwangi ini ada 147 orang, bahkan laporan LSM Kompak Banyuwangi mencapai 174 orang.

Saya teringat pada tragedi Banyuwangi karena ada beberapa kesamaan antara kasus Banyuwangi dengan Cicalengka; pertama, sasarannya kyai kampung NU; kedua, terjadi saat menjelang event politik bertensi tinggi, ketiga; pelaku yg tertangkap selalu diindikasikan menglami gangguan jiwa, (bahkan ada yg lgs bunuh diri) sehingga sulit dilacak jejak dan motifnya. Keempat, menjadikan PKI sebagai kambing hitam pelaku pembantaian ulama.

Pada kasus pengusiran Gus Dur kita bisa melihat bagaimana kelompok2 intoleran menjadi ujung tombak untuk melawan ulama yg mencoba merajut keutuhan bangsa, konsisten pada Pancasila sbg perjanjian luhur bangsa. Kaum intoleran menganggap ulama seperti ini sebagai ulama liberal, agen zionis dan tidak membela Islam sehingga layak dihujat, diusir dan dicaci maki.

Meskipun mengaku menerima Pancasila, namun mereka menafsirkannya secara sektarian dan eksklusif, sehingga memberangus dan menegasikan keberagaman yg ada. Dan ini terlihat jelas dalam perilaku politik mereka yg radikal dan intoleran. Dalam kasus Cicalengka, indikasi pelaku sebagai bagian dari kelompok ini terlihat jelas dalam perkataan dan sikap pelaku sebelum melakukan pemukulan (sebagaimana disebutkan dalam kronologi yg beredar di medsos). Peristiwa ini mengindikasikan kaum intoleran semakin brutal dan agresif menyerang ulama dan kelompok teleran dan moderat.

Dalam kasus Banyuwangi saat itu, Gus Dur memahami peristiwa kelam itu sebagai upaya memancing emosi kaum Nahdhiyin agar masuk dalam pusaran konflik horizontal sehingga terjadi kekacauan. Oleh karenanya Gus Dur menahan agar ummat NU tdk terpancing. Dalam situasi ketegangan politik yg makin meningkat seperti saat ini, bisa jadi berbagai kepentingan sedang bermain memanfaatkan situasi yang ada.

Melihat pola dan modus yg terjadi serta mencermati genealogi ideologi dan sosialogi kelompok2 yang menggunakan ayat dan simbol agama dalam gerakan mereka, bisa dikatakan bahwa gerakan kaum intoleran yg hendak memecah keutuhan bangsa masih menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa. Upaya menghancurkan Pancasila masih dilakukan dg segala cara.

Jika merujuk pada referensi sejarah kebangsaan, situasi seperti sekarang ini mirip dengan suasana jelang peristiwa pemberontakan 65, ketika rakyat digiring dalam suasana konflik atas nama revolusi. Saat ini rakyat digiring menuju konflik dg menumbuhkan sikap intoleran menggunakan agitasi atas nama agama dan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi dengan kejernihan nalar dan hati agar tidak mudah hanyut dalam provokasi dan agitasi dalam segala bentuknya. Dulu kita waspada atas bahaya laten PKI, ada baiknya saat ini kita waspada terhadap bahaya laten intoleransi.***

El-Zastrouw

Inilah 7 Tahapan Menjadi Wahabi Takfiri

7 TAHAPAN MENJADI WAHABI TAKFIRI



Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.
Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mari kita lihat tahapan2-nya:
  1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu. Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.
  2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb. Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.
  3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi. Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.
  4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adaah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain. Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.
  5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.
  6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.
  7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.
  8. Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

Oh ya, apa antum punya teman seperti itu? atau jangan2 antum sendiri #eh. Sudah sampai pada tahapan mana? 
(Narko Sun)

Tragedi Guru Budi, Akhir Tragis Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

TRAGEDI GURU BUDI...

Guru Budi dan Siswa Pembunuh

Tak pernah siapapun menduga Kamis kemarin, 1 Februari 2018, hari terakhir guru muda Ahmad Budi Cahyono terakhir mengajar. Berhenti untuk mengajar selama-lamanya. Berpulang ia meninggalkan duka. Pagi ini air mata masih basah di Sampang, Madura.

Guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura itu masih sangatlah muda. Masih harum berbunga pula kehidupannya, belum lama usia pernikahannya. Empat bulan buah cinta dalam kandungan istrinya.

Guru Budi mengajar seperti biasa. Meski gaji pas-pasan saja, ia terus mengabdikan dirinya. Bakti dan imbalan kadang tak sejalan, tapi ikhlas ia lakukan berharap suatu hari ia tak lagi jadi guru honorer, semua harapan untuk menafkahi keluarga barunya.

Kamis kemarin, ia mengajar di kelas XI. Pelajaran menggambar tengah dilakukan. HI, siswa itu tak peduli, ia terus mengganggu teman-temannya, bahkan kemudian bisa tidur seenaknya dalam kelas. Guru tak lagi dihargai.

Guru Budi menegur, pipi si siswa dicoret cat air, bukannya sadar. HI merangsek Guru Budi, memukuli kepala gurunya sendiri. Pengganti orang tuanya itu tak lagi dihormati. Terus ia pukuli jika teman-temannya tak melerai.

Setiba di rumah, Guru Budi merasakan sakit kepalanya, makin menjadi. Tak sadarkan diri kemudian. Keluarga membawanya ke RS Dr Sutomo, Surabaya. Semalam, sekitar pukul 21.40, Guru Budi berpulang. Diagnosis dokter mati batang otak.

Guru Budi berpulang dipukuli muridnya sendiri. Tragedi yang tak seharusnya terjadi. Hormat murid kepada guru tak seperti dulu. Sungkan siswa kepada guru tak lagi banyak ditiru. Negeri nanti seperti tak berjiwa lagi. Guru Budi meninggal karena matinya budi pekerti generasi.

Shinta, istri Guru Budi berduka tak terkira. Anak yang baru empat bulan dikandungnya, lahir nanti tak ditunggui ayahnya. Yatim si anak pada kelahirannya.

Shinta akan mengisahkan tentang Guru Budi, guru honorer di daerah terpencil yang meninggal dianiaya muridnya sendiri, kepada anaknya.

Kabar yang tak muncul sebanyak berita lainnya di media massa. Padahal inilah nilai dasar, ketika murid mulai tak menghargai gurunya, ketika siswa bisa memukuli guru semaunya.

"Guru Budi itu ayahmu, Nak," kata Shinta bertahun kemudian di hadapan pusara bertuliskan Ahmad Budi Cahyono. Tangis terpendam. Masa meredam. Luka mendalam. Terdiam.

#sayabelajarhidup bersama Ursamsi Hinukartopati

Foto: Dok. Media Madura

Dari berbagai sumber

Minggu, 28 Januari 2018

Jawaban Atas Tuduhan Tahlilan Menyebabkan Mayit Terancam Siksa Di Alam Kubur

Saya dari dulu tidak mudah percaya kalau ada Salafi-Wahabi membawa dalil ayat Qur'an atau hadis yang diarahkan untuk menyalahkan Amaliah kita. Sebab hampir pasti mereka hanya berdasarkan nafsunya, tidak merujuk kepada ulama ahli hadis yang sering dijadikan jargon mereka. Jadi hanya slogan saja.



