Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

Hati-Hati Bunda! Begini Efek Balita yang Anteng Pakai Gadget

Bu, masih menikmati anak balita anteng pakai gadget?
Me too..



Kan sudah tau efeknya?
Tapi kan nonton video di gadget juga yang isinya mengedukasi aja.

Nahnah.. saya pun terkadang membela diri. Kenapa emang kalau anak balita pakai gadget? Kan banyak tontonan yang mengedukasi. Nyatanya kita sendiri lepas tangan gak ikut merhatiin kerjain yang lain-lain #ngacaduluah :-(

Bukan satu dua kali diperingatkan sama kurang baiknya efek gadget pada anak balita yang seharusnya aktivitasnya dipenuhi aktivitas fisik (lari-lari main di luar) atau paling tidak berkegiatan di rumah dengan berkomunikasi dua arah, bukan sibuk sendiri-sendiri.

Kenapa balita?
Ini masa golden age yang wow itu lho. Proses pertumbuhan otak ini terjadi secara terus menerus bahkan otak anak mengalami ledakan pertumbuhan yang cepat antara usia 3 hingga 15 tahun (John W. Santrock, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur empat tahun, 80% telah terjadi ketika berumur delapan tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2004).

Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya.

Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa.

Perkembangan otak anak mencapai 50% pada masa golden age itu dan seharusnya otak terstimulasi dengan baik dengan berbagai aktivitas yang menggerakkan tubuh dan merangsang panca indera.

Makin ngeh banget kalau gadget itu sebaiknya dibatasi sekali dan kalau bisa dibawah 6 tahun tidak sama sekali #PRbesaaarr :-o

PR besar karena gak mungkin kita menuntut anak untuk gak banyak-banyak main gadget tanpa kita yang terlebih dahulu memulainya, paling tidak mengatur pemakaian gadget disaat beraktivitas bersama anak. Children see, children do.

Jadi kesimpulannya?
Masih banyak aktivitas pilihan yang bisa dilakukan bersama anak tapi memang butuh kesadaran orangtua untuk membersamainya lebih lama dari biasanya.

Salah satu hal yang saya lakukan untuk mengalihkan anak dari gadget adalah membacakan buku. Kalau masih mau memanfaatkan teknologi pun bisa menggunakan fasilitas e-pen untuk membacakan buku, lumayan anteng lho walaupun gak seanteng kalau lihat Youtube :-p

Nah untuk aktivitas lain memang butuh keduatangan kita langsung untuk terlibat. Selain karena ada komunikasi 2 arah, anak juga merasa diperhatikan dan bonding dengan anak menjadi semakin baik.

Last but not least, semua pilihan tentu kembali pada setiap orang tua ;-)

Senin, 27 November 2017

Ibnu Sina : Sang Bapak Kedokteran Modern

Cerita dibawah ini hasil terjemahan dari mahasiswi saya yang bernama “Umi Fathimatur Roiva” dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in Jilid 6 Wahdah 4, halaman 25 yang sedikit saya editing EYD-nya:


***************
Ibnu Sina lahir di kota Bukhara pada tahun 370 H, dan dikota itulah ia memulai perjalanan hidupnya. Kota Bukhara adalah tempat berkumpulnya para ulama sain dan sastrawan-sastrawan terkemuka. Hal ini wajar, karena kota Bukhara merupakan pusat dari khasanah keilmuan dan tempat perpustakaan-perpustakaan besar saat itu. Factor inilah yang menjadikan Ibnu Sina kecil mempunyai ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang diatas naungan para saintis dan ulama’. Disamping itu, ayahnya juga mempunyai andil besar dalam mengarahkan Ibnu Sina untuk bisa berguru kepada beberapa ulama’ dan cendekiawan diatas, yang harapannya di masa mendatang agar Ibnu Sina kecil bisa menjadi salah seorang cendikiawan muslim seperti mereka. Ibnu Sina telah hafal Al-Qur’an dan menguasai dasar-dasar fiqh dan bahasa arab belum genap umurnya 10 tahun.

