Tampilkan postingan dengan label Kolom Husnaini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Husnaini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juli 2017

Ketika Orang Lebih Suka Mencela Daripada Memberikan Pujian

Ilustrasi
“Gajinya memang tidak diambil, tetapi tunjangannya pasti diambil. Wong tunjangannya itu lebih besar dari gajinya”. Itulah komentar teman ketika mendengar saya mengungkapkan rasa salut kepada seorang tokoh yang tidak pernah mengambil gaji saat menjabat posisi penting.

Tokoh bersangkutan menggunakan gajinya untuk membiayai kuliah mahasiswa miskin. Karena itu, menurut saya, dia termasuk “orang aneh”. Betapa tidak, di tengah fenomena pejabat yang menggangsir uang negara, dia malah sebaliknya. Tokoh dengan kejujuran dan ketulusan demikian sungguh asing di negeri ini.

Sayang, kejujuran dan ketulusan di zaman ini sering menjadi bahan ledekan. Kita segera mencibir orang-orang yang jujur dan tulus, sebagaimana dilakukan teman tadi. Kita tidak mudah menerima kebaikan, sebelum meneliti keburukannya terlebih dahulu. Kita lebih mudah mencela ketimbang memuji.

Dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa di zaman ini, tidak usah Anda berbuat baik kalau motivasinya ingin dipuji orang. Karena, selain mengikis pahala, pujian itu tidak akan pernah Anda dapatkan. Orang modern lebih senang mencela, mencari kesalahan dan kelemahan, ketimbang memberikan pujian atau penghargaan.

Sebab itu, menanggapi kegalauan siapa saja akibat beratnya cobaan berupa lingkungan dan rekan yang selalu menyakitkan, saya bilang bahwa hidup ini ibarat orang naik tangga. Ketika Anda mendapati kepedihan dan kekecewaan dari orang-orang sekitar, yakinlah bahwa Anda memang baru memulai langkah.

Tegaskan kepada diri Anda, ini baru permulaan. Anda tidak akan selamanya berada di tempat itu. Hidup di lingkungan yang tidak waras terkadang memang mengharuskan Anda belajar untuk menganggap "orang gila" sebagai benar-benar orang gila, yang ucapan dan tindakannya, tidak perlu Anda ambil hati.

Yang paling penting, Anda jangan ikut-ikutan berpikir picik. Anda adalah calon pribadi besar. Suatu saat, ketika tiba waktunya, silakan ucapkan good bye. Dan, saat Anda telah sampai di puncak, Anda akan melihat orang-orang picik dan sempit pikiran itu melongo menyaksikan kesuksesan Anda.

oleh : M Husnaini

Minggu, 16 Juli 2017

Bangsa Yang Rendah Hati


Beberapa waktu lalu, ketika hendak membeli buah di sebuah toko buah, si penjual buah menyarankan, jika ingin mendapat buah yang enak dan bermutu tinggi, saya harus membeli Apel Washington, Jeruk China, Semangka Thailand, Pepaya Bangkok, atau Pisang Filipina. Aneka buah itu, katanya, diimpor dari luar negeri. Tentu saja harganya juga lebih mahal ketimbang buah dalam negeri.

“Indonesia ini memang memiliki daerah penghasil apel, yaitu Malang. Tetapi, apel Malang masih kalah enak dibanding Apel Washington,” tuturnya sambil mempersilakan saya duduk. “Pokoknya, Mas, yang dari luar negeri itu rasanya pasti lebih mantap. Wong berasnya petani Lamongan saja masih kalah mutu kok dengan beras Thailand,” lanjutnya.

Saya tidak ingin mendebat pernyataan penjual buah tadi. Senyatanya, banyak di antara orang Indonesia yang begitu senang dan bangga membeli atau memakai barang-barang produk luar negeri. Bisa dibilang, segala sesuatu yang serba luar negeri dipastikan bagus dan bergengsi. Makanan ringan saja harus bermerek Kacang Shanghai.