Kali ini mereka membawa hadis tentang Tahlilan yang mereka golongkan meratapi Mayit yang menyebabkan ancaman siksaan di alam kubur. Saya cek hadisnya di Syarah Bukhari karya AlHafidz Ibnu Hajar dan Syarah Muslim karya Imam Nawawi, ternyata sangat panjang ulasan hadisnya, khilafiyah penafsiran hadisnya, jalur riwayat hadisnya, dan analisa hukumnya. Tapi bagi Wahabi langsung divonis sesuai nafsunya sebagai ancaman siksa kubur. Tulisan yang saya terima adalah dari Ust Abu Ibrahim Al Falimbani.
Mereka menampilkan:
- Hadis pertama:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ»
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit disiksa sebab tangisan keluarganya kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim)
Jawaban:
Jika menangisi mayit dianggap ratapan yang menyebabkan mayit disiksa, lalu bagaimana dengan hadis berikut ini:
ﻋﻦ ﺃﺳﻤﺎء ﺑﻨﺖ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻲ اﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﻜﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Dari Asma binti Yazid, ia berkata bahwa ketika putra Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ibrahim, wafat. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis (HR Ibnu Majah. Syekh Albani menilainya sebagai hadis Hasan)
Apakah Rasulullah meratapi putranya? Berarti kita perlu menghimpun hadits-hadits lain sebelum membuat sebuah kesimpulan. Demikian pula dengan hadis yang berikutnya.
Hadis kedua:
ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ عنه ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺑﻤﺎ ﻧﻴﺢ ﻋﻠﻴﻪ»
Dari Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Mayit disiksa di kuburnya Karen apa yang diratapi kepadanya" (HR Bukhari)
Jawaban:
Cukup dijawab dengan penulisan bab oleh Imam Bukhari sendiri dalam kitab sahihnya:
ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻳﻌﺬﺏ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺒﻌﺾ ﺑﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ» ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﺡ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻪ "
Bab sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa mayit disiksa sebab tangisan sebagian keluarganya kepadanya. JIKA RATAPAN ITU ADALAH BAGIAN DARI KEBIASAANNYA.
Jadi menurut Hafidz Ad-Dunya, Imam Bukhari, tidak semua ratapan menjadi sebab adanya siksa kubur! Jadi kelihatan kalau Wahabi bertentangan dengan Imam ahli hadis!
Dari sinilah Imam Nawawi berkata:
ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﺘﺄﻭﻟﻬﺎ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺻﻰ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻨﺎﺡ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻨﻔﺬﺕ ﻭﺻﻴﺘﻪ ﻓﻬﺬا ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﻮﺣﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻣﻨﺴﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﺄﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻧﺎﺣﻮا ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺻﻴﺔ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﻌﺬﺏ ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﺰﺭ ﻭاﺯﺭﺓ ﻭﺯﺭ ﺃﺧﺮﻯ ﻗﺎﻟﻮا ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻌﺮﺏ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻃﺮﻓﺔ ﺑﻦ اﻟﻌﺒﺪ : ﺇﺫا ﻣﺖ ﻓﺎﻧﻌﻴﻨﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭﺷﻘﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﻴﺐ ﻳﺎ اﺑﻨﺔ ﻣﻌﺒﺪ ...
Ulama beda pendapat tentang hadits-hadits ini. MAYORITAS ulama mengarahkan pada mayit yang berwasiat agar ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Lalu wasiat itu dijalankan. Maka mayit ini disiksa karena tangisan dan ratapan keluarganya. Karena dialah penyebabnya dan disandarkan kepada dia.
Ulama berkata bahwa jika ada orang yang menangisi mayit dan meratapinya tanpa wasiat, maka ia tidak disiksa. Sebab firman Allah yang artinya: "Tidaklah satu jiwa menanggung dosa jiwa yang lain." Mereka berkata: Diantara kebiasaan orang Arab adalah wasiat untuk ratapan. Diantara contoh adalah syair Tharfah bin Abd [Bahar Thawil]:
"Jika aku mati maka ratapilah aku dengan pujian yang ada pada diriku. Sobeklah pakaianmu untuk ku wahai putri Ma'bad" (Syarah Sahih Muslim 6/228)
Justru tulisan ustadz Wahabi diatas adalah bentuk inkonsistensi mereka pada keyakinan bahwa orang hidup tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mayit, karena amalnya sudah putus. Tapi giliran ada dalil yang mereka anggap menguntungkan, kontan saja mereka percaya itu sampai kepada mayit karena berupa siksaan bagi orang yang melakukan Tahlilan.
Secara lebih luas lagi, Amirul Mukminin Fil Hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, merinci banyak pendapat dari para ulama. Diantaranya:
ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺃﻥ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺬﻧﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺻﻼ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ
Diantara para ulama ada yang menakwil bahwa ratapan sebagai siksa kubur adalah tertentu pada orang kafir. Sebab orang Mukmin tidak disiksa lantaran dosa orang lain sama sekali. Ini sangat jelas dari riwayat Ibnu Abbas dari Aisyah. (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/154)
Yang dimaksud oleh kutipan Imam Ibnu Hajar adalah:
عن ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻤﺎ ﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻳﺒﻜﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻴﺒﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﻟﺘﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻫﺎ»
Aisyah, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, berkata: "Rasulullah berjalan berjumpa dengan (mayit) Yahudi perempuan yang ditangisi oleh keluarganya. Nabi bersabda: "Mereka menangisi kepergiannya, dan ia disiksa di kuburnya" (HR Bukhari)
Bersambung. In sya Allah....
Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Rabu, 10 Januari 2018

Di Balik Jubah dan Sorban Seorang Dai Sejuta Viewer



Oleh : KH Agus Zaky Hamid Baidhowi, Lasem

Salah satu sebab Belanda bertahan lama menjajah Bangsa ini adalah karena politik adu dombanya terhadap sesama rakyat Indonesia sebagai ajian pamungkas melemahkan gerak fisik dan mental bangsa ini.

Dan jangan heran jika saat ini model adu-aduan semacam ini kembali dihidupkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyingkirkan dan memandulkan gerak dakwah Islam.

Termasuk bagaimana gempuran dahsyat menimpa tokoh yang "lurus" dalam manhajnya ini yang tiba-tiba bermunculan لحن القول (sindiran dan nyinyiran dalam bahasa Jalalain) dari kelompok seberang yang kental dengan pemikiran liberal yang dilakukan secara berjama'ah hanya gegara menyoal tentang 'pesek'.

Tanpa mereka sadari, bisa jadi kita sedang diperlihatkan oleh Allah Ta'ala tentang kebenaran dua ayat di dalam Surat Muhammad ayat 29-30:

أَمْ حَسِبَ ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَن لَّن يُخْرِجَ ٱللَّهُ أَضْغَٰنَهُمْ
وَلَوْ نَشَآءُ لَأَرَيْنَٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَٰهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ ٱلْقَوْلِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَٰلَكُمْ


Tak sampai di situ, upaya penggembosan dakwah juga muncul di pulau seberang sana dengan tuduhan provokatif dan asumsi bodong, mereka semena-mena mengintimidasi secara brutal tanp
ikhtiar tabayun sebelumnya. 

Upaya yang sama terus berlanjut. Laporan dan tuduhan palsu pun sampai pada telinga intelejen Hongkong saat beliau hendak bertandang dan menemui komunitas para pahlawan devisa kita untuk memberi nasehat dan pencerahan di sana.

Tapi sayangnya otoritas bandara tidak memberi alasan penolakan yang jelas dan justru melakukan hal-hal yang disinyalir cukup melecehkan. Dari kasus ini kemudian wajar jika muncul satu pertanyaan mendasar: 'sejauh mana peran negara melindungi rakyatnya?'

Apakah mereka tahu UAS sekonyong-konyong? Jawabnya pasti tidak!! Logikanya sederhana, informasi itu diperoleh dari laporan yang datang dari orang-orang kita sendiri yang kemudian diadukan kepada pihak keamanan negara tersebut.

Dari sini mulai nampak gejala adu domba antar sesama putra bangsa, yang benihnya adalah su'udzon, asumsi ngawur, hasud dan dalil hoaks. Jika ini tidak disadari, lambat-laun akan terus berlanjut dan dengan mudah di-treatment secara masif oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dan terusik. Semoga tidak berlanjut dan cukuplah UAS sebagai pembelajaran.

Dan alhamdulillahnya setelah kejadian tidak menyenangkan di Bali dan Hongkong berlalu, kini Ustadz Abdus Shomad (UAS) mendapat manisnya ujian di tanah suci.

Meski beda suku dan kebangsaan, Sambutan hangat bak "saudara sendiri" justru diterima beliau di kediaman guru-guru kami di Mekkah al-mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Merangkul bukan memukul, memeluk bukan menggebuk. Adem...

Tak cukup di situ, dari kedua guru kami beliau mendapat ijazah imamah (surban) yang diperoleh dari Sayyid Ahmad bin Muhammad al-Maliki dan memperoleh hadiah jubah warna hijau tua dari putra guru kami Sayyid Umar bin Zein bin Smith Madinah.

