Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2018

Teroris Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya

Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91



Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yg nampak baik2 dan normal seperti keluarga muslim yg lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar2 terjadi saat ini.

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis islam yg lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yg lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan unt menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita unt disetor ke mereka.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak2 muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid2 pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yg paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yg paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yg jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yg menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom2 teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) unt diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yg seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yg saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Yg ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yg kita alami saat ini adalah panen raya dari benih2 ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah2 dan kampus2. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yg saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yg sifatnya sembunyi2 dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dng tempat2 yg sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yg terasa begitu dekat dengan memori masa2 SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yg terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar2nya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham islam, ini bukan bagian dari ajaran islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja unt meledakkan diri.

Nyatanya memang ada saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras yg hobinya mengutip mentah2 ayat2 perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

Nyatanya memang benih2 radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak2 muda kita, di sekolah2 terbaik dan dikampus2 top di Indonesia. Dan kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita ndak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, Kalau kita dengan gentle mengakui - bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras, yg merasa bahwa islam harus diperjuangkan dengan kekerasan - maka kita bisa mulai mengambil langkah2 solutif.

Dan langkah2 solutif nyata yg bisa kita lakukan diantaranya adalah:

1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

2. SMA2 dan Kampus2 harus disterilkan dari gerakn2 bawah tanah islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas islam yg menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “islam yg ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan islam yg keras, penuh umpatan, dan kata2 kasar, apalagi hoax dan berdarah2.

4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yg membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

5. Mawas diri dan sama2 menahan diri dalam menyikapi perbedaan2 dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem2. Dan ini fenomena psikologi yg wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”. Jadi mari kita yg akan bersama2 memulihkan wajah Indah Islam.

Terakhir, mari kita dengar seruan seorang remaja islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

“Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yg bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar2nya: radikalisme, ekstrimisme)”

Love & Peace for all of us..

And for my beloved Christian brothers & sisters.. my deep condolence for all of you.. from the bottom of my heart, I am really sorry..

STAY SAVE.. SPREAD COMPASSION..

Saya yg sedang berduka,

Ahmad Faiz Zainuddin
Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995

Rabu, 07 Februari 2018

Sudah Diduga, Mudzakarah MUI Kota Bogor Selesai Tanpa Kehadiran Ust. Yazid Jawaz



Salah satu ustadz salafi wahabi yang sedang populer, Ust. Jazid bin Abdul Qodir Jawaz sebelumnya telah diundang dalam acara mudzkaroh (diskusi) di ruang rapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bogor, Jl. Padjajaran 10, Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 07 Februari 2018 (12 Jumadil Ula 1439 H). Hal ini terkait tulisan beliau dalam bukunya "Mulia Dengan Manhaj Salaf" telah menuduh sesat ulama ahlussunnah wal jama'ah yang mengikuti Imam Asy'ari (disebut Asy'ariyah) dan Imam Maturidi (disebut Maturidiyah). Padahal, kedua akidah tersebut dianut oleh mayoritas umat islam diseluruh dunia sebagai representasi akidah ahlussunnah wal jama'ah. 

Namun, acara yang sedianya dilaksanakan Rabu siang ini, dimulai pukul 13.00 WIB, ternyata tidak ditanggapi dengan baik oleh sang ustadz yang terkenal sebagai ustadz sunnah oleh para pengikutnya. Padahal mudzakaroh ini tidak lain hanya untuk tabayyun alias mengklarifikasi terkait tulisan-tulisan dan ceramah-caramah Ust. Jazid Jawas yang dianggap provokatif dan menyerang kelompok tertentu dengan tuduhan bid'ah dan sesat. Seandainya Ust. Jazid Jawas dapat hadir, tentu tuduhan-tuduhan bid'ah dan sesat tersebut bisa didiskusikan bersama. Sehingga menghasilkan pemikiran yang jernih atas khilafiyah yang berkembang di masyarakat tanda embel-embel tuduhan bid'ah dan sesat. 


Hari ini, ramai beredar di media sosial, kabar yang menjelaskan perihal undangan mudzakaroh MUI Kota Bogor kepada Ust. Yazid Jawaz. Bahkan undangan mudzakaroh tersebut langsung ditandatangi oleh Ketua MUI Kota Bogor. Bagi kelompok yang selama ini dituduh berbuat bid'ah dan sesat oleh Ust. Yazid Jawas, tentu ini momen yang tepat untuk berdiskusi. Andai Ust. Yazid terbukti telah salah memahami amalan kelompok yang beliau tuduh, tentu beliau dituntut untuk meminta maaf kepada umat yang terlanjur sakit hati. 


Tapi sudah diduga, banyak netizen yang mengatakan Ust. Yazid tidak akan hadir dengan alasan "jangan berdebat dengan ahli bid'ah", sesuai dengan ceramah beliau yang beredar di Youtube. Sikap seperti inilah yang pernah disayangkan oleh Ust. Abdul Shomad. Beliau pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya, Ust. Musthafa Umar sebagai perwakilan MUI Prov. Riau pernah mengundang baik-baik para ustadz salafi wahabi agar bisa diajak berdiskusi, dan jangan hanya murid-murid ustadz salafi wahabi saja yang pandai berkoar-koar di dunia maya. Nyatanya, para ustadz salafi wahabi tidak berani datang. 

Wallahu'Alam Bisshowab, semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk untuk mencari kebenaran. Amin...   

  





Jumat, 02 Februari 2018

Tragedi Pemukulan Terhadap KH. Umar Basri, Bahaya Laten Intoleransi

Muhasabah Kebangsaan

BAHAYA LATEN INTOLERANSI
Al-Zastrouw



Tragedi pemukulan terhadap KH. Umar Basri (ajengan Emon) saat melakukan dzikir di masjid Al-Hidayah, masjid pesantren yg diasuh sang ajengan, mengingatkan saya pada dua kejadian penting beberapa tahun lalu.

Pertama, peristiwa pengusiran Gus Dur saat memberikan ceramah pada acara diskusi di Purwakarta. Saat sedang memberikan ceramah tiba2 datang sekelompok orang berseragam putih yang secara tegas mengaku dari FPI membubarkan acara tersebut dengan cara2 yg kasar dan tak beradab. Hujatan, caci maki dan kata2 kotor ditujukan pada Gus Dur.

Hampir saja terjadi bentrok dan konflik horizontal, karena pada saat itu para Banser dan kaum muda NU sdh siap melakukan serangan balasan. Tapi dengan tegas Gus Dur justru melarang.

Pada saat itu tak ada tudingan FPI membubarkan pengajian, tak ada tuduhan kriminalisasi ulama meski yg dibubarkan adalah majlis Ilmu dan yg dilarang bicara adalah ulama besar yg sdh diakui dunia. Juga tak ada kegaduhan gerakan bela ulama dan Islam dengan demo berjilid2

Bandingkan dg kegaduhan yg terjadi saat ini ketika seorang pembicara agama diminta membuat pernyataan setia pada NKRI seperti yg terjadi pd kasus Felix dan Ustad Abdus Shomad, seolah2 terjadi pelarangan pengajian dan pelecehan ulama. Padahal mereka tdk dilarang kasih pengajian dan badannya juga tdk tersentuh sedikitpun, tapi berita yg tersebar seolah telah terjadi pelecehan ulama, penistaan Islam dan sejenisnya.

Kegaduhan peperti ini sama sekali tidak terlihat saat ajengan Emon dianiaya secara fisik bahkan sampai berdarah-darah di tempat yg disakralkan (masjid), bukan di hotel atau bandara, dan saat melakukan ibadah dzikir bukan saat memberikan provokasi yg membakar emosi ummat. Kelompok yg pernah mengusir Gus Dur ini diam, cep klakep tanpa ada komentar apalagi reaksi.

Terus terang, melihat reaksi kaum daster ini langsung mengingatkan saya pada hubungan antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Ayah beliau adalah santri Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yg juga kakek Gus Dur. Ini menunjukkan ada kesamaan genealogi sosiologis dan ideologis antara Gus Dur dengan ajengan Emon. Kesamaan ini yg membuat hubungan emosional antara beliau berdua menjadi dekat. Hal itu bisa menimbulkan asumsi bahwa ajengan Emon adalah sama atau bagian dari Gus Dur sehingga kelompok2 yg dulu membenci dan mengusir Gus Dur akan merasa tidak perlu simpati apalagi membela. Mereka menganggap beliau bukan ulama sebagaimana mereka menganggap Gus Dur sebagai kaum liberal, yg layak diusir dan dicaci maki. Dengan cara pandang ini sangat bisa dipahami jika kelompok2 yg selama ini teriak2 bela ulama dan Islam diam dan tak bereaksi terhadap kasus penganiayaan yg menimpa ajengan Emon.

Kedua, kasus ini mengingatkan saya pada tragedi pembantaian di Banyuwangi 1998. Bermula dari issu pembunuhan tukang santet kemudian melebar menjadi pembantaian terhadap kyai2 kampung dan guru2 ngaji warga NU. Berdasar data tim pencari fakta (TPF) PWNU Jatim, korban pembantaian Banyuwangi ini ada 147 orang, bahkan laporan LSM Kompak Banyuwangi mencapai 174 orang.

Saya teringat pada tragedi Banyuwangi karena ada beberapa kesamaan antara kasus Banyuwangi dengan Cicalengka; pertama, sasarannya kyai kampung NU; kedua, terjadi saat menjelang event politik bertensi tinggi, ketiga; pelaku yg tertangkap selalu diindikasikan menglami gangguan jiwa, (bahkan ada yg lgs bunuh diri) sehingga sulit dilacak jejak dan motifnya. Keempat, menjadikan PKI sebagai kambing hitam pelaku pembantaian ulama.

Pada kasus pengusiran Gus Dur kita bisa melihat bagaimana kelompok2 intoleran menjadi ujung tombak untuk melawan ulama yg mencoba merajut keutuhan bangsa, konsisten pada Pancasila sbg perjanjian luhur bangsa. Kaum intoleran menganggap ulama seperti ini sebagai ulama liberal, agen zionis dan tidak membela Islam sehingga layak dihujat, diusir dan dicaci maki.

Meskipun mengaku menerima Pancasila, namun mereka menafsirkannya secara sektarian dan eksklusif, sehingga memberangus dan menegasikan keberagaman yg ada. Dan ini terlihat jelas dalam perilaku politik mereka yg radikal dan intoleran. Dalam kasus Cicalengka, indikasi pelaku sebagai bagian dari kelompok ini terlihat jelas dalam perkataan dan sikap pelaku sebelum melakukan pemukulan (sebagaimana disebutkan dalam kronologi yg beredar di medsos). Peristiwa ini mengindikasikan kaum intoleran semakin brutal dan agresif menyerang ulama dan kelompok teleran dan moderat.

Dalam kasus Banyuwangi saat itu, Gus Dur memahami peristiwa kelam itu sebagai upaya memancing emosi kaum Nahdhiyin agar masuk dalam pusaran konflik horizontal sehingga terjadi kekacauan. Oleh karenanya Gus Dur menahan agar ummat NU tdk terpancing. Dalam situasi ketegangan politik yg makin meningkat seperti saat ini, bisa jadi berbagai kepentingan sedang bermain memanfaatkan situasi yang ada.

