Tampilkan postingan dengan label Seputar Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2018

Andaikan Ada Sekolah Khusus Imam Masjid dan Berikatan Dinas PNS

Masjid itu bukan hanya bangunan, tetapi tempat pembinaan umat. Yang membina tentu saja imamnya. Sayangnya kualitas para imam masjid ini memang masih banyak yang perlu dieveluasi.

Kalau mau punya kualitas imam masjid yang ideal,tidak bisa hanya dengan mencari. Tetapi yang harus dilakukan adalah membina, mengkader dan mulai dengan bibit unggul.


Mungkin perlu dibuka jenjang pendidikan yang serius mengkader para calon imam masjid Misalnya kita beri nama : Sekolah Tinggi Imam Masjid (STIM). Jenjangnya harus strata 1 alias S-1 di bidang perimaman masjid, program ikatan dinas, otomatis jadi PNS.

Perlunya ikatan dinas ini biar jangan sampai mubazzir. Sudah menghabiskan duit beasiswa, kok malah pada pindah kerjaan jadi sales, tukang kredit, jualan herbal, ngobyek jadi motivator, bawa jamaah haji umroh dan pekerjaan di luar pendidikannya. Jadi harus ikatan dinas dan PNS.

Tentu harus beasiswa full. Syarat diterima sebagai mahasiswa harus :

1. Sudah hafal 30 juz
2. Tajwid dan tilawahnya sudah sempurna
3. Bahasa Arab lancar lisan tulisan
4. Bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh nusantara hingga pensiun.

KURIKULUM :

1. Semua menggunakan kitab turats asli.
2. Mata kuliah meliputi Ilmu Al-Quran, Qiraat sab'ah, Rasam Utsmani, IlmuTafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, dst
3. Dosennya profesor dan doktor dalam luar negeri.

Sayangnya ini masih dalam impian. Apalagi terkait dengan ikatan dinas jadi PNS itu tidak mudah.

Buat para calon pejabat yang pada sibuk kampenye minta suara umat Islam, apa bisa Anda menjamin berdirinya STIM ini?

Oh iya, ngomong-ngomong jumlah masjid di Indonesia 800 ribu lho.

Oleh : Ahmad Sarwat

Senin, 02 April 2018

Larangan Bercadar dan Bersarung Saat Kuliah

Seorang mahasiswi pernah bertanya kepada saya, kenapa di kampus kita tidak ada yang memakai cadar pak? ya memang aturannya seperti itu. Seperti halnya kenapa yang laki-laki kalau kuliah gak ada yang bersarung? ya memang aturannya seperti itu. Jawab saya kepada mahasiswi yang disusul dengan pertanyaan " berarti kampus telah merampas haknya mahasiswa dalam mengekspresikan kebebasan beragama pak?" jelas. Kampus banyak merampas kebebasan siapa pun yang masuk di dalamnya dan menjadi bagian dari kampus. Misalnya dalam menata jadwal kuliah, gak ada kampus yang menghubungi mahasiswa trus bertanya apakah anda bisa kuliah dihari ini jam sekian sampai sekian?. Lantas, solusinya bagaimana pak? tanya mahasiswi. Ikuti aturan main kampus atau keluar cari kampus yang sesuai keinginan kita.



Apakah istri bapak bercadar? tanya mahasiswa yang lain. Tidak, dan tidak akan saya izinkan bercadar. Karena dalam hal ini, saya dengan sadar dan penuh pertimbangan memilih pendapat sebagian ulama' Malikiyah yang menganggap bercadar adalah berlebihan sehingga makruh. Tetapi tentu saya tetap menghargai mereka yang mewajibkan atau menyunnahkan bercadar. Pantang bagi saya menghujat mereka yang bersemangat untuk beragama sesempurna mungkin (menurut keyakinannya) itu. Tapi silakan saja kalau ada yang mau mencemooh keputusan saya yang melarang istri saya bercadar, bila itu memang mendatangkan kepuasan.

Jika hari ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang mahasiswi bercadar, maka silakan diikuti, atau pindah ke kampus lain bila lobi baik-baik untuk mengubah keputusan pihak kampus sudah gagal. Bukan hal bijak  membesar-besarkan ikhtilaf fiqhiyah untuk membangkitkan sentimen negatif. Kampus melakukan hal tersebut tentu sudah melalui berbagai kajian dan prosedur, dalam policy making azas maslahah 'ammah pasti dikaji dengan teliti.

Betapa banyak aturan kampus yang menyebalkan dan merenggut hak-hak personal. Mulai dari jadwal kuliah yang tak pernah nanya persetujuan mahasiswa hingga aturan ribet seperti larangan pakai jeans, kaos oblong, rambut panjang bagi laki-laki dan lainnya. Tambah lagi aturan yang menyakitkan santri NU adalah ketika kampus melarang sarungan. Padahal sarung itu pakaian keseharian santri NU sekaligus identitas ke-NU-an saya.  Tapi ya bagaimana lagi? Kalau saya ingin di kampus itu ya saya ikuti saja. 

Hal yang sama saya alami ketika naik bis atau kereta ke luar kota. Sopir dan masinis tampaknya tak mau tahu kalau saya seorang muslim yang harus shalat tepat waktu. Tak ada satupun yang berhenti di masjid ketika panggilan shalat dikumandangkan.  Apakah saya harus mengajukan somasi pada perusahaan jasa angkutan? Hanya orang gila yang melakukan itu. Kalau saya sama sekali tak mau kompromi dengan mereka, maka saya punya pilihan untuk cari kendaraan lain yang bisa berhenti kapanpun saya merasa wajib berhenti. Karena semua merupakan pilihan, dan setiap pilihan punya konsekwensi sendiri.

Jadi, bagi para pemakai cadar yang gak mau diatur oleh kampus yang melarang mahasiswinya bercadar, silahkan keluar dan cari kampus yang membolehkan memakai cadar, atau anda tunduk pada aturan dengan melepas cadar anda sebagai pilihan terhadap kebijakan yang dibuat (policy making) berdasar maslahah 'ammah (kebaikan universal).

Minggu, 25 Februari 2018

Yuk, Menganalisa Gerakan Salafi Modern


✍ Oleh: MA.

SETELAH kami membaca & mengkaji semua literatur yang ada mengenai gerakan “Salafi” modern, kami menyimpulkan bahwa harus dibedakan dulu antara Salafi sebagai sebuah manhaj dakwah (kaum revivalis) dengan Salafi modern sebagai sebuah Sekte (aliran sempalan) yang merupakan bagian dari agenda politik internasional.

Begini, Salafi sebagai sebuah manhaj dakwah ialah mereka yang melakukan gerakan kembali kepada pemurnian serta anti kemusyrikan, kekufuran, dan tahayyul. gerakan keagamaan yang menggaungkan dakwah Tauhid dan Sunnah serta menjadikan Syariah Islamiyyah sebagai sistem kehidupan. tokohnya yaitu AL-IMAM IBNU TAIMIYYAH kemudian diteruskan oleh Ulama revolusioner ber-mazhab Hanbali di jazirah arab bernama SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AT-TAMIMI (sebagaimana yang dikatakan Al-Habib Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Rahimahullah dalam kitabnya Mafahim Tajid An-Tushohhah).

Di indonesia, gerakan ini sudah muncul di zaman Tuanku Imam Bonjol, yang kita kenal dengan sebutan Kaum Paderi. Lalu selanjutnya dipelopori oleh ormas Muhammadiyyah-nya KH.Ahmad Dahlan, PERSIS-nya A.Hassan, dan Al-Irsyad nya Syaikh Ahmad Surkati. lalu dikemudian hari dianjutkan misi itu diantaranya oleh Buya Muhammad Natsir dan Buya Hamka. tak berbeda dengan NU, jika NU mendakwahkan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah secara kultural (Syafi’iyyah sebagai mazhab fiqihnya), maka gerakan salafiyyah mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara revival (Tauhid, Sunnah, dan Jihad sebagai kajian utamanya).

Adapun ‘Salafi’ modern dalam artian sekte (aliran sempalan), maka benar bahwa ia merupakan gerakan politik murni. sekte ‘Salafi’ modern yang kini mendominasi negeri-negeri kaum muslimin (termasuk indonesia) sejatinya ialah implementasi dari mazhab murji-ah gaya baru yang dikemas dengan doktrin “kembali kepada al-qur’an & as-sunnah”. singkat kata, GERAKAN SALAFI MODERN ADALAH CIPTAAN BARAT YANG KEMUDIAN DIPELIHARA OLEH REZIM-REZIM PENGUASA ANTI ISLAM SEBAGAI LAWAN IKHWANUL MUSLIMIN (IM). ia sengaja diciptakan dan dipelihara oleh intelijen guna melawan militansi gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) disemua negeri-negeri muslim -termasuk indonesia- dalam rangka menjaga eksistensi negara-negara sekuler dengan menjadikan DE-RADIKALISASI sebagai isu utamannya.

Topik utama yang menjadi titik penting untuk dilemahkan oleh gerakan ‘Salafi’ modern ini adalah: AL-WALA’ WAL BARO ’, AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR, DAN JIHAD FII SABIILILLAH. tokoh ulama yang menjadi rujukan utama mereka diantaranya adalah ALI HASAN AL-HALABI dari Urdun/Yordan yang diangkat sebagai staf BNPT di Republik ini, sedangkan da’i-da’i Rodja sebagai fasilitatornya. Kendati di majelis ulama dan dewan fatwa kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan FATWA RESMI bahwa Ali Hasan Al-Halabi adalah pembawa PEMIKIRAN SESAT MURJI-AH.