Walhasil tanpa bermaksud mencari musuh, mengutip dawuh al-imam Muhammad abdur Rauf al-Manawi (dalam kitab "Faydhul Qadir bi Syarh al-Jami' al-Shaghir) setidaknya kita mesti hati-hati dan menghindari 4 sifat yang jauh-jauh hari sudah pernah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW di dalam satu haditsnya:
للمؤمن أربعة أعداء : مؤمن يحسده ، ومنافق يبغضه ، وشيطان يضله ، وكافر يقاتله . رواه الديلمي
Bagi seorang mu'min itu memiliki 4 musuh :
1. Orang mu'min yang selalu memiliki sifat Hasud kepada orang mu'min yang lainnya.
2. Orang munafik yang selalu membenci mu'min yang lainnya.
3. Para Syaithon yang senantiasa menyesatkan orang orang mu'min.
4. Dan orang kafir yang senantiasa memusuhi/Memerangi orang orang mu'min (kafir harbi). (HR.Imam Dailami)

Semoga tetap terjaga ukhuwah dan berjalan di jalur istiqomah.
Wallahu a'lam wa ahkam.

Laki-laki S2 Dulu, Gadis Nikah Dulu


Kalau sekarang jalan-jalan ke stasiun atau ke mall, rasanya Anda tidak akan menemukan gadis tak cantik. Semua terlihat bersih, terlihat cerah, baju-bajunya juga menarik. Tapi tahukah Anda kalau buanyak di antara mereka justru belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah lumayan (di atas 25). Pertanyaannya tentu saja apa kira-kira sebab musababnya?

Saya sudah sering mendapatkan pesan di inbox dari akhwat-akhwat dengan isi hati yang sama, “Rasanya saya sulit jodoh, usia saya sudah lebih 25 tahun tapi belum ada yang datang”. Padahal, lagi-lagi dia gadis cantik, putih, bersih, tidak ada penghalang untuk mebuat laki-laki tertarik.

Saya korek-korek sejarah mereka, rata-rata juga sama, dulunya menolak ikhwan yang berniat menikah dan merasa bahwa ikhwan itu tidak begitu menarik. Maklum, namanya juga gadis cantik. Yang kedua, ada perasaan,dari gadis cantik harus dapat cowok yang wow. Masa yang biasa. Paling tidak tampan, baik, dan kaya. Padahal cowok demikian hanya impian dari film korea. Kalaupun ada tentu tidak memilih Anda.Jangan sakit hati lho ya…

Kalau Anda hanya cantik, laki-laki sekarang mulai berpikir matang. Cantik tapi agamanya tidak bagus kerjaannya hanya ke salon dan minta aksesoris. Uang dari mana? Laki-laki juga akan mundur teratur. Kalau ada yang cantik dan baik agamanya, pasti sudah jadi gula di antara semut lah. Jadi rebutan sana sini. Tahu-tahu sudah menikah dan punya anak.

Sayangnya terkadang kalau melihat gadis cantik dan baik agamanya ternyata mendapatkan pria yang ga cakep, wanita-wanita cantik nyinyir. Kok dapetnya gitu ya... Apa ga ada opsi lain? Dikiranya seperti kartu perdana paketan internet, punya banyak opsi pilihan, ga’ cocok dibuang.

Giliran dia sendiri belum juga dapat jodoh, dia mikir, ternyata dapatkan cowok yang sebegitunya ga mudah. Gigit jari dia dan untuk menghibur lukanya dia bekerja atau sekolah dan melupakan keinginannya untuk menikah. Akhirnya semakin tertinggal-tertinggal, tanpa sadar melihat temannya sudah menimang anak, tertawa.

Kadang wanita juga tidak sadar kalau menikah butuh proses. Tidak bisa langsung cus akada nikah. Pasti butuh proses. Sehingga secepat-cepatnya proses, seperti adik ipar saya, juga butuh waktu satu bulan. Itu proses jatuh cinta melamar dan akad lho. Tapi pencariannya, tahunan.

Maka harus dipahami bahwa menikah butuh proses puanjang. Kapan Anda memulai, maka sudah terbayang kapan garis finisnya. Kapan Anda memulai sudah akan terbayang kapan gagal dan kapan suksesnya.

Oleh sebab itu mulailah sedini mungkin. Meskipun Anda cantik jangan sombong dan terlalu pede kalau nanti mudah dapat cowok, atau yakin sangat mudah menaklukkan cowok. Bisa jadi nantinya justru Anda dipermainkan cowok karena tahu Anda sedang panik tidak cepat dapat jodoh.

Jangan takut mulai mencari jodoh sejak s1. Ah pengin s2 dulu. Eit, temen akhwat saya yang sudah s2 banyak yang belum nikah. Tapi yang nikah dari lulus s1 atau sebelum s1 juga sudah banyak yang s2 juga. Endingnya sama-sama S2. Bedanya Anda masih gigit jari nimang buku, dan yang lain sudah bersama anak bermain buku.

Saya ingat betul pesan kyai saya, “Kalau laki-laki boleh S2 dulu.  Tapi kalau perempuan, nikah dulu baru s2.”

Ketika saya mikir kenapa beliau menyampaikan itu, jawabannya menurut saya, “Laki-laki akan lebih laku setelah itu. Kalau perempuan sudah S2 justru laki-laki lebih berpikir panjang untuk mendekatinya, gengsinya lebih tinggi”. Dan sudah menjadi sifat natural laki-laki tidak mau berada di bawah naungan istri.

Kalaupun berpikir, ah buat apa nikah dulu, lebih baik senang-senang dulu lah di waktu muda. Ini sebenarnya alasan ngeles yang belum dapat jodoh. Senang-senang waktu muda bukanlah setelah kuliah, Anda sudah tua kok. Buktinya banyak yang sudah punya anak. Dan kesenangan tertinggi wanita saat tercukupi hartanya dan bermain-main bersama anak kecil.

Ga percaya? Lihat saja bagaimana ibu-ibu yang mengantar anaknya berenang, main air, si kecil buat kelucuan. Dan dapat pelukan dari anak balita adalah surga dunia untuk wanita. Anda akan merasakannya.

Maka mulailah dari sekarang. Tidak cocok dengan laki-laki yang datang adalah hal biasa, tapi menunda niat untuk memulai mencari jodoh adalah hal yang menyiksa Anda sendiri pada satu waktu nanti. Mulailah dari sekarang mencari jodoh wahai gadis cantik.

Saya juga pernah menyampaikan hal ini secara lisan, perempuan yang mendengar kemudian menyampaikan, “Ustadz ini nakut-nakutin kita aja… Jodoh kan di tangan Allah…” ya… Air hujan juga jatuh dari langit, tapi Anda ga’ bawa ember untuk menangkap jodoh itu, makanya jodoh ga’ ketangkep. Maka bawalah ember dari sekarang. Jangan sampai Anda melihat yang lain sudah dilindungi suami ketika hujan. Dan Anda kehujanan sendirian kedinginan plus kesepian ketika deras hujan.

Ma'mun Affany
Penulis 29 Juz Harga Wanita

Jumat, 05 Januari 2018

Curahan Hati Wanita, 'Pak Ustadz, Coba Pahami Kami!'



Pak Ustadz pada saat ini nggak lupa kan bahwa dalam Islam diajarkan untuk seluruh umat manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya?
Pak Ustadz sadar kan bahwa wanita juga merupakan manusia?
Pak Ustadz sebagai orang terpelajar paham kan bahwa dalam membangun generasi penerus harus bisa memberikan pendidikan yang baik?
Pak Ustadz tahu kan bahwa rezeki tiap orang Allah sudah mengatur, bagaimanapun orang tersebut sudah bertawakkal dan berikhtiar?
Pak Ustadz tahu kan bahwa dalam hidup ini memang harus ada pilihan yang dicermati demi kebaikan bersama, tidak boleh sembarang ambil dan menerima?
Pak Ustadz tahu kan, bahwa menikah adalah sunnah dan menuntut ilmu adalah wajib?

Saya perempuan, lulus S1, bekerja dulu baru menikah di usia 25. Saat ini usia saya 26. Suami saya lulusan S2, usianya 3 tahun di atas saya. Kami berniat dan ingin untuk dapat melanjutkan jenjang pendidikan lagi. Salah satu alasan kami bekerja juga untuk dapat mempersiapkan biaya pendidikan kami, selain tentunya biaya hidup pribadi, biaya penunjang rumah tangga, biaya tabungan untuk memiliki anak, biaya tabungan untuk keberlangsungan hidup anak termasuk pendidikannya, serta untuk dapat memberikan biaya bagi orang tua kami.

Apakah lantas dengan status menikah, saya dan suami menghasut teman2 yang lain untuk segera menikah? Tidak. Karena kami tahu, mereka juga mengusahakan yang terbaik untul diri mereka serta keluarga, terutama orang tua mereka.