Uniknya, merek serba luar negeri itu tidak hanya pada urusan makanan. Jika ingin pakaian bagus, mereknya juga harus luar negeri. Jika ingin penampilan aduhai, kosmetiknya jangan produk lokal. Rekreasi ke Bali kalah keren dibanding ke Singapore atau Australia. Bahkan, sekolah baru terasa mentereng kalau sudah berlabel internasional. Persoalan kurikulum agama minim, tidak menjadi soal.
Namun, tidak usah buru-buru menuduh bangsa kita sebagai bangsa yang tidak punya jati diri, minder, atau semacamnya. Saya lebih merasa sreg dengan bahasa Emha Ainun Nadjib ketika menuliskan kesan dan pandangannya tentang bangsa Indonesia. Seperti diungkap Cak Nun dalam buku “Kagum pada Orang Indonesia”, kita ini adalah bangsa yang rendah hati. Boleh jadi, malah, tidak ada bangsa lain mana pun di belahan dunia ini yang memiliki sikap rendah hati melebihi bangsa Indonesia.

Dengan kata lain, menurut Cak Nun, kita memang tidak mau menyombongkan diri dengan mengakui keunggulan sendiri. Kita lebih senang memuji dan membanggakan kualitas produk bangsa lain. Itulah sikap rendah hati. Yang kita anut adalah filosofi padi. Semakin matang padi, semakin merunduk ke bawah. Kian hebat kita, kian merendah.

Dicontohkan Cak Nun, kalau kita bilang “Silakan mampir ke gubuk saya”, orang akan menyangka yang kita punya itu gubuk beneran. Padahal, rumah kita adalah istana. Kalau kita menawarkan “Mari numpang gerobak saya”, sebetulnya yang kita maksud dengan gerobak adalah Alphard. Jangan-jangan, kalau pemerintah kita terus berutang ke luar negeri itu juga hanya taktik agar dunia menyangka kita miskin.

Prinsip kita, dengan demikian, semakin kita direndahkan dan dihinakan manusia, semakin tinggi dan mulia kedudukan kita di hadapan Allah.

Bangsa Indonesia, kata Cak Nun lagi, punya budaya ewuh pakewuh. Tidak suka pamer keunggulan kepada bangsa lain. Kita justru lebih senang andhap asor. Itulah pendekar sejati. Tidak banyak cingcong. Semakin arif manusia, semakin sedikit bicaranya. Makin sakti seorang prajurit, makin pendek tombaknya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, sehingga tidak butuh kebesaran. Orang yang selalu mengejar kebesaran berarti dia masih kerdil. Orang yang masih sibuk mengejar kekayaan adalah orang miskin. Kita tidak demikian. Kalau kita saleh, tidak perlu kita pamer kesalehan kepada orang lain. Jangan heran jika ada Muslim Indonesia yang terang-terangan makan dan minum pada siang hari di bulan Ramadhan, dengan tujuan agar orang lain menyangkanya tidak berpuasa.

Jadi, sekali lagi, jika kita sering mengagungkan semua yang serba luar negeri dan jarang membanggakan milik sendiri, itu hanya gaya saja. Kita memang senang merendah dan suka mengalah. Bahkan, kita tidak risih dibilang bangsa yang bodoh, miskin, korup, pemasok babu, pemalas, tidak punya prestasi olahraga, dan semacamnya.

Itu semua bukan substansi kepribadian kita. Lantas, bagaimana indentitas kita yang sebenarnya, tidak usah dunia tahu. Cukup Tuhan saja.

Oleh : M Husnaini

Rabu, 05 Juli 2017

Membangun Masyarakat Buku


"Bila buku demikian bermutu, tak ada yang lama atau pun yang baru. Yang ada, Anda belum membacanya." Kalimat ini saya baca dalam halaman depan sebuah buku terbitan Zaman, Jakarta. Kutipan dari penerbit bermoto "Menemani Anda belajar Islam dengan ulasan yang mencerahkan dan menggerakkan" ini, menurut saya, sangat inspiratif. Kita didorong untuk rajin membaca buku.

Buku baru bukan buku yang terbit minggu ini, bulan ini, atau tahun ini. Terbit beberapa tahun yang lalu sekalipun, kalau kita belum membacanya, bisa dikatakan buku baru buat kita. Harus kita beli dan baca segera.

Pencinta buku sudah paham soal ini. Karena itu, pencinta buku sering ke lapak-lapak buku bekas dan lama, selain ke toko-toko buku modern. Buku-buku bermutu dan monumental yang tidak lagi dijual di Gramedia atau Togamas, misalnya, sering dapat ditemukan di kios-kios buku di pinggir jalan itu.