Diakar rumput, mereka berhasil menciptakan konflik keagamaan dengan politik belah bambu; angkat yang satu dan injak yang lain. Diantaranya vonis bid’ah dan sesat kepada semua elemen muslim yang tidak sejalan dengan pemahamannya. memvonis kalangan lain yang mengkritik pemerintah dengan sebutan “hizbiyyah”, “khawarij”, “anjing neraka”, dan lain sebagainya, menyebut persatuan ummat dengan sebutan buruk yang amat menyakitkan: “PERSATUAN KEBUN BINATANG”. dsb.

Ustad Farid Nu’man Hasan menyebut mereka “Sholafy” (صلفي) yang artinya tukang bual/tukang kibul. Ustad Harman Tajang,Lc.M.Hi menyebut mereka “Talafi” (تلفي) yang artinya kaum perusak. para alumni 212 menyebut mereka “bonglaf” yang artinya “kecebong nyalaf”. Disebut dengan julukan-julukan demikian mereka tak terima, mereka kejang-kejang bagaikan kepiting rebus. tetapi lisan mereka begitu gampang menjelek-jelekkan orang lain diluar kelompoknya, menghina, dan memberi gelaran-gelaran keji kepada sesama muslim. wajarlah jika pada akhirnya pondok pesantren mereka di aceh mau dibakar massa, kampus milik mereka di surabaya di kepung massa dan mau diruntuhkan, pengajian mereka di berbagai tempat di bubarkan warga, yang terakhir masjid milik mereka di bekukan izin pembangunannya oleh pemda setempat. apakah semua itu karena kegigihan mereka mendakwahkan KEBENARAN ? bukan.. tapi karena jeleknya akhlaq dan adab mereka baik dalam dakwah maupun muamalah kepada ummat islam lainnya ditengah masyarakat. demikianlah faktanya dan semoga bisa jadi pelajaran..

Allahu A’lam.

Rabu, 07 Februari 2018

Sudah Diduga, Mudzakarah MUI Kota Bogor Selesai Tanpa Kehadiran Ust. Yazid Jawaz



Salah satu ustadz salafi wahabi yang sedang populer, Ust. Jazid bin Abdul Qodir Jawaz sebelumnya telah diundang dalam acara mudzkaroh (diskusi) di ruang rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor, Jl. Padjajaran 10, Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 07 Februari 2018 (12 Jumadil Ula 1439 H). Hal ini terkait tulisan beliau dalam bukunya "Mulia Dengan Manhaj Salaf" telah menuduh sesat ulama ahlussunnah wal jama'ah yang mengikuti Imam Asy'ari (disebut Asy'ariyah) dan Imam Maturidi (disebut Maturidiyah). Padahal, kedua akidah tersebut dianut oleh mayoritas umat islam diseluruh dunia sebagai representasi akidah ahlussunnah wal jama'ah. 

Namun, acara yang sedianya dilaksanakan Rabu siang ini, dimulai pukul 13.00 WIB, ternyata tidak ditanggapi dengan baik oleh sang ustadz yang terkenal sebagai ustadz sunnah oleh para pengikutnya. Padahal mudzakaroh ini tidak lain hanya untuk tabayyun alias mengklarifikasi terkait tulisan-tulisan dan ceramah-caramah Ust. Jazid Jawas yang dianggap provokatif dan menyerang kelompok tertentu dengan tuduhan bid'ah dan sesat. Seandainya Ust. Jazid Jawas dapat hadir, tentu tuduhan-tuduhan bid'ah dan sesat tersebut bisa didiskusikan bersama. Sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih atas khilafiyah yang berkembang di masyarakat tanda embel-embel tuduhan bid'ah dan sesat. 


Hari ini, ramai beredar di media sosial, kabar yang menjelaskan perihal undangan mudzakaroh MUI Kota Bogor kepada Ust. Yazid Jawaz. Bahkan undangan mudzakaroh tersebut langsung ditandatangi oleh Ketua MUI Kota Bogor. Bagi kelompok yang selama ini dituduh berbuat bid'ah dan sesat oleh Ust. Yazid Jawas, tentu ini momen yang tepat untuk berdiskusi. Andai Ust. Yazid terbukti telah salah memahami amalan kelompok yang beliau tuduh, tentu beliau dituntut untuk meminta maaf kepada umat yang terlanjur sakit hati. 


Tapi sudah diduga, banyak netizen yang mengatakan Ust. Yazid tidak akan hadir dengan alasan "jangan berdebat dengan ahli bid'ah", sesuai dengan ceramah beliau yang beredar di Youtube. Sikap seperti inilah yang pernah disayangkan oleh Ust. Abdul Shomad. Beliau pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, Ust. Musthafa Umar sebagai perwakilan MUI Prov. Riau pernah mengundang baik-baik para ustadz salafi wahabi agar bisa diajak berdiskusi, dan jangan hanya murid-murid ustadz salafi wahabi saja yang pandai berkoar-koar di dunia maya. Nyatanya, para ustadz salafi wahabi tidak berani datang. 

Wallahu'Alam Bisshowab, semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk untuk mencari kebenaran. Amin...   

  





Jumat, 02 Februari 2018

Tragedi Pemukulan Terhadap KH. Umar Basri, Bahaya Laten Intoleransi

Muhasabah Kebangsaan

BAHAYA LATEN INTOLERANSI
Al-Zastrouw



Tragedi pemukulan terhadap KH. Umar Basri (ajengan Emon) saat melakukan dzikir di masjid Al-Hidayah, masjid pesantren yg diasuh sang ajengan, mengingatkan saya pada dua kejadian penting beberapa tahun lalu.

Pertama, peristiwa pengusiran Gus Dur saat memberikan ceramah pada acara diskusi di Purwakarta. Saat sedang memberikan ceramah tiba2 datang sekelompok orang berseragam putih yang secara tegas mengaku dari FPI membubarkan acara tersebut dengan cara2 yg kasar dan tak beradab. Hujatan, caci maki dan kata2 kotor ditujukan pada Gus Dur.

Hampir saja terjadi bentrok dan konflik horizontal, karena pada saat itu para Banser dan kaum muda NU sdh siap melakukan serangan balasan. Tapi dengan tegas Gus Dur justru melarang.

Pada saat itu tak ada tudingan FPI membubarkan pengajian, tak ada tuduhan kriminalisasi ulama meski yg dibubarkan adalah majlis Ilmu dan yg dilarang bicara adalah ulama besar yg sdh diakui dunia. Juga tak ada kegaduhan gerakan bela ulama dan Islam dengan demo berjilid2

Bandingkan dg kegaduhan yg terjadi saat ini ketika seorang pembicara agama diminta membuat pernyataan setia pada NKRI seperti yg terjadi pd kasus Felix dan Ustad Abdus Shomad, seolah2 terjadi pelarangan pengajian dan pelecehan ulama. Padahal mereka tdk dilarang kasih pengajian dan badannya juga tdk tersentuh sedikitpun, tapi berita yg tersebar seolah telah terjadi pelecehan ulama, penistaan Islam dan sejenisnya.

Kegaduhan peperti ini sama sekali tidak terlihat saat ajengan Emon dianiaya secara fisik bahkan sampai berdarah-darah di tempat yg disakralkan (masjid), bukan di hotel atau bandara, dan saat melakukan ibadah dzikir bukan saat memberikan provokasi yg membakar emosi ummat. Kelompok yg pernah mengusir Gus Dur ini diam, cep klakep tanpa ada komentar apalagi reaksi.

Terus terang, melihat reaksi kaum daster ini langsung mengingatkan saya pada hubungan antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Ayah beliau adalah santri Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yg juga kakek Gus Dur. Ini menunjukkan ada kesamaan genealogi sosiologis dan ideologis antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Kesamaan ini yg membuat hubungan emosional antara beliau berdua menjadi dekat. Hal itu bisa menimbulkan asumsi bahwa ajengan Emon adalah sama atau bagian dari Gus Dur sehingga kelompok2 yg dulu membenci dan mengusir Gus Dur akan merasa tidak perlu simpati apalagi membela. Mereka menganggap beliau bukan ulama sebagaimana mereka menganggap Gus Dur sebagai kaum liberal, yg layak diusir dan dicaci maki. Dengan cara pandang ini sangat bisa dipahami jika kelompok2 yg selama ini teriak2 bela ulama dan Islam diam dan tak bereaksi terhadap kasus penganiayaan yg menimpa ajengan Emon.

Kedua, kasus ini mengingatkan saya pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari issu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kyai2 kampung dan guru2 ngaji warga NU. Berdasar data tim pencari fakta (TPF) PWNU Jatim, korban pembantaian Banyuwangi ini ada 147 orang, bahkan laporan LSM Kompak Banyuwangi mencapai 174 orang.

Saya teringat pada tragedi Banyuwangi karena ada beberapa kesamaan antara kasus Banyuwangi dengan Cicalengka; pertama, sasarannya kyai kampung NU; kedua, terjadi saat menjelang event politik bertensi tinggi, ketiga; pelaku yg tertangkap selalu diindikasikan menglami gangguan jiwa, (bahkan ada yg lgs bunuh diri) sehingga sulit dilacak jejak dan motifnya. Keempat, menjadikan PKI sebagai kambing hitam pelaku pembantaian ulama.

Pada kasus pengusiran Gus Dur kita bisa melihat bagaimana kelompok2 intoleran menjadi ujung tombak untuk melawan ulama yg mencoba merajut keutuhan bangsa, konsisten pada Pancasila sbg perjanjian luhur bangsa. Kaum intoleran menganggap ulama seperti ini sebagai ulama liberal, agen zionis dan tidak membela Islam sehingga layak dihujat, diusir dan dicaci maki.