Pak Ustadz, tidakkah terpikir bahwa dalam studi maupun bekerja, dengan semakin luasnya jaringan silaturahmi, ada kemungkinan memang jodohnya dan yang memang benar terbaik baginya dari Allah SWT akan dipertemukan di lingkungan tersebut?

Apakah tidak terpikirkan, dengan diajarkan bahwa jodoh akan saling menyesuaikan dengan satu sama lain, maka pendidikan tinggi tersebut akan membawa kepada kebaikan?

Tidakkah anda terpikir, bahwa dengan wawasan yang luas dari pendidikan yang tinggi, seorang wanita dapat menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anaknya?

Saya paham, ustadz bukannya melarang sama sekali bagi wanita untuk berpendidikan tinggi. Tetapi bagaimanapun, jalan hidup seseorang sudah ada Qada dan Qadar, kita tidak bisa serta merta mengatakan seseorang terlalu pemilih, terlalu banyak maunya, apalagi sampai menganalogikan ke perawan atau bahkan perjaka tua. Pada akhirnya, manusia berdoa dan berusaha, Allah lah yang menentukan.

Pak Ustadz, apakah salah memilih pendidikan dan karir? Karena bagaimana pula kita bisa hidup tanpa ilmu pengetahuan dan biaya yang layak? Persiapan menikah, prosesi pernikahan, dan kehidupan setelah menikah yaitu menjalin rumah tangga juga memerlukan wawasan dan biaya, Pak.
Tidak selamanya juga cukup hanya ada nafkah biaya hidup dari satu pihak, ada kalanya keduanya harus saling membahu dalam keberlangsungan kehidupan rumah tangganya. Terutama, untuk dapat memberikan kebutuhan hidup dan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya.

Mohon maaf, Pak, paham misoginis, meski dibalut dalam sentuhan keagamaan, tetaplah paham misoginis. Selain itu, ada beberapa hal yang bahkan memang tidak sesuai juga dengan apa yang diajarkan agama.

Mohon agar tidak berprejudis juga kepada wanita dengan pendidikan tinggi. Bukankah semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan ada timbal balik yang baik juga kepada sifatnya? Lantas, mengapa harus khawatir dengan akan adanya perlawanan dari pihak wanita/istri? Justru yang perlu dikhawatirkan adalah yang kurang berpendidikan, sehingga kurang dapat menjaga sifat juga, serta bisa berakibat tidak terkelolanya rumah tangga dengan baik.

Setiap orang memiliki prioritas masing-masing, dan pastinya mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk dapat menggapai target. Jalan hidup seseorang adalah pilihan seseorang, setiap orang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, jadi tidak perlu dikomentari ataupun diatur-atur, kecuali kalau sudah jelas bahwa apa yang dilakukannya salah dan/atau tidak baik.

Sekali lagi, mohon agar paham misoginis tidak dikaitkan dan dicampuradukkan dengan agama.
Terima kasih.

Senin, 01 Januari 2018

Mengapa Mereka Membenci NU dan Kyai-Kyai NU?


Pertanyaan ini terus menggelitik pikiran. Sependek yang saya tahu, NU tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti caranya dalam beragama. Sejak awal NU justru cenderung lebih bertahan. Jadi, mengapa mereka benci?

Setidaknya kebencian itu saya lihat menguat sejak awal era Reformasi 20 tahun lalu. Ketika itu Gus Dur dihujat habis-habisan. Keterbatasan penglihatan beliau dijadikan olok-olokan.

Lalu Said Aqil Siradj dicaci tak karuan. Apalagi di era internet seperti sekarang, cacian tersebut viral melalui media sosial. Chat kebencian terhadap beliau melalui WA grup menyebar hingga ke pedesaan.

Melihat fenomena ini, sulit bagi kita menganggapnya sebagai fenomena alamiah semata. Tidak perlu intelejen untuk menyimak betapa kebencian terhadap NU dan kyai-kyai NU berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pertanyaannya, siapa yang menggerakannya?

Secara ideologis, lawan NU telah kita ketahui. Kalangan Islam modernis yang pada masa lalu berafiliasi dengan Masyumi tidak pernah rela NU berpisah dari mereka. Kalangan yang selalu memimpikan terwujudnya persatuan Islam ini menganggap NU adalah kerikil dalam sepatu.

Padahal, diulang sekali lagi, NU tidak pernah menyerang cara keberagamaan kelompok di luar mereka. Yang terjadi justru sebaliknya. NU didirikan sebagai bentuk pertahanan karena serangan pihak luar terhadap tradisi mereka.

Pada masa lalu, corak tradisionalis NU dipoyok sebagai kampungan dan terbelakang. Istilah kaum sarungan pada awalnya berkonotasi merendahkan. Di dunia akademis, kesan ini masih terasa.

Sekarang NU mengalami transformasi luar biasa. Corak tradisionalis yang disematkan kepadanya justru menimbulkan kebanggaan. Dengan tradisionalismenya NU mampu merespons perubahan dengan elegan. Hal ini bisa disaksikan baik di lapangan keagamaan maupun kenegaraan.

Barangkali mereka yang membenci NU dan kyai-kyai NU tersebut iri. Sementara komunitas kaum sarungan itu terlihat rileks menanggapi perubahan zaman, mereka hanya bisa marah-marah di pojokan peradaban. Mereka benci karena NU dan kyai-kyai NU merintangi mimpi mereka untuk kembali ke Abad Pertengahan.

Kamis, 28 Desember 2017

Ustadz Abdul Shomad Dan Misteri Siklus 100 Tahun Sang Pembaharu



Saya hormat dan angkat topi pada KH Abdul Somad. Saya amati berkali-kali, ternyata ulama muda asal Riau ini adalah ulama muda yang selama ini saya cari-cari. Beliau sama sekali bukan representasi dari dai-dai muda yang marak beraksi di televisi, yang minim pengetahuan agamanya. Beliaulah, di mata saya, ahlus shidqi wal wafaa. Di jajaran ulama yang berpengetahuan sejajar, KH Abdul Somad saya yakin tetap punya kharisma tersendiri. Sebab ketika selama ini saya ketahui banyak ahlul ilmi yang memilih duduk mengajar di majlis-majlis ilmu dan lebih jauh menulis buku, ulama muda lulusan Mesir dan Maroko ini juga menghafal dan menulis kitab, bahkan ia bisa tampil sebagai orator yang memukau. Tata bahasa dan penguasaan retorikanya sangat baik, sehingga khutbahnya terasa sederhana, namun mendalam. 

Sesekali memang terkesan eksplosif, namun karena terbingkai dalam argumentasi ilmiah yang kokoh, maka justru kekuatan beliau sebagai ulama muncul. Ulama sejati pasti akan menemukan jalan yang berat. Terlihat bagaimana KH Abdul Somad mulai mendapatkan cibiran dan hinaan di media sosial. Ini tentu belum seberapa dibanding perjuangan para ulama terdahulu. Saya kagum pada ulama muda ini, sebab beliau menguasai ilmu-ilmu yang dulu saya gemari dan ingin sekali saya kuasai. Namun otak saya tak sampai. Daya hapal saya jauh di bawah beliau. Sebagai santri, saya bisa membayangkan bagaimana beliau dulu mempelajari ilmu-ilmu yang beliau kuasai kini. Pasti susah sekali. Payah sekali. Belum lagi pengorbanan beliau meninggalkan kemeriahan masa remaja dan memilih sunyi bersama kitab-kitab kuning adalah langkah yang berat, namun insya Allah ringan bagi yang khusyu dan khidmat. 

Di awal abad 18, peradaban Islam di seantero Melayu terkenang gagah perkasa. Kitab-kitab hukum Islam dan thariqat banyak lahir di tanah Melayu. Bahkan kitab-kitab sastra harum semerbak di Melayu masa itu. Kini Melayu tidak lagi tidur. Ia seperti sedang bangkit bersama KH Abdul Somad. Berdiri dari mimbar ke mimbar. Duduk dari satu majelis ke majelis lainnya. Ketahuilah, kini kita sedang hidup bersama seorang ulama yang oleh Imam Ghazali dikatakan muncul dalam siklus 100 tahunan. Kita bersyukur, di masa kita hidup kini, kita bisa bertemu dengan sosok itu. Sedih rasanya jika saya bayangkan KH Abdul Somad wafat hari ini, maka Indonesia harus menunggu 100 tahun lagi untuk mendapatkan penggantinya. BRAVO ULAMA MUDA!!! ULAMA PENUH SEMANGAT DAN KEBERANIAN!!! CERDAS DAN  LUGAS!!! SELAMAT MENJALANI AMANAH DAN SELAMAT MENJALANI HARI-HARI BERAT!!!
"Innash shalaata lakabiiratun illa 'alal khasyi'iin...."