Ketika kuliah sarjana dulu, sering saya ke toko buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya, yang sekarang bernama "Kampoeng Ilmu". Kendati, alasan saya, waktu itu, adalah tidak punya cukup uang untuk membeli buku di toko-toko buku modern. Saya juga sering ke toko buku "Karya Anda" di Jalan Praban, Surabaya.

Buku memang sumber ilmu. Tidak ada pakar ilmu apa pun yang tidak karib dengan buku. Mulai zaman dulu hingga kiamat kurang dua minggu. Semua ahli ilmu pasti kutu buku. Karena itu, untuk mengonfirmasi keilmuan seseorang, sering saya perhatikan koleksi bukunya, saat saya sowan ke rumah atau kantornya.

Walaupun sekarang adalah era digital yang memudahkan kita mengakses buku-buku elektronik, koleksi buku konvensional tetap menunjukkan seberapa dekat hubungan tokoh bersangkutan dengan buku sebagai sumber ilmu.

Bagi kutu buku, membaca buku dalam bentuk cetak itu lebih membangkitkan dan menggairahkan dibanding buku digital. Aroma lem perekat dan kertas halaman buku cetak potensial menimbulkan daya rangsang tersendiri hingga pembaca mencapai klimaks dan orgasme dalam membaca.

Tidak heran, banyak pakar berkeyakinan, kendati teknologi semakin maju hingga banyak buku dijadikan e-book, buku kertas tetap akan diburu. Saya termasuk yang berpendapat begitu. Jika Anda ragu, silakan tunggu berjalannya waktu.

Indonesia, hingga hari ini, memang belum menjadi masyarakat pencinta buku. Buktinya, jika kita membuka toko buku, bandingkanlah perolehan hasil kita dengan, misalnya, pemilik kedai makanan atau swalayan pakaian.

Kebanyakan orang kita mampu membeli paket internet bulanan atau alat kecantikan, tetapi merasa berat membeli buku rutin setiap bulan. Amatilah pula, mana yang lebih ramai dan diminati antara warung kopi dan perpustakaan?

Marilah berbuat dengan cara dan pendekatan sejauh kita mampu. Melalui berbagai forum dan sarana, kita dorong masyarakat untuk gemar membaca buku. Lebih dari itu, akan lebih baik jika kita hidupkan pula tradisi menulis buku.

Belakangan, pelan-pelan, saya telah membuktikan bahwa untuk dapat senang membaca, kemudian dilanjutkan dengan mampu berkarya buku, yang dibutuhkan hanya seberapa besar kita punya tekad dan mau.

Oleh : M Husnaini

Selasa, 04 Juli 2017

Bagaimana Cara Mengatasi Demam Panggung?


Seorang teman mengeluh, setiap kali dia tampil berbicara di depan umum, selalu berantakan. Teman ini merasa bahwa persiapannya selalu hilang ketika sudah berada di depan publik. Padahal, jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkan diri dengan membaca buku. Tidak hanya itu, dia bahkan mencatat seluruh apa yang akan dia sampaikan.

Persoalan semacam itu lumrah belaka. Terutama bagi orang yang belum terbiasa tampil berbicara di depan orang banyak. Tidak sedikit orang yang langsung bercucuran keringat dingin ketika berada di atas podium. Logat bicaranya mendadak tersendat-sendat, bahkan macet. Tetapi, hal itu menjadi tidak lumrah ketika dialami oleh orang yang sudah puluhan, bahkan ratusan kali, berbicara di depan umum. Guru atau dosen, misalnya, seharusnya sudah tidak lagi ada masalah ketika harus berbicara di depan umum. Toh dia sudah terbiasa tampil di depan peserta didiknya.

Lantas, kenapa kasus seperti disampaikan teman saya tadi masih juga terjadi? Menurut saya, ada tiga kesalahan. Pertama, tidak yakin dengan materi yang sedang disampaikan. Kalau orang yang tampil di depan khalayak ternyata tidak yakin dengan apa yang disampaikan, bisa dipastikan, bicaranya akan terbata-bata. Mau berbicara apa saja, susah. Berasa ada yang salah. Untuk menghindari kasus semacam itu, tentu yang harus dilakukan ialah sampaikanlah materi yang Anda kuasai. Jangan pernah ingin mengutarakan masalah yang muluk-muluk, sementara pemahaman Anda terhadap masalah itu masih setengah.