Meskipun mengaku menerima Pancasila, namun mereka menafsirkannya secara sektarian dan eksklusif, sehingga memberangus dan menegasikan keberagaman yg ada. Dan ini terlihat jelas dalam perilaku politik mereka yg radikal dan intoleran. Dalam kasus Cicalengka, indikasi pelaku sebagai bagian dari kelompok ini terlihat jelas dalam perkataan dan sikap pelaku sebelum melakukan pemukulan (sebagaimana disebutkan dalam kronologi yg beredar di medsos). Peristiwa ini mengindikasikan kaum intoleran semakin brutal dan agresif menyerang ulama dan kelompok teleran dan moderat.

Dalam kasus Banyuwangi saat itu, Gus Dur memahami peristiwa kelam itu sebagai upaya memancing emosi kaum Nahdhiyin agar masuk dalam pusaran konflik horizontal sehingga terjadi kekacauan. Oleh karenanya Gus Dur menahan agar ummat NU tdk terpancing. Dalam situasi ketegangan politik yg makin meningkat seperti saat ini, bisa jadi berbagai kepentingan sedang bermain memanfaatkan situasi yang ada.

Melihat pola dan modus yg terjadi serta mencermati genealogi ideologi dan sosialogi kelompok2 yang menggunakan ayat dan simbol agama dalam gerakan mereka, bisa dikatakan bahwa gerakan kaum intoleran yg hendak memecah keutuhan bangsa masih menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa. Upaya menghancurkan Pancasila masih dilakukan dg segala cara.

Jika merujuk pada referensi sejarah kebangsaan, situasi seperti sekarang ini mirip dengan suasana jelang peristiwa pemberontakan 65, ketika rakyat digiring dalam suasana konflik atas nama revolusi. Saat ini rakyat digiring menuju konflik dg menumbuhkan sikap intoleran menggunakan agitasi atas nama agama dan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi dengan kejernihan nalar dan hati agar tidak mudah hanyut dalam provokasi dan agitasi dalam segala bentuknya. Dulu kita waspada atas bahaya laten PKI, ada baiknya saat ini kita waspada terhadap bahaya laten intoleransi.***

El-Zastrouw

Inilah 7 Tahapan Menjadi Wahabi Takfiri

7 TAHAPAN MENJADI WAHABI TAKFIRI



Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.
Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mari kita lihat tahapan2-nya:
  1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu. Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.
  2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb. Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.
  3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi. Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.
  4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adaah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain. Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.
  5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.
  6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.
  7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.
  8. Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

Oh ya, apa antum punya teman seperti itu? atau jangan2 antum sendiri #eh. Sudah sampai pada tahapan mana? 
(Narko Sun)

Minggu, 28 Januari 2018

Jawaban Atas Tuduhan Tahlilan Menyebabkan Mayit Terancam Siksa Di Alam Kubur

Saya dari dulu tidak mudah percaya kalau ada Salafi-Wahabi membawa dalil ayat Qur'an atau hadis yang diarahkan untuk menyalahkan Amaliah kita. Sebab hampir pasti mereka hanya berdasarkan nafsunya, tidak merujuk kepada ulama ahli hadis yang sering dijadikan jargon mereka. Jadi hanya slogan saja.



Kali ini mereka membawa hadis tentang Tahlilan yang mereka golongkan meratapi Mayit yang menyebabkan ancaman siksaan di alam kubur. Saya cek hadisnya di Syarah Bukhari karya AlHafidz Ibnu Hajar dan Syarah Muslim karya Imam Nawawi, ternyata sangat panjang ulasan hadisnya, khilafiyah penafsiran hadisnya, jalur riwayat hadisnya, dan analisa hukumnya. Tapi bagi Wahabi langsung divonis sesuai nafsunya sebagai ancaman siksa kubur. Tulisan yang saya terima adalah dari Ust Abu Ibrahim Al Falimbani.
Mereka menampilkan:
- Hadis pertama:
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ»
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit disiksa sebab tangisan keluarganya kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim)
Jawaban:
Jika menangisi mayit dianggap ratapan yang menyebabkan mayit disiksa, lalu bagaimana dengan hadis berikut ini:
ﻋﻦ ﺃﺳﻤﺎء ﺑﻨﺖ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻲ اﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﻜﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Dari Asma binti Yazid, ia berkata bahwa ketika putra Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ibrahim, wafat. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis (HR Ibnu Majah. Syekh Albani menilainya sebagai hadis Hasan)
Apakah Rasulullah meratapi putranya? Berarti kita perlu menghimpun hadits-hadits lain sebelum membuat sebuah kesimpulan. Demikian pula dengan hadis yang berikutnya.
Hadis kedua:
ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ عنه ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺑﻤﺎ ﻧﻴﺢ ﻋﻠﻴﻪ»
Dari Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Mayit disiksa di kuburnya Karen apa yang diratapi kepadanya" (HR Bukhari)
Jawaban:
Cukup dijawab dengan penulisan bab oleh Imam Bukhari sendiri dalam kitab sahihnya:
ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻳﻌﺬﺏ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺒﻌﺾ ﺑﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ» ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﺡ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻪ "
Bab sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa mayit disiksa sebab tangisan sebagian keluarganya kepadanya. JIKA RATAPAN ITU ADALAH BAGIAN DARI KEBIASAANNYA.
Jadi menurut Hafidz Ad-Dunya, Imam Bukhari, tidak semua ratapan menjadi sebab adanya siksa kubur! Jadi kelihatan kalau Wahabi bertentangan dengan Imam ahli hadis!
Dari sinilah Imam Nawawi berkata:
ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﺘﺄﻭﻟﻬﺎ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺻﻰ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻨﺎﺡ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻨﻔﺬﺕ ﻭﺻﻴﺘﻪ ﻓﻬﺬا ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﻮﺣﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻣﻨﺴﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﺄﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻧﺎﺣﻮا ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺻﻴﺔ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﻌﺬﺏ ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﺰﺭ ﻭاﺯﺭﺓ ﻭﺯﺭ ﺃﺧﺮﻯ ﻗﺎﻟﻮا ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻌﺮﺏ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻃﺮﻓﺔ ﺑﻦ اﻟﻌﺒﺪ : ﺇﺫا ﻣﺖ ﻓﺎﻧﻌﻴﻨﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭﺷﻘﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﻴﺐ ﻳﺎ اﺑﻨﺔ ﻣﻌﺒﺪ ...
Ulama beda pendapat tentang hadits-hadits ini. MAYORITAS ulama mengarahkan pada mayit yang berwasiat agar ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Lalu wasiat itu dijalankan. Maka mayit ini disiksa karena tangisan dan ratapan keluarganya. Karena dialah penyebabnya dan disandarkan kepada dia.
Ulama berkata bahwa jika ada orang yang menangisi mayit dan meratapinya tanpa wasiat, maka ia tidak disiksa. Sebab firman Allah yang artinya: "Tidaklah satu jiwa menanggung dosa jiwa yang lain." Mereka berkata: Diantara kebiasaan orang Arab adalah wasiat untuk ratapan. Diantara contoh adalah syair Tharfah bin Abd [Bahar Thawil]:
"Jika aku mati maka ratapilah aku dengan pujian yang ada pada diriku. Sobeklah pakaianmu untuk ku wahai putri Ma'bad" (Syarah Sahih Muslim 6/228)
Justru tulisan ustadz Wahabi diatas adalah bentuk inkonsistensi mereka pada keyakinan bahwa orang hidup tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mayit, karena amalnya sudah putus. Tapi giliran ada dalil yang mereka anggap menguntungkan, kontan saja mereka percaya itu sampai kepada mayit karena berupa siksaan bagi orang yang melakukan Tahlilan.
Secara lebih luas lagi, Amirul Mukminin Fil Hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, merinci banyak pendapat dari para ulama. Diantaranya:
ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺃﻥ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺬﻧﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺻﻼ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ
Diantara para ulama ada yang menakwil bahwa ratapan sebagai siksa kubur adalah tertentu pada orang kafir. Sebab orang Mukmin tidak disiksa lantaran dosa orang lain sama sekali. Ini sangat jelas dari riwayat Ibnu Abbas dari Aisyah. (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/154)
Yang dimaksud oleh kutipan Imam Ibnu Hajar adalah:
عن ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻤﺎ ﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻳﺒﻜﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻴﺒﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﻟﺘﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻫﺎ»
Aisyah, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, berkata: "Rasulullah berjalan berjumpa dengan (mayit) Yahudi perempuan yang ditangisi oleh keluarganya. Nabi bersabda: "Mereka menangisi kepergiannya, dan ia disiksa di kuburnya" (HR Bukhari)
Bersambung. In sya Allah....
Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Senin, 01 Januari 2018

Mengapa Mereka Membenci NU dan Kyai-Kyai NU?


Pertanyaan ini terus menggelitik pikiran. Sependek yang saya tahu, NU tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti caranya dalam beragama. Sejak awal NU justru cenderung lebih bertahan. Jadi, mengapa mereka benci?

Setidaknya kebencian itu saya lihat menguat sejak awal era Reformasi 20 tahun lalu. Ketika itu Gus Dur dihujat habis-habisan. Keterbatasan penglihatan beliau dijadikan olok-olokan.

Lalu Said Aqil Siradj dicaci tak karuan. Apalagi di era internet seperti sekarang, cacian tersebut viral melalui media sosial. Chat kebencian terhadap beliau melalui WA grup menyebar hingga ke pedesaan.