Sabtu, 16 Desember 2017

Inspiratif, Kisah Ustadz Abdul Somad Menolak Hadiah Mobil Dari Jamaah

Ada pengajian dalam rangka memperingati hari ayah dan ibu di mesjid AL FATAH Siak Sri Indrapura dengan penceramah Ustadz DR. Mustafa Umar LC, MA. Dalam ceramahnya Ustadz Mustafa Umar menceritakan dan memuji Ustadz Abdul Somad.

Ustadz Abdul Somad

Sebagaimana yang kita simak dari ceramah Ustadz Abdul Somad yang ada di medsos/youtube bahwa awal perjalanan dakwah Ustadz Abdul Somad tidak terlepas dari bimbingan DR. Mustafa Umar Lc. MA. dan Ustad Abdul Somad juga mengakui bahwa ia banyak berguru cara dakwah kepada Ustadz Mustafa Umar.

Dalam ceramahnya kemaren Ustadz Mustafa Umar pun juga mengamini hal itu. Dia mengatakan sepulang ke tanah air dari Maroko Ustad Abdul Somad bersilaturahmi ke ustadz Mustafa Umar, dan Ustadz Mustafa Umar menyampaikan agar dalam berdakwah tidak mengedepankan materi dan kepentingan duniawi, hal itu juga diamini oleh Ustadz Abdul Somad.

Ustadz Mustafa Umar menceritakan, Awal mula berdakwah, Ustadz Abdul Somad diajak oleh Ustadz Mustafa Umar untuk ikut mengisi acara disalah satu stasiun TV di Pekanbaru yang jaraknya menempuh waktu 1 jam perjalanan dari pusat kota. Waktu itu bulan puasa..Ustadz Mustafa Umar akan mengisi acara ceramah agama menanti buka puasa. memang dari awal pihak stasiun TV sudah menyampaikan bahwa acara ini tidak ada honornya. Namun Ustadz Mustafa Umar tetap menyanggupinya. Karena jika tidak, maka acaranya hanya akan diisi dengan lagu lagu saja. Karena tidak ingin waktu menanti buka puasa hanya di isi acara lagu lagu saja, Ustad Mustafa Umar tetap bersedia mengisi acara tersebut dengan ceramah agama walaupun tidak mendapatkan honor. Itulah pertama kali Ustadz Abdul Somad tampil di TV, Ustadz Abdul Somad hanya menyampaikan mukadimah, selanjutnya ceramah disampaikan oleh ustad Mustafa Umar. Setelah waktu buka puasa akan sampai ustadz Mustafa Umar selesai berceramah, dan barulah Ustadz Abdul Somad menyampaikan kata Penutup. Begitulah yang dilakukan oleh Ustadz Abdul Somad awal awal beliau berdakwah

Selanjutnya dalam ceramah kemaren ustadz Mustafa Umar juga menceritakan. Setelah beberapa tahun, Ustadz Abdul Somad mulai banyak dikenal oleh masyarakat dan jadwalnya pun mulai banyak.. Ustadz Abdul Somad selalu mengisi acara pengajian2 dan ceramah agama. Awalnya Beliau pergi berceramah dengan menggunakan sepeda motor dan beliau sangat disiplin terhadap waktunya. baik siang, malam, bahkan dalam kondisi hujanpun dia tetap datang untuk mengisi ceramah agama, walaupun hanya menggunakan sepeda motor. Sampai suatu ketika, karena ingin memudahkan Ustadz Abdul Somad dalam berdakwah dan tidak ingin melihat Ustadz Abdul Somad kepanasan dan kehujanan menggunakan sepeda motor, ada jemaah berinisiatif untuk memberi hadiah kepada Ustadz Abdul Somad dengan membelikannya sebuah mobil. Namun disinilah yang membuat kita semakin kagum kepada Ustadz Abdul Somad karena beliau menolak pemberian hadiah mobil tersebut. 

"Beliau sungguh fenomenal".kata Ustadz Mustafa Umar memuji ustadz Abdul Somad

Semoga selalu diberi kesehatan kepada Ulama ulama kita

Senin, 04 Desember 2017

Mengapa Salafi Sering Sejalan Dengan Kelompok Sekuler dan Liberal?

MEMBACA ARAH KOMUNITAS “SALAFI”; SIAPA MEMANFAATKAN SIAPA ?



📌 Fikiran orang cerdas pasti bertanya-tanya; mengapa dibanyak hal, “Salafi” sering sejalan dengan kelompok sekuler & liberal? terutama dalam masalah keummatan..

📌 Dalam menyikapi kebijakan presiden dan penistaan agama oleh Ahok misalnya; seakan koor membela kepemimpinan mereka betapa pun zhalimnya. ya, walaupun kita berharap tidak demikian dan tetap berupaya baik sangka dengan kawan-kawan “Salafy” ini (!?).

📌 Dalam menyikapi Rina Nose (artis Liberal) dan menyudutkan Ustad Abdush Shomad; si Artis di bela, sang Ustad di Bully.

📌 Dalam menyikapi aksi 212 baik yang lalu maupun yang sekarang, juga nyinyir.

📌 Sementara Metro tipu adalah medianya sekuler liberal, justru diberitakan akan menayangkan kajian salah satu da’i Salafi bernama Firanda Andirja (terlepas dari seringnya dia ditahdzir oleh Dzulqarnain, Luqman Ba'abduh, Muhammad As-Sewed, dll yang notabennya adalah sesama “salafi”)

📌 Jadi, apakah ini saling memanfaatkan ??

📌 Kenapa bukan media TV yang relatif netral, kenapa justru media TV yang dikenal anti Islam, pro sekuler-liberal, dan penyebar hoax?? Ada apa?

📌Apa karena punya kepentingan yang sama dan musuh bersama; yait MENGHANTAM GERAKAN ISLAM semacam simbiosis mutualisme ? Sehinga mereka bisa jadi kawan seiring sekata?

📌 Atau, mau direncanakan duet bareng bersama Prof.Dr.Muhammad Quraish Shihab yang menyatakan Jilbab itu tidak wajib dan Hartoyo si aktivis LGBT ?

📌 Atau......metro tipu punya siasat tertentu mendekati pilpres 2019 dengan memainkan politik belah bambu; angkat yang satu injak yang lain. Semoga saja tidak. Lalu, apa..?? 😊

📌 Memang ... di tengah anjloknya rating Metro tipu dan anjloknya rating da’i-da’i “Salafi” tertutup oleh naiknya rating Ustad Abdush Shomad yang melesat jauh walau sering dihina di medsos-medsosnya “salafi”, maka kerjasama keduanya menemukan momentumnya; karena senasib.!?? atau bagaimana?

📌 Ya, husnuzhon (berbaik sangka) tetaplah wajib. kita berharap semoga komunitas “Salafi” mau mengubah kebiasaannya menyendiri dan menjaga jarak dengan umat Islam; kecuali jika memang mereka sudah merasa BENAR SENDIRI, yang membuat kita teringat dengan anak cucu Dzulkhuwaisirah. Dan semoga Metrotivu setelah menayangkan ceramah Ustad Firanda Andirja segera berubah menjadi Metrosunnah mulai siang hari ini? 😉

Hanya Allah tang Tahu dan hanya Kepada-Nya kita mengadu.

🖋 Ustad Abu Afna Al-Batawiy.

Untuk Pecinta Ustadz Abdul Shomad, Beliau Bukan Malaikat Apalagi 'Tuhan'

USTAD ABDUS SHOMAD ITU BUKAN MALAIKAT, APALAGI ‘TUHAN’.
( Sebuah Surat Terbuka Untuk Para Pecinta Ustad Abdus Shomad )


✍ Oleh: Maaher At-Thuwailibi
Kami mencintai Ustad Abdus Shomad karena Allah..., sebab cinta yang menghubungkan kita sesama mukmin, membuat kita menggapai satu kedudukan di sisi Allah yang tidak dicapai hanya dengan mengandalkan amalan-amalan pribadi kita. Mencintai dan dicintai adalah fitrah semua manusia. Cinta itu bersih dan suci, tapi sayangnya tanpa sadar kita sendiri yang membuatnya ternodai.