Ingat, materi yang Anda bawakan, sejatinya, sangat tergantung bagaimana cara Anda menyampaikan. Ibarat kata, susu sekali pun, jika Anda sajikan dalam bak kotor, siapa juga yang mau. Namun, kendati hanya air putih, kalau Anda hidangkan dalam gelas yang bersih dengan senyum merekah, yang meminum pasti hatinya berbunga.

Kedua, grogi. Setiap kita, sedikit atau banyak, pasti memiliki rasa grogi. Penyakit inilah yang kerap merusak suasana. Merasa sudah punya persiapan matang, tetapi kalau penyakit grogi menyerang, semua pasti buyar. Rasa grogi, umumnya, ditandai dengan suara dan tubuh bergetar atau keluarnya keringat dingin.

Bagaimana cara mengatasi serangan grogi ini? Menurut saya, biasakanlah menatap semua hadirin ketika memulai pembicaraan, sebelum mengucap salam. Setelah itu, silakan memulai pembicaraan dengan intonasi yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Santai.

Kalau Anda tidak berani menatap muka hadirin, lemparkanlah pandangan Anda ke atas rata-rata kepala mereka. Jangan mengenai mata. Yang lebih penting, merasalah menjadi yang paling pandai dalam forum itu. Anggap saja semua yang hadir saat itu adalah orang-orang awam yang membutuhkan pemahaman dari Anda.

Ketiga, terlalu terpaku pada catatan. Tentulah mencatat materi yang akan disampaikan, tidak salah. Itu bagian dari bentuk persiapan. Apalagi jika yang disampaikan menyangkut data berupa angka-angka atau dalil dari Al-Qur’an maupun hadis. Mencatat mutlak diperlukan, supaya tidak terjadi salah kutip. Tetapi, lebih baik yang dicatat itu hanya poin-poin utama.

Kalau ingin berpidato dengan enak dan luwes, kembangkanlah pikiran Anda ketika berada di atas mimbar. Tidak usah mencatat setiap kalimat yang akan Anda sampaikan. Kecuali Anda memang menyampaikan pidato dengan naskah, seperti pidato kenegaraan atau khotbah.

Kendati harus begitu, cara penyampaiannya tetap harus santai. Kasihlah kesempatan pendengar untuk memahami kalimat-kalimat Anda. Jangan terlalu cepat, apalagi mengotot seperti orang sedang menggusah anjing.

Tidak disangkal, menyampaikan apa pun di depan umum, memang perlu latihan dan pembiasaan. Sudah banyak teori-teori pidato yang ditulis oleh para pakar. Jalaluddin Rakhmat, misalnya, menulis dua buku tentang itu: "Psikologi Komunikasi" dan "Retorika Modern". Keduanya diterbitkan Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung, dan sudah dicetak berulang-ulang.

Silakan baca. Saya kira, kedua buku itu sangat membantu untuk mengasah kemampuan dalam berpidato, selain juga buku-buku yang lain tentunya. Setelah menguasai teorinya, yang lebih penting adalah praktik berulang-ulang. Berpidato itu persis menulis. Keduanya merupakan keterampilan, bukan sebatas pengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas panca indra, yaitu melihat atau mengamati (mata), mengecap (lidah), membau (hidung), mendengar atau menyimak (telinga), merasakan (kulit). Keterampilan diperoleh melalui trial and error.

Tentulah semua ini hanya omong kosong kalau Anda enggan membaca. Ketekunan membaca membuat otak kita penuh wawasan. Jangankan berpidato, lebih-lebih menulis, jika tanpa kebiasaan membaca secara ulet dan istikamah, sekadar mengobrol ringan juga akan berlepotan.

Oleh : M Husnaini

Minggu, 02 Juli 2017

Menjadi Apa Pun Kita, Haters Selalu Ada



"Tetap semangat, Mas. Menjadi apa pun kita, haters itu pasti ada. Bahkan, Rasulullah saja banyak hatersnya. Lanjut." Kalimat tersebut disampaikan Dr M Taufiqi untuk menyuntikkan semangat kepada sahabat saya, Didi Junaedi, supaya tetap menulis setelah mengaku dibully di salah grup WhatsApp yang Mas Didi ikuti.