Melihat fenomena ini, sulit bagi kita menganggapnya sebagai fenomena alamiah semata. Tidak perlu intelejen untuk menyimak betapa kebencian terhadap NU dan kyai-kyai NU berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pertanyaannya, siapa yang menggerakannya?

Secara ideologis, lawan NU telah kita ketahui. Kalangan Islam modernis yang pada masa lalu berafiliasi dengan Masyumi tidak pernah rela NU berpisah dari mereka. Kalangan yang selalu memimpikan terwujudnya persatuan Islam ini menganggap NU adalah kerikil dalam sepatu.

Padahal, diulang sekali lagi, NU tidak pernah menyerang cara keberagamaan kelompok di luar mereka. Yang terjadi justru sebaliknya. NU didirikan sebagai bentuk pertahanan karena serangan pihak luar terhadap tradisi mereka.

Pada masa lalu, corak tradisionalis NU dipoyok sebagai kampungan dan terbelakang. Istilah kaum sarungan pada awalnya berkonotasi merendahkan. Di dunia akademis, kesan ini masih terasa.

Sekarang NU mengalami transformasi luar biasa. Corak tradisionalis yang disematkan kepadanya justru menimbulkan kebanggaan. Dengan tradisionalismenya NU mampu merespons perubahan dengan elegan. Hal ini bisa disaksikan baik di lapangan keagamaan maupun kenegaraan.

Barangkali mereka yang membenci NU dan kyai-kyai NU tersebut iri. Sementara komunitas kaum sarungan itu terlihat rileks menanggapi perubahan zaman, mereka hanya bisa marah-marah di pojokan peradaban. Mereka benci karena NU dan kyai-kyai NU merintangi mimpi mereka untuk kembali ke Abad Pertengahan.

Kamis, 28 Desember 2017

Ustadz Abdul Shomad Dan Misteri Siklus 100 Tahun Sang Pembaharu



Saya hormat dan angkat topi pada KH Abdul Somad. Saya amati berkali-kali, ternyata ulama muda asal Riau ini adalah ulama muda yang selama ini saya cari-cari. Beliau sama sekali bukan representasi dari dai-dai muda yang marak beraksi di televisi, yang minim pengetahuan agamanya. Beliaulah, di mata saya, ahlus shidqi wal wafaa. Di jajaran ulama yang berpengetahuan sejajar, KH Abdul Somad saya yakin tetap punya kharisma tersendiri. Sebab ketika selama ini saya ketahui banyak ahlul ilmi yang memilih duduk mengajar di majlis-majlis ilmu dan lebih jauh menulis buku, ulama muda lulusan Mesir dan Maroko ini juga menghafal dan menulis kitab, bahkan ia bisa tampil sebagai orator yang memukau. Tata bahasa dan penguasaan retorikanya sangat baik, sehingga khutbahnya terasa sederhana, namun mendalam. 

Sesekali memang terkesan eksplosif, namun karena terbingkai dalam argumentasi ilmiah yang kokoh, maka justru kekuatan beliau sebagai ulama muncul. Ulama sejati pasti akan menemukan jalan yang berat. Terlihat bagaimana KH Abdul Somad mulai mendapatkan cibiran dan hinaan di media sosial. Ini tentu belum seberapa dibanding perjuangan para ulama terdahulu. Saya kagum pada ulama muda ini, sebab beliau menguasai ilmu-ilmu yang dulu saya gemari dan ingin sekali saya kuasai. Namun otak saya tak sampai. Daya hapal saya jauh di bawah beliau. Sebagai santri, saya bisa membayangkan bagaimana beliau dulu mempelajari ilmu-ilmu yang beliau kuasai kini. Pasti susah sekali. Payah sekali. Belum lagi pengorbanan beliau meninggalkan kemeriahan masa remaja dan memilih sunyi bersama kitab-kitab kuning adalah langkah yang berat, namun insya Allah ringan bagi yang khusyu dan khidmat. 

Di awal abad 18, peradaban Islam di seantero Melayu terkenang gagah perkasa. Kitab-kitab hukum Islam dan thariqat banyak lahir di tanah Melayu. Bahkan kitab-kitab sastra harum semerbak di Melayu masa itu. Kini Melayu tidak lagi tidur. Ia seperti sedang bangkit bersama KH Abdul Somad. Berdiri dari mimbar ke mimbar. Duduk dari satu majelis ke majelis lainnya. Ketahuilah, kini kita sedang hidup bersama seorang ulama yang oleh Imam Ghazali dikatakan muncul dalam siklus 100 tahunan. Kita bersyukur, di masa kita hidup kini, kita bisa bertemu dengan sosok itu. Sedih rasanya jika saya bayangkan KH Abdul Somad wafat hari ini, maka Indonesia harus menunggu 100 tahun lagi untuk mendapatkan penggantinya. BRAVO ULAMA MUDA!!! ULAMA PENUH SEMANGAT DAN KEBERANIAN!!! CERDAS DAN  LUGAS!!! SELAMAT MENJALANI AMANAH DAN SELAMAT MENJALANI HARI-HARI BERAT!!!
"Innash shalaata lakabiiratun illa 'alal khasyi'iin...."

Senin, 04 Desember 2017

Mengapa Salafi Sering Sejalan Dengan Kelompok Sekuler dan Liberal?

MEMBACA ARAH KOMUNITAS “SALAFI”; SIAPA MEMANFAATKAN SIAPA ?



📌 Fikiran orang cerdas pasti bertanya-tanya; mengapa dibanyak hal, “Salafi” sering sejalan dengan kelompok sekuler & liberal? terutama dalam masalah keummatan..

📌 Dalam menyikapi kebijakan presiden dan penistaan agama oleh Ahok misalnya; seakan koor membela kepemimpinan mereka betapa pun zhalimnya. ya, walaupun kita berharap tidak demikian dan tetap berupaya baik sangka dengan kawan-kawan “Salafy” ini (!?).

📌 Dalam menyikapi Rina Nose (artis Liberal) dan menyudutkan Ustad Abdush Shomad; si Artis di bela, sang Ustad di Bully.

📌 Dalam menyikapi aksi 212 baik yang lalu maupun yang sekarang, juga nyinyir.

📌 Sementara Metro tipu adalah medianya sekuler liberal, justru diberitakan akan menayangkan kajian salah satu da’i Salafi bernama Firanda Andirja (terlepas dari seringnya dia ditahdzir oleh Dzulqarnain, Luqman Ba'abduh, Muhammad As-Sewed, dll yang notabennya adalah sesama “salafi”)

📌 Jadi, apakah ini saling memanfaatkan ??

📌 Kenapa bukan media TV yang relatif netral, kenapa justru media TV yang dikenal anti Islam, pro sekuler-liberal, dan penyebar hoax?? Ada apa?

📌Apa karena punya kepentingan yang sama dan musuh bersama; yait MENGHANTAM GERAKAN ISLAM semacam simbiosis mutualisme ? Sehinga mereka bisa jadi kawan seiring sekata?

📌 Atau, mau direncanakan duet bareng bersama Prof.Dr.Muhammad Quraish Shihab yang menyatakan Jilbab itu tidak wajib dan Hartoyo si aktivis LGBT ?

📌 Atau......metro tipu punya siasat tertentu mendekati pilpres 2019 dengan memainkan politik belah bambu; angkat yang satu injak yang lain. Semoga saja tidak. Lalu, apa..?? 😊

📌 Memang ... di tengah anjloknya rating Metro tipu dan anjloknya rating da’i-da’i “Salafi” tertutup oleh naiknya rating Ustad Abdush Shomad yang melesat jauh walau sering dihina di medsos-medsosnya “salafi”, maka kerjasama keduanya menemukan momentumnya; karena senasib.!?? atau bagaimana?

📌 Ya, husnuzhon (berbaik sangka) tetaplah wajib. kita berharap semoga komunitas “Salafi” mau mengubah kebiasaannya menyendiri dan menjaga jarak dengan umat Islam; kecuali jika memang mereka sudah merasa BENAR SENDIRI, yang membuat kita teringat dengan anak cucu Dzulkhuwaisirah. Dan semoga Metrotivu setelah menayangkan ceramah Ustad Firanda Andirja segera berubah menjadi Metrosunnah mulai siang hari ini? 😉

Hanya Allah tang Tahu dan hanya Kepada-Nya kita mengadu.

🖋 Ustad Abu Afna Al-Batawiy.

Untuk Pecinta Ustadz Abdul Shomad, Beliau Bukan Malaikat Apalagi 'Tuhan'

USTAD ABDUS SHOMAD ITU BUKAN MALAIKAT, APALAGI ‘TUHAN’.
( Sebuah Surat Terbuka Untuk Para Pecinta Ustad Abdus Shomad )


✍ Oleh: Maaher At-Thuwailibi
Kami mencintai Ustad Abdus Shomad karena Allah..., sebab cinta yang menghubungkan kita sesama mukmin, membuat kita menggapai satu kedudukan di sisi Allah yang tidak dicapai hanya dengan mengandalkan amalan-amalan pribadi kita. Mencintai dan dicintai adalah fitrah semua manusia. Cinta itu bersih dan suci, tapi sayangnya tanpa sadar kita sendiri yang membuatnya ternodai.