Semenjak kecil, Ibnu Sina gemar mempelajari berbagai macam ilmu dan membaca berbagai macam buku termasuk buku-buku Yunani. Dan dalam umur belasan tahun, ia sudah menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran dari buku-buku yang ia baca dan pelajarinya itu. Sampai-sampai, para dokter di zamannya mengakui kalau Ibnu Sina kecil itu adalah seorang yang jenius dan bakal menjadi seorang dokter yang paling hebat dimasa dewasanya kelak. Semenjak saat itu, Ibnu Sina jadi tersohor seantero Bukhara dan banyak orang berbondong-bondong untuk berobat kepadanya. Disaat itu pula, banyak dokter-dokter yang senior pun tak ketinggalan untuk meminta arahan dan belajar dari Ibnu Sina. Karena jasanya kepada masyarakat dalam mengobati orang sakit itulah menjadikan khalifah di masa itu untuk memanggilnya ke istana serta memberi akses untuk mempelajari buku-buku kedokteran yang ada di perpustakaan kerajaan.

Selain kedokteran, Ibnu Sina ternyata juga menguasai berbagai macam bidang ilmu. Diantaranya yaitu matematika, ilmu astronomi, ilmu alam, ilmu filsafat, music, ilmu logika dan lain sebagainya. Ibnu Sina memiliki kedekatan dengan cendikiawan lainnya sehingga sering berdiskusi dengan ahli-ahli tersebut sehingga bertambah luaslah ilmu dan wawasan Ibnu Sina.

Ibnu Sina dewasa telah mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran sejak masa kecilnya. Dan hasil dari resume buku-buku tersebut, tercetuslah satu buku masterpiece Ibnu Sina yaitu “Qanun Fi At-Thibb”. Qanun Fi At-Thibb atau lebih dikenal di Eropa dengan nama Canon of Medicine menjadi sumber dari segala sumber buku kedokteran waktu itu hingga merambah ke Eropa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan 10 bahasa asing lainnya di abad ke-15 M yang telah mencapai 30-an kali cetak ulang. Disamping itu, di abad tersebut Canon of Medicine menjadi buku diktat utama yang diajarkan di fakultas kedokteran Universitas-universitas di Eropa seabad kemudian hingga berakhir abad ke-17 M.

Ibnu Sina adalah dokter yang pertama kali menemukan dan mencetuskan obat bius dalam sebuah operasi. Ia juga orang yang pertama yang kali melakukan operasi cesar bagi ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal karena Sang Ibu menderita diabetes tinggi.

Hidup Ibnu Sina sering berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang tak lain adalah bertujuan untuk memperluas dan mengenalkan Qanun Fi At-Thibb dan mengembangkan keilmuan-kelimuan lainnya sehingga bertambahlah pengetahuannya serta menjauhkan dirinya dari dunia perpolitikan di zamannya.

Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan dalam suatu kasus atau ilmu yang tidak dipahaminya, ia pergi ke Masjid untu tafakur dan meminta pertolongan Allah agar memberinya petunjuk. Sehingga Ibnu Sina disamping tersohor sebagai seorang cendikiawan, ia juga terkenal menjadi seorang yang ahli ibadah karena tidak pernah jauh dari Masjid.

Ibnu Sina tidak hanya diakui oleh cendikiawan timur (baca; muslim), namun ia juga mendapat pengakuan dari cendikiawan barat (baca; eropa) karena pengabdiannya terhadap dunia kedokteran modern. Maka, Ibnu Sina mendapat gelar abadi yaitu sebagai "Bapak Kedokteran Modern".

Hingga wafatnya, Ibnu Sina telah mengarang 276 buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan, yang tentu saja mayoritas dari karangannya adalah buku-buku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran yang anehnya buku-buku karangan tersebut masih ada di perpustakaan-perpustakaan di universitas Eropa. Dan juga, masterpiece Ibnu Sina “Canon of Medicine” juga masih utuh tersimpan disana yang telah di translate ke dalam bahasa latin. Ada lagi buku kedokteran yang fenomenal dari Ibnu Sina yaitu “Asy-Syifaa” yang terdiri dari 18 jilid yang juga masih tersimpan rapi disana.