Saya kenal Mas Didi. Dia orangnya sangat istikamah menulis. Apa saja bisa ditulis, sehingga buku karyanya cukup banyak. Karena itu, meski dicela macam-macam, apalagi hanya di grup WhatsApp, tidak akan mampu mengendurkan semangat penulis asal Brebes, Jawa Tengah, tersebut. Namun demikian, dorongan yang diberikan Mr Vicky, panggilan akrab Dr M Taufiqi yang juga pemilik lembaga pendidikan dan pelatihan Bravo VIEC Malang, tersebut menarik direnungkan.

Haters, bahasa Indonesianya, adalah pembenci. Istilah haters begitu mengemuka belakangan ini, utamanya di jagat media sosial. Jadi, ada di antara pengguna media sosial ini yang pekerjaannya adalah berkomentar, bahkan cenderung mencela orang lain. Apa saja yang dilakukan sesama netizen, ada saja yang salah.

Saya sendiri sering melihat orang-orang dengan kapasitas keilmuan mumpuni, dicela begitu saja oleh haters. Kadang, dengan menggunakan kalimat-kalimat kasar yang sangat tidak pantas. Berbeda pendapat tidak lagi menjadi persoalan lumrah, namun justru menggiring kepada sikap sinis yang dilanjutkan menyerang.

Di dunia maya yang penuh dengan perilaku menjengkelkan begitu, hanya orang-orang bermental baja dan berdada lapang yang tidak ikut-ikutan meriang. Media sosial memang sangat bermanfaat, kendati sisi negatifnya juga tidak kecil. Menurut Emha Ainun Nadjib, di antara sisi negatif media sosial adalah membentuk mental pengecut. Karena, orang bebas mengunggah status atau komentar apa saja tanpa khawatir ketahuan siapa dirinya. Jumlah akun-akun palsu pun tidak terhitung jumlahnya.

Fakta itulah yang beberapa waktu lalu mendorong saya untuk menggarap buku "Medsosku Sayang, Medsosku Malang". Buku itu adalah kumpulan tulisan para pengguna aktif media sosial, utamanya Facebook, yang saya sunting. Secara garis besar, buku itu mengajak kita semua untuk memanfaatkan media sosial secara positif dan untuk menebar sebanyak mungkin inspirasi dan manfaat bagi sesama.

Kemudian, ada lagi WhatsApp. WhatsApp yang sangat bermanfaat digunakan untuk komunikasi bareng ratusan orang dalam waktu bersamaan dengan cara membuat grup-grup juga jangan dibayangkan tanpa masalah. Media komunikasi satu ini, Ya Allah, sisi negatifnya sungguh dahsyat.

Justru dari grup-grup WhatsApp, kabar hoax sering bermunculan dan kemudian tersebar luas. Banyak anggota grup WhatsApp, ketika menerima suatu kabar, langsung diteruskan ke grup-grup lain yang mereka ikuti, tanpa terlebih dulu dikonfirmasi validitas kabar yang diterima. Kadang, membaca saja belum tuntas, sudah buru-buru disebarkan, dengan menambahkan kalimat: copas dari grup sebelah.

Selain produksi hoax, grup-grup WhatsApp juga kerap menjadi arena debat kusir. Tidak sedikit grup-grup WhatsApp ditinggalkan anggotanya karena hanya berisi perbantahan tanpa menghasilkan karya nyata, kecuali retaknya hubungan kekeluargaan atau persahabatan. Dalam kaitan itulah, saya kemudian membentuk grup Sahabat Pena Nusantara (SPN) dan Aku Bisa Menulis (ABM). Kedua grup itu, utamanya SPN, berisi penulis-penulis Indonesia. Di grup itu, tidak ada bahasan kecuali masalah karya tulis. SPN malah lebih tertib lagi. Setiap enam bulan, kita pasti kopdar sambil launching buku. Seluruh anggota didorong untuk berkarya buku mandiri, selain juga wajib setor naskah antologi setiap bulan. Di grup SPN, aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibahas, sangat jelas. Seluruh anggota grup, tanpa kecuali, tinggal setuju atau keluar.