Diantara prinsip yang tertanam ialah kami meyakini Allah maha tinggi bersemayam di atas ‘Arsy, tapi kami bisa duduk bersama dengan Ustad Abdus Shomad yang beraqidah Asy’ari. Kami mengenakan pakaian diatas mata kaki, tapi bisa makan semeja dengan Ustad Abdus Shomad yang bermazhab Syafi’i. kami tak setuju jika saudara-saudara NU di anggap sesat dan dibenci, walau kami sendiri di tuduh “wahabi”. Ah, sudah lah. habis waktu dan energi untuk mengurusi perbedaan yang tak berkesudahan, lebih baik ku merenung tuk mempersiapkan bekal menghadapi kematian dan mempersiapkan anak-anakku tuk menjadi pemimpin-pemimpin islam di masa mendatang.

Tak dipungkiri, naiknya rating Ustad Abus Shomad menurunkan rating da’i-da’i kondang lainnya yang sempat meramaikan jagad dakwah wal bil khusus “medsosiyyah wal youtubeyyah” (sebut saja Dr.Khalid Basalamah, Oemar Mita,Lc. dan Adi Hidayat,Lc.MA). demikianlah sifat medsos, gampang naik dan gampang tenggelam. iman manusia akan di uji, sebesar apakah kecintaanya kepada sosok guru agama atau juru dakwah; apakah kecintaannya sebesar kecintaannya kepada ilmu yang diajarkan atau kecintaannya itu hanya sebatas naik-tenggelamnya rating sang ustad di sosial media !?

Orang beriman, akan membangun cinta kepada sesama atas dasar kecintaannya kepada Allah. Bukan atas dasar kepentingan, cari perhatian, atau karena hawa nafsu. adapun orang munafiq (yang terdapat nifaq dalam hatinya) membangun cinta dan benci bukan karena Allah, maka kecintaan itu tidak akan membuahkan kecintaan Allah, justru akan mendatangkan kemurkaan-Nya.

Berlebihan memuji dan mencintai, biasanya akan berlebihan ketika membully dan mencaci maki. padahal ketahuilah wahai Akhi, Ustad Abdus Shomad itu adalah manusia. Manusia biasa yang takkan pernah luput dari silap dan dosa. Maka cintailah ia ala kadarnya dan bencilah ia ala kadarnya. Kecintaan kepada Ustad Abdus Shomad bukan berarti menafikan segala kritik yang diarahkan kepadanya (selama kritik itu objektif dan ilmiah), demikian pula kritik yang ditujukan pada beliau jangan sampai menafikan rasa cinta kepadanya sebagai makhluq Allah yang berharap surga.

Semakin lama kami mengamati, semakin bermunculan sikap-sikap yang berlebihan dan cenderung melampaui batas; kultus individu dan otokritik tanpa disadari mewabah dan tumbuh subur. (suka tidak suka kami harus sampaikan kebenaran secara terbuka. Karena dakwah itu bukan mencari muka manusia, tapi menyampaikan kebenaran walau pahit dirasa).

Akhi, kami mengkritik sebagian besar kawan-kawan “Salafi” diantara faktornya adalah sikap ‘ashobiyyah (fanatik buta) mereka pada guru-guru mereka; sikap berlebihan mereka terhadap ustad-ustad mereka yang mereka anggap sudah pasti benar dan yang lainnya salah semua. jika antum bersikap SAMA dengan mereka tatkala menyikapi sosok Ustad Abdus Shomad, maka apa bedanya antum dengan mereka ??

Kami membela sosok Ustad Abdus Shomad sesuai pada porsi dimana beliau pantas di bela. kami membela Ustad Abdus Shomad, bukan berarti mencampakkan sikap proporsional terhadapnya sebagai makhluq Allah yang tak suci tanpa dosa. ketika beliau di jatuhkan kehormatannya, di rusak nama baiknya, maka kami bangkit untuk membela ‘IZZAH & MARWAH tokoh agama. karena kecintaan kepada ulama adalah tanda adanya iman di dalam dada, dan sebagai tanggung jawab seorang mukmin yang membela kehormatan sudaranya. tetapi ketahuilah akhi, bukan berarti setiap yang datang dari Ustad Abdus Shomad adalah sudah pasti semuanya benar dan kritikan yang datang menghampirinya sudah pasti semua salah. Tidak! Ingat, dia adalah manusia yang berasal dari tanah. bukan makhluq tuhan yang di cipta dari cahaya.!

Jika demikian adanya sikap yang kita bangun, justru itu mencederai hati Ustad Abdus Shomad. karena sejatinya, ia ingin kita mencintai dirinya karena kebenaran. bukan mencintai kebenaran karena dirinya. kata Imam Syafi’i Rahimahullah, Apa-apa yang datang dariku jika bersesuaian dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka ambillah, jika tidak maka buanglah!”

Sebagai penutup, kami berikan contoh sederhana. jika sekiranya datang kritikan ilmiah terhadap Ustad Abdus Shomad, maka tak perlu anda berlomba-lomba mencari bantahannya, sibuk melapor ke sini dan ke sana, lalu bikin viral di sosial media. anda ini penuntut ilmu atau pemain sepak bola? Wallahi kami jadi muak juga lama-lama 😃

Jika ada tulisan -atau apapun itu- yang mengkritik Ustad Abdus Shomad atau ustad-ustad lainnya, maka liat kontennya, lihat isinya, lihat esensinya. jangan lihat penulisnya. Ada ungkapan:

انظر ما قيل ولا تنظر من قال
“Lihat apa isi yang dikatakannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya!”

Antipati terhadap sikap beragama atau manhaj dakwah sebagian besar kalangan “Salafi” bukan berarti setiap yang datang dari da’i-da’i Salafi semunya menjadi tak berarti. tetapi lihat isinya. jika isinya ilmiah (dalam batas debatable), maka bantah dengan ilmiah (itupun kalau anda bisa). kalau tidak bisa, ya diam. biarkan para ahli agama yang mengambil bagiannya. tugas anda dan saya adalah belajar agama, bukan menjadi “mufti” di dunia maya. Namun jika isinya provokatif, isinya propaganda, isinya melanggar batas etika, atau menjatuhkan kehormatan dan wibawa, atau mengandung tendensi pecah belah; baru KITA ANGKAT SUARA UNTUK MENGHADAPINYA. karena kezholiman tidak layak dibiarkan melengggang merusak persatuan.

Berulang kami katakan, bahwa berbeda tak mesti berpecah. tergantung bagaimana gaya kita dalam meng-ekspresikannya. oleh karenanya jangan buat perbedaan itu menjadi sumbu perpecahan. terbukti, kami BERBEDA dengan Ustad Abdus Shomad bisa duduk bareng, makan semeja, ngobrol semobil, saling memberi hadiah, dan merajut ukhuwah.

Kritik meng-kritik dan bantah-membantah bukanlah hal baru. ia merupakan hal biasa dalam sejarah para ulama dan hal yang biasa dalam khazanah keilmuan. tinggal bagaimana kita menyikapinya. Selama kritikan dan catatan-catatan itu masih dalam bingkai ILMIAH, maka jadikan itu sebagai bahan muthola’ah, khazanah islamiyyah, belajar agama, membaca dan menalaah, jangan hanya bikin heboh di facebook atau grup-grup WA.

Nas-alullah al-‘aafiyah wa salaamah.

Kamis, 30 November 2017

Analisa Geografis Ungkap Mengapa Pacitan Terkena Banjir dan Longsor Parah

Saya ada sedikit informasi bagi yang baru mengikuti banjir Pacitan atau bagi masyarakat luar yang belum paham geografis Pacitan. 



Karena melihat beberapa berita di TV kok kayaknya tidak tersampaikan dengan baik ya kondisi banjir di Pacitan. 

Jadi begini, Pacitan itu pusat kabupatennya ada di lembah (bayangkan saja sebuah cekungan) dengan ketinggian di bawah 100 mdpl. Pusat kabupaten itu dikelilingi perbukitan dan pegunungan (yang betul2 mengelilingi) kecuali sebelah selatan karena berbatasan dengan Samudera Hindia. Persis di sisi timur pusat kabupaten terdapat aliran Sungai Grindulu yang mengalir dari utara ke selatan. Jumlah luasan tanah datar di kabupaten ini hanya 5-10% dari luasan total Kabupaten Pacitan sisanya perbukitan dan pegunungan (silakan dibayangkan bagaimana konturnya). Di lembah tersebut bisa dibilang hanya ada Kecamatan Pacitan saja (pusat kabupaten). 10 kecamatan yang lain tersebar di perbukitan dan pegunungan yang mengelilingi.