***************

NB: Catatan ini adalah lomba menterjemah jilid 2 yang saya adakan di PKPBA UIN Maliki Malang kelas G-2 dari Kitab Al-Arabiyyah Lin Naasyi’in dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Maka, saya ucapkan selamat kepada Umi Fathimatur Roiva yang nilai terjemahan dan dzauq terjemahnya 88. Hadiah diberikan oleh Pak Heri Cahyo karena bersedia menyumbang untuk terjemahan terbaik.


Oleh : Erryk Kosbandhono
Dosen Bahasa Arab di PKPBA di UIN Malang


Hati-Hati! Jangan Remehkan Bengkak Karena Infus


Dosen PPBA UIN Maliki Malang


Barusan melihat berita di TV One bahwa ada malpraktik yang dilakukan oleh sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. 2 jari bayi harus diamputasi gara-gara ketika perawat yang menginfusnya sembrono memasang sehingga tangan bayi mengalami bengkak sampai berwarna kehitaman. Saya juga pengalaman yang sama dengan kejadian diatas. Alhamdulillah, untungnya tidak sampai terjadi mal praktik tersebut.

Aza (buah hati saya) sejak kecil (umur dibawah 1,5 tahun) sering mengalami sakit-sakitan. Sehingga, menjadikan saya dan istri akrab dengan puskesmas di daerah kami. Suatu ketika, perawat yang hendak memasangkan infus bukan perawat biasanya yang kami jumpai sebelumnya. Saya lihat dan saya amati perawat yang hari itu, dari segi menangani pasien dan cara meng-infus-kan ke Aza sedikit canggung dan terkesan tidak profesional. Dalam hati berkata; “Hemmm… Perawat yang masih belajar atau baru lulus kayaknya”. Saya tidak menaruh curiga waktu itu namun sedikit was-was.

Namun esok harinya, tangan Aza yang kena infus mengalami sedikit pembengkakan dan makin lama bengkakan itu kian membesar. Saya dan istri menjadi takut hingga akhirnya saya datangi kantor puskesmas di sebelah ruang inap Aza.

Saya: Permisi, mas/mbak… Saya ada keluhan; tangan anak saya kok agak bengkak ya, ketika kemarin di infus? Mohon di cek sekarang!
Perawat : Iya, pak. Sebentar lagi, ya…
Saya: Saya mau sekarang, mbak! (suara agak saya keraskan)

Perawat yang saya ‘bentak’ tadi langsung ngeloyor dan memasang muka cemberut serta langsung menuju ruangannya Aza.

Istri: Gimana, suster? Bengkak seperti ini gak bahaya, kah?
Perawat: Oh, gak apa-apa, bu… Ini sudah biasa,kok… Paling, nanti sore sudah normal kembali.

Saya yang menyaksikan aksi perawat tersebut masih kurang yakin dengan cara penanganannya yang terkesan meremehkan. “Masak, tangan anak saya bengkak yang tidak wajar dikatakan baik-baik saja?”. Perasaan geram dan marah berkecamuk dalam hati saya waktu itu. Istri saya menenangkan saya agar mengikuti kata perawat tersebut.

Sore harinya, tangan Aza masih saja bengkak dan malah bertambah membesar. Aza mengerang kesakitan sejak tadi pagi karena tangannya membengkak. Saya yang tidak sabaran dari tadi siang, mendatangi lagi kantor puskesmas dengan sedikit jengkel dan mengeraskan suara;

“Mas/Mbak, ini gimana anak saya di kamar 10 itu? Kok tidak ada tindak lanjut dari perawat yang menengok atau melihat perkembangan anak saya?”. Saya kemudian menambahkan; “Mana dokter jaganya?”.

“Maaf, pak. Dokter jaganya baru datang nanti jam 5 sore”, kata perawat yang lain agak ketakutan.

Saya lihat jam di tangan saya menunjukkan angka 15.30, masih kurang satu setengah jam lagi. Duuuh, kasihan Aza sejak tadi merintih kesakitan gara-gara tangannya terus membengkak. Karena tidak sabar, saya minta salah satu perawat untuk melepaskan infus di tangan Aza.

Saya lihat ada perawat agak senior sedikit ‘mengancam’ saya, “Kalau infus dilepas, bapak yang bertanggung-jawab sendiri kalau ada apa-apa dengan putra Bapak! Kalau masih ngengkel sampean Pak, sampean tanda-tangan disini!”.