Diantara prinsip yang tertanam ialah kami meyakini Allah maha tinggi bersemayam di atas ‘Arsy, tapi kami bisa duduk bersama dengan Ustad Abdus Shomad yang beraqidah Asy’ari. Kami mengenakan pakaian diatas mata kaki, tapi bisa makan semeja dengan Ustad Abdus Shomad yang bermazhab Syafi’i. kami tak setuju jika saudara-saudara NU di anggap sesat dan dibenci, walau kami sendiri di tuduh “wahabi”. Ah, sudah lah. habis waktu dan energi untuk mengurusi perbedaan yang tak berkesudahan, lebih baik ku merenung tuk mempersiapkan bekal menghadapi kematian dan mempersiapkan anak-anakku tuk menjadi pemimpin-pemimpin islam di masa mendatang.

Tak dipungkiri, naiknya rating Ustad Abus Shomad menurunkan rating da’i-da’i kondang lainnya yang sempat meramaikan jagad dakwah wal bil khusus “medsosiyyah wal youtubeyyah” (sebut saja Dr.Khalid Basalamah, Oemar Mita,Lc. dan Adi Hidayat,Lc.MA). demikianlah sifat medsos, gampang naik dan gampang tenggelam. iman manusia akan di uji, sebesar apakah kecintaanya kepada sosok guru agama atau juru dakwah; apakah kecintaannya sebesar kecintaannya kepada ilmu yang diajarkan atau kecintaannya itu hanya sebatas naik-tenggelamnya rating sang ustad di sosial media !?

Orang beriman, akan membangun cinta kepada sesama atas dasar kecintaannya kepada Allah. Bukan atas dasar kepentingan, cari perhatian, atau karena hawa nafsu. adapun orang munafiq (yang terdapat nifaq dalam hatinya) membangun cinta dan benci bukan karena Allah, maka kecintaan itu tidak akan membuahkan kecintaan Allah, justru akan mendatangkan kemurkaan-Nya.

Berlebihan memuji dan mencintai, biasanya akan berlebihan ketika membully dan mencaci maki. padahal ketahuilah wahai Akhi, Ustad Abdus Shomad itu adalah manusia. Manusia biasa yang takkan pernah luput dari silap dan dosa. Maka cintailah ia ala kadarnya dan bencilah ia ala kadarnya. Kecintaan kepada Ustad Abdus Shomad bukan berarti menafikan segala kritik yang diarahkan kepadanya (selama kritik itu objektif dan ilmiah), demikian pula kritik yang ditujukan pada beliau jangan sampai menafikan rasa cinta kepadanya sebagai makhluq Allah yang berharap surga.

Semakin lama kami mengamati, semakin bermunculan sikap-sikap yang berlebihan dan cenderung melampaui batas; kultus individu dan otokritik tanpa disadari mewabah dan tumbuh subur. (suka tidak suka kami harus sampaikan kebenaran secara terbuka. Karena dakwah itu bukan mencari muka manusia, tapi menyampaikan kebenaran walau pahit dirasa).

Akhi, kami mengkritik sebagian besar kawan-kawan “Salafi” diantara faktornya adalah sikap ‘ashobiyyah (fanatik buta) mereka pada guru-guru mereka; sikap berlebihan mereka terhadap ustad-ustad mereka yang mereka anggap sudah pasti benar dan yang lainnya salah semua. jika antum bersikap SAMA dengan mereka tatkala menyikapi sosok Ustad Abdus Shomad, maka apa bedanya antum dengan mereka ??

Kami membela sosok Ustad Abdus Shomad sesuai pada porsi dimana beliau pantas di bela. kami membela Ustad Abdus Shomad, bukan berarti mencampakkan sikap proporsional terhadapnya sebagai makhluq Allah yang tak suci tanpa dosa. ketika beliau di jatuhkan kehormatannya, di rusak nama baiknya, maka kami bangkit untuk membela ‘IZZAH & MARWAH tokoh agama. karena kecintaan kepada ulama adalah tanda adanya iman di dalam dada, dan sebagai tanggung jawab seorang mukmin yang membela kehormatan sudaranya. tetapi ketahuilah akhi, bukan berarti setiap yang datang dari Ustad Abdus Shomad adalah sudah pasti semuanya benar dan kritikan yang datang menghampirinya sudah pasti semua salah. Tidak! Ingat, dia adalah manusia yang berasal dari tanah. bukan makhluq tuhan yang di cipta dari cahaya.!

Jika demikian adanya sikap yang kita bangun, justru itu mencederai hati Ustad Abdus Shomad. karena sejatinya, ia ingin kita mencintai dirinya karena kebenaran. bukan mencintai kebenaran karena dirinya. kata Imam Syafi’i Rahimahullah, Apa-apa yang datang dariku jika bersesuaian dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka ambillah, jika tidak maka buanglah!”

Sebagai penutup, kami berikan contoh sederhana. jika sekiranya datang kritikan ilmiah terhadap Ustad Abdus Shomad, maka tak perlu anda berlomba-lomba mencari bantahannya, sibuk melapor ke sini dan ke sana, lalu bikin viral di sosial media. anda ini penuntut ilmu atau pemain sepak bola? Wallahi kami jadi muak juga lama-lama 😃

Jika ada tulisan -atau apapun itu- yang mengkritik Ustad Abdus Shomad atau ustad-ustad lainnya, maka liat kontennya, lihat isinya, lihat esensinya. jangan lihat penulisnya. Ada ungkapan:

انظر ما قيل ولا تنظر من قال
“Lihat apa isi yang dikatakannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya!”

Antipati terhadap sikap beragama atau manhaj dakwah sebagian besar kalangan “Salafi” bukan berarti setiap yang datang dari da’i-da’i Salafi semunya menjadi tak berarti. tetapi lihat isinya. jika isinya ilmiah (dalam batas debatable), maka bantah dengan ilmiah (itupun kalau anda bisa). kalau tidak bisa, ya diam. biarkan para ahli agama yang mengambil bagiannya. tugas anda dan saya adalah belajar agama, bukan menjadi “mufti” di dunia maya. Namun jika isinya provokatif, isinya propaganda, isinya melanggar batas etika, atau menjatuhkan kehormatan dan wibawa, atau mengandung tendensi pecah belah; baru KITA ANGKAT SUARA UNTUK MENGHADAPINYA. karena kezholiman tidak layak dibiarkan melengggang merusak persatuan.

Berulang kami katakan, bahwa berbeda tak mesti berpecah. tergantung bagaimana gaya kita dalam meng-ekspresikannya. oleh karenanya jangan buat perbedaan itu menjadi sumbu perpecahan. terbukti, kami BERBEDA dengan Ustad Abdus Shomad bisa duduk bareng, makan semeja, ngobrol semobil, saling memberi hadiah, dan merajut ukhuwah.

Kritik meng-kritik dan bantah-membantah bukanlah hal baru. ia merupakan hal biasa dalam sejarah para ulama dan hal yang biasa dalam khazanah keilmuan. tinggal bagaimana kita menyikapinya. Selama kritikan dan catatan-catatan itu masih dalam bingkai ILMIAH, maka jadikan itu sebagai bahan muthola’ah, khazanah islamiyyah, belajar agama, membaca dan menalaah, jangan hanya bikin heboh di facebook atau grup-grup WA.

Nas-alullah al-‘aafiyah wa salaamah.

Rabu, 29 November 2017

Ustadz Abdul Shomad Dimata Kaum Talafi

USTAD ABDUS SHOMAD DIMATA TALAFI.
Talafi itu apa ustad? 



Talafi itu sejenis binatang melata pemakan daging dan bangkai manusia. itulah Talafi.
=> Kata mereka (talafi), “Si Shomad itu mencela Sunnah dengan mengatakan jenggot seperti tusuk sate”.

Padahal, Ustad Abdus Shomad meng-ilustrasikan dirinya sendiri bahwa jika dirinya berjenggot, tumbuhnya jarang-jarang seperti tusuk sate. Jadi beliau bukan mencela syari’at berjenggot sebagaimana professor bau tanah yang kelebihan dosis itu. dalam video ceramahnya, dengan jelas Ustad Abdus Shomad mengatakan, “SIAPA YANG SUDAH BERJENGGOT MAKA BAGUS, BAIK, DAPAT PAHALA, IKUT SUNNAH. JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERJENGGOT DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA...”, dst.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Talafiyyun kaum perusak itu selalu dengan percaya diri mempertontonkan kualitasnya yang rendah di hadapan masyarakat; utamanya terkait dengan urusan keummatan. Wajar jika mereka bergandeng tangan dengan para pedagang virus ‘se-pi-lis’ di Indonesia (SI ZUHAIRI MISRAWI) yang dulu sempat mau dibunuh orang KKS karena mengatakan shalat lima waktu tidak wajib. mereka juga bergandeng tangan dengan ‘hamba’ si Ahok bernama YUSUF MUHAMMAD dalam membully Ustad Abdus Shomad dan membela si janda pesek pemelihara anjing. Tapi, kami tak heran...wong Komunis saja dianggap tidak kafir oleh mereka, maka wajar jika mereka membela si JANDA PESEK yang terindikasi mulhidah (atheis) itu.

Mengutip pernyataan Ummu Sumayyah As-Salafiyyah, “Kenapa orang-orang munafiq itu justru fokus ke pribadi Ustadz Abdul Shomad yang jujur mengatakan bahwa si Rina Nose memang pesek? Kalau mereka paham makna ayat Al-Qur’an bahwa manusia sebaik-baik ciptaan-Nya, maka pesek atau mancung tetaplah ciptaan terbaik-Nya. Yang menjadikannya jelek adalah akhlaqnya kepada ajaran Islam, dan kaum munafiq justru membela penghina syariat-Nya demi kepentingan dunianya yang sedikit, bukan membela karena alasan al-wala’ wal bara’ (keberpihakan dan permusuhan dengan landasan syariat-Nya). Kaum zindiq yang sok bijak!”
-selesai-

=> Kata Talafi, “apakah Rina Nose itu lebih buruk daripada Fir’aun dan si Shomad lebih baik dari musa?”