Melihat pola dan modus yg terjadi serta mencermati genealogi ideologi dan sosialogi kelompok2 yang menggunakan ayat dan simbol agama dalam gerakan mereka, bisa dikatakan bahwa gerakan kaum intoleran yg hendak memecah keutuhan bangsa masih menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa. Upaya menghancurkan Pancasila masih dilakukan dg segala cara.

Jika merujuk pada referensi sejarah kebangsaan, situasi seperti sekarang ini mirip dengan suasana jelang peristiwa pemberontakan 65, ketika rakyat digiring dalam suasana konflik atas nama revolusi. Saat ini rakyat digiring menuju konflik dg menumbuhkan sikap intoleran menggunakan agitasi atas nama agama dan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi dengan kejernihan nalar dan hati agar tidak mudah hanyut dalam provokasi dan agitasi dalam segala bentuknya. Dulu kita waspada atas bahaya laten PKI, ada baiknya saat ini kita waspada terhadap bahaya laten intoleransi.***

El-Zastrouw

Inilah 7 Tahapan Menjadi Wahabi Takfiri

7 TAHAPAN MENJADI WAHABI TAKFIRI



Paham wahabi yg kemudian disebut sebagai salafi, berubah lagi menjadi ahlus sunnah (tanpa wal jamaah); merupakan paham yg dapat mempengaruhi seseorang hingga pada tahapan paling ekstrim, virus ini bisa mengubah manusia yg awalnya pendiam menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Seperti bahaya laten yg tersembunyi, tiba2 menyerang seseorang (biasanya pondasi agamanya lemah) dan kemudian menjangkiti hingga mengubah pola pikir dan mengubah perilaku sehari2, namun anehnya dirinya sendiri tidak sadar sudah terinfeksi virus mematikan ini.
Bagaimana tahapan menuju ke sana? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mari kita lihat tahapan2-nya:
  1. Awalnya biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Mau bergaul dengan teman dan tetangga. Suatu saat tiba2 ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Ingin beragama dengan baik dan benar. Teringat dosa2 yg lalu, ingin bertobat dengan mulai meningkatkan ibadah. Biasanya tidak pernah sholat, menjadi rajin sholat 5 waktu. Pada tahapan ini, semuanya seperti berjalan baik. Perubahan sikap untuk mendekatkan diri kepada agama.
  2. Pola ibadah meningkat. Dari yg sholat 5 waktu di rumah mulai sering berjamaah ke masjid. Mulai rajin membaca al-quran. Rajin puasa dan sholat sunnah. Malah sering mengingatkan teman untuk ikut berjamaah ke masjid, membentuk kelompok tilawah bersama, membuat grup wa saling mengingatkan sholat tahajud dsb. Tahapan ini masih berjalan baik. Everything is well.
  3. Ibadah sudah meningkat, baik sunnah dan wajib dikerjakan dengan baik. Kemudian mulai berpikir dan berusaha mencari sosok guru/murobbi. Sering buka youtube mencari ceramah/kajian. Beli buku2 online. Tapi tidak sadar bahwa ceramah yg dibuka banyak dari ustadz wahabi. Buku2 yg dibeli dari penerbit wahabi. Dari sinilah awal mula hal yg sudah berjalan baik sedikit demi sedikit bergeser ke arah yg tidak baik.
  4. Dengan sering mendengar dakwah ustadz wahabi dan membaca buku wahabi, tapi tidak sadar bahwa apa yg didengar dan dibaca adaah wahabi; mulailah terdoktrin dan sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka dengan alasan mengamalkan sunnah nabi. Celana mulai digulung ke atas mata kaki, jidat mulai dibuat hitam, sering bicara dengan bahasa arab seperti antum, akhi, afwan, syukron, syafakillah. Intinya mengutamakan penampilan luar dalam beragama dan ingin terlihat alim dibandingkan orang lain. Dari sini perilaku mereka sudah mulai eksklusif, sudah mulai menganggap diri dan kelompoknya paling benar. Mulai tertutup dengan teman dan tetangga, intens bergaul dengan sesama golongannya saja.
  5. Mind set sudah terbentuk bahwa kelompoknya saja yg benar, kemudian ingin mengubah budaya dan ajaran leluhur yg selama ini ada dalam masyarakat pada umumnya. Sudah mulai menyerang amal ibadah muslim lain yg bukan golongannya. Kata2 "bid'ah, syirik, haram, sesat, kafir" mulai keluar dari mulutnya. Contohnya: Tahlilan diharamkan, ziarah kubur disyirikkan, sholawat dibidahkan dan sebagainya.
  6. Saking seringnya membidahkan dan mensyirikkan amalan orang lain, membuat jiwanya semakin tertantang untuk meluruskan ibadah orang lain. Ingin semua orang yg dianggap sesat dan syirik itu "bertobat" dan mengikuti ajaran salaf versi dia. Dengan slogan "kembali ke al-quran dan sunnah" seolah2 mereka saja yg paling paham al-quran dan sunnah. Ketika kesombongan tersebut sudah merasuki jiwanya maka sering keluar kata2 "bertobatlah antum", "semoga antum dapat hidayah" kepada muslim lainnya. Seakan2 hanya dia dan golongannya yg mendapat hidayah Allah, menganggap bahwa Tuhan selalu berada di pihaknya. Inilah bentuk kesombongan yg tidak mereka sadari.
  7. Tahapan paling ekstrim. Terbiasa mengkafirkan muslim lain yg tidak sepaham dengan dirinya. Setelah dikafirkan maka dengan mudah dihalalkan darahnya. Dengan alasan Berjihad atas nama agama, maka membunuh orang lain pun dianggap berpahala. Apalagi dibumbui dengan iming-iming mendapatkan surga plus 72 bidadari yg siap memuaskan nafsu mereka.
  8. Inilah tahapan yg paling berbahaya. Agama dijadikan alasan untuk membunuh manusia lain. Menjadikan mereka seperti zombie2 yang siap memangsa korbannya.

Oh ya, apa antum punya teman seperti itu? atau jangan2 antum sendiri #eh. Sudah sampai pada tahapan mana? 
(Narko Sun)

Rabu, 29 November 2017

Ustadz Abdul Shomad Dimata Kaum Talafi

USTAD ABDUS SHOMAD DIMATA TALAFI.
Talafi itu apa ustad? 



Talafi itu sejenis binatang melata pemakan daging dan bangkai manusia. itulah Talafi.
=> Kata mereka (talafi), “Si Shomad itu mencela Sunnah dengan mengatakan jenggot seperti tusuk sate”.

Padahal, Ustad Abdus Shomad meng-ilustrasikan dirinya sendiri bahwa jika dirinya berjenggot, tumbuhnya jarang-jarang seperti tusuk sate. Jadi beliau bukan mencela syari’at berjenggot sebagaimana professor bau tanah yang kelebihan dosis itu. dalam video ceramahnya, dengan jelas Ustad Abdus Shomad mengatakan, “SIAPA YANG SUDAH BERJENGGOT MAKA BAGUS, BAIK, DAPAT PAHALA, IKUT SUNNAH. JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERJENGGOT DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA...”, dst.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Talafiyyun kaum perusak itu selalu dengan percaya diri mempertontonkan kualitasnya yang rendah di hadapan masyarakat; utamanya terkait dengan urusan keummatan. Wajar jika mereka bergandeng tangan dengan para pedagang virus ‘se-pi-lis’ di Indonesia (SI ZUHAIRI MISRAWI) yang dulu sempat mau dibunuh orang KKS karena mengatakan shalat lima waktu tidak wajib. mereka juga bergandeng tangan dengan ‘hamba’ si Ahok bernama YUSUF MUHAMMAD dalam membully Ustad Abdus Shomad dan membela si janda pesek pemelihara anjing. Tapi, kami tak heran...wong Komunis saja dianggap tidak kafir oleh mereka, maka wajar jika mereka membela si JANDA PESEK yang terindikasi mulhidah (atheis) itu.

Mengutip pernyataan Ummu Sumayyah As-Salafiyyah, “Kenapa orang-orang munafiq itu justru fokus ke pribadi Ustadz Abdul Shomad yang jujur mengatakan bahwa si Rina Nose memang pesek? Kalau mereka paham makna ayat Al-Qur’an bahwa manusia sebaik-baik ciptaan-Nya, maka pesek atau mancung tetaplah ciptaan terbaik-Nya. Yang menjadikannya jelek adalah akhlaqnya kepada ajaran Islam, dan kaum munafiq justru membela penghina syariat-Nya demi kepentingan dunianya yang sedikit, bukan membela karena alasan al-wala’ wal bara’ (keberpihakan dan permusuhan dengan landasan syariat-Nya). Kaum zindiq yang sok bijak!”
-selesai-

=> Kata Talafi, “apakah Rina Nose itu lebih buruk daripada Fir’aun dan si Shomad lebih baik dari musa?”

JAWABAN kami (Maaher At-Thuwailibi), Rina Nose itu tidak lebih baik dari Ustad Abdus Shomad dan begitupun sebaliknya Ustad Abdus Shomad tidak seburuk Rina Nose. Jadi, jika anda ingin membela si janda pesek pemelihara anjing itu, silahkan saja. tapi tak perlu mengajak kami untuk membully Ustad Abdus Shomad sedemikian rupa. karena bagaimanapun juga -dalam hal ini- kami lebih memilih membela tokoh agama daripada artis ‘pesek’ perusak moral generasi bangsa. 😊
Nas-alullah al-‘aafiyah wa salamah.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Kata Mereka, Sayyid Quthub Itu 'Bapak Terorisme' ?

KATANYA, SAYYID QUTHUB ITU “BAPAK TERORISME” !!?



Sayyid Quthub rahimahullah itu ORANG MESIR. Hidup di Mesir. Melihat realitas Mesir yang cenderung sekuler. Dia ingin MESIR ISLAMI, Mesir peradaban Islam, Mesir yang taqwa kepada Allah dan taat Rasul-Nya.

Dia sangat CEMBURU dengan nasib Islam. Dia marah melihat kemunduran dan kelemahan Muslim di Mesir. Dia teriak-teriak MEMBANGUNKAN orang, lewat kata-kata tajam, menukik, dan sastrawi.
Apa yang dibidik Sayyid Quthub, adalah keadaan di negeri negeri Muslim yang cenderung SEKULER, tidak berhukum Syariat, jauh dari sendi-sendi Islam. Dia tidak membidik Saudi yang relatif melaksanakan Syariat Islam.

KENAPA sebagian ulama Saudi suka pada pemikiran Sayyid Quthb? Karena, apa yang dicita-citakan Sayyid Quthub, sebagian SUDAH TERCAPAI DI SAUDI. Saudi bersendi Syariat Islam. Bukankah itu yang dituju oleh Sayyid Quthb?

Aneh betul para pembenci Sayyid Quthub itu? Apa sih maumu? Apa kamu suka kehidupan JAHILIYAH, jauh dari tuntunan Syariat Islam? Katakan sejujurnya! Kamu mati-matian mencela Sayyid Quthub, tapi berlebihan MEMUJI penguasa sekuler? Apa maumu?