Selain itu, yang tidak tertulis secara resmi dalam aturan grup SPN, tetapi nyata dalam tindakan, adalah jika dalam setahun ada anggota SPN yang tidak setor tulisan rutin bulanan selama tiga kali, baik berturut-turut maupun tidak, harus rela dikeluarkan dari grup. Komitmen ini sudah dipahami seluruh anggota. Sebab, tujuan gabung SPN adalah untuk menulis dan menghasilkan karya tulis. Tidak ada lain.

Kini, SPN sudah berkembang cepat. Benar bahwa yang berinisiatif membentuk SPN dulu adalah saya. Namun, kemajuan SPN yang sekarang, tentu bukan semata karena saya, melainkan berkat pikiran, tenaga, waktu, bahkan biaya yang dicurahkan seluruh anggota.

SPN bukan grup WhatsApp seperti umumnya. Hubungan antaranggota SPN juga sudah seperti keluarga. Jika ada anggota yang tertimpa masalah atau musibah, tidak sedikit anggota SPN lain yang kemudian sigap membantu meringankan beban penderita. Utamanya jika menyangkut urusan biaya, kendala uang. Masyaallah.

Saya sering terharu oleh ketulusan dan kelapangan hati orang-orang SPN dalam membantu saudara mereka yang sedang kesusahan. Padahal, saya tahu, kebanyakan anggota SPN bukan orang nganggur. Ada di antara mereka adalah mahasiswa, sarjana, master, doktor, profesor, dan berprofesi sebagai aktivis, pendidik, pejabat, politisi, hingga kiai yang mengasuh pesantren.

Di SPN, kesan yang saya tangkap, masing-masing anggota ingin memberi, bukan meminta. Anggota SPN ingin selalu berbuat, bukan mendapat. Dan, fakta ini terlihat jelas ketika SPN sedang punya hajat. Yang kebutuhannya sehari-hari susah pun seolah tidak mau kalah bersedekah.

Jangan heran kalau tidak ada pemateri di acara SPN yang dibayar. Setiap SPN punya gawe, seluruh tempat dan fasilitas acara, selalu ada yang menanggung. Bahkan, kalau ada anggota yang tidak siap datang ke acara karena tidak punya biaya, mengingat jauhnya lokasi acara, misalnya, selalu ada anggota lain yang siap membiayai kendaraannya. Naik pesawat sekalipun. Kopdar SPN di kampus ITS Surabaya beberapa waktu lalu adalah buktinya.

Sebagai penutup, berikut saya kutipkan status Facebook milik Nadirsyah Hosen. Orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi dosen tetap bergelar profesor di Monash Law School, Australia, ini menulis status panjang, antara lain: 
"Medsos membuat orang merasa jadi setara. Hierarki keilmuan tidak lagi dihargai. Setiap orang merasa menjadi pakar."
"Tidak ada orang yang pakar segalanya. Tidak ada orang yang goblok dalam segala hal. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Diskusi saling mengisi." 
"Mari yuk kita diskusi di medsos sesuai kapasitas keilmuan kita. Kita hargai para pakar sesuai bidang masing-masing, sehingga diskusi kita saling mengisi."
"Orang yang tidak menghargai ilmu biasanya tidak berilmu. Orang yang nyinyir sama ilmuwan dan profesor biasanya karena mereka sulit menjangkaunya."
"Ada yang nyamber bahwa seolah saya sombong bicara gelar, dan sombong itu temannya iblis. Hati-hati mengiblis-ibliskan orang lain, Saudara."
"Kalau Anda membantah dan mencaci saya padahal Anda tidak punya otoritas keilmuan, Anda berkilah: Sesama Muslim saling mengingatkan."
"Tapi kalau saya bantah Anda dan tunjukkan otoritas keilmuan yang saya miliki dan raih dengan susah payah, Anda ngeles: Jangan sombong seperti iblis."
"Lebih sombong mana sih, Anda yang membantah tanpa ilmu atau saya yang membantah dengan ilmu? Ilmu itu yang harus jadi ukuran kita berdiskusi."
"Kalau Nabi melarang orang miskin yang sombong, maka saya juga bisa bilang: Anda itu sudah awam, sombong lagi. Jahil murakkab, istilahnya."