JAWABAN kami (Maaher At-Thuwailibi), Rina Nose itu tidak lebih baik dari Ustad Abdus Shomad dan begitupun sebaliknya Ustad Abdus Shomad tidak seburuk Rina Nose. Jadi, jika anda ingin membela si janda pesek pemelihara anjing itu, silahkan saja. tapi tak perlu mengajak kami untuk membully Ustad Abdus Shomad sedemikian rupa. karena bagaimanapun juga -dalam hal ini- kami lebih memilih membela tokoh agama daripada artis ‘pesek’ perusak moral generasi bangsa. 😊
Nas-alullah al-‘aafiyah wa salamah.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Kata Mereka, Sayyid Quthub Itu 'Bapak Terorisme' ?

KATANYA, SAYYID QUTHUB ITU “BAPAK TERORISME” !!?



Sayyid Quthub rahimahullah itu ORANG MESIR. Hidup di Mesir. Melihat realitas Mesir yang cenderung sekuler. Dia ingin MESIR ISLAMI, Mesir peradaban Islam, Mesir yang taqwa kepada Allah dan taat Rasul-Nya.

Dia sangat CEMBURU dengan nasib Islam. Dia marah melihat kemunduran dan kelemahan Muslim di Mesir. Dia teriak-teriak MEMBANGUNKAN orang, lewat kata-kata tajam, menukik, dan sastrawi.
Apa yang dibidik Sayyid Quthub, adalah keadaan di negeri negeri Muslim yang cenderung SEKULER, tidak berhukum Syariat, jauh dari sendi-sendi Islam. Dia tidak membidik Saudi yang relatif melaksanakan Syariat Islam.

KENAPA sebagian ulama Saudi suka pada pemikiran Sayyid Quthb? Karena, apa yang dicita-citakan Sayyid Quthub, sebagian SUDAH TERCAPAI DI SAUDI. Saudi bersendi Syariat Islam. Bukankah itu yang dituju oleh Sayyid Quthb?

Aneh betul para pembenci Sayyid Quthub itu? Apa sih maumu? Apa kamu suka kehidupan JAHILIYAH, jauh dari tuntunan Syariat Islam? Katakan sejujurnya! Kamu mati-matian mencela Sayyid Quthub, tapi berlebihan MEMUJI penguasa sekuler? Apa maumu?

Apa ulama-ulama Saudi (pembenci Sayyid Quthub) suka dengan SEKULARISME seperti terjadi di negeri-negeri Muslim? Kalau tidak suka, kenapa marah dengan cita-cita Sayyid Quthb? Kalau mereka suka sekularisme, terus apa perlunya berdalil seolah jadi yang paling Islami?

SANGAT ANEH... ngakunya pro Arab Saudi, tapi membenci cita-cita Sayyid Quthb rahimahullah.
Sayyid Quthub itu adalah seorang penulis, pemikir yang sangat jenius, sekaligus sastrawan Islam dari Al-Ikhwan. Mereka tidak pernah memberontak kepada rezim Mesir. Kalau bicara harus tahu fakta, biar tidak fitnah & merusak.

BEGINI ceritanya... Tahun 1948 Syaikh Hasan Al-Banna dan jamaah Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin) bergerak dari Mesir menuju Palestina. Mereka terjun ke medan Jihad melawan Zionis/Yahudi. Saat Jihad sedang bergolak, Raja Faruq menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang. Terpaksa Syaikh Hasan Al-Banna pulang bersama jamaahnya ke Mesir. Tak lama sesudah itu Syaikh Hasan Al-Banna ditembak oleh orang suruhan Raja Faruq. Beliau SYAHID in sya’ Allah.
SETELAH dibubarkan, jamaah Al-Ikhwan tercecer. Lalu ada kader-kader pejuang berusaha menumbuhkan kembali gerakan Al-Ikhwan ini. Salah satunya Syaikh Hasan Al-Hudaibi Rahimahullah. Juga Syaikhah Zainab Al-Ghazali Rahimahallah.

Di sisi lain terjadi PERUBAHAN POLITIK di Mesir. Kekuasaan Raja Faruq tumbang, dikudeta oleh Jamal Abdul Nasher. Dari kerajaan/monarkhi berubah menjadi republik. Namun kebijakannya sama, tetap menetapkan Al-Ikhwan sebagai ORGANISASI TERLARANG.

Saat itulah Sayyid Quthub masuk ke Al-Ikhwan dan menjadi “the rising star” pemikiran. Jelas rezim tahu itu. Walhasil, Sayyid Quthub dijebloskan ke penjara. Rezim akan membebaskan Sayyid Quthub asalkan dia mau mengucapkan kalimat: “Aku menolak Negara Islam, dan mendukung negara sekuler (ala Jamal Abdul Nasher dkk).” nah, tetapi Sayyid Quthub menolak, dan lebih memilih dihukum mati. Sebelum hukuman mati dilakukan, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz rahimahullah (mufti agung arab saudi saat itu) membela Sayyid Quthub dan menulis surat ke si durjana Jamal Abdul Nasher ini, agar hukuman mati dibatalkan. Si durjana itu tidak peduli. Sayyid Quthub tetap dihukum mati. Beliau syahid, in sya’ Allah.

Menetes air mata orang-orang beriman mendengar kejinya lisan maffia-maffia “berjubah sunnah” menteroriskan para pahlawan islam, tak terkecuali Asy-Syaikh Sayyid Quthub Rahimahullah yang disaksikan sejarah sebagai pejuang islam di mesir yang Syahid in sya Allah..
KOK ada ya manusia yang gemar memfitnah para PAHLAWAN ISLAM? Apa mereka itu sudah SIAP digugat Sayyid Quthub di akhirat nanti? Berjasa bagi Islam GAK ADA, tapi doyan memfitnah para ulama dan pejuang syari'at. Nas'alullah al-'afiyah.
*)Hati-hati atas isu-isu murahan.

*Ustad Abu Abdurrahman At-Thalibi*

Sayyid Quthub Dimata Ulama-Ulama Saudi

Abdurrahman Thayyib, da’i “sagaring” (salafi garis miring) surabaya mengatakan bahwa Sayyid Quthub adalah bapak terorisme dan radikalisme. Lalu, ia menyebutkan kitab karya Sayyid Quthub yang dianggapnya menyimpang, diantaranya Ma’alim Fii Thariq dan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an.
Bagaimana pandangan Ulama-ulama Saudi terhadap Sayyid Quthub Rahimahullah dan karya-karyanya serta bagaimana beliau dimata mereka?


=> Berkatalah Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud -anggota Hai’ah Kibaril Ulama kerajaan Saudi Arabia- dalam kitabnya Majmu’ Ar-Rasail wa Maqalat:

كتاب أخذ صاحبه ثمنه قتلاً نحسبه في سبيل الله بدافع من الروس الشيوعيين لجمال كما يعرف ذلك المعاصرون للقضية، وقامت بتوزيع هذا الكتاب جهات عديدة في المملكة، وخلال سنوات عديدة، وأهل هذه الجهات أهل علم ودعوة إلى الله،
“Kitab Ma’alim Fii Thariq karya Sayyid Quthub ini telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan MATI DI JALAN ALLAH karena menentang penguasa komunis Mesir Jamal Abdul Nasher, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal kitab tersebut telah disebarkan oleh banyak pihak dikerajaan Saudi sejak bertahun-tahun lamanya, dan mereka adalah para ahli ilmu dan para da’i ilallah...”

=> Mufti agung Kerajaan Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh, berkata:
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرةوحمية للإسلام ، والرجل له جهاد تعلمون أنه استشهد أو قتل شهيدا رحمه الله..
“Kitab Tafsir Fi Zhiilal Qur’an itu memiliki uslub (metode bahasa) yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh Sayyid Quthub menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan kalimat-kalimatnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para Nabi dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti kalimat-kalimatnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastra yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Zhilalil Qur’an) itu tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pelurusan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Sayyid Quthb) telah menulisnya dalam keadaan rasa ghirah (cemburu) dan cinta terhadap agama Islam. Dia adalah seorang laki-laki berjihad yang kalian ketahui dan dia telah mendapatkan kesyahidan atau dibunuh menjadi SYAHID Rahimahullah”.

=> Syaikh Hamud ‘Uqla Asy-Syu’aibi dalam Fatawa Asy-Syu’aibi berkata tentang Sayyid Quthub:
إن سيدا رحمه الله يعد في عصره علما من أعلام أصحاب منهج مقارعة الظالمين والكفر بهم ، ومن أفذاذ الدعاة إلى تعبيد الناس لربهم والدعوة إلى توحيد التحاكم إلى الله ، فلم يقض إلا مضاجع أعداء الله ورسوله كجمال عبدالناصر وأمثاله .. وما فرح أحد بقتله كما فرح أولئك. وسيد رحمه الله لا ندعي له العصمة من الخطأ، بل نقول إن له أخطاء ليس هذا مجال تفصيلها، ولكنها لا تخل بأصل دعوته ومنهجه، كما أن عند غيره من الأخطاء التي لم تقدح في منـزلتهم وعلى سبيل المثال ابن حجر والنووي وابن الجوزي وابن حزم، فهؤلاء لهم أخطاء في العقيدة إلا أن أخطاءهم لم تجعل أحدا من أبناء الأمة ولا أعلامها يمتـنع من الاستفادة منهم أو يهضمهم حقهم وينكر فضائلهم ، فهم أئمة إلا فيما أخطئوا فيه، وهذا الحال مع سيد رحمه الله فأخطاؤه لم تقدح في أصل منهجه ودعوته لتوحيد الحاكمية وتعبيد الناس لربهم.
“Pada masanya, Sayyid Quthub Rahimahullah menjadi salah seorang yang mengetahui manhaj yang mampu menggoncangkan kaum zhalim dan kekufuran yang ada pada diri mereka. Ia termasuk manusia yang paling bersemangat menyeru manusia agar menyembah Rabbnya dan mengajak untuk mentauhidkan hukum kepada hukum Allah Ta’ala. Tidak ada yang menentangnya kecuali sekumpulan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seperti Jamal Abdunll Nasher... Dan tidak ada manusia yang bahagia dengan terbunuhnya Sayyid Quthub sebagaimana kebahagiaan mereka.