Apa ulama-ulama Saudi (pembenci Sayyid Quthub) suka dengan SEKULARISME seperti terjadi di negeri-negeri Muslim? Kalau tidak suka, kenapa marah dengan cita-cita Sayyid Quthb? Kalau mereka suka sekularisme, terus apa perlunya berdalil seolah jadi yang paling Islami?

SANGAT ANEH... ngakunya pro Arab Saudi, tapi membenci cita-cita Sayyid Quthb rahimahullah.
Sayyid Quthub itu adalah seorang penulis, pemikir yang sangat jenius, sekaligus sastrawan Islam dari Al-Ikhwan. Mereka tidak pernah memberontak kepada rezim Mesir. Kalau bicara harus tahu fakta, biar tidak fitnah & merusak.

BEGINI ceritanya... Tahun 1948 Syaikh Hasan Al-Banna dan jamaah Al-Ikhwan (Ikhwanul Muslimin) bergerak dari Mesir menuju Palestina. Mereka terjun ke medan Jihad melawan Zionis/Yahudi. Saat Jihad sedang bergolak, Raja Faruq menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang. Terpaksa Syaikh Hasan Al-Banna pulang bersama jamaahnya ke Mesir. Tak lama sesudah itu Syaikh Hasan Al-Banna ditembak oleh orang suruhan Raja Faruq. Beliau SYAHID in sya’ Allah.
SETELAH dibubarkan, jamaah Al-Ikhwan tercecer. Lalu ada kader-kader pejuang berusaha menumbuhkan kembali gerakan Al-Ikhwan ini. Salah satunya Syaikh Hasan Al-Hudaibi Rahimahullah. Juga Syaikhah Zainab Al-Ghazali Rahimahallah.

Di sisi lain terjadi PERUBAHAN POLITIK di Mesir. Kekuasaan Raja Faruq tumbang, dikudeta oleh Jamal Abdul Nasher. Dari kerajaan/monarkhi berubah menjadi republik. Namun kebijakannya sama, tetap menetapkan Al-Ikhwan sebagai ORGANISASI TERLARANG.

Saat itulah Sayyid Quthub masuk ke Al-Ikhwan dan menjadi “the rising star” pemikiran. Jelas rezim tahu itu. Walhasil, Sayyid Quthub dijebloskan ke penjara. Rezim akan membebaskan Sayyid Quthub asalkan dia mau mengucapkan kalimat: “Aku menolak Negara Islam, dan mendukung negara sekuler (ala Jamal Abdul Nasher dkk).” nah, tetapi Sayyid Quthub menolak, dan lebih memilih dihukum mati. Sebelum hukuman mati dilakukan, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz rahimahullah (mufti agung arab saudi saat itu) membela Sayyid Quthub dan menulis surat ke si durjana Jamal Abdul Nasher ini, agar hukuman mati dibatalkan. Si durjana itu tidak peduli. Sayyid Quthub tetap dihukum mati. Beliau syahid, in sya’ Allah.

Menetes air mata orang-orang beriman mendengar kejinya lisan maffia-maffia “berjubah sunnah” menteroriskan para pahlawan islam, tak terkecuali Asy-Syaikh Sayyid Quthub Rahimahullah yang disaksikan sejarah sebagai pejuang islam di mesir yang Syahid in sya Allah..
KOK ada ya manusia yang gemar memfitnah para PAHLAWAN ISLAM? Apa mereka itu sudah SIAP digugat Sayyid Quthub di akhirat nanti? Berjasa bagi Islam GAK ADA, tapi doyan memfitnah para ulama dan pejuang syari'at. Nas'alullah al-'afiyah.
*)Hati-hati atas isu-isu murahan.

*Ustad Abu Abdurrahman At-Thalibi*

Sayyid Quthub Dimata Ulama-Ulama Saudi

Abdurrahman Thayyib, da’i “sagaring” (salafi garis miring) surabaya mengatakan bahwa Sayyid Quthub adalah bapak terorisme dan radikalisme. Lalu, ia menyebutkan kitab karya Sayyid Quthub yang dianggapnya menyimpang, diantaranya Ma’alim Fii Thariq dan Tafsir Fii Zhilalil Qur’an.
Bagaimana pandangan Ulama-ulama Saudi terhadap Sayyid Quthub Rahimahullah dan karya-karyanya serta bagaimana beliau dimata mereka?


=> Berkatalah Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud -anggota Hai’ah Kibaril Ulama kerajaan Saudi Arabia- dalam kitabnya Majmu’ Ar-Rasail wa Maqalat:

كتاب أخذ صاحبه ثمنه قتلاً نحسبه في سبيل الله بدافع من الروس الشيوعيين لجمال كما يعرف ذلك المعاصرون للقضية، وقامت بتوزيع هذا الكتاب جهات عديدة في المملكة، وخلال سنوات عديدة، وأهل هذه الجهات أهل علم ودعوة إلى الله،
“Kitab Ma’alim Fii Thariq karya Sayyid Quthub ini telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan MATI DI JALAN ALLAH karena menentang penguasa komunis Mesir Jamal Abdul Nasher, sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal kitab tersebut telah disebarkan oleh banyak pihak dikerajaan Saudi sejak bertahun-tahun lamanya, dan mereka adalah para ahli ilmu dan para da’i ilallah...”

=> Mufti agung Kerajaan Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh, berkata:
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرةوحمية للإسلام ، والرجل له جهاد تعلمون أنه استشهد أو قتل شهيدا رحمه الله..
“Kitab Tafsir Fi Zhiilal Qur’an itu memiliki uslub (metode bahasa) yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh Sayyid Quthub menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan kalimat-kalimatnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para Nabi dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti kalimat-kalimatnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastra yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Zhilalil Qur’an) itu tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pelurusan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan kajian dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Sayyid Quthb) telah menulisnya dalam keadaan rasa ghirah (cemburu) dan cinta terhadap agama Islam. Dia adalah seorang laki-laki berjihad yang kalian ketahui dan dia telah mendapatkan kesyahidan atau dibunuh menjadi SYAHID Rahimahullah”.

=> Syaikh Hamud ‘Uqla Asy-Syu’aibi dalam Fatawa Asy-Syu’aibi berkata tentang Sayyid Quthub:
إن سيدا رحمه الله يعد في عصره علما من أعلام أصحاب منهج مقارعة الظالمين والكفر بهم ، ومن أفذاذ الدعاة إلى تعبيد الناس لربهم والدعوة إلى توحيد التحاكم إلى الله ، فلم يقض إلا مضاجع أعداء الله ورسوله كجمال عبدالناصر وأمثاله .. وما فرح أحد بقتله كما فرح أولئك. وسيد رحمه الله لا ندعي له العصمة من الخطأ، بل نقول إن له أخطاء ليس هذا مجال تفصيلها، ولكنها لا تخل بأصل دعوته ومنهجه، كما أن عند غيره من الأخطاء التي لم تقدح في منـزلتهم وعلى سبيل المثال ابن حجر والنووي وابن الجوزي وابن حزم، فهؤلاء لهم أخطاء في العقيدة إلا أن أخطاءهم لم تجعل أحدا من أبناء الأمة ولا أعلامها يمتـنع من الاستفادة منهم أو يهضمهم حقهم وينكر فضائلهم ، فهم أئمة إلا فيما أخطئوا فيه، وهذا الحال مع سيد رحمه الله فأخطاؤه لم تقدح في أصل منهجه ودعوته لتوحيد الحاكمية وتعبيد الناس لربهم.
“Pada masanya, Sayyid Quthub Rahimahullah menjadi salah seorang yang mengetahui manhaj yang mampu menggoncangkan kaum zhalim dan kekufuran yang ada pada diri mereka. Ia termasuk manusia yang paling bersemangat menyeru manusia agar menyembah Rabbnya dan mengajak untuk mentauhidkan hukum kepada hukum Allah Ta’ala. Tidak ada yang menentangnya kecuali sekumpulan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seperti Jamal Abdunll Nasher... Dan tidak ada manusia yang bahagia dengan terbunuhnya Sayyid Quthub sebagaimana kebahagiaan mereka.

Sayyid Quthub Rahimahullah tidak pernah mengklaim dirinya ma’shum dari kesalahan, bahkan kami katakan bahwa Beliau punya kesalahan dan bukan di sini tempatnya untuk membahasanya. Tetapi kesahalannya itu tidaklah menodai dasar-dasar da’wah dan manhajnya. Sebagaimana Ulama yang lainnya pun memiliki kesalahan yang tidak menodai kedudukan mereka, contohnya: Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnul Jauzi, dan Ibnu Hazm. Mereka semua memiliki kesalahan dalam beberapa perkara, tetapi tidaklah itu menghalangi kaum muslimin dan ulamanya untuk mengambil manfaat dari mereka, merampas hak mereka, dan mengingkari keutamaan mereka. Maka, mereka adalah para imam walau mereka memiliki kesalahan. Dan keadaan Sayyid Quthb juga demikian bersama kesalahan-kesalahannya, bahwa itu tidaklah menodai dasar-dasar manhajnya, dan da’wahnya kepada manusia untuk meng-Esakan Al-Hakimiyah dan peribadatan kepada Rabb mereka”.
-selesai-

Demikianlah berberapa persaksian Para Ulama Saudi , ulama sagarus (salafi garis lurus) terhadap ASY-YAHID -in sya’ Allah- SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH. berbeda dengan isu murahan dan obral kecaman dari para penjilat itu.

Semoga kita dikumpulkan bersama para syuhada’ di dalam Jannah. Aamiin..

Oleh : Ustad Farid Nukman Hasan.

Mari Kita Kenali Ciri-Ciri Unik Kaum Talafi

CIRI-CIRI UNIK KAUM TALAFI, MARI KITA KENALI...


  1. Kalau anda ngaji di halaqoh mereka, maka anda dianggap saudara mereka. Kalau anda ngaji di halaqoh ustad yang bukan idola mereka, maka anda dianggap bukan saudara mereka. sebaliknya, kalau anda ngaji dengan ustad mereka, maka anda di anggap Ahlus Sunnah. Kalau anda ngaji dengan selain ustad "sesembahan" mereka, maka anda dianggap Hizbiyyah.
  2. Kalau anda berjumpa atau berpapasan dengan mereka di bandara, di pesawat, atau di masjid misalnya, maka wajah mereka akan langsung berubah wujud seperti “genderuwo”, wajah yang menyeramkan dan menakutkan. Tidak terlukis di wajah mereka senyum yang bersahaja. Bahkan tidak jarang, bila anda mengucapkan salam dengan mereka, mereka tidak akan menjawab salam anda atau buang muka. Alasannya, karena anda dianggap “Ahli Bid'ah”, “dholalah”, dan “calon neraka”.
  3. Tidak menerima adanya permasalahan khilafiyah/Ijtihadiyyah dalam agama yang masih diperselisihkan para ulama. Namun, bila sudah direkomendasi oleh ustadz idolanya, itulah yang paling shahih menurutnya dan tidak boleh dibantah. jika ada yang membantah pendapat ustadznya, maka langsung di anggap “sesat” dan “syubhat”. yang paling benar adalah yang disampaikan ustadznya saja. Singkat kata, selama kebenaran itu bukan datang dari ustadz/tokoh idolanya, maka wajib ditolak, di ingkari. Bila perlu orang yang menyampaikan itu di hina, di tahdzir, di bully, di vonis sebagai ‘sesat’, ‘ahli bid’ah’, ‘khawarij’, dan ‘ahli neraka’.
  4. Bila anda meluruskan kesalahan berfikir mereka (secara ilmiah dan argumentatif) maka anda akan di tahdzir, di hujat, di caci maki, di bongkar aib pribadi anda, di cari-cari kesalahan pribadi anda yang tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah dan manhaj, di sebar luaskan dosa-dosa anda di masa lalu, dst.
  5. Paling hobi mengkritik ulama dan tokoh-tokoh ummat; tetapi ketika ustad idolanya dikritik, ia teriak-teriak sambil jungkir-balik seperti sundel bolong yang lagi salto. Intinya, siapa saja yang hendak mengkritik ustadnya, harus datang ke rumahnya langsung, harus tabayyun, tidak boleh disebar di sosmed. Tetapi kalau mengkritik ustadz/da’i selain dari kelompoknya bebas saja tanpa tabayyun, bongkar aibnya, jatuhkan kehormatannya, rusak nama baiknya, sebarkan di mana-mana, bebas. Semua itu dilakukan atas nama “menjaga agama” alias "tahdzir".