Oleh : M Husnaini

Hati-Hati Masalah Bau (Badan dan Mulut)


Ada teman mengeluhkan salah seorang jamaah masjid yang bau mulut. Teman ini bilang sulit sekali khusyuk dalam shalat ketika bersebelahan dengan orang yang bau mulut tersebut. Terhalang satu atau dua jamaah lain sekalipun, katanya, masih tercium juga, sehingga dia gagal fokus dalam shalatnya.

Sebenarnya, sudah tiga orang ini yang mengeluhkan lelaki yang dimaksud. Hanya, saya santai saja. Sebab, selama ini, ketika shalat jamaah berdampingan dengan orang yang dikeluhkan tadi, saya tidak mencium apa-apa. Mungkin penciuman hidung saya yang kurang tajam karena terlalu sering terserang pilek.

Yang pasti, keluhan teman tadi adalah sebuah pelajaran penting buat kita. Sebagai warga masyarakat yang sering bersinggungan dengan orang lain setiap hari, utamanya ketika ke masjid, jangan sampai kita remehkan urusan kebersihan badan.

Bau kurang sedap yang keluar dari tubuh kita, sudah pasti mengganggu kenyamanan orang lain. Padahal, seorang Muslim itu kehadirannya selalu menyelamatkan. Dan, bukankah Mukmin adalah orang yang keberadaannya senantiasa mengamankan?

Bau mulut jelas termasuk masalah yang membikin orang lain merasa tidak selamat dan tidak aman di dekat kita. Saya bukan ahli kesehatan, tetapi sedikit banyak tahu masalah bau mulut, karena sering bertanya kepada dokter gigi saat mengobatkan gigi saya yang bermasalah.

Menurut dokter gigi, bau mulut, umumnya, berasal dari masalah gigi. Seringnya, karena gigi berlubang. Karena itu, jika ada gigi berlubang, satu saja, harus segera ditambalkan ke dokter gigi. Gigi yang tinggal akar juga potensial menimbulkan bau mulut. Makanya, lebih baik dicabutkan saja. Jangan lupa, kalau yang dicabutkan itu kebetulan gigi bagian bawah, harus segera diisi dengan gigi palsu, agar tidak kosong. Sebab, jika gigi bagian bawah dibiarkan kosong, pasti gigi bagian atasnya akan melorot.

Bau mulut juga disebabkan gigi yang berkarang. Karang gigi itu biasanya berwarna kuning atau keruh, dan tidak bisa dibersihkan dengan sikat gigi. Karang gigi hanya bisa dibersihkan dengan alat khusus oleh dokter gigi.

Silakan segera temukan dokter gigi yang cocok buat Anda, masalah bau mulut akan lekas teratasi. Kelihatannya sepele, namun banyak orang mengidap masalah bau mulut akut karena kurang teliti dengan perawatan gigi. Gosok gigi sehari berulang kali sekalipun tidak menolong keadaan, selagi masih ada gigi yang berlubang, tinggal akarnya, atau malah penuh karang.

Yang penting lagi diperhatikan adalah masalah bau badan. Kita tidak boleh abai dengan ini, utamanya perempuan. Karena, biasanya, perempuan lebih potensial terjangkiti masalah bau badan ketimbang lelaki, meski tidak selalu.

Solusi untuk masalah bau badan ialah dengan deodoran. Pakailah deodoran pilihan Anda. Yang mau alami, bisa pakai batu tawas. Di pasar, banyak. Murah, namun sangat efektif mencegah masalah bau badan. Setelah ketiak diolesi dengan deodoran atau batu tawas, silakan ditambah dengan parfum di pakaian.

Eh, perempuan boleh kok pakai parfum. Asal aromanya yang kalem-kalem saja dan jangan berlebihan. Setiap kita, harus tahu kondisi diri sendiri. Masalah bau tidaklah sama. Ada yang bau mulut, yang lainnya mungkin bermasalah dengan bau badan, bau kaki, bau rambut, dan semisalnya. Yang paling tahu harus yang bersangkutan, berdasarkan teguran atau peringatan dari orang-orang terdekat, misalnya. Jadi, kalau diingatkan bahwa ada yang bau dari badan atau tubuh kita, sebaiknya jangan marah. Segera kita respons dengan upaya solutif. Syukur masih ada yang mau mengingatkan.

Masalah bau jelas menyangkut kebersihan. Sementara, Islam sangat memerhatikan kebersihan. Kebersihan dikatakan sebagian dari iman. Dalam surah At-Taubah/9: 108, juga jelas ditegaskan bahwa "...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."