“Bismillah… Allahumma yasyfi… Anta As-Syaafi, ya Allah… Inni tawakkaltu ‘alaik”, saya segera membubuhkan tanda tangan agar perawat tersebut ‘terbebas’ dari kesalahan apabila nantinya ada apa-apa terhadap anak saya.

Infus segera dilepas. Aza yang sedari tadi merintih dan merasakan kesakitan pada tangannya yang membengkak, lambat laun terdiam dan kelihatan relax. Ba’da maghrib, tangan yang semula membengkak berangsur-angsur kembali normal.

Dokter jaga pada hari itu datangnya tidak tepat waktu. Seharusnya jam 5 sore, namun ia datang setelah maghrib. Coba kalau saya menunggu dokter jaga tersebut, bisa jadi Aza menjadi korban mal praktik yang membahayakan nyawanya seperti yang saya saksikan di TV barusan.

Maka dari itu, pesan saya terhadap orangtua agar jeli dan kritis menyikapi buah hatinya yang sedang dirawat di rumah sakit atau puskesmas. Jangan ‘hanya’ berpangku tangan dan ‘nerimo ing pandum’ apa yang dikatakan oleh perawat. Bisa jadi,perawat tersebut masih baru belajar atau baru lulus sehingga minim pengalaman.

Kritik saya, juga saya tujukan kepada Rumah Sakit dan Puskesmas agar tidak sembarangan untuk mempercayakan masalah memasang infus ini kepada perawat yang ‘masih bau kencur’ sehingga tidak terjadi mal praktik yang membahayakan.

Semoga menjadi renungan dan ibrah bagi kita semua…

Begini Cara Hidup Sehat dan Panjang Umur Ala Suku Hunza


Dosen PPBA UIN Maliki Malang

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyimpulkan bahwa orang sehat, kuat dan terpanjang usianya di dunia masa ini adalah suku Hunza yang tinggal dan hidup di kaki pegunungan Himalaya, Kashmir-Pakistan. Usia mereka rata-rata bias mencapai 145-200 tahun. Di usia yang rata-rata suku Hunza tersebut, sebanding dengan orang Indonesia berusia 45 tahun. Dan mereka dalam usia tersebut masih melakukan berbagai aktivitas, baik berladang, bertani bahkan berolah raga seperti umumnya masyarakat Indonesia.

Kok bisa, ya?

Pa umumnya, suku Hunza suka hidup bertoleransi, membagi dan pemerhati sesame. Mereka tidak hidup berlebihan, kesederhanaan terpancar dari relung kehidupan dan realitas, bahkan mereka lebih senang hidup membantu sesama dan bergotong-royong dalam segala hal.

Hidup seperti ini sering mereka lakukan dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal waktu serta keadaan. Hal ini salah satu wujud nyata dalam kehidupan sebagai bentuk ketenangan jiwa dan kepuasan bathin. Disinilah mereka mendapat ketenangan dalam berpikir menyelesaikan permasalahan hidup, karena pada jiwa yang tenang terdapat pikiran yang jernih, karena suatu penyakit timbul itu salah satunya disebabkan kondisi bathin atau beban pikiran.

Orang-orang Hunza pada umumnya senang dan gemar menjaga alam. Hidup mereka jauh dari hal-hal yang merusak alam. Mereka tidak senang dengan polusi udara. Udara yang mereka hirup setiap detik, air yang mereka minum adalah benar-benar alami. Begitu juga dengan makanan yang mereka konsumsi setiap hari hamper 100 % adalah alami.

Padi, jagung, tanaman palawija dan lain-lainnya tidak pernah mereka beri pupuk pestisida atau insektisida yang mengandung racun. Makanan yang mereka makan seringkali adalah gandum, biji-bijian, buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar dan mentah. Kalaupun memasak sayuran, mereka memasaknya dalam waktu yang singkat sehingga tidak terlalu lama diolah diatas api, juga tanpa bahan tambahan pangan seperti pemanis, pengawet dan bahan-bahan kimia lainnya. Mereka juga menkonsumsi daging-dagingan namun tidak sering dan mereka makan dengan porsi yang kecil.