Demikianlah 5 ciri unik kaum talafi yang patut anda ketahui, agar anda dapat membedakan mana orang Salafi (pemgikutbsalaf sejati) dan mana orang Talafi (perusak)
Wallahu 'Aliimu A'lam Bis-Showaab.

Oleh : Maaher At-Thuwailibi.

Inilah Tiga Ajaran Yang Membuat Umat islam Dimusuhi Semua Golongan

DI NEGERI Hindu/hindia, tidak ada pendeta hindu yang masuk penjara karena dakwah hindu. Di negeri Yahudi, tidak ada pendeta Yahudi masuk penjara karena dakwah yahudi. Di negeri-negeri nasrani, tidak ada pendeta gereja yang masuk penjara karena dakwah kristen. Justru di negeri-negeri muslim, banyak ULAMA ISLAM YANG MASUK PENJARA KARENA DAKWAH ISLAM. mengapa!?



Fakta ini menunjukkan bahwa semua agama dan aliran tidak membahayakan para fir’aun-fir’aun modern itu kecuali AJARAN ISLAM.
TIGA ajaran Islam yang membuat UMMAT ISLAM dimusuhi oleh semua golongan, agama, dan amerika:
  1. Wala’ wal Baro’ (loyalitas dan monoloyalitas)
  2. Jihad fi sabilillah (perang suci melawan kezholiman, membela agama, atau mempertahankan kehormatan)
  3. Tahkimu Syari’ah (menjadikan Syariat Islam sebagai sumber hukum dalam kehidupan dan berperadaban)

Perhatikanlah dengan seksama KELOMPOK TALAFI dan SEKTE LIBERAL. dua aliran yang serupa tapi tak sama; mereka mendakwahkan islam tanpa ketiga FONDASI diatas. sehingga di akui atau tidak, mereka sedang menjalankan visi-misi musuh-musuh islam dalam gerakan dan program-program dakwah mereka.
SAYYID QUTHUB RAHIMAHULLAH, seorang imam ahlul bayan abad 20 yang bangkit mengenalkan ummat ini tentang pentingnya ketiga fondasi tersebut. Sehingga ia membuat musuh-musuh Islam menjadi ketakutan dan mereka berkepentingan untuk menjauhkan umat ini dari karya dan pemikiran Sayyid Quthub Rahimahullah. Maka, strategi mereka membendung suara kebangkitan itu, adalah dengan menjadikan rezim-rezim sekuler dan boneka-boneka monarkhi untuk membuat stigma negatif tentang sosok Sayyid Quthub dan merusak nama baiknya.

Oleh : Ustad Dr. Haidar Bawazier

Perang Terhadap Sayyid Qutb, Sebuah Logika Sederhana




Oleh : Ust. Fathuddin Ja'far

Ikhwanul Muslimin (IM) dan tokohnya khususnya Hasal Al-Banna dan Sayyid Qutub dimusuhi Amerika "Yahudi & Nasrani" dan Rusia kendati mereka sdh syahid insyaa Allah puluhan tahun yg lalu.

Permusuhan tsb bkn karena perebutan sekeping tanah, segunung emas, sekapal dolar dan atau apapun bentuk duniawi lainnya. 

Akan tetapi karena dakawah, jihad dan pemikiran Islam mereka yg berhasil menyadarkan puluhan juta (kalau tdk sampai ratusan juta) kaum Muslimin di seluruh dunia sejak thn 1927 sampai saat ini.

Sebuah kesadaran akan hakikat Islam dan keharusan kembali kpd pemahaman Islam salafush shalih; teori dan prakteknya yg bkn hanya robbaniy, tapi juga syamil dan kamil sehingga mampu membangun kembali kemuliaan umat Islam yg sdh sirna, kesatuan umat Islam global yg sdh tercerai berai mnjdi puluhan negara koloni serta yg menerapkan berbagai produk pemikiran dan sistem hidup kaum kolonialis Eropa yg notabene Kristen dan Yahudi yg dipaksakan kpd umat Islam.

Secara faktual, negeri2 Islam dan umat sdh menjadi koloni2 (budak2) mereka sejak puluhan tahun dan bahkan kiblat pertama umat Islam sdh dijajah Yahudi sejak thn 47 sbgi hasil konspirais Ingris, Perancis dan Rusia.

Betapa komplikasinya persoalan umat Islam, khususnya sejak kejatuhan Khilafah Usmaniyah thn 1924 dan terkoyak2nya dunia Islam yg satu menjadi lbh dr 54 negara koloni kaum kolonoalis Eropa, khususnya Inggris, Perancis dan Rusia komunis. 

Pascakejatuhan Khilafah Islamiyyah 1924, semua dunia Islam tlh meninggalkan Islam sbg sistem hidup. Yang tersisa hanya nama dan berbagai ajaran Islam yg bersifat idividual, itupun dipahami dan diamalkan minoritas Muslim. Mayoritasnya, khususnya para pemguasa sdh menjadi "Yahudi/Nasrasi/Komunis". 

Tak heran, ketika Hasan Al-Bannah di awal2 dakwahnya mengangkat semboyan/syiar :

Islam adlh din (sistem hidup) dan negara, Qur'an dan pedang, akhlak dan ilmu pengetahuan dan peradaban, dunia dan akhirat, mata umat Islam terbelalak, termasuk ulama2 Al-Azhar yg menjadi simbol keilmuan umat Islam dunia. Betapa parah dan komplikasinya pemikiran dan kehidupan umat Islam saat itu.

Komplikasi itulah yg diurai dan kemudian dianyam kembali dg apik dan cerdas, namun tetap ashil (orisinil), oleh pemikiran dakwah dan jihad Hasan Al-Banna dan kemudian dipertajam uraian dan implementasi sebagiannya oleh Sayyid Qutb.

Semua dunia hari ini sepakat, pengaruh pemikiran dakwah dan jihad mereka di dunia global sampai saat ini masih nomor wahid termasuk di negara2 Arab itu sendiri.

Wajar kalau Amerika dan Eropa benci dan sekalgus sangat takut pd pemikiran mereka, kendati orangnya sdh mereka bunuh sejak puluhan thn lalu. 

Yg membuat jengkelnya Amerika, Eropa dan sekutunya ialah pemikiran kedua tokoh besar Islam tsb tdk ikut terkubur bersama jasad mereka, malah semakin cepat penyebarannya di seluruh penjuru dunia. 

Logis jika kemudia Amerika dan Eropa merancang berbagai strategi dan program serta propaganda menghentikan pemikiran Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb dg segala cara. 

Di antaranya memerintahkan kpd boneka2 mereka di dunia Islam utk melarang buku2 dan apa saja yg memuat pemikiran dakwah da jihad kedua tokoh tersebut.

Yg paling ketara beberapa dekade belakangan ini ialah dg munculnya "kelompok2 dakwah" yg menghujat, menyesatkan, mengkafirkan dan bahkan menuduh mereka (Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb) sumber kesesatan dan terorisme. 

Knp mereka sebut sbgi sumber terorisme? Krn program Amerika anti terorisme baru diluncurkan sejak kasus rekayasa gedung kembar WTC New York, September 2001. Sekiranya kedua tokoh tersebut msh hidup, pastilah Amerika menuduh mereka "Mbah Teroris" dan bkn lgi sebagai sumber terorisme.

Aneh memang, tapi nyata. Tuduhan2 tsb muncul krn salah faham atau taklid buta kpd ucapan syekh/kelompok mereka. Tampa mau menelaah langsung buah fikiran dakwah dan jihad mereka yg msh terjaga rapih dlm khazanah keilmuan umat Islam, baik cetak maupun elektronik. Termasuk komentar2 positif dari berbagai tokoh dan ulama dunia, bhkn dari kalangan ulama yg mereka klaim sebagai rujukan utama mereka.

Yg lebih aneh lagi, apa yg dilakukan dan diucapkan "kelompok dakwah" anti Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb sama persis dg apa yg diinginkan politik Amerika dan sekutunya dan apa yg diucapkan oleh pejabat, tokoh atau pakar yg dijadikan Amerika dan sekutunya sbgi referensi dlm mengambil kebijakan politik terhadap Islam dan umat Islam.

Apakah hal tesebut sebagai sebuah kebetulan? Atau memang sebuah strategi konspirasi utk melumpuhkan kebangkitan Islam (shohwah Islamiyyah) dari dalam umat Islam? Silahkan analisa n jawab.. 

Kita mohon kpd Allah, smmoga kita bisa menjawabnya di masa yg akan datang...

Rabu, 19 Juli 2017

KH. Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, Akui Aku Sebagai Murid dan Santrimu

Wafatnya Beliau, Duka Bagi Umat

Dari beliau, penulis belajar tafsir Al-Qur'an, bidang yang belakangan penulis geluti.

Dari putranya, Kiai Abd A'la, penulis belajar tak langsung "ilmu menulis", memanfaatkan perpustakaannya yang cukup melimpah. Dari koleksi perpustakaannya, sewaktu mondok, penulis dapat mengakses literatur-literatur Barat modern dan memfotokopinya -- suatu "kemewahan" di tengah pondok yang biasa bergelut dengan kitab kuning saja. Kebiasaan memfotokopi literatur ini kemudian berlanjut di perpustakaan Seminari Yogyakarta.

Intinya, keluarga besar K. Ahmad Basyir Abdullah Sajjad telah menjadi ibarat "madrasah pemikiran" bagi penulis.

"Madrasah" ini pernah berlangsung dengan "dialektika"-nya sendiri. Pernah dari gesekan literatur itu, penulis tertarik dengan tema "pembaruan Islam" yang diusung oleh Bediuzzaman Said Nursi, pemikir dan ulama Kurdi yang mewarnai pemikiran Turki abad ke-20. Ketertarikan ini dipicu oleh klaim Kurzman dalam "Liberal Islam" yang mengklaim gagasan-gagasan Nursi meletakkan dasar bagi Islam liberal di Turki. Dua artikel panjang tentang Nursi kemudian terbit di majalah "Aula" milik NU, berturut-turut.