Nah,akses masuk ke Kabupaten Pacitan secara GARIS BESAR hanya ada 3 jalur yang masing2 jalur tersebut PASTI MELEWATI 1,5 - 2 jam jajaran pegunungan untuk bisa mencapai pusat kabupaten. 

Jalur 1, dari arah utara yaitu dari Ponorogo dan hanya ada 1 jalur utama (jalur provinsi). Saat ini jalur tersebut lumpuh karena longsor di daerah tegalombo

Jalur 2, dari arah timur yaitu dari Kabupaten Trenggalek dan hanya ada 1 jalur utama yang dikenal JLS (Jalur Lintas Selatan). Jalur tersebut juga lumpuh karena daerah timur Kab. Pacitan saat ini juga banjir dan beberapa titik longsor (Ngadirojo dan Sudimoro)

Jalur 3, di arah barat yang kemudian bercabang ke arah Solo (via Wonogiri) dan Jogja (via Gunung Kidul). Dari arah Wonogiri ada giriwoyo dan Baturetno yang saat ini banjir. Dari arah Jogja ada Pracimantoro dan Gunung Kidul yang juga banjir parah.
Semua jalur tersebut tidak bisa dilewati. Info terakhir dari arah Ponorogo bisa dilewati dengan sepeda motor pada saat hujan reda dengan ekstra hati-hati dan melewati pinggiran jalan yang terkena longsor.

Dalam banjir ini lembah (pusat kabupaten) lumpuh total. Pegunungan dan perbukitan yang mengelilingi juga banjir di beberapa titik dan longsor dimana-mana. Bantuan yang mau masuk juga terhambat karena ketiga jalur masuk kabupaten juga longsor. Sementara ini belum ada posko yang terpusat di 1 titik karena semua masyarakat di lembah minggir ke ketinggian/perbukitan terdekat. Pemusatan bantuan juga belum maksimal mengingat tidak adanya posko utama dan terputusnya komunikasi antar warga. Jangan dibayangkan seperti bencana Merapi meletus di Jogja misalnya, dimana pengungsian terpusat di satu titik. Bayangkan ada sebuah mangkok yang ada semut berkumpul di tengah (lembah), kemudian diguyur air dari pinggir2 mangkok. Kurang lebih begitu analoginya.

Berikut foto-foto longsor dan banjir di Pacitan







Semoga manfaat.
(Amalia Ayuk Riyadini)

Rabu, 29 November 2017

Ustadz Abdul Shomad Dimata Kaum Talafi

USTAD ABDUS SHOMAD DIMATA TALAFI.
Talafi itu apa ustad? 



Talafi itu sejenis binatang melata pemakan daging dan bangkai manusia. itulah Talafi.
=> Kata mereka (talafi), “Si Shomad itu mencela Sunnah dengan mengatakan jenggot seperti tusuk sate”.

Padahal, Ustad Abdus Shomad meng-ilustrasikan dirinya sendiri bahwa jika dirinya berjenggot, tumbuhnya jarang-jarang seperti tusuk sate. Jadi beliau bukan mencela syari’at berjenggot sebagaimana professor bau tanah yang kelebihan dosis itu. dalam video ceramahnya, dengan jelas Ustad Abdus Shomad mengatakan, “SIAPA YANG SUDAH BERJENGGOT MAKA BAGUS, BAIK, DAPAT PAHALA, IKUT SUNNAH. JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERJENGGOT DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA...”, dst.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Talafiyyun kaum perusak itu selalu dengan percaya diri mempertontonkan kualitasnya yang rendah di hadapan masyarakat; utamanya terkait dengan urusan keummatan. Wajar jika mereka bergandeng tangan dengan para pedagang virus ‘se-pi-lis’ di Indonesia (SI ZUHAIRI MISRAWI) yang dulu sempat mau dibunuh orang KKS karena mengatakan shalat lima waktu tidak wajib. mereka juga bergandeng tangan dengan ‘hamba’ si Ahok bernama YUSUF MUHAMMAD dalam membully Ustad Abdus Shomad dan membela si janda pesek pemelihara anjing. Tapi, kami tak heran...wong Komunis saja dianggap tidak kafir oleh mereka, maka wajar jika mereka membela si JANDA PESEK yang terindikasi mulhidah (atheis) itu.

Mengutip pernyataan Ummu Sumayyah As-Salafiyyah, “Kenapa orang-orang munafiq itu justru fokus ke pribadi Ustadz Abdul Shomad yang jujur mengatakan bahwa si Rina Nose memang pesek? Kalau mereka paham makna ayat Al-Qur’an bahwa manusia sebaik-baik ciptaan-Nya, maka pesek atau mancung tetaplah ciptaan terbaik-Nya. Yang menjadikannya jelek adalah akhlaqnya kepada ajaran Islam, dan kaum munafiq justru membela penghina syariat-Nya demi kepentingan dunianya yang sedikit, bukan membela karena alasan al-wala’ wal bara’ (keberpihakan dan permusuhan dengan landasan syariat-Nya). Kaum zindiq yang sok bijak!”
-selesai-

=> Kata Talafi, “apakah Rina Nose itu lebih buruk daripada Fir’aun dan si Shomad lebih baik dari musa?”

JAWABAN kami (Maaher At-Thuwailibi), Rina Nose itu tidak lebih baik dari Ustad Abdus Shomad dan begitupun sebaliknya Ustad Abdus Shomad tidak seburuk Rina Nose. Jadi, jika anda ingin membela si janda pesek pemelihara anjing itu, silahkan saja. tapi tak perlu mengajak kami untuk membully Ustad Abdus Shomad sedemikian rupa. karena bagaimanapun juga -dalam hal ini- kami lebih memilih membela tokoh agama daripada artis ‘pesek’ perusak moral generasi bangsa. 😊
Nas-alullah al-‘aafiyah wa salamah.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Kata Mereka, Sayyid Quthub Itu 'Bapak Terorisme' ?

KATANYA, SAYYID QUTHUB ITU “BAPAK TERORISME” !!?



Sayyid Quthub rahimahullah itu ORANG MESIR. Hidup di Mesir. Melihat realitas Mesir yang cenderung sekuler. Dia ingin MESIR ISLAMI, Mesir peradaban Islam, Mesir yang taqwa kepada Allah dan taat Rasul-Nya.

Dia sangat CEMBURU dengan nasib Islam. Dia marah melihat kemunduran dan kelemahan Muslim di Mesir. Dia teriak-teriak MEMBANGUNKAN orang, lewat kata-kata tajam, menukik, dan sastrawi.
Apa yang dibidik Sayyid Quthub, adalah keadaan di negeri negeri Muslim yang cenderung SEKULER, tidak berhukum Syariat, jauh dari sendi-sendi Islam. Dia tidak membidik Saudi yang relatif melaksanakan Syariat Islam.

KENAPA sebagian ulama Saudi suka pada pemikiran Sayyid Quthb? Karena, apa yang dicita-citakan Sayyid Quthub, sebagian SUDAH TERCAPAI DI SAUDI. Saudi bersendi Syariat Islam. Bukankah itu yang dituju oleh Sayyid Quthb?

Aneh betul para pembenci Sayyid Quthub itu? Apa sih maumu? Apa kamu suka kehidupan JAHILIYAH, jauh dari tuntunan Syariat Islam? Katakan sejujurnya! Kamu mati-matian mencela Sayyid Quthub, tapi berlebihan MEMUJI penguasa sekuler? Apa maumu?

Apa ulama-ulama Saudi (pembenci Sayyid Quthub) suka dengan SEKULARISME seperti terjadi di negeri-negeri Muslim? Kalau tidak suka, kenapa marah dengan cita-cita Sayyid Quthb? Kalau mereka suka sekularisme, terus apa perlunya berdalil seolah jadi yang paling Islami?

SANGAT ANEH... ngakunya pro Arab Saudi, tapi membenci cita-cita Sayyid Quthb rahimahullah.
Sayyid Quthub itu adalah seorang penulis, pemikir yang sangat jenius, sekaligus sastrawan Islam dari Al-Ikhwan. Mereka tidak pernah memberontak kepada rezim Mesir. Kalau bicara harus tahu fakta, biar tidak fitnah & merusak.