Hal lain yang menjadi kebiasaan sehat suku Hunza adalah olahraga atau pola hidup aktif, dimana mereka rajin beraktivitas yang menggerakkan badan mereka. Mereka banyak beraktivitas di luar rumah, berjalan, mendaki gunung, berladang, bercocok-tanam yang mana mereka lakukan secara teratur tiap harinya.

Maka dapat kita simpulkan bahwa rahasia hidup sehat dan panjang umur suku Hunza adalah karena:
Pikiran dan jiwa yang tenang
Pola makan yang sehat dan alami
Akrivitas fisik yang cukup/olahraga teratur.
Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam…

Ternyata Begini Manfaat Berkeringat Bagi Kesehatan

Dosen PPBA UIN MALIKI MALANG

Selama berabad-abad, berbagai budaya yang berbeda telah mempromosikan efek berkeringat bagi kesehatan lewat mandi uap dan sauna. Banyak orang percaya bahwa peningkatan suhu tubuh yang memicu keringat bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa berkeringat tidak hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bermanfaat bagi kecantikan dan menjaga berat badan.

Keringat merupakan sistem pendinginan tubuh alami ketika suhu tubuh terlalu panas, demam atau berolahraga. Cairan keringat sebagian besar terbuat dari air bercampur garam dan sejumlah kecil limbah yang dikeluarkan lewat kelenjar keringat di permukaan kulit. Ketika cairan menempel dipermukaan kulit dan mulai menguap, maka proses pendinginan tubuh dimulai.

Berikut adalah manfaat keringat bagi tubuh yang saya searching lewat google:

1. Membuang Racun Dari Tubuh
Berkeringat dapat membersihkan zat berbahaya seperti alkohol, kolesterol dan garam dari tubuh. Penelitian menemukan bahwa 30% racun dari tubuh dibuang lewat keringat. Ginjal membutuhkan waktu 24 jam untuk mengeluarkan racun berbahaya dari tubuh, namun berkeringat menghilangkan racun lebih cepat.

2. Memperlancar Sirkulasi Darah
Berkeringat juga dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Ketika tubuh memanas dan mengeluarkan keringat, jantung bekerja lebih keras untuk meningkatkan sirkulasi darah. Mekanisme ini bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang.

3. Mempercantik Kulit
Keringat mengandung sejumlah kecil antibiotik yang dapat melawan bakteri yang ditemukan secara alami pada kulit. Berkeringat juga dapat membersihkan pori-pori yang sehingga membuat kulit terlihat cerah dan halus. Banyak berkeringat juga dapat memperlambat tanda-tanda penuaan dini dan mengurangi efek kerusakan kulit.

4. Membakar Kalori
Berkeringat juga bisa membantu menurunkan berat badan. Ketika tubuh dipanaskan saat berolahraga, lemak dalam tubuh larut dalam air dan keluar dari tubuh lewat keringat. Berkeringat dapat membakar 300 kalori per jam.

5. Menurunkan Stres
Keringat tidak secara langsung dapat menurunkan stres atau meningkatkan suasana hati. Namun, meningkatkan panas tubuh dengan berolahraga atau sauna memiliki efek positif. Endorfin dan bahan kimia lainnya yang dilepaskan saat berolahraga secara alamiah meningkatkan mood dan menurunkan stres.

Namun, banyak orang yang masih ‘enggan’ untuk berolahraga setiap harinya. Bagaimana bisa sehat kalau seharian hanya duduk di depan laptop dan meja kerja, kawan? Ayo, keluarlah dari rumah dan bersegeralah untuk mengeluarkan keringat dalam tubuh anda!

Nyata! Kadar Kolesterol Turun Karena Rutin Konsumsi Apel


Dosen PPBA UIN Maliki Malang

Sudah 3-4 hari ini saya tidak buka facebook. Banyak notifikasi dan inbox tentunya. Karena seringnya saya menulis tentang kesehatan di jejaring sosial ini, maka banyak sahabat FB yang bertanya tentang masalah kesehatan. Suer, saya bukanlah ahli gizi apalagi seorang praktisi kesehatan. Hanya saja, saya gemar membaca artikel-artikel tentang kesehatan dan gizi, sehingga sedikit banyak tahu tentang kesehatan. Disamping itu, ibu saya juga bekerja di bidang kesehatan yang sedari kecil saya diajari untuk hidup bersih dan sehat.