Lalu beberapa bulan kemudian, dalam suatu acara, Kiai Basyir menyitir tentang ketidaksetujuannya atas ide "pembaruan Islam". Bagi beliau, tidak ada yang perlu diperbarui dari Islam. Entah apakah pernyataan itu merespons tulisan penulis di majalah "Aula" atau tidak, tapi sepertinya iya. Penulis hanya menyimak, dengan sedikit rasa terkejut tak menyangka dapat tanggapan seperti ini. Diam-diam sepertinya beliau cukup aktif mengikuti perkembangan wacana pemikiran Islam di media, walaupun tak semua disetujuinya. Tak segan-segan beliau akan mengutarakan kritiknya.
Kepergiannya merupakan kehilangan besar. "Kiai, walaupun mungkin pendapatku pernah tak berkenan bagimu, tetap akui aku sebagai murid dan santrimu, 'dunyan wa ukhron'."

Catatan Penting Pembubaran HTI

HTI

Ada beberapa catatan terkait pembubaran HTI -- catatan-catatan ini perlu dielaborasi lebih jauh tapi mungkin dalam kesempatan lain saja.

1. HTI bukan Ormas (organisasi kemasyarakatan), tapi lebih tepat disebut "Orpol" (organisasi politik). Keterangan ini bisa diperoleh di situs HT internasional. Membubarkan Orpol dengan aturan Ormas, tepatkah?

2. Membubarkan HTI dan menjadikannya organisasi ilegal, tidak menyelesaikan masalah, tapi menyimpan bara di kemudian hari. Kita perlu belajar dari sejarah al-Ikhwan al-Muslimun (IM) di Mesir, yang tak benar-benar mati setelah ditindas habis-habisan oleh rezim Hosni Mubarak. Para aktivis HTI dapat ber-"taqiyah" dan bergerilya. Karena "taqiyah" ini, maka gagasan Khilafah dapat berkembang lebih subur "di bawah tanah". Di sisi lain, fobia akan HTI akan muncul, seperti selama rezim Orba, orang diajari fobia atas PKI. Fobia ini sebentuk irasionalitas yang lain. Sampai kapan bangsa ini akan sembuh dari paranoianya bila pemerintah kerap "mendidik" warganya fobik atas suatu entitas tertentu? Tak akan sembuh. Satu fobia akan melahirkan fobia lain.

Tak semua kalangan mengerti benar apa itu Khilafah. Ketidakmengertian ini akan menyuburkan paranoia berkepanjangan. Selama tentu, pendidikan kritis tidak berjalan dengan baik di tengah masyarakat. Jangankan tentang Khilafah, tentang Pancasila saja tak semua elemen masyarakat memahami secara kritis. Tanpa pendidikan kritis, semua gagasan ini hanya menumpuk kekusutan -- Indonesia akan terus "dikutuk" oleh jargon-jargon ideologis, oleh perang ideologis yang makna konotatif dan denotatifnya selalu dibuat kabur.

3. Yang jauh lebih penting daripada pembubaran HTI adalah membongkar gagasan Khilafah secara kritis, mengambil intisari rasionalnya, lalu melepas cangkang HTI-nya.

Khilafah pernah ada dalam sejarah Islam. Namun, kini ia tak ada lagi digantikan oleh negara-bangsa. Walaupun begitu, inti dari gagasan Khilafah, antara lain, adalah Pan-Islamisme, gagasan dan visi tentang persatuan umat Muslim semesta melawan imperialisme. Pada titik ini, kajian yang kritis, interdisipliner, tidak dogmatis, dan terbuka tentang Khilafah dan dialektikanya dalam kesadaran umat Muslim, di tengah pergaulan global hari ini, sangat diperlukan. Namun jarang kita menemukan kajian semacam ini dilakukan baik oleh HTI maupun kalangan Islam moderat. HTI terjebak dalam mimpi buta atas Khilafah yang tidak mendarat secara historis dengan realitas negara-bangsa. Kalangan Islam moderat terjebak oleh pandangan bahwa Khilafah niscaya berkontradiksi dengan negara-bangsa dan Islam Nusantara.

Penggalian atas model-model eksperimentasi Khilafah yang alternatif, di luar konsepsi HTI yang selama ini vokal menyuarakannya, tidak pernah dilakukan. Hal ini praktis menutup imajinasi umat Muslim dewasa ini akan Pan-Islamisme, suatu pemikiran yang dapat merangsang lagi diskusi tentang peran Islam dalam kancah global untuk memerangi imperialisme dan kapitalisme yang menggurita. Karena ketiadaan konsepsi ini, di Timur Tengah praktis HT turut menjadi bagian dari krisis yang diarsiteki oleh imperialisme global. HT Timteng turut memberi amunisi bagi pihak yang bertikai di bawah ketiak imperialisme.

Sebagai tawaran Islam Progresif, penting hari-hari ini menggali lagi Pan-Islamisme, mengatasi keterbatasan-keterbatasan konsepsi Khilafah ala HTI, namun tanpa membuang gagasan "di balik" Khilafah itu sendiri, yaitu persatuan umat Muslim dalam kerangka global yang inklusif dan memiliki watak perlawanan.

4. HTI mungkin dapat dibubarkan secara formal, namun ada beberapa agenda kritis HTI terkait perlawanannya atas imperialisme dan kapitalisme yang perlu diapresiasi positif oleh gerakan sosial, termasuk gerakan sosial yang lahir dari rahim moderatisme Islam Aswaja.

Anda boleh tidak suka dengan HTI, namun Anda harus salut dengan kegigihan mereka mencari sistem alternatif di luar kapitalisme, meski -- celakanya -- solusinya ujung-ujungnya Khilafah, bukan perluasan demokrasi yang berkolaborasi dengan agenda-agenda keagamaan progresif. Kegigihan ini, etika militansi yang berharga, yang terlalu sayang kalau dibuang begitu saja.

Selasa, 04 Juli 2017

Ust. Abdullah Hadrami : Membully Itu Gak Enak, Bikin Orang Jadi Terkenal

Ust. Abdullah Hadrami
Maksud "mereka" menjatuhkan tapi hasilnya mempromosikan.
Ketika seseorang dibully dimana-mana orang jadi penasaran siapa sih orang ini ?!
Akhirnya masyarakat sibuk mencari tahu dengan membuka FB, Twitter, Telegram, Instagram, website, YouTube dan berbagai medsos lainnya tentang orang yang dibully tersebut.

Hasilnya, masyarakat menjadi simpati dan mengikuti kajiannya bahkan mengundangnya karena ternyata orang yang dibully itulah yang masyarakat cari selama ini. Hal ini terjadi kepada siapa saja yang dalam berdakwah berusaha merangkul bukan memukul, yang selalu membuka wawasan agar bersikap lapang dada menyikapi perbedaan selama masih dalam koridor Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Banyak undangan berdatangan bukan hanya dari dalam negri tapi juga luar negri, padahal jadwal di di tempat tinggal sendiri sudah cukup padat setiap harinya. Masyarakat sekarang ini sangat membutuhkan para da'i yang dalam berdakwah memberikan kesejukan, mencerahkan, mendewasakan dan menyatukan bukan memecah-belah.

Masyarakat sudah jenuh dengan kegaduhan di dunia ini sehingga mereka ingin kedamaian dalam beragama dengan tetap berpedoman kepada Wahyu Allah, Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam.

Masyarakat sudah cerdas dan bisa membedakan mana para da'i yang kerjaan dan hobbynya membuat gaduh dengan memutarbalikkan dalil-dalil hanya untuk kepentingan kelompoknya dan menjatuhkan siapa saja yang dianggap berbeda dan mana para da'i yang siap dengan perbedaan dengan menghargai sudut pandang yang lain tanpa menjatuhkan dan membunuh karakter apalagi menuduhnya sesat selama masih dalam koridor Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Semua yang terjadi tidak ada yang kebetulan, semua sudah Allah takdirkan dan Allah mempunyai cara sendiri untuk menjadikan seseorang terkenal agar bisa memberikan manfaat lebih banyak walau orang itu sebenarnya tidak ingin terkenal dan tidak menghendaki ketenaran. Ya Allah ampuni para pembully dan semoga Engkau beri mereka petunjuk ke JalanMu yang lurus, aamiin ya Robb.

Malang, Selasa 10 Syawwal 1438 / 04 Juli 2017
Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Ust. Abdul Shomad : Ada 9 Standar Penetapan Bid'ah Dhalalah


Ustadz Abdul Shomad, Lc., MA dalam buku beliau yang mashyur, 37 Masalah Populer menetapkan 9 standar dalam menentukan bi'dah dhalalah. Mengapa harus ditetapkan demikian? Jika tidak diberikan batasan, semua orang akan membuat-buat ibadah dan menyatakannya sebagai bid'ah hasanah, maka perlu menetapkan standar. Jika tidak maka dikhawatirkan ummat akan terjerumus ke dalam perbuatan bid'ah. Suatu perkara dapat disebut bid'ah dhalalah jika termasuk dalam beberapa poin berikut : 

Pertama, keyakinan batil yang berkaitan dengan dasar-dasar agama islam. Misalnya menyerupakan Allah dengan makhluk. Mengatakan Allah duduk bersemayam di atas 'Arsy seperti manusia duduk di atas kursi. Atau menyatakan bersatu dengan Tuhan, seperti keyakitan pantheisme atau Manunggaling Kawula Gusti. Atau menyembah Allah SWT namun menghadapkan diri beribadah kepada selain Allah. Mengatakan Al-Qur'an tidak lengkap. Mengingkari takdir. Mengkafirkan sesama muslim. Mencaci maki shahabat nabi. Menyatakan selain Nabi ma'shum. Menyatakan agama islam tidak relevan dengan zaman. Dan semua keyakinan yang dibuat-buat yang menyebabkan orang yang meyakininya disebut kafir. 

Kedua, merubah bentuk ibadah yang telah disyariatkan, seperti menambah atau mengurangi. Misalnya menambah rakaat shalat wajib. Mengurangi jumlah sujud dalam shalat. Mengganti surat Al-Fatihah dengan surat lain. Merubah lafadz adzan.  Membuat sujud sebelum ruku'.

Ketiga, merubah waktu ibadah, seperti shalat shubuh jam sembilan pagi. Atau puasa setengah hari. Atau merubah tempat ibadah, seperti thawaf dibukit keramat. Thawaf di kuburan dan sebagainya. 

Keempat, meyakini ada suatu keutamaan pada suatu ibadah yang dilakukan dengan cara khusus, tanpa ada dalil syar'i. Misalnya, berpuasa dengan menjemur diri di panas akan mendatangkan keutamaan ini dan ini. Berpuasa empat puluh hari akan mendapatkan ini dan ini. Atau shalat dengan pakaian tertentu akan mendapatkan keutamaan tertentu. Atau diam pada hari senin akan mendapatkan keutamaan khusus. 

Kelima, meyakini ada suatu keutamaan khusus pada waktu tertentu, atau tempat tertentu, atau orang tertentu, atau zikir tertentu, atau surat tertentu, tanpa ada dalil syar'i. Seperti menyatakan ada keutamaan pada malam 12 Rabi'ul-Awal. Atau keutamaan zikir yang dibuat oleh orang tertentu. 

Keenam, membuat ibadah khusus, dengan cara tertentu. dengan jumlah tertentu, dengan keutamaan tertentu. Misalnya, shalat 100 rakaat, pada maulid nabi, akan mendapatkan anu dan anu. 