Sayyid Quthub Rahimahullah tidak pernah mengklaim dirinya ma’shum dari kesalahan, bahkan kami katakan bahwa Beliau punya kesalahan dan bukan di sini tempatnya untuk membahasanya. Tetapi kesahalannya itu tidaklah menodai dasar-dasar da’wah dan manhajnya. Sebagaimana Ulama yang lainnya pun memiliki kesalahan yang tidak menodai kedudukan mereka, contohnya: Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnul Jauzi, dan Ibnu Hazm. Mereka semua memiliki kesalahan dalam beberapa perkara, tetapi tidaklah itu menghalangi kaum muslimin dan ulamanya untuk mengambil manfaat dari mereka, merampas hak mereka, dan mengingkari keutamaan mereka. Maka, mereka adalah para imam walau mereka memiliki kesalahan. Dan keadaan Sayyid Quthb juga demikian bersama kesalahan-kesalahannya, bahwa itu tidaklah menodai dasar-dasar manhajnya, dan da’wahnya kepada manusia untuk meng-Esakan Al-Hakimiyah dan peribadatan kepada Rabb mereka”.
-selesai-

Demikianlah berberapa persaksian Para Ulama Saudi , ulama sagarus (salafi garis lurus) terhadap ASY-YAHID -in sya’ Allah- SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH. berbeda dengan isu murahan dan obral kecaman dari para penjilat itu.

Semoga kita dikumpulkan bersama para syuhada’ di dalam Jannah. Aamiin..

Oleh : Ustad Farid Nukman Hasan.

Mari Kita Kenali Ciri-Ciri Unik Kaum Talafi

CIRI-CIRI UNIK KAUM TALAFI, MARI KITA KENALI...


  1. Kalau anda ngaji di halaqoh mereka, maka anda dianggap saudara mereka. Kalau anda ngaji di halaqoh ustad yang bukan idola mereka, maka anda dianggap bukan saudara mereka. sebaliknya, kalau anda ngaji dengan ustad mereka, maka anda di anggap Ahlus Sunnah. Kalau anda ngaji dengan selain ustad "sesembahan" mereka, maka anda dianggap Hizbiyyah.
  2. Kalau anda berjumpa atau berpapasan dengan mereka di bandara, di pesawat, atau di masjid misalnya, maka wajah mereka akan langsung berubah wujud seperti “genderuwo”, wajah yang menyeramkan dan menakutkan. Tidak terlukis di wajah mereka senyum yang bersahaja. Bahkan tidak jarang, bila anda mengucapkan salam dengan mereka, mereka tidak akan menjawab salam anda atau buang muka. Alasannya, karena anda dianggap “Ahli Bid'ah”, “dholalah”, dan “calon neraka”.
  3. Tidak menerima adanya permasalahan khilafiyah/Ijtihadiyyah dalam agama yang masih diperselisihkan para ulama. Namun, bila sudah direkomendasi oleh ustadz idolanya, itulah yang paling shahih menurutnya dan tidak boleh dibantah. jika ada yang membantah pendapat ustadznya, maka langsung di anggap “sesat” dan “syubhat”. yang paling benar adalah yang disampaikan ustadznya saja. Singkat kata, selama kebenaran itu bukan datang dari ustadz/tokoh idolanya, maka wajib ditolak, di ingkari. Bila perlu orang yang menyampaikan itu di hina, di tahdzir, di bully, di vonis sebagai ‘sesat’, ‘ahli bid’ah’, ‘khawarij’, dan ‘ahli neraka’.
  4. Bila anda meluruskan kesalahan berfikir mereka (secara ilmiah dan argumentatif) maka anda akan di tahdzir, di hujat, di caci maki, di bongkar aib pribadi anda, di cari-cari kesalahan pribadi anda yang tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah dan manhaj, di sebar luaskan dosa-dosa anda di masa lalu, dst.
  5. Paling hobi mengkritik ulama dan tokoh-tokoh ummat; tetapi ketika ustad idolanya dikritik, ia teriak-teriak sambil jungkir-balik seperti sundel bolong yang lagi salto. Intinya, siapa saja yang hendak mengkritik ustadnya, harus datang ke rumahnya langsung, harus tabayyun, tidak boleh disebar di sosmed. Tetapi kalau mengkritik ustadz/da’i selain dari kelompoknya bebas saja tanpa tabayyun, bongkar aibnya, jatuhkan kehormatannya, rusak nama baiknya, sebarkan di mana-mana, bebas. Semua itu dilakukan atas nama “menjaga agama” alias "tahdzir".

Demikianlah 5 ciri unik kaum talafi yang patut anda ketahui, agar anda dapat membedakan mana orang Salafi (pemgikutbsalaf sejati) dan mana orang Talafi (perusak)
Wallahu 'Aliimu A'lam Bis-Showaab.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Inilah Tiga Ajaran Yang Membuat Umat islam Dimusuhi Semua Golongan

DI NEGERI Hindu/hindia, tidak ada pendeta hindu yang masuk penjara karena dakwah hindu. Di negeri Yahudi, tidak ada pendeta Yahudi masuk penjara karena dakwah yahudi. Di negeri-negeri nasrani, tidak ada pendeta gereja yang masuk penjara karena dakwah kristen. Justru di negeri-negeri muslim, banyak ULAMA ISLAM YANG MASUK PENJARA KARENA DAKWAH ISLAM. mengapa!?



Fakta ini menunjukkan bahwa semua agama dan aliran tidak membahayakan para fir’aun-fir’aun modern itu kecuali AJARAN ISLAM.
TIGA ajaran Islam yang membuat UMMAT ISLAM dimusuhi oleh semua golongan, agama, dan amerika:
  1. Wala’ wal Baro’ (loyalitas dan monoloyalitas)
  2. Jihad fi sabilillah (perang suci melawan kezholiman, membela agama, atau mempertahankan kehormatan)
  3. Tahkimu Syari’ah (menjadikan Syariat Islam sebagai sumber hukum dalam kehidupan dan berperadaban)

Perhatikanlah dengan seksama KELOMPOK TALAFI dan SEKTE LIBERAL. dua aliran yang serupa tapi tak sama; mereka mendakwahkan islam tanpa ketiga FONDASI diatas. sehingga di akui atau tidak, mereka sedang menjalankan visi-misi musuh-musuh islam dalam gerakan dan program-program dakwah mereka.
SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH, seorang imam ahlul bayan abad 20 yang bangkit mengenalkan ummat ini tentang pentingnya ketiga fondasi tersebut. Sehingga ia membuat musuh-musuh Islam menjadi ketakutan dan mereka berkepentingan untuk menjauhkan umat ini dari karya dan pemikiran Sayyid Quthub Rahimahullah. Maka, strategi mereka membendung suara kebangkitan itu, adalah dengan menjadikan rezim-rezim sekuler dan boneka-boneka monarkhi untuk membuat stigma negatif tentang sosok Sayyid Quthub dan merusak nama baiknya.

Oleh : Ustad Dr. Haidar Bawazier

Ketika Ustadz ‘SALAFI’ Saling ‘Cakar-Cakaran'

KETIKA USTAD ‘SALAFI’ SALING ‘CAKAR-CAKARAN’.

oleh : Ust. Maaher At Thuwailibi

( Kata-kata “Indah” dan Penuh “Akhlaq” Ustad Dzulkarnain Muhamad Sanusi Kepada Ustad Firanda Andirja )



Ustad Abdus Shomad,Lc.MA nyaris baru kali ini terpeleset lidah menyebut seorang artis pemelihara anjing dengan menyebut “pesek” dan “jelek”, itupun karena wanita yang dimaksud terindikasi mempublikasikan buah fikir liberal atau bahkan atheis. Ustad Dzulkarnain langsung responsif mengatakan bahwa da’i yang seperti ini kemana akalnya. beliau juga mengatakan bahwa seorang da’i itu mesti berakhlaq mulia dan membalas segala keburukan dan kebaikan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana “kebaikan” akhlaq Ustad Dzulkarnain ketika berselisih pendapat dltentang masalah boleh tidaknya menerima bantuan dana dari Yayasan Ihya’ut Turats Kuwait dengan kawanya sendiri sesama Ustad ‘Salafi’  👇

=> [ Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya PALING JELEK ]
=> [ Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, KURANG AKAL dan keras kepala ]
=> [ Saya memuji Allah SubhAnahu wa Ta'ala yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap MAKAR dan tipu dayanya ]
=> [ Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang KURANG AKAL dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu))
=> [ Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda ]
=> [ Siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini SEPERTI ‘KAMBING, WALAUPUN TERBANG’ ]
-selesai-

Kata-kata sacam ini bisa di lihat di situsnya sendiri: 
http://dzulqarnain.net/membela-dakwah-salafiyah-dan-ulama-u…
Hanya karena beda pendapat dalam menyikapi kedudukan sebuah Yayasan Sosial di kuwait, Ustad Dzulkarnain sampai menyamakan saudaranya sendiri dengan ‘kambing’.?? Jika Ustad Abdus Shomad yang notabennya adalah kalangan di luar kelompok mereka dikatakan “kemana akalnya”, wajar saja. Karena kawan yang sekelompok dengannya saja pun di sebut “kurang akal”. Silahkan nilai sendiri..