Satu diantara pertanyaan di inbox facebook datangnya dari sahabat saya sejak SMP s/d SMU yaitu Khoirul Bariyyah; “Assalaamu’alaikum... Mas Bro, adakah buah yang bisa turunin kolesterol tapi tidak bikin gula darah naik? Untuk ibuku.. Makasih….”. Saya senang sekali mendapat inbox dari seorang sahabat lama.

Nah, berangkat dari pertanyaan diatas akhirnya saya browsing di google, dan menemukan buah yang manfaatnya seperti yang ditanyakan sahabat saya diatas. Ketika saya browsing, saya biasanya tidak hanya membuka satu situs saja, melainkan beberapa situs supaya informasi yang saya dapatkan bermacam-macam dan kredibel dari segi sumber.

Oke, mari kita simak baik-baik beberapa informasi tentang buah apel dibawah ini:

Kabar baik untuk wanita, terutama yang berusia paruh baya. Beberapa penyakit akan sangat mudah menyerang wanita, seiring bertambahnya usia. Masa menopause pada wanita diatas usia 40 tahunan, akan mempengaruhi kadar estrogen. Salah satu akibat paling besar yang bisa dirasakan wanita adalah meningkatnya kadar kolesterol. Ada banyak cara yang ditempuh untuk mengantisipasi ini, beberapa orang memilih menggunakan obat. Gaya hidup yang baik  sangat dibutuhkan untuk pencegahan naiknya kolesterol dalam darah. Mengkonsumsi buah apel untuk menurunkan kolesterol, juga bisa untuk dilakukan sebagai alternatif sehat.

Mengenai khasiat buah apel, untuk membantu menurunkan kolesterol pada wanita menopause, memang sudah banyak diteliti. Bahkan hal ini tidak diragukan lagi. Mengkonsumsi apel alami (misalnya; apel malang), sangat baik untuk menurunkan kolesterol. Disebutkan oleh beberapa ahli kesehatan, dengan mengkonsumsi buah apel, jenis apapun setiap hari selama 6 bulan, maka kemungkinan akan membantu menurunkan kolesterol darah sebanyak 30 %.

Penurunan Kadar Lipoprotein Terbesar Saat Mengkonsumsi Buah Apel
Lipoprotein adalah jenis lemak yang ada dalam darah. Saat mengkonsumsi buah apel, terjadi penurunan kadar lipoprotein yang cukup significant. Tentu hal ini sangat menguntungkan, mengingat lipoprotein adalah salah satu kolesterol jahat dalam tubuh.

Dengan munculnya penelitian ini mengenai penurunan lipoprotein ini, beberapa pakar kesehatan mulai menarik benang merah bahwa mengkonsumsi buah apel dengan rutin, juga dapat meningkatkan kesehatan jantung,karena lipoprotein adalah lemak jahat yang bertanggung jawab pada penyumbatan saluran darah.

Sebuah penelitian yang telah dipublikasikan di Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics
menyebutkan bahwa saat seorang wanita mengkonsumsi buah apel selama 3 bulan dan rutin, maka kadar kolesterol secara keseluruhan akan turun sebanyak 9 persennya. Bahkan jika mengkonsumsi buah apel diteruskan, akan mungkin menurunkan kadar LDL sampai 16 persen. Karenanya, di beberapa negara maju, buah apel banyak dibuat dalam bentuk buah kering, sehingga praktis dikonsumsi dimana saja.

Memilih dan Memanfaatkan Buah Apel
Sayangnya, saat ini buah apel banyak ditambahkan zat lilin untuk membuatnya berkilau dan tampak segar. Hal ini tentu tidak lagi baik untuk kesehatan. Perlu kecermatan untuk memilih buah apel yang baik, terutama jika kita ingin mengkonsumsi buah apel secara rutin.

Pilihlah buah apel yang segar. Buah apel segar ditandai dengan permukaannya yang cerah. Waspada jika permukaan buah apel sangat licin dan tidak kesat, bisa jadi ada penambahan zat lilin di dalamnya. Ada baiknya memilih buah apel lokal daripada memilih yang import. Buah apel lokal biasanya lebih segar, dan tidak mengandung senyawa kimia. Saat ini buah apel organik juga mulai banyak diperjual-belikan.