Ketujuh, berkumpul melakukan suatu ibadah, pada waktu tertentu dan tempat tertentu dengan keyakinan ada balasan tertentu terhadap perbuatan tersebut. Adapun berkumpul di masjid pada malam Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan mendengarkan bacaan Al-Qur'an, dan ceramah sejarah Nabi SAW. Atau pada malam tahun baru Hijriyah sebagai muhasabah diri adalah sangat dianjurkan untuk memanfaatkan momen tertentu dalam membahas masalah tertentu.

Kedelapan, membuat batasan tertentu dalam takaran, jarak, jumlah bilangan, waktu, yang telah ditetapkan syariat islam. Seperti berat nishab zakat, jarak Qashar shalat, jumlah bilangan kafarat, jumlah batu melontar jumrah, jumlah putaran thawaf dan sa'i. 

Kesembilan, semua perkara yang dibuat-buat tanpa ada dalil dari syariat islam, apakah dalil nash (teks), atau pemahaman terhadap nash, atau secara terperinci dalam dalil, atau dalilnya global bersifat umum, maka itu adalah bid'ah dhalalah. 

Sumber rujukan : Buku 37 Masalah Populer karya Ustadz Abdul Shomad, Lc., MA

Kamis, 25 Mei 2017

Apakah HTI Mengakui Pancasila Sebagai Dasar NKRI?

HTI
Pertanyaan:
____________
1. apakah HTI mengakui Pancasila sebagai [dasar] NKRI

2. lalu kenapa HTI masih makan, minum, dan berak di Indonesia?"
Lalu ditambahkan lagi

3."sekarang HTI lelah dan stress karena bermuka dua"
Dan pamungkasnya "konon katanya HTI tidak mengakui NKRI dan tidak mau hormat bendera.....?"

Jawaban:
___________

Terima kasih atas pertanyaannya Pak.
Pertanyaan spt yg Bpk ajukan mirip seperti kalau bertanya kepada pemain Real Madrid "apakah Anda mengakui kemenangan Valentino Rossi?"
Padahal anak2 Real Madrid tidak punya urusan dengan Balap Motor.

Domain mereka adl melibas Barcelona dan Atletico.
☺☺☺☺

Bpk perlu kenal HTI lbh dekat. Bahwa Domain HTI bkn mengangkat isu NKRI, Pancasila, dan semisalnya. Domain HTI adl perlawanan terhadap Neo-Imperialisme Barat.

Sekarang, yang mesti ditanya adalah Bpk dan kawan2 lainnya "apakah rela dg bercokolnya Neo-Imperialis yg mengganyang umat Islam dimana2 dan merampas Sumber Alam di negeri2 muslim?".

Jika ingin berdialog dg HTI, dialoglah di Domain yg jd wacana HTI. Bukan di isu2 yg sama sekali HTI tak sentuh.
Kalaupun HTI sentuh isu2 Pancasila dan NKRI, malahan lebih berorientasi bgm agar semangat yg dikandung Pancasila dan slogan NKRI itu bisa lebih efektif pelaksanaannya secara hakiki. Bukan sekedar jargon.

Syariah dan Khilafah adl tawaran HTI kpd umat dan bangsa Indonesia agar semangat yg di Pancasila dan Slogan NKRI bisa terimplementasi lebih tepat dan lebih sahih.
Slogan Pancasila dan NKRI selama ini disandera oleh sekelompok elit demi kepentingan mereka yang di-steer oleh kaum imperialis. Dan itu kita harus hentikan.

Kalau kita masih ikut2an membentur2kan Pancasila dg Islam, atau mempertanyakan apakah Syariah dan Khilafah yg diusung HTI mengancam NKRI dan Pancasila atau tidak...jangan2 kita tidak faham Pancasila, tidk mengerti NKRI, tdk tahu Islam, belum kenal Syariah, belum dengar Khilafah.

Dan jangan2, selama ini hidup kita, pekerjaan kita, cara kita makan, minum, hidup bertetangga, dan mungkin cara kita (maaf, pinjam kata2 Bapak) berak, ini semua bertolak belakang dg nilai2 Pancasila dan tak cerminkan ajaran Islam.

Pak, silakan cek website hizbut-tahrir.or.id, lalu periksa alamat kantornya. Temui pengurusnya, lihat wajah2 mereka, apakah benar memperlihatkan kegalauan, kelelahan dan stress. Setelah itu ajaklah berdialog. Dan tanyakan apa saja yg Bpk perlukan. Insyaallaah akan dilayani.

Setelah itu Bpk ingin berkomentar apa saja boleh.
Jangan lupa bawa penangkal anti hipnotis, supaya tidak ada yg menuduh bhw Bpk sudah dihipnotis oleh pengurus HTI, sebab Bpk sdh berubah pandangan thd HTI....tdk lagi mengandalkan bisikan Mba KONON dan Mas KATANYA.

Salam hangat.

Oleh Ust. Zamroni Ahmad

Kamis, 18 Mei 2017

Thanks To HTI, Salut!

HTI
Wacana HTI dan Khilafah begitu membahana. Apakah ini disengaja untuk menyambut Ramadhan? Ataukah sekadar isu pengalihan dari kekalahan melindungi jagoannya yang kalah? Entahlah. Di daerah saaja, semisal Bojonegoro, dukungan publik terhadap HTI kian mencuat, baik yang pro dan kontra. Memang tak bisa dipungkiri, HTI mampu mendapat simpati, meski ada yang antipati.

Bagi yang berpikiran jernih, kami ingin menyampaikan terima kasih. Thanks to HTI. Pasalanya tatkala merespon persoalan umat mereka turun ke jalan melakukan pembelaan. Meski rakyat sendiri tak mau tahu terkait dampak buruk kebijakan dzalim yang sering disasarkan kepada rakyat. Kami pernah mengamati HTI tentang penolakan kenaikan BBM. Mereka berpendapat bahwa BBM itu milik rakyat, pemerintah harus bisa mengelola dan diberikan pada rakyat, bukan rakyat disuruh membeli dengan patokan harga minyak dunia. Katanya sih kalo mau jual dengan harga minyak dunia tidak apa-apa ekspor bisa untung, tapi kalau mau jual krakyat dikasih murah dong jangan disamain.
Lagi-lagi mereka pernah melakukan demo penolakan Obama datang ke Indonesia. Kami pun bertanya-tanya, bukankah Obama itu tamu. Mbok yao, disambut dan dihormati. Ternyata kami baru tahu jawaban cerdas dari mereka. HTI beranggapan AS itu negara penjajah yang jelas-jelas memerangi saudara muslim di negara yang lain. Mereka menyuarakan jangan bersahabat dengan negara yang memerangi umat Islam. Akhirnya kami dong. Thanks to HTI.

Buletin Al-Islam HTI begitu mencerahkan dan mencerdaskan. Isinya singkat terkait masalah keumatan, lalu diberi solusi Islam. Pembaca pun akhirnya ngeh, termasuk kami yang lugu ini tahu bahwa Islam itu solusi. Bukan ancaman. Tulisannya tajam dan mengujam terkait kenaikan TDL dan pencabutan subsidi listrik. Seolah-olah kami bagai tersengat listrik, dijelaskan bahwa listrik termasuk kebutuhan energi yang harus diberikan secara gratis atau murah oleh negara. Begitu pun, HTI peduli pada upaya disintegrasi negeri ini. Kurangnya perhatian pusat terhadap gerakan OPM di Papua dikupas habis dan diberikan solusi islami. Dijelaskan bahwa Islam menjaga keberagaman dan memberikan kerahmatan bagi seluruh alam. Top banget dah! Meski seminggu sekali, buletin HTI tetap dinanti jutaan umat.

Acara HTI begitu membebaskan belenggu umat. Kami pernah juga dapat undangan ikut acara pengusaha, umumnya acranya mengajarkan metode bisnis. Berbeda dengah HTI, kalau buat acara pengusaha menjelaskan tentang hukum-hukum dalam berdagang, melarang kita pinjam uang d Bank karena bunga itu dianggap riba, di antara mereka juga banyak pengusaha sukses. Kami pikir, ini ngajak bisnis dunia atau akhirat sih? Anyway, thanks to HTI yang menuntut pengusaha juga mampu berdakwah dan berjuang layaknya Abdurahman bin ‘Auf.

Malang tak dapat diraih, untuk tak dapat dibeli. Bencana alam pun melanda negeri ini. HTI pun tak ketinggalan kontribusi sebagai bagian dari negeri ini. Waktu bencana Alam besar di Indonesia yang terjadi di Sleman Jogja, di luar jawa kami lupa tempatnya, gunung Kelud meletus, bahkan Bojonegoro pun waktu banjir yang melumpuhkn kota bojonegoro kami temui tim dari bojonegoro mereka dari HTI. Kami pun terheran-heran, selain menyampaikan secara lisan, HTI juga menunjukan dengan perbuatan. Jempol dah untuk HTI. Salut!

Jika pelajar saat ini ditakut-takuti dengan istilah ajaib semisal radikalisme, terorisme, dan lainnya. Justru pihak penguasa tak mampu menahan derasnya liberalisasi di kalangan pelajar. Aneh bin ajaib kan? Dilarang dekat-dekat dengan Islam, malahan dibiarkan masuk ke kandang macan. Gagal fokus tuh. HTI tak lekang untuk terus mengajak remaja menjadi pribadi yang soleh dan solehan. Pelajar dan pemuda dijelaskan cinta suci yang hakiki dan akibat buruk: pacaran, tawuran, miras, narkoba, dan lain-lain. Mereka dididik oleh HTI dengan bagus dan tanpa pamrih. Thanks to HTI.

Kesimpulan kami, HTI telah mengambil peran positif di tengah-tengah umat. Namamu sudah dikenal. Budi baikmu tidak akan kami lupakan. Teruslah maju HTI. Kami sebagai aktifis mendukungmu. Ke depan kelihatannya HTI semakin di depan. Ayo yang lain menyusul dong! Thanks to HTI, Salut!

Rabu, 17 Mei 2017

Apakah HTI Mudah Mengkafirkan Orang?

Berikut ini adalah kutipan dari salah satu subbab dalam kitab Hizbut Tahrir: Tsaqafatuhu wa Manhajuhu karya Muhammad Muhsin Radhi, yang mengupas tsaqafah dan metode Hizbut Tahrir dalam menegakkan negara khilafah. Kitab ini adalah hasil tesis (untuk meraih gelar master/magister) di Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Baghdad. Tesis yang mendapat predikat cum laude (imtiyaz) ini cukup dinilai objektif dan ilmiah oleh dewan penguji, yang terdiri dari al-Ustadz ‘Iyad Isma’il, al-Ustadz Khamsin Dahham, al-Ustadz ‘Aqyid Khalid, dan al-Ustadz Walid Ghafuriy. Di salah satu subbab itu terdapat subbab tentang at-takfir (pengkafiran). Untuk mengetahui lebih lanjut pemahaman Hizbut Tahrir tentang konsep takfir (pengkafiran), mari kita lihat penjelasan berikut ini.
================================================
Mengkafirkan
Saya (Muhammad Muhsin Radhi) tidak menemukan di dalam kitab-kitab Hizbut Tahrir dan publikasi-publikasinya bahasan tersendiri yang mengkaji topik pengkafiran (takfir). Akan tetapi, saya menemukan sejumlah selebaran dan su’al jawab yang menyinggung persoalan ini dengan bentuk yang umum, belum terperinci. Hizbut Tahrir berpendapat, tidak boleh mengkafirkan seseorang di antara kaum Muslim, selama ia bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad Rasulullah, disertai dengan keyakinan hatinya, dan selama ia tidak mengingkari sesuatu di antara persoalan agama yang telah diketahui secara pasti, serta tidak mengingkari hukum yang telah ditetapkan berdasarkan dalil yang qath’i. Dalam hal ini Hizbut Tahrir berdalil dengan sabda Rasulullah SAW.:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati, sedang ia yakin bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, maka ia masuk surga.” [1]

Dan sabdanya:

مَنْ لَقِيتُ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةِ

“Siapapun yang aku temui sedang ia bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dengan disertai keyakinan hatinya, maka aku sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga.” [2]

Dan nash-nash yang sejenisnya.