BEGINI ceritanya... Tahun 1948 Syaikh Hasan Al-Banna dan jamaah Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin) bergerak dari Mesir menuju Palestina. Mereka terjun ke medan Jihad melawan Zionis/Yahudi. Saat Jihad sedang bergolak, Raja Faruq menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang. Terpaksa Syaikh Hasan Al-Banna pulang bersama jamaahnya ke Mesir. Tak lama sesudah itu Syaikh Hasan Al-Banna ditembak oleh orang suruhan Raja Faruq. Beliau SYAHID in sya’ Allah.
SETELAH dibubarkan, jamaah Al-Ikhwan tercecer. Lalu ada kader-kader pejuang berusaha menumbuhkan kembali gerakan Al-Ikhwan ini. Salah satunya Syaikh Hasan Al-Hudaibi Rahimahullah. Juga Syaikhah Zainab Al-Ghazali Rahimahallah.

Di sisi lain terjadi PERUBAHAN POLITIK di Mesir. Kekuasaan Raja Faruq tumbang, dikudeta oleh Jamal Abdul Nasher. Dari kerajaan/monarkhi berubah menjadi republik. Namun kebijakannya sama, tetap menetapkan Al-Ikhwan sebagai ORGANISASI TERLARANG.

Saat itulah Sayyid Quthub masuk ke Al-Ikhwan dan menjadi “the rising star” pemikiran. Jelas rezim tahu itu. Walhasil, Sayyid Quthub dijebloskan ke penjara. Rezim akan membebaskan Sayyid Quthub asalkan dia mau mengucapkan kalimat: “Aku menolak Negara Islam, dan mendukung negara sekuler (ala Jamal Abdul Nasher dkk).” nah, tetapi Sayyid Quthub menolak, dan lebih memilih dihukum mati. Sebelum hukuman mati dilakukan, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz rahimahullah (mufti agung arab saudi saat itu) membela Sayyid Quthub dan menulis surat ke si durjana Jamal Abdul Nasher ini, agar hukuman mati dibatalkan. Si durjana itu tidak peduli. Sayyid Quthub tetap dihukum mati. Beliau syahid, in sya’ Allah.

Menetes air mata orang-orang beriman mendengar kejinya lisan maffia-maffia “berjubah sunnah” menteroriskan para pahlawan islam, tak terkecuali Asy-Syaikh Sayyid Quthub Rahimahullah yang disaksikan sejarah sebagai pejuang islam di mesir yang Syahid in sya Allah..
KOK ada ya manusia yang gemar memfitnah para PAHLAWAN ISLAM? Apa mereka itu sudah SIAP digugat Sayyid Quthub di akhirat nanti? Berjasa bagi Islam GAK ADA, tapi doyan memfitnah para ulama dan pejuang syari'at. Nas'alullah al-'afiyah.
*)Hati-hati atas isu-isu murahan.

*Ustad Abu Abdurrahman At-Thalibi*

Sayyid Quthub Dimata Ulama-Ulama Saudi

Abdurrahman Thayyib, da’i “sagaring” (salafi garis miring) surabaya mengatakan bahwa Sayyid Quthub adalah bapak terorisme dan radikalisme. Lalu, ia menyebutkan kitab karya Sayyid Quthub yang dianggapnya menyimpang, diantaranya Ma’alim Fii Thariq dan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an.
Bagaimana pandangan Ulama-ulama Saudi terhadap Sayyid Quthub Rahimahullah dan karya-karyanya serta bagaimana beliau dimata mereka?


=> Berkatalah Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud -anggota Hai’ah Kibaril Ulama kerajaan Saudi Arabia- dalam kitabnya Majmu’ Ar-Rasail wa Maqalat:

كتاب أخذ صاحبه ثمنه قتلاً نحسبه في سبيل الله بدافع من الروس الشيوعيين لجمال كما يعرف ذلك المعاصرون للقضية، وقامت بتوزيع هذا الكتاب جهات عديدة في المملكة، وخلال سنوات عديدة، وأهل هذه الجهات أهل علم ودعوة إلى الله،
“Kitab Ma’alim Fii Thariq karya Sayyid Quthub ini telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan MATI DI JALAN ALLAH karena menentang penguasa komunis Mesir Jamal Abdul Nasher, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal kitab tersebut telah disebarkan oleh banyak pihak dikerajaan Saudi sejak bertahun-tahun lamanya, dan mereka adalah para ahli ilmu dan para da’i ilallah...”

=> Mufti agung Kerajaan Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh, berkata:
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرةوحمية للإسلام ، والرجل له جهاد تعلمون أنه استشهد أو قتل شهيدا رحمه الله..
“Kitab Tafsir Fi Zhiilal Qur’an itu memiliki uslub (metode bahasa) yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh Sayyid Quthub menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan kalimat-kalimatnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para Nabi dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti kalimat-kalimatnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastra yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Zhilalil Qur’an) itu tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pelurusan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Sayyid Quthb) telah menulisnya dalam keadaan rasa ghirah (cemburu) dan cinta terhadap agama Islam. Dia adalah seorang laki-laki berjihad yang kalian ketahui dan dia telah mendapatkan kesyahidan atau dibunuh menjadi SYAHID Rahimahullah”.

=> Syaikh Hamud ‘Uqla Asy-Syu’aibi dalam Fatawa Asy-Syu’aibi berkata tentang Sayyid Quthub:
إن سيدا رحمه الله يعد في عصره علما من أعلام أصحاب منهج مقارعة الظالمين والكفر بهم ، ومن أفذاذ الدعاة إلى تعبيد الناس لربهم والدعوة إلى توحيد التحاكم إلى الله ، فلم يقض إلا مضاجع أعداء الله ورسوله كجمال عبدالناصر وأمثاله .. وما فرح أحد بقتله كما فرح أولئك. وسيد رحمه الله لا ندعي له العصمة من الخطأ، بل نقول إن له أخطاء ليس هذا مجال تفصيلها، ولكنها لا تخل بأصل دعوته ومنهجه، كما أن عند غيره من الأخطاء التي لم تقدح في منـزلتهم وعلى سبيل المثال ابن حجر والنووي وابن الجوزي وابن حزم، فهؤلاء لهم أخطاء في العقيدة إلا أن أخطاءهم لم تجعل أحدا من أبناء الأمة ولا أعلامها يمتـنع من الاستفادة منهم أو يهضمهم حقهم وينكر فضائلهم ، فهم أئمة إلا فيما أخطئوا فيه، وهذا الحال مع سيد رحمه الله فأخطاؤه لم تقدح في أصل منهجه ودعوته لتوحيد الحاكمية وتعبيد الناس لربهم.
“Pada masanya, Sayyid Quthub Rahimahullah menjadi salah seorang yang mengetahui manhaj yang mampu menggoncangkan kaum zhalim dan kekufuran yang ada pada diri mereka. Ia termasuk manusia yang paling bersemangat menyeru manusia agar menyembah Rabbnya dan mengajak untuk mentauhidkan hukum kepada hukum Allah Ta’ala. Tidak ada yang menentangnya kecuali sekumpulan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seperti Jamal Abdunll Nasher... Dan tidak ada manusia yang bahagia dengan terbunuhnya Sayyid Quthub sebagaimana kebahagiaan mereka.

Sayyid Quthub Rahimahullah tidak pernah mengklaim dirinya ma’shum dari kesalahan, bahkan kami katakan bahwa Beliau punya kesalahan dan bukan di sini tempatnya untuk membahasanya. Tetapi kesahalannya itu tidaklah menodai dasar-dasar da’wah dan manhajnya. Sebagaimana Ulama yang lainnya pun memiliki kesalahan yang tidak menodai kedudukan mereka, contohnya: Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnul Jauzi, dan Ibnu Hazm. Mereka semua memiliki kesalahan dalam beberapa perkara, tetapi tidaklah itu menghalangi kaum muslimin dan ulamanya untuk mengambil manfaat dari mereka, merampas hak mereka, dan mengingkari keutamaan mereka. Maka, mereka adalah para imam walau mereka memiliki kesalahan. Dan keadaan Sayyid Quthb juga demikian bersama kesalahan-kesalahannya, bahwa itu tidaklah menodai dasar-dasar manhajnya, dan da’wahnya kepada manusia untuk meng-Esakan Al-Hakimiyah dan peribadatan kepada Rabb mereka”.
-selesai-

Demikianlah berberapa persaksian Para Ulama Saudi , ulama sagarus (salafi garis lurus) terhadap ASY-YAHID -in sya’ Allah- SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH. berbeda dengan isu murahan dan obral kecaman dari para penjilat itu.

Semoga kita dikumpulkan bersama para syuhada’ di dalam Jannah. Aamiin..

Oleh : Ustad Farid Nukman Hasan.