Beberapa orang tidak menyukai rasa apel yang sedikit hambar-manis dan asam. Karenanya perlu cermat untuk mengakali buah apel tersebut agar tetap nikmat mengkonsumsinya. Membuatnya menjadi juice adalah pilihan yang tepat. Disamping itu, mengolah apel menjadi salad, juga bisa dilakukan sebagai bagian dari diet sehat. Jika ingin yang lebih berbeda, saatini produsen buah apel mulai tertarik membuatnya menjadi keripik buah apel.

Makan Apel sebelum makan siang, terapi diet yang ampuh
Satu lagi manfaat dari buah apel adalah untuk menurunkan berat badan. Dikatakan dari beberapa sumber yang saya baca; Menkonsumsi buah apel yang agak masam (apel hijau merah) sebelum makan siang ternyata terapi diet yang lumayan ampuh. Keberhasilannya bisa mencapai 30-40 %. So, try it! Tidak ada salahnya kan, mencoba diet ini…

Selasa, 04 Juli 2017

Kekuasaan Dapat Merusak Kerja Otak


Tahu gak sih...apa yang paling bikin saya kepo? Cara kerja otak manusia ! Begitu vital, kompleks, otonom, penuh misteri dan sangat berpengaruh untuk suatu tindakan yang dilakukan seseorang.
Nah, ditengah-tengah demam mendera, lemah, letih, lesu, lunglai, nan lebay 😂😂😂. Saya nemu satu artikel menarik: "power cause brain damage" di the atlantic, salah satu laman website favorit saya utk update perkembangan riset tentang neuro science, cukup menjawab penasaran saya tentang kenapa sih pejabat korupsi dg berbagai fasilitas VIP yang sudah mereka terimanya?

Agama? Jelas tidak efektif menjadi fungsi pengendali 'nafsu' korupsi hari-hari ini. OTT pun marak di Bulan Ramadhan kali ini, rasa malu...jelas sudah gak ada 😊 Jadi apa sih yg membuat penggede-gede itu korupsi?

Well, ternyata kekuasaan/ rasa berkuasa itu memiliki tendesi menyebabkan kerusakan otak. Kekuasaan itu bagai candu yang mempengaruhi otak bagian simpati dan empati. Kekuasaan menurunkan kemampuan otak manusia untuk 'membaca orang lain' . Gak heran sejarahwan Henry Adams mendeskripsikan kekuasasn sebagai semacam tumor yang membunuh kemampuan simpati pengidapnya 😂

Hmmm, jadi kekuasaan ada kencenderungan membuat orang terlatih hanya berpikir "me, myself & I". Nah, jika kita tarik ke kultur Indonesia yg namanya pejabat itu kan masih menjadi sesuatu yang previllege yg tak heran berbagai cara dan upaya dilakukan untuk mempertahankan bukan. Termasuk korupsi yg menjadi pilihan. Karena mereka kehilangan rasa empati pada orang lain, sehingga semua hal dianggap transaksional.

Ngeriiik yah 😂 Nah, salah satu case study dari penelitian ttg pengaruh kekuasaan terhadap otak manusia itu adalah Winston Churcill.  Sosok Churcill sbg sosok penting dibalik perdamaian dunia pasca Perang Dunia II dan kebangkitan Inggris jauh dari kesan keblinger kekuasaan karena ternyata memiliki mekanisme kontrol kuat dari sang istri. Yang sangat mengenal sosok Churcill bahkan tahu tone suaranya berubah. Hal ini membuat Churcill tetap "stay in the ground" tidak kehilangan essensinya sbg manusia.

Kebayang gak sih kalau penelitian itu dilakukan di Indonesia. Hehehe...kasus Bengkulu mungkin akan menjadi case study paling menarik untuk premis: kekuasaan menyebabkan kerusakan otak permanen. Tak lagi bisa merasa simpati, tak lagi kenal rasa malu, tak lagi bisa merasa peduli...apapun sah dilakukan demi kekuasaan dan yg penting diri happy....Oh, Sweet Lord 😑. Ah sudahlah...gara2 kepo gw, kepala jadi cnut-cnut lagi neh.