Kemudian, Hizbut Tahrir menyatakan:

“Nash-nash ini jelas, bahwa siapa pun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Muhammad Rasulullah, dengan disertai keyakinan hatinya, maka ia termasuk di antara penghuni surga, bukan penghuni neraka. Siapa saja yang menjadi penghuni surga, maka tidak mungkin kecuali ia seorang Muslim, mustahil ia seorang Kafir. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak dikafirkan sebab dosa yang dilakukannya, selama ia tidak mengingkari sesuatu di antara persoalan agama yang telah diketahui secara pasti, serta tidak mengingkari sesuatu (hukum) yang telah ditetapkan berdasarkan dalil yang qath’i.[3]

Hizbut Tahrir mengutip pernyataan Imam Nawawi:

“Ketahuilah bahwa mazhab ahlul haq (Ahlussunnah) adalah tidak mengkafirkan seseorang di antara ahlul qiblah (orang yang bertauhid) sebab ia melakukan dosa, serta tidak mengkafirkan orang yang menjadi budak nafsu dan pelaku bid’ah. Dan siapa pun yang mengingkari sesuatu di antara agama Islam yang diketahui dengan pasti, maka ia dihukumi murtad dan kafir. Begitu juga hukum bagi yang menghalalkan zina, khamr, pembunuhan, atau perkara-perkara haram yang lain, yang keharamannya diketahui dengan pasti.”[4]

Sebagimana yang disebutkan oleh Hizbut Tahrir di beberapa selebarannya bahwa seorang Muslim dikafirkan sebab salah satu dari empat perkara: al-i’tiqad (keyakinan), asy-syak (keraguan), al-qaul (perkataan) dan al-fi’l (perbuatan). Adapun keyakinan, maka itu jelas. Sebab orang yang meyakini, misalnya, al-Masih itu putra Allah, dikafirkan, meskipun ia melakukan semua amalan-amalan Islam. Begitu juga orang yang meragukan al-Qur’an sebagai firman Allah, misalnya, dikafirkan, meskipun ia melakukan semua amalan-amalan Islam.

Hizbut Tahrir menjelaskan bahwa pernyataan yang tidak menunjukkan pengingkaran secara pasti atas sesuatu yang qath’i, namun masih ada kemungkinan lain, maka ia tidak dikafirkan.

Adapun jika pernyataan itu menunjukkan dengan pasti pengingkaran atas sesuatu yang oleh Islam diperintahkan untuk diyakininya, atau sesuatu itu merupakan perkara yang pasti dan ditetapkan melalui jalan yang menghasikan keyakinan, yakni ia merupakan sesuatu yang pasti, maka hal ini perlu dilihat dulu. Jika penyataan itu mengutip dari orang lain dengan sekedar mengutip tanpa menyakininya, maka ia tidak dikafirkan, yakni orang yang menyampaikan kekufuran bukan kafir. Hanya saja jika penyampaian itu termasuk pengajaran pemikiran-pemikiran kufur, maka harus diajarkan bersamanya bantahannya di atas metode al-Qur’an. Jika tidak, maka ia berdosa.

Adapun jika pernyataan yang menunjukkan pengingkaran atas sesuatu yang pasti itu keluar dari dirinya sendiri, maka ia dikafirkan, baik ia meyakini maupun tidak. Seperti orang yang mengatakan: Allah itu zalim. Atau mengatakan: al-Qur’an itu dari Muhammad bukan dari Allah. Sehingga dalam hal ini ia dikafirkan. Sebab pernyataan ini secara pasti menunjukkan atas pengingkaran kepada sesuatu yang sifatnya qath’i.

Sedangkan perbuatan, maka melakukan perbuatan-perbuatan kufur, tidak diragukan lagi adalah kufur. Apabila seorang Muslim menjalankan peribadatan agama Nashrani (Kristen), maka ia kufur. Ikut bersama mereka, ketika mereka sedang menjalankan peribadatannya adalah kufur. Bersujud kepada patung adalah kufur. Menggunakan syi’ar peribadatan yang di dalamnya orang Kristen melangsungkan peribadatannya adalah kufur. Mengajarkan peribadatan agama Kristen atau Yahudi adalah kufur. Membangun gereja adalah kufur. Menyumbang untuk pembangunan gereja adalah kufur. Dan seterusnya. Tidak ada bedanya antara peribadatan agama Kristen dengan agama Budha, antara peribadatan agama Kristen dengan bersujud kepada patung, semuanya kufur, melakukannya juga kufur. Sebagaimana perbuatan-perbuatan ini dilakukan oleh orang-orang kafir, yaitu Kristen, Yahudi, Majusi dan yang lainnya. Sebab mereka diperintahkan melakukannya sesuai agama mereka, dan sesuai tuntutan akidah mereka, yang karena akidah itulah mereka menjadi kufur. Maka semuanya merupakan perbuatan-perbuatan kufur. Apalagi perbuatan yang dinyatakan dengan tegas oleh syara’ bahwa yang melakukannya adalah kufur. Perbuatan-perbuatan ini juga merupakan perbuatan-perbuatan kufur. Dua jenis dari perbuatan-perbuatan ini adalah kufur secara pasti.

Adapun pelaku perbuatan-perbuatan ini perlu dilihat dahulu, sebagaimana perkataan. Apabila perbuatan itu tidak bisa ditakwil lagi, dalam arti perbuatan yang ia lakukan tidak meneriman takwil, sebab ia melakukan perbuatan yang orang-orang kafir diperintahkan untuk melakukannya, atau melakukan perbuatan yang oleh syara’ dinyatakan kufur, maka dalam hal ini jelas orang yang melakukan adalah kafir. Sedangkan, apabila perbuatan itu masih menerima takwil, dalam arti ia melakukannya mungkin bisa ditakwil, bahwa ia melakukan tidak seperti yang orang kafir diperintahkan, maka dalam hal ini ia tidak dikafirkan, sebab ia masih memenangkan aspek iman. Seperti orang yang membawa Taurat dan membacanya. Sebab, orang kafir diperintah membacanya karena motivasi ibadah dan keyakinan, dan dalam hal ini bisa saja ia membacanya untuk pengetahuan, atau untuk membantah isinya. Orang yang masuk kedalam gereja tidak dikafirkan. Sebab orang kafir diperintah masuk untuk peribadatan. Mungkin dalam hal ini terkadang ia memasukinya untuk melihat-lihat. Dan begitu juga seterusnya. Apabila di sana masih ada peluang takwil apapun, dan tidak untuk diniati, maka pelakunya tidak dikafirkan. [5]

Adapun orang yang mengatakan bahwa kufur adalah apa yang dikatakan kufur oleh syara’. Sementara itu tidak terdapat satu pun nash syara’ bahwa membangun gereja, melakukan peribadatan agama Nashrani, atau melakukan perbuatan di antara perbuatan-perbuatannya adalah kufur.
Pernyataan ini dibantah oleh Hizbut Tahrir bahwa syara’ benar-benar telah menyatakan sesungguhnya akidah Nashrani itu kufur. Kekufuran itu datang dari segala sesuatu yang ada di dalamnya: pemikirannya, hukum-hukumnya, dan perbuatan-perbuatan yang diperintahkannya. Sehingga pemikirannya kufur, hukumnya kufur, dan perbuatannya juga kufur. Syara’ benar-benar telah menegaskan bahwa perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh akidah kufur adalah kufur juga. Sebab, arti kufur itu adalah melakukan kekufuran. Sehingga melakukan peribadatan agama Nashrani atau melakukan perbuatan di antara perbuatan-perbuatan agama Nashrani adalah kufur secara pasti. [6]

Dalam Su’al Jawab seputar persoalan, apabila kaidah hukum yang tidak diketahu (dikhususkan) contohnya diterapkan atas orang yang melakukan perbuatan di antara perbuatan-perbuatan kufur, seperti membantu perlengkapan gereja, sedang ia tidak mengerti hukum dalam hal ini.

Hizbut Tahrir menjawab:

“Sesungguhnya kaidah yang tidak diketahui (dikhususkan) contohnya, maka kaidah umum mencakup orang yang melakukan perbuatan di antara perbuatan-perbuatan kufur, seperti membangun gereja. Hanya saja ia tidak mengerti hukum di antara hukum-hukum yang tidak diketahui contohnya itu.” [7]

Di antara perkara-perkara penting yang dikaji oleh Hizbut Tahrir terkait dengan masalah pengkafiran adalah bahasan tentang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah. Lalu, Hizbut Tahrir menyebutkan firman Allah SWT.:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [8]

Dan firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” [9]

Dan firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [10]

Melalui ayat-ayat ini, Hizbut Tahrir berpendapat bahwa barangsiapa yang berhukum kepada selain yang diturunkan Allah SWT., maka ia tidak lepas dari dua perkara: mungkin ia berhukum kepada selain yang diturunkan Allah SWT., dan ia meyakini bahwa Islam sudah tidak layak lagi untuk diterapkan, maka orang yang demikian ini kafir, keluar dari agama Islam; atau mungkin juga ia berhukum kepada selain yang diturunkan Allah SWT., namun ia masih meyakini bahwa Islam layak dan pantas untuk diterapkan, maka orang yang demikian ini hanya berkaisat, tidak kafir.

Adapun cara menentukannya, maka perhatikan, sesungguhnya sikap dan perbuatan para penguasa menunjukkan hal itu. Barangsiapa yang sikap dan perbuatannya menunjukkan pada tidak adanya keyakinan bahwa Islam layak dan pantas untuk diterapkan 'meski ia menampakkan selain itu' maka atasnya diterapkan firman Allah SWT.: “Mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. Sebab, mereka tidak beriman kepada kelayakan Islam untuk pemerintahan dan peradilan. Mereka dikafirkan sebab sikap dan perbuatannya ini, yakni mereka tidak beriman dengan Islam. Mereka, tidak diragukan lagi adalah kafir. Sebab, mereka bebas (tidak terbebani) ketika menerapkannya. Adapun apabila para penguasa itu masih beriman kepada kelayakan Islam, namun hubungannya dengan orang-orang kafir membuat mereka menerima hukum selain hukum Allah, mungkin karena takut, atau mungkin karena mereka yakin bahwa mereka tidak mampu menerapkan Islam, maka mereka tidak kafir, selama iman mereka masih ada. Sebab mereka tidak merasa bebas (terbebani) ketika menerapkannya. Akan tetapi dengan perbuatannya itu mereka zalim dan fasik. Karena mereka melakukan keharaman.