Akhlaq yang “baik” dan penuh “kesantunan” bukan??
Ustad Abdus Shomad yang hanya menyebut seorang wanita liberal dengan ‘pesek‘ dan ‘jelek’, bandingkan dengan kata-kata Ustad Dzulkarnain yang menyebut Ustad Firanda Andirja (seorang muslim, da’i, dan sesama Salafi) dengan sebutan “SEPERTI KAMBING” ??!!
Kata pepatah, “memercik air di dulang terciprat muka sendiri..”
Nas-alullah al-‘aafiyah wa salaamah.

Senin, 20 November 2017

Ustadz Abdul Shomad Ejek Rina Nose? Begini Penjelasannya



"BALADA RINA NOSE, USTADZ SOMAD dan KYAI YANG SANTUN"
Penulis : Setiawan Budi 

***

Lucu itu ketika melihat ketua ansor meminta ustad abdul somad berceramah secara santun..

Ini seperti meminta orang lain hidup bersih, tapi keluarga dia hidup masih jorok di dalam rumah. Kadang pipis aja masih di balik pintu dapur mereka sendiri.

Ustad abdul somad adalah ustad NU, ada yang bilang beliau adalah ustad NU garis lurus karena berbeda dalam menjalankan ajaran KH. Hasyim Asyari. Dia tegas, tidak ada keberpihakan pada golongan, bahkan undangan jokowi saja bisa di tolaknya. kalau jokowi mau menyesuaikan jadwal beliau, maka beliau akan penuhi undangan tersebut. Namun kalau beliau yang harus sesuaikan jadwal jokowi untuk bertemu, maka maaf2 saja, karena jadwal beliau sudah full booking sampai akhir tahun. 

Bahkan untuk awal tahun kabarnya sudah penuh juga.

Beliau tidak silau dengan jabatan orang penting yang mengundang dirinya. Baginya, siapa saja yang datang dan meminta kehadirannya akan di penuhi dengan menyesuaikan jadwal yang ada. Jangan karena ada presiden yang ingin bertemu, jadwal yang sudah di susun harus di hapus demi presiden. 

Satu orang presiden yang beliau temui, bisa mengecewakan ribuan umat yang sudah menunggu kedatangannya. Dan beliau lebih mementingkan ribuan umat dari pada bertemu dengan presidennya. 

INI USTAD JAMAN NOW....!!

Berani menolak permintaan presiden, kalau mau di bandingkan dengan kyai2 sebelah sana..maka akan jauh panggang dari api. Kyai sana malah berSedia tergopoh-gopoh menemui presidennya ketika di panggil. Walaupun ada jadwal pengajian dengan umat, mereka bisa tinggalkan karena negara memanggil...yaitu presiden. begitu kata kyai. Karena bagI kyai, presiden ADALAH pemimpin yang harus di patuhi. Namun bagI ustad Abdul somad, rakyat LAH YANG HARUS DI TEMUI.

Bicara kata santun, Apabila menyangkut ajaran..maka santun itu tidak akan ketemu. "Katakanlah kebenaran walaupun pahit terdengar". Katakanlah walau itu akan pedih bagi yang mendengar. Kadang kebenaran itu memang mennyakitkan, ini sama dengan ajaran sunnah yang mengatakan bid'ah pada amalan orang NU. 

Namun saat bicara perilaku pada sesama, maka santun itu wajib. Ustad abdul somad bagi saya terpeleset saat mengatakan hidup pesek dan jeleknya seorang rina nose. Namun terpelesetnya ini bukan dijadikan dasar oleh beliau untuk menghinakan si artis. Beliau menyampaikan pandangannya atas kehebohan publik atas lepas jilbab-nya rina nose.

Barusan sempat WA dengan seorang ustad, meminta tanggapan atas masalah ini

Bagi seorang ulama, apa yang di lakukan rina nose adalah sebuah penghinaan atas ajaran islam. Bagi orang biasa, mungkin menganggap itu hal yang biasa..mungkin artis itu belum siap dan dia belum kuat dalam beriman. Dan mendoakan beliau supaya semakin dekat dengan ajaran islam. Disini perbedaanya..

Seorang ulama yang sudah pekerjaan sehari-harinya memberikan siraman rohani pada umat melihat fenomena rina nose maka ia akan marah, marah karena agama di permainkan layaknya sebuah makanan prasmanan. Ketika kau suka, maka kau ambil..namun ketika kau tidak suka, kau bleh muntahkan makanan yang telah kau kunyah.

Tidak akan masalah apabila artis itu melepas jilbab-nya dan merahasiakan apa alasannya. Biarlah ia sendiri yang menyimpan alasannya, Jadi masalah ketika dia menceritakan alasannya dengan membandingkan ajaran islam yang sudah tegak lurus dalam pemahaman sempitnya. DI SINILAH KEMARAHAN ULAMA...dan disinilah kemarahan seorang Abdul Somad. 

Saat ada jemaah yang menanyakan tentang fenomena rina nose, maka ibarat pucuk di cinta ulam-pun tiba. Ustad Abdul somad melampiaskan kekesalannya dengan menghinakan fisik sang artis. Sudah ada klarifikasi sang ustad, bahwa dia sombong pada orang yang juga sombong atas pemahamannya. Pernyataan dan alasan rina nose melepas jilbab pada media membuat ulama marah atas statement itu. 

Teman ustad saya berkata, :

"Kamu akan dapatkan apa yang telah kamu keluarkan"

Rina nose mendapatkan apa yang telah dia keluarkan atas alasan itu, dan bagaimana dengan UAS..? Apakah dia akan mendapatkan juga hasil dari hinaannya pada sang artis..? Teman saya berkata..

"Mainkan Pemikiranmu sebagai seorang muslim, ketika agama-mu bisa di jalankan bak prasmanan..maka kau harusnya berkewajiban untuk berkata tegas atas kelakuan seperti itu"

Tidak ada kata sejuk bagi orang yang sudah lecehkan ajaran islam, tidak ada kata lembut bagi orang yang sombong seperti artis itu. Banyak pihak yang marah pada UAS, itu hak mereka...menganggap ustad tidak cerminkan ajaran islam yang sejuk, itu juga hak mereka menilai. Namun ustad juga mempunyai hak dan pemikiran sendiri atas orang2 yang sudah sombong bicara ajaran agama tanpa perlu taat pada aturannya. 

Tanpa perlu di hina oleh UAS, sang artis juga sudah pernah hinakan dirinya sendiri di hadapan publik bahwa dia sangat mirip dengan anjingnya. karena sang anjing peliharaanya juga berhidung pesek, dan dia bangga akan hal itu. Mengapa saat UAS mengikuti kemauan sang artis untuk terhina malah di permasalahkan..?

Kalau kita menghina orang yang tidak menyalahkan agama dan tidak sombong, mungkin kita salah. Namun untuk seorang rina nose...itu adalah konsekuensi yang dia dapatkan.

Sampai disitu saya terdiam, satu sisi saya masih anggap hinaan UAS salah, namun satu sisi lainnya saya memahami kemarahan seorang ulama ketika melihat sang artis begitu mudahnya bicara agama tanpa harus patuh padaaturannya.

Saya berusaha memahami bagaimana perjuangan seorang ulama yang gigih meberikan ajaran islam sesuai tuntunan Alquran dan Al hadist, namun karena perkataan seorang setan berwujud seorang artis...maka ada sebagian umat islam malah sependapat dengannya. Bagi ulama, rina nose adalah SETAN yang wajib di perangi dengan pemahaman dangkalnya. Dan saya memahami kemarahan ulama sekelas Ustad Abdul Somad.

Kembali ke masalah cerita LUCU ketika ketua ansor yang tambun ini meminta ustad somad berbicara santun. Ketua ansor ini hendaknya melihat polah kyai yang mereka puja, bagaimana santunya kyai mereka ketika ceramah dengan membawa cerita dusta tentang anjing dan jubah. Sebuah pakaian suci nabi di sandingkan dengan cerita se ekor anjing yang hina dengan tujuan memperolok pemakai baju jubah yang tidak pernah ia senangi.

APAKAH KETUA ANSOR ITU PERNAH MEMINTA KYAI-NYA BERBICARA SANTUN TANPA PERLU HINA JENGGOT DAN JUBAH?

Ini lah moment paling kampret, ketika pelacur ngaku perawan. Melihat bulu orang dia gak senang, namun bulu sendiri yang sudah rimbun malah dia pelihara. Kok bisa-bisanya dia meminta orang lain agar mencukur bulu yang tumbuh? sedangkan bulu liar dia sendiri malah gak mau di cukur. 

Bagi saya, setiap permasalahan membawa nama ansor dan ketua unik mereka..maka akan semakin menarik di bahas. Karena saat itu saya bisa melihat sebuah refleksi terbalik dari apa yang mereka perjuangkan. Menampar mereka dengan polah mereka sendiri...meremas Bijdie mereka dengan sekuat-kuatnya. 

Abaikan isi tengahnya, fokus pada alenea pembuka dan alenea penutup saja..