Kemudian, dalam surah Al-Muddatstsir/74: 4, yang merupakan titah dimulainya dakwah oleh Rasulullah, Allah tegas memerintahkan beliau, "...Dan pakaianmu, bersihkanlah." Para mufasir menjelaskan bahwa perintah itu dimaksudkan supaya Rasulullah membersihkan pakaian dari segala kotoran dan najis. Kebersihan lahir adalah bagian dari kebersihan batin.

Dan, tentu saja perintah untuk bersih lebih kuat lagi ketika kita hendak ke masjid. "Wahai anak Adam," tegas Allah dalam surah Al-A'raf/7: 31. "Pakailah pakaian kalian yang indah setiap kalian memasuki masjid." Pakaian yang indah (az-zinah) tidak harus pakaian yang baru. Minimal bersih, rapi, dan tidak bau keringat.

Jangan sampai pahala ibadah kita berkurang, atau bahkan sama sekali hilang, gara-gara bau diri kita menyebabkan orang lain di kanan-kiri seakan mau pingsan. Waduh. Kok saya ngomong panjang lebar soal begini. Jangan-jangan selama ini saya sendiri termasuk yang punya bau mengganggu, hanya saja tidak merasa, karena belum ada orang yang secara langsung mengeluh atau mengadu.

Oleh : M Husnaini

Hidup Untuk Berbuat, Bukan Mendapat



Prestasi terbaik kita bukan menjadi apa atau memiliki apa, melainkan kita mampu berbuat apa untuk sesama. Kedudukan dan kekayaan itu tidak terlalu penting bagi tetangga, kolega, bahkan keluarga kita. Yang terasakan hanya sejauh mana manfaat kita buat hidup mereka.

Konsep Islam, manusia yang paling mulia bukan yang paling pakar ilmunya, paling tinggi kedudukannya, paling banyak hartanya, apalagi sekadar paling keren tampangnya. Bukan, sama sekali. Allah menyatakan dalam surah Al-Hujurat/49:13 bahwa manusia yang paling mulia di antara kita adalah manusia yang paling bertakwa.

Siapa orang bertakwa? Di antara ciri-cirinya dijelaskan dalam surah Ali Imran/3: 134-135, ialah bersedia menginfakkan harta di waktu lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, mau memaafkan kesalahan orang lain, dan segera ingat kemudian tobat ketika melakukan dosa dan maksiat.

Terlihat jelas bahwa ciri menonjol orang bertakwa adalah berakhlak mulia kepada sesama. Orang bertakwa senantiasa siap berbuat, dan bukan semata-mata ingin mendapat. Tidak heran apabila latihan membentuk pribadi takwa adalah dengan puasa, yang intinya mengendalikan. Dengan mengendalikan keinginan, kita dapat memahami makna penderitaan.

Namun, fakta membuktikan bahwa mengendalikan jauh lebih sulit ketimbang melampiaskan. "Sebaik-baik manusia," tandas Rasulullah, "adalah yang paling mulia akhlaknya dan paling bermanfaat bagi sesama." Kita baru dapat memiliki akhlak mulia dan memberi manfaat bagi sesama ketika kita berhasil mengendalikan kepentingan diri sendiri.

Ya, altruisme baru muncul manakala kita sukses mengubur egoisme. Tidak ada akhlak dan manfaat dari orang yang gemar melampiaskan. Melampiaskan itu identik dengan perilaku berlebihan, yang dalam urusan ibadah saja, dilarang. Dalam surah Al-Isra'/17: 29, Allah melarang sedekah yang dilakukan secara berlebihan.

Jika berlebihan dalam urusan kebaikan dilarang, apalagi dalam keburukan. Istilahnya adalah mubazir alias pemborosan, yang pelakunya dijuluki Allah, sebagaimana tertuang dalam surah Al-Isra'/17: 27 pula, sebagai saudara setan.

Akhirnya, tiada yang patut membikin hati kita lega dan bangga di dunia yang sebentar ini kecuali apabila kita telah berhasil berbuat dan menebar manfaat. Biarlah hanya sedikit yang kita bisa, sebatas posisi dan tugas kita, namun semoga upaya sederhana kita dicatat Allah sebagai amal jariah.

oleh : M Husnaini