Sebagaimana Hizbut Tahrir menjelaskan bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah itu kufur, zalim dan fasik tidak terbatas untuk para penguasa saja, namun untuk manusia dalam menjalani hubungan yang sifatnya individual, atau pada semua hubungannya. Sesungguhnya, siapa saja yang meyakini bahwa Islam tidak layak untuk solusi problem ini dan itu, dan yang layak itu selain Islam, maka ia kafir. Adapun jika ia meyakini kelayakan Islam, namun ia takut kepada penguasa dan tekanan undang-undang, maka ia zalim dan fasik. [11]

Hizbut Tahrir juga menjelaskan:

“Dari sini, keyakinan untuk memisahkan agama dari kehidupan, atau memisahkannya dari negara adalah kekufuran yang nyata.” [12]

Sebab, Hizbut Tahrir berpendapat bahwa mayoritas penguasa kaum Muslim tidak hanya bermaksiat, atau berbuat fasik saja, namun mereka melakukan kekufuran secara nyata, yang mengeluarkannya dari agama Islam. Sesungguhnya mulut-mulut dan pena-pena yang dijadikan alat pembenaran oleh mereka para penguasa, dan pembenaran bagi sistem kufur yang diterapkannya adalah mulut-mulut dan pena-pena yang pemiliknya orang-orang munafik, kufur, mereka kufur yang sebenarnya, yang akan mengeluarkannya dari agama Islam. Sesungguhnya mereka yang setuju dengan sepenuh hati terhadap para penguasa dan dengan sistem kufur yang mereka terapkan adalah kafir, kufur yang sebenarnya, yang akan mengeluarkannya dari agama Islam. [13]

Di dalam Su’al Jawab tentang menghina agama: “Menghina agama adalah kufur jika penghinaan terhadap agama dilakukan dengan sengaja, dan memang diniati untuk menghina agama. Adapun apabila penghinaan terhadap agama itu kebiasaannya ketika marah, atau pada saat bertengkar dengan orang lain, maka ia dianggap bermaksiat, bukan kufur. Dan apa yang terjadi pada manusia sekarang, yang akhir-akhir ini mereka banyak mencela agama, bahwa mayoritas mereka tidak bermaksud mencela dan melecehkan agama, maka dengan cacian dan penghinaan ini mereka hanya bermaksiat dan berdosa saja. Mereka bukan orang-orang kafir yang murtad. Sedang orang yang bermaksiat dan melakukan dosa besar tidak menyebabkan perceraian dengan istrinya, sehingga hubungan suami istri tetap berlangsung antara keduanya.” [14]

Dan kami mengakhiri masalah pengkafiran (takfir) menurut Hizbut Tahrir dengan mengutip apa yang diyatakannya mengenai hukum murtad.

Hizbut Tahrir berkata:

“Hukum murtad bagi seorang Muslim adalah jika seorang Muslim murtad dari agamanya, maka ia diminta untuk bertaubat. Jika ia tidak bertaubat, maka ia dibunuh, dengan catatan apabila ada negara yang menerapkan hudud. Sedang di Dar (Negara) Kufur, tentu di sana tidak ada negara yang menerapkan hudud, maka kaum Muslim di sana memperlakukannya seperti perlakuan terhada orang-orang Musyrik, sehingga jika ia perempuan tidak boleh dinikahi oleh laki-laki Muslim, dan jika ia laki-laki tidak boleh dinikahkan dengan wanita Muslim, serta kaum Muslim tidak boleh memakan sembelihannya. Adapun jika ia bukan Muslim, yakni kafir, maka apabila ia kafir kitabi dan ia murtad lalu masuk agama lain, maka di Dar (Negara) Islam, ia tidak dibunuh. Bahkan ia berhak meninggalkan agamanya dan lalu memeluk agama lain. Ia tidak termasuk ke dalam sabda Rasulullah SAW.:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

“Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka ia harus dibunuh.” [15]

Sebab orang-orang kafir adalah satu agama. Hanya saja, jika ia seorang kafir kitabi yang keluar dan masuk ke dalam agama lain yang bukan kitabi, maka sembelihannya tidak boleh dimakan, dan jika perempuan tidak boleh dinikahi, artinya ia diperlakukan seperti perlakuan terhadap pemeluk agama yang murtad. Dalam hal ini tidak ada bedanya antara yang ada di Negara Islam dengan yang ada di Negara Kafir. Atas dasar itu, seorang Muslim apabila menjadi penganut Ba’ats, Sosialis, atau Druze, maka ia sungguh telah murtad dari Islam. Selanjutnya, ia diperlakukan seperti perlakuan terhadap orang-orang murtad. Adapun bukan Muslim, apabila ia menjadi penganut Baath, maka ia tidak murtad dari agamanya, sebab penganut Baath menyatakan pemisahan agama dari negara, sehingga ia tidak murtad dari agamanya. Sedangkan apabila ia menjadi penganut Sosialis atau Druze, maka ia murtad dari agamanya. Dan selanjutnya ia diperlakukan seperti perlakuan terhadap orang-orang Musyrik. Sehingga jika ia perempuan, maka ia tidak boleh dinikahi, dan sembelihannya tidak boleh dimakan.” [16]

Berdasarkan metodologi sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Hizbut Tahrir mengkaji sejumlah permasalahan-permasalahan yang terkait dengan akidah. Seperti: qadha’ dan qadar , kemaksuman Rasul , wahyu , petunjuk dan kesesatan , tawakkal , sifat-sifat Allah SWT. , rezeki , kematian , dan lainnya. Beberapa permasalahan ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan para ulama. Namun beberapa yang dikritisi oleh Hizbut Tahrir, dan menempatkannya sebagai topik yang memang diperdebatkan, serta menjelaskan pendapat-pendapat ulama terkait dengan hal itu. Kemudian Hizbut Tahrir mengelurkan pendapat yang berbeda dengan yang lain, di antara pendapat-pendapat yang telah ada sebelumnya.

Pendek kata, saya (Muhammad Muhsin Radhi) berpendapat bahwa Hizbut Tahrir tidak menyimpang dalam hal metode dan dasar-dasar umum bagi akidah dari apa yang telah ditetapkan oleh jumhur ulama. Meskipun di beberapa kesimpulan yang terperinci untuk beberapa persoalan akidah Hizbut Tahrir terkadang sampai pada sesuatu yang belum pernah dicapai oleh ulama sebelumnya. Seperti yang saya dapati bahwa Hizbut Tahrir memasukkan pada pemikiran Islam dalam masalah-masalah akidah beberapa perkara penting yang pantas untuk diperhatikan, utamanya dalam mendefinisikan akidah menurut pengertian umum, serta syarat kesesuaian dengan fitrah dan diterima akal dalam menetapkan sah tidaknya sebuah akidah.

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat: Shahih Muslim, vol. I, hlm. 55.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat: Shahih Muslim, vol. I, hlm. 59.
[3] Lihat: Su’al Jawab, 1 Dzul Hijjah 1410 H./22 Juni 1990 M.
[4] Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, vol. I, hlm. 150
[5] Lihat: Memorandum dengan judul: al-Qiyam bi Amali Kufrin Kufrun Shurahun, dikeluarkan Hizbut Tahrir, 8 Rajab 1380 H./26 Desember 1960 M.. Memorandum ini dikeluarkan tidak lama setelah Perdana Menteri Libanon yang Muslim, Shaib Salam, Ketua Parlemen yang Muslim, Shabri Hamadah, para menteri yang mereka itu Muslim, beberapa anggota parlemen yang mereka juga Muslim melakukan salatnya Kaum Nashrani dalam Bakrki di Libanon. Memorandum dengan judul: Zu’ama’ al-Muslimin Yu’duna al-Jizyah li al-Hukkam an-Nashara Salatan fi al-Kana’is wa Irtidadan an al-Islam, dikeluarkan Hizbut Tahrir, 18 Rajab 1281 H./16 Desember 1961 M.; dan Jawab Su’al, 25 Maret 1969 M.
[6] Lihat: Memorandum dengan judul: al-Qiyam bi Amali Kufrin Kufrun Shurahun, dikeluarkan Hizbut Tahrir, 8 Rajab 1380 H./26 Desember 1960 M. Memorandun ini dikeluarkan tidak lama setelah Perdana Menteri Lebanon yang Muslim, Shaib Salam, Ketua Parlemen yang Muslim, Shabri Hamadah, para menteri yang mereka itu Muslim, beberapa anggota parlemen yang mereka juga Muslim melakukan salatnya Kaum Nashrani dalam Bakrki di Lebanon.
[7] Lihat: Jawab Su’al, 25 Maret 1969 M
[8] QS. Al-Maidah [5] : 44.
[9] QS. Al-Maidah [5] : 45.
[10] QS. Al-Maidah [5] : 47
[11] Lihat: Nizham al-Hukmi fi al-Islam, hlm. 240; pamflet dengan judul: Hukm al-Islam fi at-Taqayyud bi Ahkam al-Islam, dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, 16 Dzul Qa’dah 1395 H./11 September 1975 M.; nasyrah “Syahru Ramadhana Alladzi Unzila fihi al-Qur’ana Hudan li Annasi wa Bayyinatin min al-Huda wa al-Furqan”, Hizbut Tahrir/wilayah Yordania, 29 Sya’ban 1403 H./10 Juni 1963 M.; dan Su’al Jawab, 1395 H./1975 M.. Di sini perlu ditegaskan bahwa masalah menghukumi penguasa yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah dengan kufur, fasik dan zalim, bukan masalah melawan penguasa ketika penguasa menampakkan kekufuran secara nyata.
[12] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 27
[13] Lihat: Nasyrah “Syahru Ramadhana Alladzi Unzila fihi al-Qur’ana Hudan li Annasi wa Bayyinatin min al-Huda wa al-Furqan”, Hizbut Tahrir/wilayah Yordania, 29 Sya’ban 1403 H./10 Juni 1963 M
[14] Lihat: Su’al Jawab, 15 Pebruari 1977 M
[15] Diriwayatkan oleh Bukhari. Lihat: Shahih Bukhari, vol. VI, hlm. 2537
[16] Lihat: Su’al Jawab, 2 Juni 1970 M
[17] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 66-97; Nizham al-Islam, hlm. 14-21; Izalah al-Atrubah an al-Judzur, hlm. 11-31; Mafahim Hizb at-Tahrir, hlm. 24-26; al-Fikr al-Islami, hlm. 49-51; dan Nida’ Har, hlm. 6-7.
[18] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 134-136; dan al-Fikr al-Islami, hlm. 77-79
[19] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 137-141
[20] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 98-104; dan Izalah al-Atrubah an al-Judzur, hlm. 42-44.
[21] Lihat: Izalah al-Atrubah an al-Judzur, hlm. 40-41.
[22] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 116-124
[23] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 112-124; dan Izalah al-Atrubah an al-Judzur, hlm. 32-37
[24] Lihat: Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, vol. I, hlm. 104-111; Izalah al-Atrubah an al-Judzur, hlm. 38-39; dan al-Fikr al-Islami, hlm. 20-22